Ada yang aneh dengan kamarnya begitu Song Ji Eun terbangun hampir pukul tiga sore hari itu, duduk menyandarkan dirinya di kepala kasurnya, membiarkan cahaya matahari musim panas yang terik masuk dari jendela kamarnya, jatuh diatas wajah putih orientalnya.
Kepalanya terasa pening, tapi ia masih bisa mengingat kalau semalam itu ia langsung tertidur disofa ruang tamu apartemenya setelah berhari-hari ia menginap di kantor, mengerjakan deadline pekerjaannya.
Kemarin itu memang benar-benar parah, bahkan setelah tidur hampir seharian, Ji Eun masih butuh waktu beberapa menit diatas kasurnya untuk bisa benar-benar terjaga, membiarkan sunyinya ruangan apartemen yang sudah ditempatinya selama tiga tahun sendirian itu membuatnya menyadari sesuatu.
Ruangan bernuansa biru itu terlihat benar-benar rapi, entah kemana semua pakaiannya yang selalu ia tumpuk dibawah kasur, jadi gadis itu memutuskan untuk keluar kamar dan malah tambah kebingungan setelah menemukan hampir semua isi apartemennya terlihat rapi, lantainya bahkan wangi harum pewangi aroma Lavender.
Apa ia salah masuk apartemen?
Tidak juga.
Semua keanehan itu langsung terjawab begitu gadis itu berjalan ke arah dapur, menemukan presensi seorang pria dengan pakaian serba hitam duduk di kursi meja makannya, telinga pria itu disumpal headset yang suaranya bahkan terdengar dari tempat Ji eun berdiri setengah meter didepannya, alis hitam tebal pria itu bertautan dengan sepasang netra yang terlalu fokus ke layar ponselnya.
Kalau dilihat-lihat, garis wajah lelaki itu masih terlihat seperti anak yang baru mulai kuliah, polos dan kekanakan, kontradiktif dengan otot lengan dan betisnya yang besar dan kuat.
Begitu menyadari kehadiran Ji eun yang berdiri didepannya, pria itu melepaskan headset dari telinganya, sepasang netra mirip netra rusa-nya membulat, menarik sudut-sudut bibirnya yang dengan cepat mengembang dan membentuk lengkung yang manis.
"Selamat sore, Ji Eun-shi..."Sapa pria itu, sedikit menunduk menyapanya formal, memperhatikan Ji eun yang baru bangun dengan wajah yang sedikit sembab dan surai panjang yang tergerai acak , sementara pria itu malah sudah tampak rapih dan wangi sabun mandi, surai hitam kecoklatan miliknya bahkan terlihat jatuh dengan sangat lembut.
"Oh, Jungkook-shi, sudah sore ya?"Ji Eun menahan senyumnya oleh sapaan Jungkook, gadis itu lalu celingukan keluar jendela, memandangi langit Tokyo yang kebiruan dan matahari musim panas yang masih sedikit terik, Ji Eun menarik nafasnya, tidak menyangka ia benar-benar menghambur-hamburkan hari liburnya hanya untuk tidur selama hampir seharian.
"Apa kita punya janji hari ini Jeon Jungkook-shi? Sepertinya aku lupa kalau kita ada janji" Tanya Ji Eun sambil berjalan kearah lemari es, melewati Jungkook yang hanya diam memperhatikannya, menunggunya untuk duduk disampingnya, tapi gadis bersurai panjang nyaris sepinggang itu malah benar-benar melewatkannya, lebih tertarik pada isi lemari esnya daripada kekasihnya yang sudah lebih dari tiga bulan tidak ditemuinya itu.
Gadis itu mengeluarkan sekotak makaroni Schotel yang tinggal setengah dan sudah lebih dari tiga hari berada disana, memakannya dengan lahap, jadi ia memang terbangun dari tidur panjangnya karena perutnya benar-benar lapar.
"Kau sudah makan Jung? Kau mau? Kapan kau sampai? Kenapa tidak membangunkanku?" Tanya Ji Eun, duduk disamping pria itu, membiarkan Jungkook hanya tersenyum memperhatikan Ji Eun mengunyah lahap Macaroni Schotelnya seperti orang tidak makan berhari-hari.
"Makanlah, sebenarnya aku sampai pukul 9 pagi tadi, kau tidur lelap di sofa seperti bayi bagaimana bisa aku membangunkanmu?" Jawab pria itu, tangannya terangkat untuk merapikan rambut Ji Eun, tersenyum hangat, tapi mendadak Ji Eun terdiam, menancapkan sendok kemulutnya, ia tiba-tiba teringat akan sesuatu.
"Bukankah hari ini kau seharusnya pergi ke pernikahan Kakak sepupumu?" Tanya Ji Eun, menatap Jungkook dengan dahi mengerut, Ji Eun memang melupakan hampir segalanya tentang kehidupannya diluar pekerjaan, ia bahkan tidak sempat membalas pesan Jungkook selama seminggu ini, bahkan untuk sekedar menyalakan ponselnya, tapi entah kenapa, Ji Eun tidak bisa lupa dengan hari ini, dan alasan Jungkook berada disini sekarang.
"Acaranya masih dua jam lagi, jadi kita bisa keluar makan dulu lalu bersiap-siap kesana" Jawab Jungkook, tapi jawabannya hanya membuat Ji Eun terdiam, berhenti mengunyah makanannya.
"Aku, aku tidak bilang aku ingin ikut Jung" Ji Eun setengah bergumam, memperhatikan sisa Macaroni-nya, mendadak merasa cukup dengan perutnya.
"Kenapa?"Tanya pria itu, rautnya terlihat bingung dan kecewa, tentu saja, Jungkook menghabiskan perjalanan 2 setengah jam dari Seoul ke Tokyo memang untuk menghadiri acara pernikahan sepupunya, Seok Jin Hyung, tapi kalau Ji Eun tidak ikut dengannya ke acara itu, ia mungkin tidak bisa melihat Ji Eun lagi hari ini, besok, dan entah sampai kapan lagi, dan ia tidak mau.
"Aku tidak ingin mengganggu acara keluarga mu, sudah ku bilang" Ji Eun menarik nafasnya, bangun untuk mengambil segelas air dan menaruh kembali macaroninya kedalam kulkas.
"Kau tidak akan mengganggu siapapun, Ji, ayolah, hanya satu jam disana setelah itu kita pergi ketempat lain" pinta Jungkook, setengah merayunya, tapi percuma.
"Tidak, kau tahu aku tidak bisa" bantah Ji Eun, berdiri di depan lemari esnya tanpa mau menatap Jungkook.
"Kita keluar sebentar, setelah itu kau pergi sendiri kesana, jadi bersiaplah Jung, aku akan siap-siap juga" Ujar Ji Eun sambil berjalan meninggalkan dapur, kembali kedalam kamarnya, mengambil selembar handuk dan membiarkan Jungkook menyusulnya dengan raut penuh protes.
"Kalau begitu aku juga tidak akan ke mana-mana, kita disini saja seharian" Jawab pria itu sebelum Ji Eun masuk ke dalam kamar mandi, pria itu menghempaskan dirinya dikasur Ji Eun, menghirup perpaduan aroma wangi yang khas disana, aroma yang paling disukainya di dunia ini dan hanya ada di tempat ini, diruangan ini.
Ji Eun tidak membalas lagi setelah pergi ke kamar mandi sampai bermenit-menit kemudian, sementara Jungkook hanya kembali pada game online-nya.
