Aletta berlalu pergi dari sana. Meninggalkan ribuan pertanyaan bagi Fauzan, dan masalah untuk Raihan.
"Raihan. Bisa kamu jelaskan apa yang sudah terjadi?" tanya Fauzan dengan tatapan tajam.
Hawa dingin mulai menusuk pori-pori kulit Raihan, harus ia jawab apa pertanyaan kakak iparnya itu. Menjawab jika Aletta adalah mantan kekasihnya, mantan? Bahkan ia belum sempat memutuskan hubungannya dengan Aletta.
"Raihan?"
Raihan menatap Fauzan ragu, "Dia temen SMA aku kak," ujar Raihan.
"Temen SMA apaan? Kenapa dia ke tempat kerja kamu, ngomongin apa? Kenapa cuma berdua aja, temen kamu cuma dia?" tanya Fauzan menuntut penjelasan.
Entah sudah berapa kali Raihan meneguk ludahnya sendiri, Fauzan benar-benar terlihat sangat menyeramkan. Tapi ia tahu berada di posisi Fauzan, karena ia juga akan melakukan hal yang sama jika ia berada di posisi pria itu.
"Kan Raihan udah bilang itu temennya Mas. Udah jangan marah-marah, dilihatin orang tuh," ujar Balqis berusaha menenangkan Fauzan yang mulai tidak bisa mengontrol emosinya.
Beruntung sekarang ada Balqis di sana, mungkin Fauzan akan langsung memukulnya, itulah yang Raihan pikirkan sekarang.
"Tapi Qis..."
"Raihan! Kita disuruh ke UGD!" panggil Randi sedikit berteriak.
Raihan menatap Randi, lalu menatap Fauzan, "udah, kamu ke UGD aja," ujar Balqis pada Raihan, lalu Balqis menatap Fauzan, "Ini bukan masalah yang harus dibesar-besarkan Mas,"
Fauzan menatap Balqis teduh, lalu menatap Raihan, "Ya udah, kamu mending ke UGD sekarang. Kapan-kapan kita bicara lagi," Raihan tersenyum tipis, "iya kak!"
"Kalau gitu aku permisi pergi dulu kak," ujar Raihan hendak berjalan pergi, namun terhenti karena Fauzan kembali mengeluarkan suara.
"Aku sama Balqis mau ke rumah kamu, nggak papa kan?"
.
.
.
Aisyah sudah dari rumah Ratna tadi, sebenarnya ia ingin membantu, tapi ia baru menyadari jika Ratna tipe orang yang sulit berkonsentrasi jika ada orang lain yang memperhatikannya. Jadi, Aisyah memilih pulang dan mengerjakan rancangannya lagi daripada menganggu Ratna yang mulai menjahit model pakaian pertamanya.
Seperti biasa, Aisyah mulai melakukan kesenangannya itu setelah semua pekerjaan rumah selesai. Jadi ia bisa lebih fokus lagi sebelum jam makan siang Raihan. Sebenarnya Aisyah mulai kepikiran untuk membuat sketsa di android agar lebih cepat, tapi untuk sekarang ia masih nyaman untuk menggambar di kertas, mungkin beberapa waktu ke depan ia akan mulai mencoba menggambar di ponsel atau tablet.
Suara bel membuat Aisyah berhenti mewarnai. Ia memasang nikab-nya, lalu berjalan ke depan untuk membukakan pintu. Aisyah memutar kuncinya, lalu membukakan pintu. Senyuman Aisyah langsung merekah ketika melihat Fauzan dan Balqis berada di sana.
"Kan Fau, Kak Aqis," ujar Aisyah sembari memeluk Balqis.
"Jangan kenceng-kenceng peluknya, Ai," ujar Fauzan memperingatkan Aisyah.
Spontan Aisyah langsung melepaskan pelukannya ketika mengingat jika kakak iparnya itu tengah mengandung sekarang, "Eh, iya. Maaf ya Kak,"
"Nggak papa kok. Kakak juga kangen sama kamu. Gimana kabar kamu?" tanya Balqis dengan suara lembutnya.
"Ai sehat wal'afiat kok. Yuk masuk Kak," ajak Aisyah. Lalu ia menutup pintu ketika Fauzan dan Balqis sudah masuk ke dalam.
"Mas Raihan masih di rumah sakit. Biasanya pulang malam sih," ujar Aisyah memberitahu.
"Iya, tadi kita juga habis ketemu Raihan di rumah sakit," jawab Balqis.
Fauzan melirik Aisyah, mulutnya sudah gatal ingin memberitahu Aisyah perihal wanita yang bernama Aletta.
"Aisyah," panggil Fauzan, namun bukan hanya Aisyah yang menoleh, Balqis juga menoleh karena takut Fauzan akan berbicara yang aneh-aneh perihal Raihan.
"Iya kak?" tanya Aisyah setelah melepas nikab-nya.
"Tadi..." Balqis menatap Fauzan tajam, dan Fauzan pun menyadarinya.
"Ada apa kak? Kok malah tatap-tatapan gitu?" tanya Aisyah ketika melihat Balqis dan Fauzan.
