Rigel tahu ada yang tidak beres dengan hatinya. Ada detik di mana ketika dia sedang memikirkan tentang sesuatu, tiba-tiba saja Bee menyelinap masuk ke dalam kepalanya dan mengganggunya. Berupaya keras untuk mengenyahkannya pun terkadang dia kesulitan. Jika itu cinta, itu tidak mungkin. Karena ketika bersama Bella dulu, pikirannya tak serumit itu. Ditambah lagi ibunya mengungkit tentang Bee semalam, membuat mood Rigel benar-benar buruk sekarang.
Dengan bibir tertutup rapat, kening berkerut, auranya terasa dingin dan menghitam, Rigel masuk ke dalam gedung kantornya. Tidak ada senyum sekecil pun di bibirnya. Sapaan yang diberikan kepadanya hanya ditanggapi dengan sebuah anggukan ringan. Masuk ke dalam ruangan, dia tak mendapati Bee ada di meja kerjanya. Masuk lebih dalam lagi, ternyata dia menemukan perempuan pengganggu itu ada di sana.
Bee sedang mengecek apa-apa saja di ruangan tersebut. Mulai dari lemari lelaki itu yang berisi beberapa pakaian formal yang barangkali akan digunakan di saat-saat mendesak, sampai hal-hal kecil seperti pena dan lain-lainnya.
“Keluarlah! Sudah cukup kamu melakukan semuanya.” Bee terkejut dan segera saja dia menoleh ke belakang.
“Bapak sudah datang.” Bee meletakkan buku yang dipegangnya kemudian mendekati lelaki itu. Rigel tak menjawab dan hanya memberikan tatapan dingin miliknya. Tak putus asa, Bee kembali bertanya, “Bapak mau minum apa?”
“Tidak perlu. Keluar saja, saya akan bekerja dan jangan mengganggu saya jika tidak ada yang penting untuk dibicarakan.” Bee sudah paham dengan raut macam apa yang ditunjukkan Rigel kepadanya pagi itu. Lelaki itu sedang tidak nyaman dengan hatinya sendiri. Tentu, satu-satunya hal yang perlu dilakukan oleh Bee adalah dengan menuruti apa yang dikatakan oleh Rigel kepadanya. Perempuan itu mengangguk dan tanpa basa-basi lagi, dia keluar dari ruangan besar tersebut. Tak lama setelahnya, bunyi pintu terkunci terdengar. Itu sudah menandakan jika Rigel memang benar-benar tidak mau diganggu.
Bukan masalah bagi Bee, toh dia juga memiliki banyak sekali pekerjaan yang perlu diselesaikan. Terbiasa dengan mood Rigel yang naik turun, membuat Bee sudah menyediakan stok kesabaran di dalam hatinya. Kini, ketika Bee sudah mulai bekerja, maka waktu terasa cepat sekali berjalan. Pukul sepuluh, sebelas, dan dua belas, tak terasa dia sudah duduk di kursinya selama beberapa jam di sana.
“Kamu mau kemana?” Ketika baru saja mau pergi keluar, suara Rigel menginterupsinya.
“Saya akan keluar, Pak. Sudah waktunya makan siang.”
“Saya sudah memesan makanan. Masuk, kita akan membahas pekerjaan di dalam.”
“Tapi, Pak. Saya ada janji dengan orang lain.”
“Kalau begitu, silahkan keluar. Tapi tidak perlu masuk kerja lagi.” Setelah mengatakan itu, Rigel kembali masuk ke dalam ruangannya mengabaikan raut kesal Bee. Perempuan itu lantas masuk ke dalam ruangan Rigel setelah dia menghubungi Miel yang memang mengajaknya makan siang bersama. Padahal, semenjak dia bekerja, tidak ada sekali pun bertemu dengan sahabat satu-satunya yang masih betah berteman dengannya itu.
Bee masuk ke dalam ruangan Rigel dan mendapati lelaki itu tengah fokus dengan bacaannya. Tidak ada tanda jika akan ada pembahasan yang perlu dilakukan bersamanya.
“Apa yang harus kita kerjakan, Pak?” Tanya Bee menekan rasa kesalnya. Secinta-cintanya dia dengan Rigel, tentu saja jika diperlakukan seperti itu pasti juga tertekan.
“Bukankah kamu mau pergi?” Tanya balik Rigel.