"Kau belum siap-siap?" Gerutu Ji eun begitu melihat Jungkook yang masih dengan kaus hitam yang sama bersantai-santai di kasurnya, sementara ia sudah berpakaian kasual dengan celana Jeans dan kaus putih, juga handuk yang masih membungkus rambut basahnya.
Pria itu menaruh ponselnya, sepasang netranya hanya tersenyum memandangi presensi Ji Eun yang sudah lebih segar dengan aroma bunga dan buah kesukaannya.
"Aku sudah siap dari tadi, kemari, kita hanya akan tidur saja sampai besok pagi" pria itu menepuk sisi ranjang Ji Eun yang kosong di sampingnya sambil mengulum senyum manis, benar-benar manis sampai Ji Eun hanya bisa menarik nafas dalam-dalam.
"Jangan bercanda, ini sudah jam berapa? Pokoknya kau harus datang kesana Jeon Jungkook" Bantah gadis itu, mematahkan semua keinginan Jungkook yang sederhana.
"Aku akan bilang pada Omma kalau aku ada pekerjaan dadakan"
Ji Eun kembali menarik nafasnya, memandangi Jungkook yang terlihat seperti anak SMP yang sedang merengek ketimbang seorang CEO GoldenArchiteam, dan entah mengapa, itu terlihat menggemaskan sekaligus menjengkelkan bagi Ji Eun.
"Jangan berbohong pada Omma-mu, aku tidak suka, lagipula kau tidak akan setega itu pada Seokjin Hyung-mu, dia akan sangat sedih kalau kau tidak datang, aku tahu kalian sangat dekat" Ujar Ji Eun, duduk di tepi kasur, mengeringkan rambutnya.
Jungkook tidak menjawab kata-katanya, pria itu hanya bergeser menghampirinya, duduk diam di depannya, memperhatikannya dengan tatapan lembut dan tulus yang membuat Ji Eun meluluhkan hatinya juga setelah setahun lebih ia membiarkan seorang Jeon Jungkook berkeliaran bolak balik Seol-Tokyo hanya demi mengobrol dengannya beberapa jam. Seperti yang sedang dilakukannya saat ini.
Jungkook orang yang lucu, menyenangkan, penuh dengan lelucon yang selalu membuatnya tertawa, tapi disisi lain, pria itu sangat berbeda dalam urusan pekerjaan, Jungkook adalah pekerja keras, orang yang selalu sibuk dengan proyek-proyek besarnya, orang yang tidak akan bisa ia hubungi kapan saja, dan tidak selalu ada saat ia butuhkan, tapi begitu berada dengannya, pria itu hanya akan bersamanya kemanapun, menempelinya 24 jam, haus akan attensi, tidak ingin ada distraksi, possesif.
"Iya, ya sudah..." Gumam Jungkook dengan nada tidak rela, mengangguk pelan.
Menyerah? Tidak juga, pria itu hanya tidak ingin membahas hal ini lagi, yang diinginkannya hanya memandangi gadis cantik yang ada didepannya selama mungkin, seintens mungkin.
"Kenapa kau jadi semakin cantik saja tiap aku kembali kesini?" Gumam pria itu, tersenyum manis, mulai menggodanya.
"Tidak, kau mungkin hanya kelelahan setelah perjalanan jauh dan langsung membersihkan apartemenku" bantah Ji Eun, berusaha untuk tidak terpengaruh tapi gadis itu memang tidak bisa menahan pipinya untuk tidak merona oleh pujian Jungkook, pria itu tersenyum, mengangguk-angguk.
"Bisa jadi, aku mungkin hanya kelelahan, kau bahkan punya jerawat disini" Jungkook menatap kening Ji Eun dengan dahi mengerut, merapatkan duduknya demi bisa menunjuk satu titik di dahi gadis itu.
"Masa?"Tanya Ji eun tidak percaya, ia langsung menyentuh dahinya, tapi Jungkook menahan tangan gadis itu, dengan cepat menyambar kulit dahi Ji Eun dengan kecupan singkat.
"Sudah hilang ku makan. Hehe..." Pria itu terkekeh lucu, tersenyum geli dengan hidung mengerut seperti anak kecil.
"Dasar tidak jelas, lama-lama candaanmu jadi mirip candaan Hyungmu, kau sadar?"
Ji Eun mendengus menahan geli oleh perbuatan kekanak-kanakkan Jungkook, tapi tidak juga bisa menahan senyumnya oleh usaha pria itu.
"Tidak jelas? Mau ku perjelas ?" balas pria itu, menaikkan setengah alisnya, tersenyum sambil menyentuh kedua pipi Ji Eun.
"Tidak, ah jangan begini" Bantah Ji Eun, menggeser duduknya menjauh karena Jungkook perlahan memepetnya, berusaha menciumnya.
"Yang tadi tidak jelas bukan? Sini ku perjelas..."paksa cowok itu sambil tertawa, menarik-narik tangan Ji Eun yang menghalang-halanginya mendekati wajah gadis itu.
Ji Eun menahan dirinya sebisa mungkin walaupun percuma, yang dilakukan mereka hanya saling tertawa sambil terus menyerang dan menghindar sampai akhirnya Jungkook memepetnya ke kepala ranjang, dengan gerakan cepat yang kuat sekaligus lembut, pria itu menahan kedua tangannya, merengkuh wajahnya, mendaratkan ciuman lembut yang selalu dengan perasaan yang penuh oleh rasa rindu yang dalam, membuat Ji Eun terdiam, menyerah untuk melawan.
"Aku sangat merindukan mu, sayang..."gumam pria itu, suaranya berat, menatap Ji Eun dengan nafas tertahan sebelum menarik kembali bibir Ji Eun dibawah hidungnya, mengecupinya berkali-kali dengan perasaan yang tidak ditahan-tahan lagi, tangannya yang kuat perlahan melingkari pinggang Ji Eun sampai kebelakang, merengkuh erat, seolah dengan begitu semua perasaan rindunya akan terbebaskan.
Ji Eun hanya menutup netranya, membalasi semua perasaan Jungkook sama besar, sama hangat, meleburkan perasaannya yang jadi serba kacau, sesuatu yang besar masih mengganjal didadanya, sesak bahkan terlalu sesak sampai rasanya Ji Eun ingin menangis karena ciuman-ciuman mereka hanya membuatnya ingin memiliki pria itu lebih besar, lebih banyak, tapi ia tahu ia tidak bisa.
Semua kecupan-kecupan itu, sentuhan jari yang mulai bergerak ke mana-mana menyalurkan hasrat yang terasa mengaburkan kesadaran, mendadak terpecah oleh suara dering ponsel di dekat mereka, suara dari panggilan itu menghentikan semua gerakan, menajamkan kesadaran mereka yang kemudian hanya sama-sama terdiam, tidak ada yang bergerak diruangan yang hanya bising oleh getar hp milik Jungkook didekat mereka.
Ji Eun yang lebih dulu menghentikannya.
"Angkat telponnya, Jung" Gumam Ji Eun, menelan salivanya sembari mendorong pelan pria didepannya untuk memberi jarak, benda itu terlalu dekat dengan mereka sampai Ji Eun bisa melihat nama di layarnya.
"Omma-mu pasti khawatir" Ujarnya sambil kembali duduk ditepian ranjangnya setelah Jungkook tadi membawanya kemana-mana.
"Kalau kau bilang mau ikut dengan ku aku akan mengangkatnya" Jawab Jungkook, mengancam, tentu saja, pria itu tidak rela dipisahkan dengan cara begini.