"Eh, nggak papa kok Ai. Tadi kita cuma lihat Raihan sama temennya di kantin rumah sakit,"
"Ah, iya. Katanya hari ini ada operasi, kayaknya udah selesai ya?" tanya Aisyah sembari melihat jam di dinding.
"Iya kayaknya," balas Balqis.
"Ai," panggil Fauzan lagi. Balqis kembali menatap Fauzan, namun Fauzan malah menyentuh tangan Balqis seolah mengatakan kalau Fauzan tidak akan membahas masalah itu.
"Iya abangnya Aisyah. Ada apa?" tanya Aisyah.
"Hubungan kamu sama Raihan baik-baik aja kan?" Pertanyaan yang sudah lama Fauzan pendam. Karena dulu ia tidak terlalu yakin jika Raihan mencintai adiknya, ditambah lagi tadi ia memergoki Raihan bersama wanita lain, menambah yakin spekulasinya mengenai kedekatan Raihan dan Aisyah.
Tentu saja Aisyah terkejut dengan pertanyaan Fauzan. Kenapa ia merasa Fauzan tengah membahas hal yang serius dengannya.
"Mas Fauzan apa-apaan sih?" sela Balqis lirih.
"Aku cuma tanya Balqis," jawab Fauzan lembut.
"Hubungan aku baik-baik aja kok sama Mas Raihan," Aisyah tidak mungkin berkata jujur perihal hubungannya dengan Raihan. Apalagi mengenai masalah Aletta yang tidak ada habisnya, Aisyah tidak ingin membuat Fauzan cemas, selain itu ia juga tidak boleh membuka aib suaminya sendiri walaupun itu kepada kakaknya.
Sebagaimana firman Allah SWT: “… mereka (istri-istrimu) merupakan pakaian bagimu dan kamu merupakan pakaian bagi mereka…,” (QS Al-Baqoroh : 187)
Artinya, jika istri membuka aib pasangannya, sama saja dia sedang menelanjangi diri.
“Perumpamaan orang yang membuka aib pasangannya itu seperti orang yang digigit beberapa ular hitam pada hari kiamat nanti,”. (HR Thabrani)
"Mas Fauzan nggak boleh menanyakan hal itu, karena walaupun ada masalah, Istri mempunyai kewajiban untuk menutup masalah itu rapat-rapat. Balqis mohon Mas Fau ngerti ya?" ujar Balqis menasihati suaminya.
Fauzan tahu akan hal itu. Tapi Fauzan juga tidak bisa membiarkan adiknya disakiti oleh Raihan. Feeling-nya benar-benar kuat, ia yakin tengah ada sesuatu yang Aisyah tutupi darinya. Fauzan selalu berusaha melindungi Aisyah sedari kecil, karena ia benar-benar menyayangi adiknya itu. Ia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Aisyah, termasuk Raihan.
Sedangkan Aisyah hanya menatap Fauzan dan Balqis bingung. Apa telah terjadi sesuatu, makanya Fauzan sampai terlihat semarah itu? Kenapa ia merasa seperti Fauzan tengah kesal dengan Raihan? Atau itu hanya perasaannya saja?
"Emangnya ada masalah apa sih kak?" tanya Aisyah.
"Nggak papa kok Ai, Mas Fauzan lagi banyak pikiran kayaknya," jawab Balqis berusaha menenangkan suasana.
Fauzan memaksakan senyumannya terbit, sepertinya Aisyah memang tidak tahu apa-apa mengenai Aletta. Namun, Fauzan tetap tidak menyukai wanita itu. Mungkin tadi Raihan sudah mengatakan kalau Aletta hanya teman SMA-nya saja, tapi tentu saja Fauzan tidak akan percaya, apalagi ketika melihat interaksi keduanya yang begitu dekat, seolah entah sebelum itu atau sekarang mereka ada hubungan.
Dan untuk memastikan semuanya, Fauzan akan mencaritahu siapa Aletta,
.
.
.
Setelah Fauzan pulang, Aisyah pergi ke rumah sakit membawakan bekal untuk Raihan.
Sebenarnya Aisyah seperti merasakan jika Fauzan ingin membicarakan sesuatu kepadanya, tapi Balqis terus menghalangi. Apa ini perihal Raihan? Entah kenapa raut wajah Fauzan sering kali berubah kesal jika ia membahas tentang Raihan, atau mungkin hanya perasannya belaka? Sepertinya ia harus menanyakan hal ini nanti pada Raihan.
Aisyah sudah sampai di kantin, ia mengeluarkan ponselnya. Lalu mengirimkan pesan pada Raihan.
To: Raihan
Assalamualaikum Mas, Ai udah sampai,
Tak berselang lama pesannya dibalas,
By: Raihan
Waalaikumsalam
Aisyah tersenyum setelah mendapatkan balasan dari Raihan. Hanya hal kecil memang, tapi dapat membuat Aisyah senang. Aisyah kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu memegang tas yang berisi bekal untuk suaminya itu.
"Assalamualaikum," ujar Raihan yang tiba-tiba sudah duduk di hadapan Aisyah.
"Waalaikumsalam, mas," Aisyah berdiri, lalu mencium punggung tangan Raihan.
