“Ada empat jenis seragam untuk musim, ditambah seragam olahraga, dan piyama. Sedangkan untuk jas almamater hanya bisa digunakan di hari-hari tertentu. ” Volentia hanya dapat dibuka Serenity yang dibuka beberapaloker lengkap dengan telinganya dan dirilis beberapa pakaian di Volentia yang ada di bawahanya. “Di SETIAP seragam Terdapat pin w Yang Terbuat Dari emas, sebagai Tanda Jika Kau Adalah ANGGOTA afiliasi Murid Dan Lulusan Penyihir Academy sedangkan di sampingnya Adalah pin afiliasi Murid Dan Lulusan Asrama Sylvester. ”
Tampilan Volentia dengan cepat teralihkan pada dua pin yang ada di jas berwarna hitam yang menjadu almamater sekolah barunya itu. Sebuah pin w yang berada di sebelah kiri dengan ukuran yang cukup besar dan sebuah pin berbentuk merpati dengan ukurn tidak begitu besar, “Terima kasih,” ucap Volentia.
"Tidak masalah, ini sudah menjadi tugasku sebagai Kepala Asrama tempat ini," ucap Serenity. "Melebihkan aku bukan Ludo, Kepala Asrama Strugh yang terlalu gemuk dalam ukurannya sebagai gajah, atau Zoey, si cantik namun ganas yang menjadi Kepala Asrama Lognle." Serenity berjalan melewati loker sebelum akhirnya melompat ke -arah ujung ruangan itu.
"Ini dia!" serunya menunjukkan papan penanda keterangan yang ada di asrama itu. “Menerima asrama hanya dibuka untuk siswa kelas 10 hingga 12 yang dipilih langsung oleh Zelda, jujur tempat ini sama sekali tidak cocok jika salah satu asrama terbesar di lingkungan sekolah selain asrama Lognle dan Rosevillage.”
Lantai 1: Lobi dan Ruang Administrasi
Lantai 2: Ruangan Penerimaan Tamu
Lantai 3: Ruangan Berkumpul
Lantai 4: Ruangan Olah raga
Lantai 5: Taman in Door
Lantai 6: Kamar Asrama Siswa Kelas 10
Lantai 7: Kamar Asrama Siswa Kelas 10
Lantai 8: Kamar Asrama Siswa Kelas 11
Lantai 9: Kamar Asrama Siswa Kelas 11
Lantai 10: Kamar Asrama Siswa Kelas 12
Lantai 11: Kamar Asrama Siswa Kelas 12
Lantai 12: Kamar Pengawas Asrama
Lantai 13: Kantor Bimbingan Murid
Lantai 14: Ruangan Utama Asrama
Lantai 15: Ruangan Musim Dingin
Lantai 16 : Ruangan Musim Semi
Lantai 17 : Ruangan Musim Panas
Lantai 18 : Ruangan Musim Gugur
Lantai 19 : Lonceng Perak Sylvester
Lantai 20 : Observatorium Bintang
“Selain peraturan yang ada di dalam buku utama, ada beberapa peraturan tambahan dari Zelda, kau bisa menyakannya langsung padanya jika dia memiliki waktu senggang, karena dia terlihat sibuk akhir-akhir ini,” ucap Serenity.
Pintu masuk gedung asrama tiba-tiba saja terbuka. Kali ini bukan murid laki-laki itu lagi, melainkan seorang gadis berambut pirang yang berjalan tergesa-gesa setengah berlari ke arah Volentia dan Serenity yang tepat berada di dekat tangga spiral. “Volentia? Flora Volentia Klein, murid baru?” tanyanya dengan sesegera mungkin. “Maaf. Ada hambatan di kelas Ramuan pagi ini, aku harus menunggui beberapa murid di gedung obat-obatan. Aku harap kau tidak begitu lama menunggu. Aku Oliv, Sow Olivia Aquarie. Kemarin Zelda sudah banyak bercerita tentangmu, dan berhubung ada rapat hari ini, dia menyuruhku menggantikan tempatnya sebagai pemandumu dalam satu hari ini.”
Tidak banyak yang terlihat cukup menarik perhatian Volentia kecuali ruangan berkumpul yang mampu merubah interior yang ia miliki sesuka hati ruangan itu, seakan ia benar-benar hidup, atau taman in-door yang memiliki beberapa mesin pembuat asap dengan aroma yang dapat berganti sesuai perasaan tanaman tapi yang paling menarik adalah ruangan lonceng perak yang berisi data-data para murid dan alumnus yang ditata rapi selayaknya deretan para bintang.
“Kamar nomor dua, lantai sembilan,” ucap Oliv menunjuk sebuah kamar bernuansa hitam putih dengan chandeliar yang sekali lagi mengandung unsur merpati. “Zelda yang men-design segalanya di asrama ini, tidak heran jika ia menempatkan merpati putih sebagai lambang sekaligus julukan asrama ini, secara tidak langsung sih.”
“Terima kasih,” ucap Volentia kikuk, “Kapan aku mulai bisa mengikuti jam pelajaran?”
“Oh, soal itu. Harusnya kau sudah masuk pelajaran hari ini, mengingat kau datang di periode kedua kelas 11, tapi Zelda menyuruhmu untuk mulai mengejar materi besok. Untuk sementara, kau harus mengisi beberapa data identitas diri, kemudian kita akan melakukan foto ulang sebagai angkatan ketujuh yang akan lulus dari asrama ini,” jelas Oliv meunjukkan beberapa kertas yang sejak kapan sudah ia bawa. “Aku harap kau tidak akan cepat bosan.”