"Kau benar-benar ingin melihatku dipermalukan di depan keluargamu? Ibumu mungkin akan membunuhku kalau aku datang, jadi kumohon pergi saja sendiri Jung"
Ji Eun menggumam, dalam, memandangi Jungkook, memintanya menyerah karena ia benar-benar takut dengan benda yang terus berdering itu sekarang.
"Ayolah sayang, kau akan baik-baik saja, Ibuku tidak segila itu" balas pria itu, masih belum mengerti, seolah Ji Eun hanya berhalusinasi tentang ketakutannya.
"Disana ada Yeowon bukan? Ada orang tuamu, keluargamu, keluarga Yeowon, kenapa sih kau tidak pergi saja sendiri?" Ji Eun menghela nafasnya, ia sungguh tidak ingin berdebat lebih lama dengan Jungkook.
"Aku tidak mau, kekasihku itu kau, Ji"
"Jeon Jungkook, Yeowon itu tunanganmu" Ji Eun menarik nafasnya dalam-dalam, menekan kata-katanya takut kalau Jungkook lupa, tapi dahinya mengernyit karena ia merasakan ngilu yang terasa sangat nyeri di hatinya menyebutkan kenyataan itu, kenyataan yang selalu dipungkiri pria didepannya, kenyataan yang sama-sama tidak bisa mereka terima tapi Ji Eun mulai tahu diri, menjadi kekasih seorang Jeon Jungkook bukan hanya soal mereka berdua, bukan hanya tentang cinta, ada terlalu banyak pihak yang akan terlibat.
"Tidak, aku tidak pernah menerima pertunangan bodoh itu, mereka tidak bisa memaksaku"
Jungkook menekan kata-katanya , Ji Eun tahu betul Jungkook selalu keras kepala kalau soal pilihan hidupnya, soal karir maupun soal pilihan hatinya, Jungkook adalah orang yang akan melakukan berbagai cara untuk menjadi pemenang karena ia tidak suka dikalahkan oleh siapapun, termasuk orang tuanya.
"Lagipula kenapa? Kau mau menyerah padaku hanya karena itu? Song Ji Eun, jangan dengarkan kata-kata orang lain, Omma-ku juga, kau hanya perlu datang dan berada disamping ku"
Entah mengapa Jungkook tidak pernah mau mengalah untuk urusan yang satu ini, selalu bersikap kekanak-kanakan, padahal pria itu biasanya menuruti semua yang ia katakan, yang ia inginkan.
"Bukan begitu, Jung, kalau ini hanya tentang kau dan Park Yeowon, kau pikir aku tidak akan menghajarnya agar menjauhi kekasih ku? Aku hanya tidak suka kau jadi anak durhaka, bagaimanapun juga mereka mengurusimu dengan baik sampai sekarang, jadi, selesaikan itu dulu baik-baik baru datang kembali padaku, kau mengerti? Kau kan tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan orang tua" Jawab Ji Eun, sengaja mengatakan yang terakhir itu agar Jungkook bisa mengerti poin yang ingin ia sampaikan.
Jungkook terdiam, tidak langsung memembalasnya, suara dering telpon dari hp nya belum juga berhenti, seperti suara ancaman bagi Ji Eun yang tahu wanita seperti apa Ibunya Jeon Jungkook, keras kepala anaknya jelas menurun dari wanita itu.
Sesaat kemudian Ji Eun hanya merasa tubuhnya ditarik oleh tangan besar milik Jungkook dari belakang, pria itu merengkuhnya, mendaratkan kepala dibahunya sampai Ji Eun bisa merasakan hela nafas yang terasa berat di tengkuknya, pelukan itu terlalu erat sampai Ji Eun merasa tidak bisa bergerak dari tempatnya bahkan untuk sekedar melonggarkannya.
"Kau tau, kalau aku pergi kesana tanpamu, aku mungkin tidak bisa kembali lagi kesini, aku tidak akan melawan orang tuaku, tapi aku butuh kau berada didekat ku supaya mereka mengerti kalau aku tidak sedang main-main, yang jelas aku tidak akan menyerah atau membiarkan mereka menyentuhmu seperti waktu itu" bisik pria itu, suara beratnya menenangkan, berusaha meyakinkannya, mengalahkannya.
"Aku janji ini yang terakhir kali Ji, setelah itu aku akan mengurus semuanya, meyakinkan orang tuaku, atau kalau perlu, kita pergi yang jauh saja sekalian, yang jelas, aku tidak mau kehilanganmu apapun yang terjadi" ujar pria itu, sungguh-sungguh.
Ji Eun terdiam mendengar perkataan Jungkook yang terakhir itu, kalau semua ini terjadi dua tahun yang lalu, Ji Eun mungkin tidak akan percaya satupun yang dikatakan Jungkook, dan semuanya akan jadi lebih mudah, tapi tiga tahun menjalin hubungan dengan seorang Jungkook rasanya seperti terjebak dalam sebuah kepercayaan, sekte, Jungkook membuatnya mempercayai pria itu lebih dari siapapun di dunia ini, ia yang paling tahu bagaimana pria itu selalu menepati janjinya dan melakukkan segalanya untuk dirinya, hanya saja, dengan segala ketidakmungkinan hubungan mereka, kadang ia ingin menyerah saja, tapi apa ia bisa?
Apa ia bisa benar-benar bertahan kalau Jungkook tidak ada?
Sosok yang bisa membuatnya kembali seperti hidup, merasakan kebahagiaan lagi setelah rasanya ia sudah tidak punya kepercayaan kalau ia bisa hidup bahagia setelah kedua orangtuanya meninggal.
Di dunia ini ia hanya punya Jungkook yang bisa ia percaya, jadi semua kata-kata pria itu barusan seperti sebuah sihir ilmu hitam yang membuat kepalanya melemah dan berfikiran, kalau ia melepaskannya apa ia bisa menemukan kebahagiaan yang sama?
Ji Eun menarik nafasnya susah payah karena pelukan erat Jungkook membuatnya sesak sekaligus ingin menangis, mereka hanya terdiam, sama-sama dapat mendengar degup jantung masing-masing yang seperti melingkupi jiwa dan tubuh mereka, dan Ji Eun tidak bisa menyangkali perasaanya saat ini, ia mungkin terihat bisa menahannya selama tiga bulan setelah mendengar kabar resminya pertunangan Jungkook, tapi Jungkook seolah tahu seberapa besar ia hancur dan ingin menghilang, seberapa besar ia ingin mengakhiri hubungan mereka dan menganggap Jungkook sebagai sahabat, pria itu juga selalu tahu bagaimana cara untuk menyatukan hatinya lagi, mengusir ketakutan-ketakutannya, kesedihannya.
Ji Eun kemudian hanya menoleh sedikit,
"Angkat telponnya, aku akan bersiap-siap" Ujar gadis itu, menyentuh tangan besar Jungkook, melepaskan pelukannya.
*****
Mereka benar-benar baru meninggalkan apartemennya dua jam kemudian, Jungkook memesan makanan sepat saji walaupun Ji Eun hanya memakannya sedikit, sibuk mempersiapkan dirinya karena ia tidak mungkin mempermalukan diri di acara keluarga Jungkook, walaupun rasanya percuma.
Ji Eun memilih gaun terusan warna biru laut yang sederhana, senada dengan jas warna Navy yang dipakai Jungkook, wajahnya hanya dirias natural karena ia memang tidak terlalu pandai merias wajah, tapi tidak asal juga, rambutnya ia gelung sedemikian rupa dan entah mengapa ia selalu berhasil kalau soal rambut, almarhum ibunya selalu menata dan merawat rambutnya sejak dulu jadi ia terbiasa melakukkannya.
