Pikiran Aisyah menjadi tidak tenang sekarang. Ia terus kepikiran tentang apa yang dilihatnya tadi di salah satu restoran yang dilewati taksinya. Raihan bersama seorang wanita? Awalnya Aisyah berpikir kalau itu mungkin adalah salah satu teman Raihan di rumah sakit, tapi saat mengingat model pakaian yang wanita itu pakai, Aisyah pun mulai berpikir yang lainnya.
"Astaghfirullah, Aisyah! Kamu apaan sih, Mas Raihan nggak mungkin melakukan itu," Aisyah memarahi dirinya sendiri sendiri, dan berusaha menjauhkan berbagai pemikiran buruk yang mulai bermunculan di kepalanya.
"Kak Aletta sama Kak Aisyah jelas beda lah! Dilihat aja udah jelas bedanya, Kak Aisyah mah bisa menjaga diri dengan pakaian tertutupnya dan ketakwaannya pada Allah. Beda sama Kak Aletta yang auratnya diumbar, nggak takut sama hukuman yang akan Allah berikan!" Kalimat yang Aza ucapkan waktu itu tiba-tiba muncul di kepala Aisyah.
Aisyah menggigit bibir bawahnya cemas, "Apa mungkin...itu Aletta?" Aisyah segera menggelengkan kepalanya, "entah siapapun wanita itu, Ai nggak boleh berpikiran yang tidak-tidak tentang Mas Raihan kalau belum ada kepastian, Astaghfirullah," Aisyah mengusap dadanya, berusaha menepis perasaan aneh yang kian bergejolak.
Ting! Tong!
Suara bel berhasil membuyarkan lamunan Aisyah. Aisyah mengernyit bingung, dirinya tidak pernah kedatangan tamu, bahkan Raihan juga. Lalu siapa yang datang? Aisyah mengambil nikab-nya, lalu memakainya dan langsung berdiri dan berjalan menuju pintu utama, lalu membukanya.
Dan benar, itu Raihan dengan wajah lelahnya, "Assalamualaikum,"
Aisyah mengerjapkan matanya lucu selama beberapa saat ketika melihat Raihan benar-benar berada di hadapannya sekarang. Dan hal itu membuat kening Raihan terpaut bingung.
"Assalamualaikum, Aisyah," ujar Raihan sekali lagi yang langsung membuat Aisyah tersadar, "Waalaikumsalam mas," Aisyah meraih lengan Raihan lalu mencium punggung tangan Raihan seperti biasanya.
"Kok tumben pulangnya awal?" tanya Aisyah sembari membawa tas kerja Raihan. Mereka berjalan masuk ke dalam setelah Aisyah mengunci pintu.
"Kan tadi aku udah bilang di telpon, Aisyah," jawab Raihan penat.
"Oh iya. Maaf, Ai lupa," jawab Aisyah ketika mengingat kalau Raihan tadi memang sempat mengatakan akan pulang lebih awal saat Raihan menelpon untuk melarangnya datang ke rumah sakit.
Raihan mendudukkan dirinya di atas sofa ruang tengah. Sedangkan Aisyah pergi ke dapur untuk menyiapkan teh untuk Raihan. Pikiran Aisyah terus berkelana. Ia ingin menanyakan perihal wanita tadi pada Raihan, tapi sepertinya Raihan terlihat sangat lelah sekarang, dan Aisyah takut membuat pria itu marah karena pertanyaannya di waktu yang tidak tepat ini. Aisyah membawa secangkir teh ke ruang tengah.
"Ini mas, tehnya," Aisyah memberikannya pada Raihan, dan Raihan menerimanya.
"Terima kasih," ujar Raihan sembari menyeruput teh hangat buatan istrinya itu sampai habis setengah, lalu menaruhnya di atas meja.
Aisyah berdehem singkat, lalu duduk di samping Raihan. Aisyah menaruh kedua tangannya di bahu Raihan, membuat Raihan sedikit terkejut.
"Biar Ai pijit mas, " Namun Raihan dengan cepat menarik turun tangan Aisyah dari pundaknya, "Nggak perlu," ujar Raihan dingin.
Hati Aisyah mencelos karena penolakan Raihan, bahkan suaminya itu seperti menolak sentuhan kecil darinya. Aisyah jadi terus bertanya-tanya, sebenarnya apa kasalahannya? Kenapa Raihan selalu bersikap dingin seperti ini? Padahal tadi ia melihat Raihan terlihat santai dengan perempuan di kafe itu. Raihan juga menyadari perubahan raut wajah Aisyah, tapi ia hanya diam, menganggap hal ini bukanlah hal penting yang harus dibicarakan.
"Tadi mas Raihan makan di luar ya?" tanya Aisyah pada akhirnya. Ia hanya ingin tahu apakah Raihan akan menjelaskan tentang wanita itu atau tidak.
Raihan cukup terkejut dengan pertanyaan Aisyah, tapi ia menetralkan raut wajahnya dengan cepat.
"Iya," jawab Raihan singkat.
Tapi, sayangnya Aisyah belum cukup puas dengan jawaban Raihan, "Sendirian?"
Raihan menatap Aisyah, kenapa dia menanyakan hal seperti ini?
Aisyah menyadari raut wajah Raihan yang seolah mengatakan kalau ini bukanlah urusannya, dan dirinya tidak perlu menanyakan hal seperti ini, "Ah, ak-aku cuma tanya aja kok," jawab Aisyah.
Raihan menghembuskan napas panjang, "Aku mau istirahat dulu,"
Akhirnya pria itu pergi tanpa memberikan penjelasan pada Aisyah. Aisyah hanya memandang kepergian Raihan. Apa benar itu Aletta? Makanya Raihan enggan mengatakannya?
