Kerutan waktu mungkin terdengar rumit untuk dilakukan, namun kerutan ruang yang terdengar lebih sederhana nyatanya juga bisa membuat Volentia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyakinkan jika ia baru saja berpindah dari sekolah ke sebuah tempat yang berada di dalam hutan Blackwood yang ada di sekitar sekolahnya itu. Hanya berasa seperti, atau mungkin sama sekali tidak berasa saat Ella tiba-tiba saja menarik tangannya, dan melintasi sebuah kerutan ruang, kemudian sampai.
"Teori yang dijelaskan mungkin terdengar rumit, tapi untuk prakteknya ini sebenarnya mudah," ucap Ella yang berdiri beberapa meter di depan Volentia. "Teori pembaca pikiran yang terdengar mudah justru yang paling sulit untuk dilakukan, benarkan?"
"Buku membuat kita percaya apa yang mudah terasa rumit, dan apa yang rumit terasa mudah. Itulah yang selama ini coba Otoritas Tinggi tanamkan pada kita," ucap Ai. "Peta siklus pertumbuhan ulat api."
Ella yang mendengarnya dengan segera memberikan sebuah peta pada Ai. "Kita hanya perlu berjalan selama beberapa menit hingga bertemu semak kristal, setelah itu kita bisa kembali ke sekolah," jelas Oliv yang hanya dijawab anggukan oleh yang lainnya.
Ada alasan tersendiri mengapa hutan itu dinamai hutan Blackwood, selain karena kayu hitam yang dengan cepat mengalihkan perhatian siapa pun yang datang kesana, hutan itu juga sedikit kental dengan kekuatan magis hitam sesuai namanya Black. Volentia sedari tadi hanya bisa mencoba bergumam pelan agar setidaknya mereka bisa menemukan tempat semak itu berada tanpa perlu masuk lebih dalam ke hutan itu.
"Seharusnya ada di sekitar sini," ucap Ai memainkan peta yang Ella berikan padanya.
Mencari semak kristal tidaklah mudah. Alasan utama pemberian nama itu adalah karena semak-semak itu mampu berubah dirinya menjadi sebening kristal dan tentu saja menyusahkan hampir semua makhluk hidup, kecuali ulat api yang bertempat tinggal di sana.
Ai melangkahkan kakinya secara asal. Ia sedikit meringis saat sesuatu menyayat kaki kanannya, menimbulkan beberapa bercak darah di sebuah permukaan yang terkesan bening. "Pertumpahan darah," ucap Volentia menatap bercak darah itu selama beberapa saat dan tersungkur ke tanah dengan bertumpu pada kedua lututnya.
"Vol?" Oliv mengalihkan pandangannya pada Volentia sementara kedua tangannya mencoba membantu Ai mengeluarkan kakinya yang rupanya tersangkut di salah satu sisi semak kristal.
"Pertumpahan darah tidak dapat lagi dihindari kecuali kalian menyerahkan beberapa jiwa pada cahaya selayaknya Dia yang sudah menyerahkan jiwanya pada kegelapan," ucap Volentia menutup kedua telinganya paksa dan menundukkan kepalanya dalam. "Tujuh dari mereka telah mendekati sempurna sedangkan kedelapan yang sempat menghilang akhirnya kembali namun masalah tidak akan pernah selesai."
Ella yang berada paling dekat dengan Volentia dengan cepat menepuk kedua pundak gadis yang menunduk ketakutan itu. "Kau kenapa, sih?"
"Pertumpahan darah tidak akan dapat dihentikan jika tidak ada jiwa yang dipertaruhkan." Volentia menggumamkan kalimat itu selama beberapa saat. "Kegelapan mencampur tangani urusan mereka, dan mereka harus musnah."
Volentia mengerjapkan matanya perlahan. Ella memeluknya dengan hangat sementara Oliv, dan Ai berdiri tidak jauh dari mereka. "Kau tidak apa?" tanya Ella merenggangkan pelukan khawatirnya. "Kau kenapa sih?"
"Memang ada apa?"
"Kau mengucapkan kata-kata aneh tadi, beberapa pohon menjadi ribut berkat kau. Beruntung Ella dengan cepat menenangkanmu," jawab Ai. "Apa kau benar-benar tidak ingat?"
Volentia menggeleng.
"Apa aku selalu seperti itu saat melihat masa depan?" tanya Oliv menengahi permasalahan.
"Maaf. Aku memang belum bisa menguasainya secara mahir," ucap Volentia. "Memang apa yang aku katakan tadi?"