"Bagaimana bisa kau secantik ini Ji Eun -shi? Aku takut pengantinnya akan ditukar denganmu" Goda Jungkook sambil terus-terusan menatap Ji Eun di dalam mobil yang disewanya dari bandara.
Ji Eun memang sudah banyak berubah selama tiga tahun belakang sejak mereka berpacaran, dari ujung kepala sampai ujung kaki, dari rambutnya yang dulu selalu pendek sebahu, sekarang dibiarkan panjang. Garis wajah gadis itu juga lebih tirus dan dewasa, tidak lagi chubby kekanakan, walaupun Ji Eun selalu protes pada Jungkook yang seperti tidak menua karena wajahnya masih terlihat kenakkan dan menggemaskan, tapi kalau mengingat bagaimana mereka jadi lebih dewasa bersama, Ji Eun hanya akan selalu bersyukur ia melewatinya bersama dengan Jungkook.
"Jangan meledekku, aku masih bisa kabur dari mobil ini, kau tahu?" Jawab Ji Eun mengancam, tapi pria itu malah tertawa.
"Kau cantik juga lucu, bagaimana bisa kau berfikir bisa lepas begitu saja dari ku? Kita bahkan belum menyelesaikan yang tadi, apa kau mau melanjutkannya disini?" Goda Jungkook sambil tersenyum menyebalkan.
"Perhatikan saja jalan didepanmu Jung" Ujar Ji Eun, benar-benar sedang tidak mood.
Jungkook hanya terkekeh sambil mencubit gemas pipi Ji Eun, lalu mengusapnya pelan-pelan.
"Jangan cemas begitu, Omma-ku tidak akan melakukan hal yang seperti dulu itu, aku janji" Ujar Jungkook, mulai fokus mengendarai mobilnya menyusuri jalan Tokyo malam itu, tangannya turun lalu menggenggam tangan Ji Eun, memastikan kata-katanya sekaligus menahan Ji Eun untuk berhenti berfikiran macam-macam atau mengingat kejadian tahun lalu saat Jungkook membawa Ji Eun untuk yang pertama kalinya bertemu orang tuanya, saat itu mereka sedang merayakan acara kelulusan pendidikan S2 nya, sekaligus ulang tahun pernikahan orangtuanya.
Ada Yeowon juga disana waktu itu, tunangan dan mantan kekasih Jungkook.
Jungkook dan Yeowon memang pernah menjadi sepasang kekasih, mereka berpacaran sejak kelas 1 SMA, dan putus saat mereka sama-sama hampir lulus sebagai Sarjana.
7 tahun.
Bisa dibayangkan bagaimana dekatnya Jungkook dengan Yeowon, juga betapa dekatnya Yeowon dengan keluarga Jungkook sampai Omma Jungkook sudah menganggap Yeowon seperti anak gadis mereka sendiri, dan kehadiran Ji Eun dianggap Ibunya sebagai w*************a yang merusak hubungan antara Jungkook dan Yeowon, padahal ia mengenal Jungkook beberapa tahun setelah cowok itu putus dengan Yeowon.
Hari itu Ji Eun merasa benar-benar diasingkan oleh keluarga besar Jeon, terutama ibunya Jungkook, wanita itu secara terang-terangan tidak menyukainya dan memuji-muji Yeowon sepanjang hari, Jungkook dan Ji Eun bahkan tidak punya foto berdua di acara wisuda itu, tidak pula ada satu frame di foto manapun dihari itu karena Omma-nya Jungkook tidak menginginkan kehadirannya, wanita itu hanya selalu menyindirnya, membanding-bandingkannya dengan Yeowon, jelas sekali kalau Omma Jungkook sangat dekat dengan mantan kekasih Jungkook itu.
Ditambah, sikap Yeowon yang masih menganggap Jungkook seolah mereka tidak pernah mengakhiri hubungan, gadis itu selalu terlihat manis di depan Jungkook dan menganggap Ji Eun tidak ada, tidak, Yeowon memaklumi kehadirannya sebagai selingan karena gadis itu yakin sekali Jungkook hanya akan kembali lagi padanya.
Setelah seharian yang melelahkan jiwa dan raganya itu, ia pamit pulang dan Jungkook memaksa ingin mengantarnya ke hotel tempat ia menginap sebelum pulang ke Jepang, tapi Omma-nya melarang dan menyuruh Jungkook mengantar Yeowon, cowok itu keberatan dan mendebat semua perkataan Ommanya tentang Ji Eun.
Wanita itu marah padanya, karena selain dianggap sudah merusak hubungan Jungkook dengan Yeowon, ia juga dianggap merusak hubungan Jungkook dengan ibunya sendiri karena pria itu sudah berani melawannya, wanita itu mengusir dan menyuruhnya untuk jangan pernah kembali lagi dan berhubungan dengan anak laki-lakinya sulungnya itu, ia hanya menjawab kalau ia tidak pernah merebut Jungkook dari Yeowon, membela harga dirinya disana, tapi wanita itu marah besar padanya dan menamparnya keras-keras.
Rasanya Ji Eun masih bisa merasakan nyeri dihatinya oleh tamparan waktu itu, ia merasa seperti perempuan rendah dan hina padahal sejak kecil, Ayah dan Ibunya memperlakukannya seperti malaikat kecil, dan ia belum pernah diperlakukan seperti itu oleh siapapun.
Ji Eun sadar diri, ia memang bukan siapa-siapa, hanya anak yatim piatu yang mengandalkan dirinya sendiri, sedangkan orang tua Jungkook adalah pemilik perusahaan terkenal di Korea, walaupun kenyataan itu sama sekali tidak membuatnya membenci keadaan karena hidupnya sendiri sama sekali tidak ada masalah, ia hidup mapan dengan penghasilannya sendiri, dan ia merasa bangga dengan itu jadi sebenarnya tidak ada yang ia khawatirkan dengan dirinya, hanya saja, ia tahu ia tidak akan pernah diterima oleh keluarga Jungkook, oleh Omma juga Appa-nya.
******
Gedung tempat resepsi sepupu Jungkook sudah dibuka sejak setengah jam yang lalu setelah Ji Eun dan Jungkook tiba disana, acaranya memang di adakan di salah satu hotel termewah di Tokyo.
Ayah dari sepupu Jungkook adalah bos besar di dunia industri elektronik di Korea, sedangkan orang tua dari mempelai wanita adalah seorang pengusaha industri mobil di Jepang, jadi boleh dikatakan pesta yang dihadiri Ji Eun malam ini adalah pesta orang-orang kaya, termasuk orangtua Jungkook dan Yeowon.
Gedung itu terihat indah dan mewah dengan pilar-pilar besar bergaya bangunan di Eropa modern, Ji Eun bahkan sedikit lupa oleh rasa gugupnya karena ia lebih fokus pada gaya arsitektur gedung yang artistik juga elegan itu, membuatnya harus dituntun oleh Jungkook karena pria itu takut ia akan menghilang.
"Oppa! " Panggil seseorang di depan pintu masuk menuju ballroom tempat resepsi akan berlangsung, seorang gadis remaja yang terlihat sangat cantik dengan gaun indah warna merah muda berteriak sambil memandang penuh kesal kearah Jungkook dan Ji Eun.