“Saya sudah membatalkannya.” Melihat gedung bertingkat di samping gedung kantornya, ingin rasanya Bee melompat ke sana dan berteriak sekencang mungkin kenapa dia mencintai orang gila? Kenapa dia harus terjebak dengan perasaan busuk yang menyebalkan? Kenapa dia tidak bisa membuang saja rasa cinta itu kemudian hidup dengan kenormalan yang seharusnya didapatkan?
“Sampai kapan kamu akan berdiri diam di sana dan menyumpahiku?” Seketika, Bee melototkan matanya dan menatap ke arah Rigel yang sudah menatapnya juga. Dari mana lelaki itu tahu dia sedang memberontak pada dirinya sendiri?
“Makanan sudah hampir selesai dihidangkan.”
“Maafkan saya, Pak. Saya sedang tidak fokus.” Dan percuma saja Bee mengeluarkan permintaan maaf kalau pada akhirnya dia hanya diabaikan oleh Rigel. Makanan sudah tersusun rapi dengan beberapa menu yang terlihat sangat lezat. Rigel mengedikkan kepalanya memberi tanda jika makanan itu sudah boleh dimakan.
Ada beberapa pertanyaan yang menggantung di kepala Bee yang membutuhkan jawaban. Tapi lagi-lagi dia menahannya. Karena dia pernah mendapatkan pelototan tajam dari Rigel karena makan sambil bertanya ini dan itu. Daripada membuat masalah, lebih baik tidak.
“Karena peresmian kantor cabang akan dilakukan, kita akan datang ke sana dan akan menginap selama dua hari di kota itu. Kamu urus semuanya dan jangan sampai ada yang terlewatkan!” Pada akhirnya Rigel mengatakan tujuannya setelah makan siang itu selesai. Dan sepertinya Bee memang melupakan tentang peresmian tersebut padahal meeting sudah dilakukan beberapa hari yang lalu. Meskipun agak ngebug sedikit otak Bee, tapi dia segera sadar jika ini adalah sebuah hal yang lagi-lagi tidak pernah dipikirkan sebelumnya akan terjadi.
Pergi berdua dengan Rigel ke luar kota, belum pernah masuk dalam daftar angannya. Diperlakukan baik saja, bagi Bee sudah cukup. Tapi sekarang, Tuhan mempermudah jalannya. Bukankah ini buah dari kesabarannya selama ini? Jika dia menyerah sejak dulu, maka sudah pasti hal-hal semacam ini tidak akan pernah didapatkan.
“Baik, Pak.” Katanya dengan hati yang bahagia luar biasa. Dia menarik segala macam dumelan yang dilakukan tadi dan memilih memuji si tampan pujaan hatinya itu dengan bangga. Rigel memang tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Bee seharusnya memang bangga dengan semua hal itu. Dan tentu membuat sisa hari itu diliputi kebahagiaan yang tak terkira. Ada banyak bayangan yang tercetak di dalam otaknya dan Bee merasa tidak lama lagi hal-hal yang tidak pernah dirasakan akan segera dirasakan.
Mendapatkan cinta dari Rigel misalnya? Tidak-tidak, Bee tak seharusnya memikirkan sampai sejauh itu. Dia memang harus berpikir yang lebih logis lagi karena kalau tidak, itu akan membuat dirinya sendiri yang kewalahan. Tapi ketika Bee mengatakan sebuah perubahan kecil itu kepada Archer, dugaan baik itu dipatahkan oleh lelaki itu.
“Jangan terbuai dan menjadi bodoh, Bee.” Begitu katanya. Mereka sedang berkumpul bertiga dan dua dari tiga orang itu membahas tentang kepergian Bee dinas nanti bersama dengan bosnya. Tak lupa, Bintang juga ada di sana hanya sebagai pihak pendengar. “Kamu sudah kecewa berkali-kali karena penolakannya. Jadi jangan lagi berharap lebih.”
“Entahlah, aku merasa jika Rigel mungkin sudah mulai membuka hatinya buatku.”
“Kapan kamu akan berhenti, Dek?” Bintang bersuara dan seketika Bee merasa tegang di tempatnya. Bintang selama ini benar-benar tidak terlalu memedulikan tentang hubungannya dengan Rigel. Tapi apa sekarang?
“Kamu memang perempuan hebat di mata Abang, kamu melakukan yang terbaik selama sepuluh tahun ini, tapi mengharapkan seseorang berubah sedangkan orang itu tidak mau mengubahnya adalah hal yang sia-sia. Jangan membuang waktumu.” Setelah mengatakan itu, Bintang pergi meninggalkan Bee yang seolah tertampar habis-habisan.
***