"Maaf Ai, tapi UGD lagi sibuk. Jadi, aku nggak bisa makan sekarang," ujar Raihan tidak enak pada Aisyah yang sudah jauh-jauh datang dan membawakan bekal padanya. Sebenarnya tadi ia ingin melarang Aisyah datang, tapi sayangnya ia lupa.
"Ah, iya nggak papa kok. Dimakan nanti aja kalau udah senggang," jawab Aisyah mengerti.
"Maaf juga aku nggak bisa lama-lama di sini, aku harus balik ke UGD," Aisyah menganggukkan kepalanya, "Iya mas, nggak papa,"
"Ya udah, aku pergi dulu Ai. Bekalnya aku makan nanti, Assalamualaikum," ujar Raihan, ia membawa tas itu, lalu terburu-buru pergi dari sana.
"Waalaikumsalam mas," jawab Aisyah bergumam sembari menatap kepergian Raihan.
Aisyah hendak berdiri dan pergi dari sana, namun terhenti karena tiba-tiba seorang wanita duduk di tempat Raihan tadi.
"Permisi Mbak," ujar Aisyah sopan, ia akan berdiri tapi wanita itu langsung menahan lengannya.
"Lo istri Raihan kan?" tanya wanita itu.
"Iya mbak," jawab Aisyah seadanya.
"Lo nggak pengen tahu siapa gue?" tanya wanita itu dengan nada suara angkuhnya.
Aisyah ingin menggelengkan kepalanya, tapi sepertinya tidak sopan jika ia melakukan itu, "memangnya mbak siapa?"
"Gue Aletta, mantan Raihan,"
Deg!
.
.
.
Hari sudah mulai larut, tapi Raihan belum juga pulang ke rumah. Sedangkan Aisyah baru saja selesai mengaji. Aisyah menatap jam di ponselnya, sudah pukul 11 malam. Apa Raihan tidak akan pulang lagi hari ini?
Aisyah menghembuskan napas, lalu mengembalikan Al Qur'an-nya ke dalam laci. Aisyah membawa ponselnya keluar dari kamar, jaga-jaga jika Raihan menghubunginya. Aisyah pergi ke dapur untuk meminum air, lalu menuju ke ruang tamu untuk menunggu Raihan.
Beberapa kali Aisyah melihat ponselnya, tapi tidak ada tanda-tanda notif pesan dari Raihan terkirim kepadanya. Tidak melakukan apa-apa membuat Aisyah tiba-tiba teringat tentang kejadian tadi siang saat ia menemui Aletta secara langsung untuk pertama kalinya. Terkejut? Tentu saja. Apalagi ucapan Aletta yang langsung menghunus tepat di ulu hatinya.
"Gue udah pacaran bertahun-tahun sama Raihan. Tapi Lo masuk dan ambil dia dari gue. Terus Lo pikir gue bakal diem aja gitu? Kita sama-sama wanita kan? Gue harap Lo ngerti?" Itulah yang Aletta ucapkan tadi.
Aisyah benar-benar tidak paham maksud dari ucapan Aletta. Mengerti? Mengerti tentang hal apa? Aisyah sendiri juga tidak tahu kalau Raihan sudah lebih dulu memiliki hubungan dengan Aletta. Lalu apa yang harus ia mengerti? Aisyah sedih sendiri memikirkannya.
Ia tahu Aletta mencintai Raihan. Tapi ia pun juga sama, ia mencintai suaminya, bukan karena apa-apa, tapi karena Raihan adalah suami sah-nya di mata negara dan agama. Ia tidak ingin memberikan ruang untuk Aletta di dalam rumah tangganya. Tapi, apa Raihan juga demikian? Apa Raihan juga berniat untuk tidak lagi berhubungan dengan Aletta? Sungguh, Aisyah merasa serba salah di posisinya sekarang.
Tanpa sadar setetes air mata turun membasahi pipinya, dadanya sesak ketika mengingat ucapan Aletta. Sebenarnya apa kesalahannya? Kenapa seolah semua yang terjadi adalah karena dirinya?
Aisyah terisak kecil, sampai bel berbunyi membuyarkan lamunan Aisyah. Aisyah tetap memakai nikab untuk berjaga-jaga, lalu ia berjalan ke arah pintu utama, dan membukakan pintu.
"Assalamualaikum," ujar Raihan dengan wajah lelahnya.
"Waalaikumsalam mas," jawab Aisyah sembari meraih tas kerja Raihan.
Raihan berjalan masuk ke dalam rumah, sedangkan Aisyah mengunci pintu terlebih dahulu baru mengikuti langkah Raihan.
"Mas Rai udah makan?"
"Udah. Aku mau istirahat dulu," ujar Raihan singkat. Lalu pria itu langsung pergi menaiki anak tangga meninggalkan Aisyah.
Aisyah menundukkan kepalanya sedih. Selalu saja seperti ini, ia juga ingin mengetahui perasaan Raihan yang sebenarnya. Tapi seolah semuanya tidak ada gunanya ketika melihat sikap dingin Raihan kepadanya.
"Terus Ai harus gimana Mas,"
.
.
.