"Kenapa kau masih di luar?" Tanya Jungkook bingung, Jeon Eunbi yang terlihat tidak sabar dengan cepat menghamburkan nafasnya.
"Oppa kau kemana saja?! Kenapa tidak menjawab telpon ku? Sejak tadi Omma dan Appa mencarimu, aku yang habis dimarahi mereka! " Omel gadis 18 tahun itu, wajahnya ditekuk sebal, matanya melotot kesal.
"Memangnya kenapa? Acaranya bahkan belum dimulai" Jawab Jungkook santai, pria itu bahkan terlihat gemas dan sengaja bersikap menjengkelkan didepan adik perempuan satu-satunya itu.
"Oppa kau benar-benar sudah gila? Di dalam itu ada keluarga Yeowon kenapa kau membawa pacarmu kesini? Wah kau benar-benar akan habis" Jeon Eunbi melirik Ji Eun sekilas tanpa berekspresi apa-apa, hanya fokus meluapkan kekesalannya pada Jungkook.
Gadis berwajah imut itu mengerutkan dahinya, kalau sedang membrengut begitu Eunbi sedikit mirip dengan Jungkook, membuatnya terlihat menggemaskan walaupun Ji Eun tahu, Eunbi sebenarnya juga tidak suka padanya, tapi Jungkook bilang kalau adiknya itu lebih memilihnya daripada Yeowon, tapi kalau dengan kehadiran Ji Eun dikeluarganya membuat Ommanya dan Oppa satu-satunya itu sering berdebat, Eunbi lebih memilih tidak memihak siapapun.
"Aku sudah sangat benci dengan acara keluarga kita, kenapa sih kau memperburuk keadaan saja? Kalau bukan karena ini acaranya Seok Jin Oppa, demi Tuhan aku tidak akan datang kesini"
"Kau tinggal diam saja kan anak kecil? Bagaimana bisa kau sekecil ini dan cerewet sekali sih? Kerjamu pasti hanya belajar saja ya di sekolah? Bilang saja kau cemburu kan karena kau tidak punya pacar dan cuma punya aku yang kau khawatirkan? Mau ku gendong ke dalam?"
Jungkook malah menggoda adik perempuannya itu sambil terkekeh, membuat raut Eunbi semakin kesal.
"Terserah kau saja! Dasar menyebalkan!" jawab Eunbi sambil melengos mendahului Jungkook dan Ji Eun, masuk kedalam ruangan yang di jaga oleh dua orang petugas yang berpenampilan seperti pengawal kerajaan, mempersilahkan mereka masuk kedalam ballroom megah dengan hiasan serba mewah dan elegan, seperti pernikahan Raja dan Ratu dengan nuansa kerajaan yang berkelas, benar-benar pernikahan impian setiap pasangan.
Ji Eun hanya fokus terpana begitu kedua netranya di sambut oleh dekorasi bak negri dongeng yang menghipnotis.
Ruangan aula itu besar sekali, dan hampir seluruhnya dihiasi oleh bunga-bunga cantik dan kain-kain yang mempesona dan menyegarkan mata, Lampu-lampu dan ornamen-ornamen klasik yang membuat suasana terasa seperti disebuah istana.
Tiap-tiap tamu duduk di sebuah meja melingkar dengan berbagai hidangan menggoda dan sebotol anggur mahal.
Jungkook membawanya kesalah satu meja kosong yang areanya berada disamping area khusus tamu VIP yang dibatasi oleh sulur besi putih yang cantik.
Ji Eun sepertinya baru tersadar kalau hampir semua orang dimeja VIP didekat mereka memperhatikan kedatangan mereka, sepertinya bukan hanya karena mereka terlambat datang.
"Duduklah" Gumam Jungkook, menarik salah satu kursi kosong di dekat Eunbi bersama dua orang lelaki muda yang sepertinya masih keluarga besar Jeon.
Ji Eun menurut, menundukkan wajahnya yang sejak tadi mengamati para tamu VVIP dan VIP di dekat mereka, terutama meja yang berjarak 3 meja dari meja mereka, meja yang duduki oleh keluarga Jungkook, Ayah, Ibu, para paman dan bibi Jungkook, juga keluarga Park Yeowon di meja sebelahnya.
Harusnya para tamu-tamu itu bisa tenang menikmati acara sakral didepan mereka seperti tamu-tamu lainnya, tapi kehadiran mereka berdua seperti kehadiran penjahat yang hanya akan mengotori jalannya momen suci diruangan mahal itu, apalagi tatapan Omma Jungkook padanya.
Wanita itu menatapnya bukan hanya penuh kesinisan, tapi juga penuh amarah yang ditahannya sedemikian rupa demi keberlangsungan acara, bukan hanya wanita itu, Ji Eun bisa melihat raut yang sama pada Park Yeowon dan keluarganya, untungnya perhatian orang-orang itu dan semua tamu undangan langsung teralihkan oleh alunan lagu merdu dan syahdu yang menyambut mempelai wanita dan pengiringnya untuk mulai memasuki aula, membuat semua orang terpana oleh gaun luar biasa cantik yang dipakai mempelai wanita, juga senyum bahagianya.
Suasananya mendadak seperti sedang berada di dalam sebuah film yang nyata, melodi dari alat musik yang indah dengan cepat mengubah suasana khidmat dan haru.
Ji Eun mulai merasa perhatiannya teralihkan begitu saja oleh pembukaan acara itu, oleh suasananya, juga oleh kecantikan dan ketampanan pengantin wanita dan prianya, dadanya bergetar disetiap proses sakral itu berlangsung, segala sesuatunya terlihat indah seperti siaran langsung pernikahan Putri dan Pangeran di negeri dongeng.
Rasanya Ji Eun belum pernah membayangkan kalau sebuah acara pernikahan bisa seindah ini. Semua mimpi-mimpi dan khayalannya selalu bisa ia wujudkan kedalam gambar ilustrasinya, imajinasinya, dunia tak terbatas untuknya, tapi dalam kepalanya, rasanya sekalipun Ji Eun tidak pernah bermimpi dan berkhayal tentang acara pernikahan, apalagi yang indah seperti ini.
Dekorasi yang indah, pengantin pria dan wanita yang terlihat bahagia dengan pakaian yang indah, makanan yang mewah, juga kedua keluarga yang sama-sama terlihat bahagia, seperti malaikat sedang berkumpul juga ditempat ini untuk mendoakan.
Semua tamu bahkan seperti bungkam oleh suasana sakral tempat ini, hening sampai janji suci kedua mempelai terucapkan.
"Kalian akan menikah ditempat seperti ini juga nanti?" Tanya Ji Eun tiba-tiba, keluar begitu saja dari mulutnya, pertanyaan yang memecah suasana baru di antara ia dan Jungkook.
"Huh?" Tanya pria itu, mendekatkan dirinya pada Ji Eun, sepasang netra rusanya yang beberapa detik lalu membulat memperhatikan senyum bahagia kedua mempelai, sekarang berpaling memandang Ji Eun, mengerutkan dahinya.
"Kau dan Yeowon, kalian akan menikah di gedung seperti ini juga?" Ulang Ji Eun, melirik sekilas pada Yeowon yang tampil anggun dan cantik malam itu walaupun sejak tadi wajahnya ditekuk.
"Kau bicara apa? Kenapa tiba-tiba berfikir seperti itu?" Jungkook mendecak, memiringkan kepalanya, menautkan kedua alisnya.