"Ya Allah, hilangkanlah prasangka buruk hamba ini Ya Allah," gumam Aisyah berusaha menenangkan emosinya.
.
.
.
Hari sudah mulai larut, Aisyah sudah selesai masak makan malam. Tapi Raihan belum juga keluar dari kamar sedari pulang tadi. Aisyah melepas celemeknya, lalu berjalan ke arah tangga, lalu menaiki satu persatu anak tangga itu hingga sampai di depan pintu kamar Raihan.
Tok! Tok! Tok!
Tidak ada balasan dari dalam. Aisyah menarik gagang pintu itu, tidak terkunci. Tidak biasanya Raihan tidak mengunci pintu kamarnya, perlahan Aisyah masuk ke dalam kamar itu, memastikan jika suaminya masih berada di sana.
"Mas Raihan!" pekik Aisyah sembari berlari menghampiri Raihan yang terduduk di samping tempat tidur dengan wajah pucat.
Aisyah berusaha membantu Raihan agar bisa berbaring di atas tempat tidur, sedikit sulit karena berat Raihan jelas jauh lebih besar daripada Aisyah yang hanya bertubuh kecil, tapi Aisyah tetap berusaha membantu Raihan.
Jelas sekali jika Aisyah tengah cemas dengan keadaan Raihan sekarang. Tangannya menyentuh dahi Raihan, suhunya lumayan tinggi. Dan Raihan juga terus berkeringat.
"Mas Raihan jangan tidur dulu ya. Aku ambilin makan terus minum obat," ujar Aisyah terburu-buru.
"Jangan tidur dulu!" ujar Aisyah sebelum menghilang dari balik pintu.
Raihan menatap ke arah pintu, ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang terasa dingin. Kepalanya benar-benar pusing, hingga tadi tanpa sadar ia jatuh setelah melaksanakan sholat Maghrib di rumah. Ya, sejak Ashar Raihan memilih sholat di rumah karena ia yakin tubuhnya tidak akan kuat jika ia paksakan ke masjid, dan ternyata benar, sekarang ia benar-benar tumbang.
Raihan menyentuh kepalanya beberapa kali, tangan Aisyah benar-benar lembut, tanpa sadar Raihan tersenyum tipis ketika mengingat betapa paniknya Aisyah ketika melihat keadaannya tadi.
Tak lama kemudian pintu kamar Raihan terbuka, menampilkan Aisyah yang membawa nampan yang di atasnya ada makanan dan air mineral. Aisyah menaruh nampan itu di atas laci.
"Mas Raihan makan dulu ya?" Aisyah membantu Raihan untuk duduk bersandar pada kepala ranjang. Lalu ia duduk di pinggir ranjang sembari mengambil mangkuk berisi nasi dengan sayur soop itu.
"Mas Raihan bisa makan sendiri?" tanya Aisyah memastikan. Karena biasanya Raihan sangat tidak ingin ia melakukan apapun pada pria itu.
Raihan tersenyum tipis, "Bisa tolong kamu suapi?" pinta Raihan dengan suara lemah.
Aisyah mengangguk cepat, lalu mulai menyuapi suaminya. Raihan mengunyah makanan itu dengan sangat perlahan, mulutnya terasa pahit, tapi ia tetap memaksakan makanan itu masuk ke dalam tubuhnya. Aisyah terus menyuapi Raihan sampai makanan itu tersisa setengah.
"Udah," ujar Raihan. Aisyah mengangguk paham, lalu menaruh mangkuk itu di atas nampan. Aisyah memberikan segelas air mineral itu pada Raihan, dan Raihan hanya menyeruputnya sedikit.
"Bentar, aku beliin obat dulu," ujar Aisyah.
"Nggak perlu, kamu ambil aja kotak putih di dalam lemari, kamu ambil yang bungkusnya warna hijau, itu obat demam," Aisyah mengangguk paham, lalu ia berdiri dan berjalan menuju lemari pakaian Raihan.
Aisyah mengambil kotak putih yang berada di lemari itu, lalu mengambil obat dengan bungkus hijau seperti yang Raihan arahkan. Aisyah kembali menghampiri Raihan, lalu memberikan obat itu pada suaminya.
"Ini mas," Raihan mengambil obat itu, lalu meminumnya dengan air mineral yang Aisyah siapkan.
"Udah," Aisyah baru bisa menghela napas lega setelah Raihan meminum obat itu. Lalu Raihan kembali merebahkan tubuhnya dengan bantuan Aisyah tentunya. Aisyah menaikkan selimut Raihan sampai bagian d**a. Tanpa sadar Aisyah mengusap kepala Raihan lembut, namun hanya sebentar karena ia langsung tersadar akan tindakan kecilnya yang mungkin saja tidak disukai oleh Raihan.
"Maaf," cicit Aisyah.
Raihan menatap Aisyah sendu. Entah mengapa Raihan merasa seperti sangat jauh dengan Aisyah, padahal sekarang ia tengah berada di dekatnya. Apa selama ini ia sudah terlalu dingin pada Aisyah?
"Apa boleh Aisyah di kamar Mas Raihan? Ai cuma mau jagain Mas Raihan aja," tanya Aisyah ragu-ragu.
Raihan tersenyum tipis, "Kamu tanya apa sih Ai? Ini kamar kamu juga. Kamu nggak perlu meminta izin ke aku kalau ingin masuk atau melakukan kegiatan apapun di kamar ini. Mengerti?"
.
.
.