"Ramalan tentang pertumpahan darah," jawab Ella. "Apa mungkin itu Perang Tessera?"
Ai hanya mengedikkan bahunya tidak tahu. "Perang itu hanya akan berlangsung jika kedelapan Wonder dan Dia terlahir di dunia ini, kau tahu sendirikan jika Wonder sendiri sudah tidak ada. Mungkin sesuatu yang lain" ucap Ai.
"Sudahlah," ucap Oliv seperti tidak suka arah pembicaraan ini. "Kembali ke masalah utama kita untuk mencari para ulat. Aku penasaran dengan apa yang terjadi hingga semak kristal itu sama sekali tidak memiliki tanda-tanda kehidupan."
Suara burung gagak yang terbang menjauh tiba-tiba saja terdengar. Diikuti suara gemerisik dedaunan yang terasa aneh. "Ada yang datang," ucap Ai merasakan getaran yang ada di permukaan tanah.
"Sepertinya aku mengenalnya," ucap Ella menngenali hawa panas seseorang yang berjalan mendekat ke arah mereka. Matanya terpejam selama beberapa saat. "Sepertinya kita akan mendapat masalah."
"Dia?" tanya Oliv seakan bertukar pikiran dengan Ella.
"Bukan akan tapi aku pasti menghukummu Nona muda," ucap seseorang yang suara sedikit tidak asing untuk Volentia karena hari ini ia sudah sering mendengarkan suara itu. "Apa yang dilakukan tiga murid Sylvester dan seorang murid baru disini? Bermaksud membolos di jam pelajaran Seni Binatang?"
---------------
"Hati-hati setiap sudut yang ada di tempat ini jauh lebih tua daripada kalian, bahkan sebuah lubang rayap yang menjadi beberapa saksi sejarah," ucap Penny mewanti-wanti seakan segala sudut rumah tua yang ada di jantung hutan Blackwood itu adalah sebuah rumah dari porselen yang mudah pecah, bukannya rumah kayu tua yang segala sisinya sudah dimakan rayap.
Oliv adalah yang pertama kali tersadar dari lamunan sejawatnya disaat teman-temannya yang lain masih terdiam mengamati ruangan itu. Mereka berempat terduduk di empat sofa yang terbuat dari kain perca sisa jahitan yang dijahit tidak begitu rapi, namun terasa nyaman. "Apa yang Anda lakukan di tempat seperti ini?"
"Bisa dikatakan istirahat dari penatnya tugasku mengajar anak-anak seperti kalian," ucap Penny menyuguhkan setoples kue dan beberapa makanan ringan berbentuk aneh yang tertata di beberapa piring berwarna merah. "Kalian sendiri? Sedang apa?"
"Mencari ulat api, Serenity kehabisan bahan itu," jawab Ai memakan sebuah kue berbentuk laba-laba yang ternyata hanyalah sebuah coklat hitam.
"Untuk apa?" tanya Penny menginterogasi.
"Sebenarnya ini salahku, mereka bertiga hanya menemaniku. Soal untuk apa itu juga karena kesalahanku karena sudah membuat jas Clark menjadi sobek," jelas Volentia menggenggam jari jemari tangan kanannya. "Setidaknya jika Anda ingin menghukum mereka, hukum saja aku."
Penny yang duduk di sebuah sofa dengan sandaran punggung cukup tinggi menatap Volentia dengan senyuman kecil. "Kau manis juga White Blood," ucapnya.
Oliv, Ella, dan Ai mengangkat kepalanya serempak. "Dia White?" tanya Oliv tidak percaya. "Bukankah mereka sudah pun-"
"Punah? Tentu saja tidak Oliv sayang," potong Penny. "Menurutmu siapa yang menyuruh Zelda, dan Delina pergi ke rumahmu untuk melakukan uji psikologis itu?" Penny mencondongkan tubuhnya mendekat. "Apa kau mengenal Wilhem Arthur Klein?"
"Dia arwah. Arwah gentayangan gila yang mengaku sebagai Kakek buyutku," jawab Volentia. "Maaf jika tidak sopan."
"Dia yang memberitahu Zelda agar kau segera kami jemput karena kau adalah penyihir terakhir yang berdarah putih, ditambah kakekmu itu bilang jika kau selalu mendapat masalah di dunia manusia," ucap Penny memijat keningnya perlahan. "Kakek dan cucu sama saja, tapi aku setuju jika kau mengatai Kakekmu itu arwah gentayangan gila. Meski itu terdengar tidak sopan."
--
"Anggap ini doa penyemangat dari musuhmu."