Ji Eun menoleh kembali, memperhatikan keluarga Jungkook dan keluarga Yeowon yang sudah seperti satu keluarga besar yang akrab, sama-sama terlihat dari kalangan atas, memiliki kecocokan latar belakang, keseragaman status dengan semua kedudukan dan kekuasaan, sedangkan ia, pada apa ia bisa mempercayai dirinya?
"Hanya kepikiran saja, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti kan?" Jawab Ji Eun, menyimpulkan senyumnya yang terlihat dipaksakan.
"Kau gugup?" Tanya Jungkook, menarik tangannya perlahan, menggenggamnya erat, tersenyum lembut hanya untuk menenangkannya.
"Jangan berfikir macam-macam, kau mau makan apa? Nanti ku ambilkan, kau pasti lapar ya? Maafkan aku ya" Ujar Jungkook, pria itu mengecup punggung tangan Ji Eun, lalu mengusapnya lembut, tidak perduli oleh tatapan Eunbi didepan mereka menajam, juga puluhan pasang mata yang mulai kembali memandangi mereka setelah serangkaian acara paling penting malam itu hampir selesai.
Ji Eun bahkan merasakan beberapa kali cahaya kamera menyorot mereka berdua, juga sorot tajam dari sepasang netra milik Park Yeowon yang memandangnya sinis.
Gadis itu tampak sangat anggun dengan balutan gaun warna putih gading dengan sedikit gradasi salem dan peach, riasan dari ujung rambut sampai ujung kakinya sudah pasti berharga ratusan juta, semua yang dipakai dan dikenakan gadis itu adalah rancangan yang terbaik, tanpa cacat, serupa dengan Omma Jungkook yang juga tidak kalah anggunnya.
Semua riasan dan kemewahan yang melekat ditubuh mereka terlihat menyilaukan walaupun penampilan Ji Eun sebenarnya tidak terlalu buruk.
"Aku akan mengenalkanmu pada saudara-saudaraku" Ujar Jungkook sembari mengarahkan Ji Eun untuk berdiri disampingnya begitu semua rangkaian inti acara sudah selesai dan semua tamu undangan dipersilahkan menikmati hidangan yang disediakan.
Ji Eun menurut, setelah menjejakkan kakinya diruangan ini ia sudah memasrahkan dirinya, menarik nafasnya dalam-dalam begitu Jungkook menggenggam tangannya, membawanya ke arah meja keluarga besar Jeon, Paman, Bibi, dan sepupu-sepupunya.
Hanya perkenalan singkat, Ji Eun hanya mengenalkan dirinya sambil tersenyum, dan berusaha sebaik mungkin untuk tidak memperdulikan tatapan menilai saudara-saudara Jungkook padanya, juga untungnya, tidak ada seorangpun dari mereka yang berniat untuk berbasa-basi padanya.
"Aku hanya dekat dengan Seok Jin Hyung diantara sepupu-sepupuku, dia yang terbaik"bisik Jungkook, sebelum cowok itu mulai melangkah lagi ke meja lain, menggenggam tangannya lebih erat, lalu menghentikan langkahnya didepan meja Ayah dan Ibunya Jungkook.
"Senang berada ditempat ini? Nona Song?" Sapa wanita itu dengan tatapan tajam yang nyalang dan muak begitu Ji Eun mendekat. Presensinya yang kuat dengan semua riasan dan raut yang mengintimidasi membuat Ji Eun terdiam di tempatnya, menahan dadanya yang berdegup keras oleh aura menakutkan wanita di depannya, sementara Ayah Jungkook, lebih memilih diam seperti biasanya, lelaki itu tidak pernah terlihat membenci atau menyukainya, yang jelas, ia tahu kalau dirinya sama sekali tidak diterima di keluarga ini.
"Aku baru saja ingin menghampirimu karena sepertinya kita harus bicara lagi berdua Nona Song, sekarang, ikut aku" Ujarnya lagi dengan nada sinis yang tidak lagi ditahannya, tidak mau menunggu lebih lama lagi karena orang tua Yeowon yang memperhatikan mereka dari meja sebelah terlihat juga menahan gusar dan kecewanya pada Jungkook dan Ji Eun.
"Maaf Omma, aku yang mengajaknya kesini, aku tidak membiarkan Ji Eun bicara dengan siapapun" Bantah Jungkook, dengan cepat seperti pantulan kilat membuat wanita didepannya melebarkan mata penuh amarah.
"Diam! Kau pikir apa yang kau lakukan Jeon Jungkook? Kau, diam saja disini!" Bentak wanita itu dengan nada tertahan untuk tidak berteriak seperti yang dilakukannya dulu, matanya semerah anggur di meja hidangan didekat mereka.
"Kau, ikut aku!" Perintah wanita itu, menyorot nyalang pada Ji Eun, memaksa dituruti.
"Tidak, Ji Eun tidak akan kemana-mana" Jawab Jungkook sama kerasnya.
"Kalau Omma tidak suka kami ada disini, aku dan Ji Eun akan pulang sekarang juga"
"Kau lebih suka melihat orangtuamu menahan malu daripada meninggalkan wanita jalang ini?"
"Omma!" Teriak Jungkook oleh kata terakhir Ommanya.
"Kau anak tidak berguna! Jangan berfikir kau bisa pergi dari sini dengan wanita ini"
"Kenapa Omma harus malu? Apa perlu aku bicara di depan orang tua Yeowon? Kenapa kalian tidak mengerti juga?"
"Jeon Jungkook! Jangan sampai kesabaranku habis sekarang, kau anak tak tahu diri! Kau tidak sadar sudah membuat orangtua dan keluargamu malu? Membawa wanita lain ke depan tunanganmu dan keluarganya? Kau sudah gila? Kau diam saja disini sampai acara selesai dan biarkan aku bicara dengan perempuan tidak tahu malu ini"
"Sudah kubilang aku tidak mengizinkan-"
"Jungkook, sudah" Potong Ji Eun, menarik nafasnya, dadanya bergemuruh, ia sadar di tempat ramai itu orang-orang memperhatikan mereka sambil berbisik-bisik, tapi Omma Jungkook seperti tidak perduli dengan keributan yang dibuatnya.
"Puas sudah membuat anakku membangkang padaku?"
"Maaf... "
"Ikut aku sekarang" Desis wanita itu, memaksa, berjalan meninggalkan tempat itu, minta dituruti.
Jungkook menarik nafasnya, menggeleng menahan Ji Eun.
"Aku hanya sebentar dan kembali lagi kesini, tolong jangan bicara seperti itu pada Ibumu" Pinta Ji Eun, mencoba melepas tangan Jungkook dari genggamannya, tapi cowok itu malah semakin mempererat genggamannya.
"Tidak, sudah ku bilang kau hanya perlu berdiri disampingku, jangan kemana-mana, dan jangan minta maaf pada Ibu ku"
"Kita selesaikan bersama, Oke?" Tambah Jungkook, menarik tangan Ji Eun mengikuti arah Ommanya berjalan meninggalkan ruangan megah itu kearah tangga-tangga menuju lantai dua dan jendela besar yang terbuka di sudut gedung itu, Omma Jungkook menunggu di tepi balkon yang anginnya bertiup kencang malam itu, memperhatikan langkah mereka dari jauh, memasang wajah terseram yang pernah Ji Eun bayangkan.
Ia, selalu membayangkan almarhum Ibunya jika melihat sosok Omma-nya Jungkook.