Volentia membaca tulisan yang tertera di atas kertas itu secara perlahan, mulai mengisinya disaat Oliv sibuk memgupas beberapa potong apel merah sebagai camilan mereka.
Nama Manusia : Flora Veranda Klein
Nama Penyihir : Flora Volentia Klein
Tempat, Tanggal Lahir Manusia : Vancouver, 8 Juni 2003
Tempat, Tanggal Lahir Sihir : -
Keahlian : Sihir Dasar pada Tanamann
Status Kelahiran : Manusia
Nama Orang Tua :
Ayah : Michael Maulvoski Klein
Ibu : Verbena Nyx Tenebris
Penanggung Jawab Sihir : Zacarina Elizabeth Lilac Dove Aramea van Russel
Volentia sedikit kesulitan saat membaca nama penanggung jawabnya. “Itu nama asli Zelda, Zacarina Elizabeth Lilac Dove Aramea van Russel, jika disingkat maka akan jadi Zelda van Russel, tapi dia lebih suka dipanggil dengan nama Zelda Russel,” jelas Oliv seakan mampu menjawab pertanyaan Volentia.
Volentia hanya mengangguk. Kembali membaca tulisan yang tertera di kertas itu. Volentia.si pemilik nama mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang setia msih terkunci saat indra pendengarannya baru saja menangkap hal itu. Volentia. Suara itu kembali terdengar saat gadis itu bermaksud untuk bersikap seakan tidak ada apa-apa.
Oliv yang menatap perilaku aneh itu beranjak dari duduknya. “Siapa?” ucaonya sambil membuka pintu. Mengecek lorong penghubung antar kamar asrama di lantai 9, mengingat sekarang masih waktunya jam pelajaran dan tentu saja keadaan lantai itu masih sepi. Hanya ada mereka berdua. “Memang sedikit menakutkan sih, tapi faktanya sekolah ini memang dihuni oleh banyak arwah penunggu, terutama lantai dansa Altar Musim Dingin. Tapi yang paling parah adalah Ashley Moretz, dia biasanya ada di perpustakaan, bisa disebut seperti penjaga perpustakaan kedua selain Ma’am Arsene, tapi dia tidak akan suka jika kau membuatnya terganggu selama dia sibuk membaca buku yang ia bisa dikatakan pinjam. Jadi aku harap kau tidak punya kelebihan di indra pengelihatan, iya kan?” Oliv mengakhiri ucapannya dengan sedikit ragu.
Volentia meletakkan kertas dan pena yang ua gunakan sebelumnya. “Sudah selesai,” ucapnya menyerahkan kertas itu. “Kelebihan? Maksudmya?” Oliv kembali ke tempat duduknya setelah menutup pintu kamar Volentia, salah satu kursi yang ada di dekat satu dari tiga jendela besar yang menunjukkan pemandangan hutan Blackwood.
“Kelebihan seorang penyihir, seperti halnya jika manusia hanya memiliki lima indra, maka penyihir juga memiliki lima indra, hanya saja fungsinya dilebihkan dalam beberapa aspek. Seperti jika saja kau seorang cenayang maka indra pendengaranmulah yang dilebihkan untuk dapat mendengar gelombang suara yang dikeluarkan oleh hati atau pikiran seseorang. Setidaknya menurutku begitu,” jelas Oliv. “Ini” Menyerahkkan semangkuk apel merah yang sudah dikupas secara rapi di tengah-tengah meja yang membatasinya dengan Volentia,
Hening.
“Apa kau seorang cenayang?” tanya Volentia.
Oliv yang memakan seiris apel buru-buru menghabiskan apa yang saat ini sedang ada di dalam mulutnya. “Apa kau juga seorang cenayang hingga bisa melakukan hal itu,” tanya Oliv seakan menunjukkan gestur tubuh jika ia tertarik dengan apa yang sedang dibicarakan Volentia. “Tidak biasanya ada yang mengenali seorang cenayang secepat ini.”
Volentia tersenyum kikuk selama beberapa saat. “Tidak juga sih, hanya saja kau memberikan contoh seorang cenayang dalam teorimu tadi. Aku hanya asal menebak,” jawabnya.
“Hanya menebak dan kau beruntung, itu benar,” imbuh Oliv. “Seorang pelihat masa depan, bagaimana aku tidak sadar akan hal ini. Apa kau juga menggunakan kekuatanmu itu untuk hal ini? Atau hanya untuk urusan tertentu, seperti, contoh soal Ujian Seleksi Alam?”
Volentia hanya tersenyum, seakan memberi tanda untuk Oliv membaca pikirannya. Sementara Oliv hanya membalas senyuman itu, membuat keheningan kembali berada di sekitar mereka. Pandangan Oliv sedikit teralihkan pada jam dinding berbentuk merpati yang bertengger tidak jauh dari ranjang. “Saatnya pulang,” ucap Oliv menyadari jika ini sudah pukul satu lebih lima belas menit siang hari, waktu dimensi sihir bagian Witch Academy. “Makan siang akan dimulai lima belas menit lagi, lebih baik kita bergegaas agar kau bisa berkenalan dengan yang lainnya. Sepertinya akan ada sedikit rapat tentang kelulusan angkatan keenam asrama ini dan beberapa asrama lain yang tua, mungkin saja kelas tambahan akan ditiadakan untuk hari ini. Bukkankah ini seperti hari keberuntunganmu? Saat yang baik, bukan?”
“Baik untuk apa?”
“Baik agar kita bisa dengan segera menentukan tempat yang cocok untuk foto bersama angkatan ketujuh lainnya.”
--
"Nantikan saatnya dan ini akan menjadi indah."