Tidak, mereka sangat jauh berbeda, Ibunya adalah sosok wanita halus yang sama sekali tidak pernah memarahinya dalam keadaan apapun, wanita lemah lembut yang lebih memilih merawatnya dan mengakhiri kariernya sebagai Diplomat muda yang sukses, membesarkannya penuh kasih sayang, sesempurna mungkin sampai suatu hari dalam hidup wanita itu, anak satu-satunya yang ia rawat sepenuh hati itu pergi belajar keluar negri dan berubah menjadi anak durhaka yang jarang menghubunginya.
Anak perempuan yang dididiknya baik-baik itu berubah drastis setelah jatuh cinta dengan seorang pemuda tampan, seniornya di kampus, cinta buta sampai melupakan tanggungjawabnya, membohongi orang tuanya, dan lebih memilih pergi bersama kekasihnya itu berhari-hari tanpa kabar, tanpa tahu dua orang yang paling mencintainya di dunia ini, sudah berpulang tanpa kehadirannya.
Anak durhaka itu dirinya, Song Ji Eun, ia tidak pernah minta dosanya diampuni, dan semua yang terjadi padanya sampai hari ini, temasuk dengan wanita yang sekarang berdiri didepannya dengan tatapan penuh benci, adalah balasan yang sudah sepantasnya ia terima.
Rasanya memang seperti ia mendapatkan karma dari apa yang ia perbuat di masa remajanya, dan bagian paling menyiksanya adalah, setiap kali ia melihat Jungkook berdebat dengan Omma-nya, Ji Eun selalu membayangkan dirinya yang dulu, membayangkan perasaan Ibunya, rasa kecewa dan sakit hatinya, dan itu membuatnya merasakan penyesalannya yang dulu itu datang berkali-kali lipat dan membuatnya membenci dirinya sendiri.
Ia, tidak bisa membantahi Omma Jungkook sekejam apapun wanita itu berbicara memakinya, mengatainya, karena rasanya seperti ia sedang dibalas oleh almarhum ibunya kalau wanita itu masih hidup sekarang.
"Biar aku saja yang bicara dengan Omma-mu" Ujar Ji Eun, menahan langkah Jungkook sebelum mereka menaiki anak tangga yang lebih tinggi.
"Tidak, aku tidak bisa diam saja melihatmu diperlakukkan seperti itu oleh Omma-ku sendiri"
"Kalian selalu berdebat dan aku tidak suka kalau kau membentak Omma mu, jadi kumohon Jung, atau aku akan langsung pulang saja kalau kau tidak mau"
"Kau yakin?" Tanya Jungkook.
"Iya, aku lebih takut melihat kalian berdua berdebat, sudahlah Jung, lagipula kalau kau membantahnya terus, kau lihatkan siapa yang disalahkan?" Pinta Ji Eun, Jungkook terlihat ragu tapi melihat raut sedih Ji Eun dan perasaan kesal karena dirinya, lelaki itu akhirnya melepas tangannya juga.
"Aku akan menunggu disini kalau begitu"Ujar Jungkook akhirnya.
Ji Eun mengangguk, tersenyum, lalu beranjak menaiki anak tangga satu-satu menuju balkon yang sepi, menghampiri wanita yang menunggunya dengan tatapan tajam yang seprti siap untuk memangsanya hidup-hidup.
"Sepertinya kau tidak mengerti juga ya Nona Song? Kupikir kau wanita yang cerdas tapi kau memang hanya seorang yang mencari uang dengan khayalanmu" Wanita itu bahkan tidak perlu susah-sudah menarik menarik nafas, tidak merasa perlu berbasa-basi.
"Kau benar-benar akan terus menempeli anakku seperti parasit?"
Pertanyaan itu terlontar dengan nada yang terdengar sangat tajam, dan Ji Eun hanya diam, tentu saja, setidaknya diam adalah cara yang paling cepat.
"Dengar, Nona Song, aku tidak akan mengatakan apapun agar kau menjauhi putraku karena sepertinya telinga dan kepalamu yang penuh khayalan tidak akan mendengarnya, tapi jangan pikir aku tidak akan melakukkan apa-apa" Wanita itu melipat tangannya, menarik nafas sambil menaikkan kedua alisnya.
"Tiga bulan lagi anakku akan menikah dengan Yeowon, aku sudah mempersiapkan segalanya, jadi jangan pernah berfikir kau cukup penting karena anakku membawamu kesini, kalau kau masih punya hati dan pikiran yang jernih, kau harusnya tahu apa yang harus kau lakukkan dari sekarang karena aku tidak akan pernah membiarkan kalian berdua sampai kapanpun" Jelas Nyonya Mirae dalam satu tarikan nafas, wanita itu terlihat ingin tetap anggun dan tenang meski nada bicaranya terdengar tajam.
Ji Eun terdiam, mencerna satu persatu kata-kata Omma-nya Jungkook, dan pada bagian yang harus ia beri warna merah, Ji Eun terdiam disitu.
Tiga bulan lagi.
"Sebenarnya aku..." Ji Eun menarik nafasnya yang mendadak terasa sesak dan terasa sangat luar biasa sakit, Omma Jungkook mungkin hanya menggretaknya saja tapi ia bahkan tidak tahu apa yang akan ia lakukkan sekarang karena ia merasa sangat lemas, dan pikirannya mendadak jadi sangat kosong, juga, lebih sedikit ia bisa melihat kesungguhan wanita di depannya, membuat hatinya seperti retak disana-sini.
Dua orang itu, Jungkook dan Ibunya, seperti satu orang yang sama dalam beberapa hal yang bertentangan, yang satu memaksanya untuk tetap tinggal, yang satu mengancamnya untuk segera menghilang.
Ji Eun menggigit bibirnya, menahan susah payah hamburan nafasnya yang seperti akan menjebol pertahanan dirinya, sambil mencoba untuk mengalahkan rasa takut di dadanya, gadis itu akhirnya mampu menelan susah payah salivanya yang terasa seperti racun.
"Aku tidak akan melakukkan apapun untuk itu, kalau begitu pastikan saja itu terjadi, Nyonya Mirae" Ujar Ji Eun, menekan dengan nada sesopan mungkin, sesingkat mungkin karena ia hanya tidak bisa berkata-kata lebih banyak.
Wanita di depannya mendengus.
"Jangan mengancamku, dasar kurang ajar, perhatikan saja dirimu sendiri Nona Song" Ujar wanita itu, mendelik tajam sebelum memalingkan wajahnya, lalu pergi tanpa basa-basi.
Ji Eun menyandarkan dirinya pada pinggir balkon begitu Nyonya Mirae pergi meninggalkannya, kakinya terasa lemas saat itu juga, ia mencoba untuk tetap berdiri walaupun rasanya semua yang ada didalamnya hancur.
Padahal Ia kira, Ia sudah mempersiapkan dirinya dari kemungkinan terburuk dalam hubungannya dengan Jungkook, tapi ia sama sekali tidak menyangka akan secepat itu dan kenyataan itu mendadak
membuatnya merasakan kesedihan dan ia merasa takut.
"Ji Eun-Ssi" Panggil suara dari belakangnya, terdengar cemas.
Jungkook menghampirinya, berdiri disampingnya, memperhatikan raut wajahnya yang berubah pias.
"Apa yang dikatakan Omma padamu?" Tanya cowok itu, penasaran.
Ji Eun melirik Jungkook, hanya sekilas, lalu memilih kembali menatap langit malam itu, entah mengapa ia tidak sanggup melihat pria itu sekarang.
"Tidak, tidak terjadi apa-apa, Omma mu hanya menyuruhku pulang, itu saja" Jawab Ji Eun.
"Kau yakin? Kenapa wajahmu jadi pucat begitu?"
"Sudah kubilang tidak ada apa-apa Jung" Jawab Ji Eun, setengah meninggikan suaranya, tidak bisa menahan rasa sedihnya yang seperti terkonfersi kedalam kekesalan oleh pertanyaan Jungkook. Ia benar-benar ingin meninggalkan tempat ini sekarang juga, tapi Jungkook seolah mengerti apa yang terjadi padanya, pria itu memilih untuk diam, tidak bertanya-tanya lagi, membiarkan Ji Eun hanya memandangi langit malam, susah payah menahan lapisan air yang makin lama menebal di netranya.
"Aku hanya akan ke kamar mandi, kita makan dulu setelah itu antar aku pulang" Ujar Ji Eun setelah bermenit-menit mereka hanya saling diam, ia pergi kekamar mandi secepat mungkin sebelum air matanya benar-benar terjatuh di depan Jungkook, Ji Eun tidak butuh waktu lama didalam sana, segera setelah ia selesai bertarung mati-matian dengan pikirannya, setelah ia menghapus air matanya yang terasa sangat menyesakkan karena ia harus menahannya sekuat mungkin, ia memilih untuk mengosongkan dulu semua isi kepalanya dan mencoba untuk bisa terlihat seperti biasa saat kembali karena Jungkook menunggunya.
Malam itu mereka makan malam dengan tenang seperti tidak terjadi apa-apa, Ji Eun hanya menghindari tatapan Jungkook sepanjang sisa malam itu, bersikap seolah tidak ada apa-apa sampai akhirnya Jungkook mengantarnya pulang.
Sepanjang perjalananpun ia memilih diam memandang keluar jendela, membalas singkat semua obrolan mereka di mobil.
"Kau akan pulang ke Korea kapan?" Tanya Ji Eun begitu mereka sampai di depan lobby apartemen Ji Eun yang sepi.
"Besok pagi, kenapa?"
"Jangan menghubungiku dulu"
Ujar Ji Eun tiba-tiba, sudah ia pikirkan matang-matang sepanjang perjalanan tadi, ia mengatakan dengan sangat jelas seharusnya Jungkook mendengarnya, tapi pria itu hanya diam, tatapannya berubah dengan sangat cepat, bahkan rautnya berubah serius, tapi pria itu terlihat seperti tidak mendengar kata-katanya jadi Ji Eun mengulangnya lebih jelas.
"Selama 3 bulan kedepan, tolong jangan menghubungiku dulu, juga jangan datang kesini, aku akan mengganti password pintunya" Jelas Ji Eun, kali ini membuat Jungkook menyibak rambut coklatnya, menarik nafas yang terdengar berat.
"Kau kenapa? Apa alasannya? Aku tidak mau, tidak bisa" Tolak pria itu, menatap Ji Eun dengan dahi mengerut tidak percaya, menggeleng kuat seperti anak kecil yang tidak suka dilarang menonton acara kesukaannya.
"Tidak kenapa-kenapa, lagipula hanya 3 bulan"
"Omma mengatakan sesuatu padamu kan? Apa yang ia katakan? Kenapa kau jadi begini? Aku tahu kau menghindariku sejak kau berbicara dengan Omma-ku"
"Tidak ada hubungannya dengan Omma-mu"
"Lalu apa? Kenapa memintaku seperti itu?" Jungkook menatapnya seperti orang frustasi, pria itu bahkan selalu tidak bisa meninggikan suara didepannya, tidak pernah sama sekali selama tiga tahun mereka berpacaran.
"Aku akan sibuk sekali dengan pekerjaanku, tiga bulan lagi, aku akan mengambil cuti panjang dan mengunjungi rumah orang tua ku di Busan untuk memperingati hari kematian mereka, kalau kau tidak sibuk datang lah kesana, aku berencana untuk pergi liburan denganmu setelah itu, hanya jangan menghubungiku sampai hari itu" Jelas Ji Eun.
Jungkook terdiam, memperhatikan baik-baik kata-katanya, penjelasannya, dahinya mengerut, berfikir keras, tapi raut tegangnya perlahan mengendur, jelas mempercayai semua kebohongannya.
"Kau ingin liburan? Kemana? Aku akan mengambil cuti juga kalau begitu, Berapa lama kau akan mengambil cuti?" Tanya Jungkook.
"Belum tahu, aku akan merencanakannya nanti, kira-kira sekitar seminggu, aku tidak akan memberitahu mu, jadi bersiap-siap saja"
Ji Eun menarik nafasnya, sebisa mungkin mengulas senyum walaupun itu terasa sangat menyakitkan baginya.
"Ah baiklah, tapi apa kau tidak sedikit keterlaluan? Bagaimana bisa aku tidak menghubungimu selama 3 bulan? Itu mustahil, kalau aku tidak bisa melakukannya bagaimana?"
"Kalau kau tidak bisa?" Ji Eun mendehem, kerongkongannya terasa sangat kering, lidahnya terasa sangat pahit seperti orang meriang, dan jantungnya bergedup terlalu kencang.
"Lebih baik kita putus saja kalau begitu, Jung, aku ingin kita putus saja" Gumam gadis itu, menatap Jungkook dengan tatapan kosong, membuat hening yang terasa janggal diantara mereka berdua.
Ji Eun dapat merasakan tatapan Jungkook menajam, raut wajahnya berubah masam, jelas sekali kalau cowok itu membenci kata-katanya dan marah padanya, ya, Jungkook belum pernah terlihat marah seperti itu kecuali saat pria itu sedang cemburu.
Selama bermenit-menit ditempat itu Ji Eun hanya membiarkan Jungkook diam membuat hening yang terasa menyakitkan bagi Ji Eun.
Tak bisakah ia mengakhirinya saja dengan cepat?
"Aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan sekarang" Jungkook menarik nafasnya, Ji Eun melihat sepasang netra pria itu berkaca, mereka hanya saling benci menatap karena memang rasanya Ji Eun tidak tahan oleh rasa pedihnya.
"Kalau itu semua karena pembicaraan dengan Omma ku tadi, maafkan aku karena membuatmu jadi sulit seperti ini, apapun yang kau inginkan, aku akan melakukannya kecuali yang kau sebut barusan, jadi jangan mengatakannya lagi, jangan pernah berfikir tentang itu dan percaya saja padaku, 3 bulan lagi aku akan menemuimu dan menyelesaikan semua urusan dengan Orangtuaku" Lanjut pria itu, tangannya terulur untuk menyentuh wajah Ji Eun, menatapnya dengan penuh kesungguhan.
Ji Eun hanya diam di tempatnya, memandangi pria di depannya dengan perasaan yang nyaris hancur, itu mungkin untuk yang terakhir kali tapi entah mengapa, ia masih mencoba untuk mempercayai kata-kata pria itu.
"Masuklah, sudah malam, aku akan menunggumu masuk baru pergi" Ujar pria itu, melepasnya.
Ji Eun mengangguk, memalingkan wajahnya, dan keluar dari pintu mobil dengan langkah yang terasa lemas.
"Aku akan menelpon mu kalau sudah sampai hotel" Ujar Jungkook.
Ji Eun mengangguk, tersenyum tipis, melambaikan tangannya.
"Hati-hati di jalan"
Ucapnya, Jungkook hanya tersenyum dan melambaikan tangannya.
Mungkin itu benar-benar terakhir kalinya Ji Eun melihat sosok Jungkook malam itu.
******