One
Nafas mereka terengah-engah setelah melakukan ciuman yang membara di atas kasur lusuh, di bawah jendela yang hanya tertutup gorden. Jillian mencoba meraba p******a Epica, namun dengan cepat cewek itu menepisnya. Jillian membaringkan tubuhnya di samping Epica, menatapnya lembut.
"Aku sayang kamu," bisik Jillian lirih di telinga Epica. Cewek bertubuh mungil itu nggak membalasnya, dia hanya tersenyum pada Jillian lalu bangkit menuju kamar mandi yang terhubung langsung dengan kamar. Kost Epica kecil, nggak ada ruang tamu ataupun ruang makan. Tempat tidur adalah pemandangan pertama yang di lihat ketika pintu depan terbuka. Jadi mereka nggak pernah lupa mengunci pintu ketika hendak melakukan 'sesuatu'.
Jillian menyalakan rokok, menghisapnya perlahan sambil menatap langit-langit kamar. Ia sudah sangat yakin dengan hubungan ini, Epica telah membawa separuh jiwanya. Jillian nggak peduli ayahnya akan membunuhnya jika mengetahui hal gila yang ia lakukan. Jillian sudah berencana untuk kabur ke luar negri, menikahi Epica dan hidup dengan bahagia tanpa ada seorangpun yang menentang hubungan terlarangnya. Terdengar sederhana namun sulit untuk di wujudkan.
"Aku ada shift malam," kata Epica yang sudah keluar dari kamar mandi, berjalan menuju lemari plastik di sudut ruangan. Ia melepas kaosnya dan melemparnya ke keranjang tumpukan baju kotor di samping lemari. Jillian memeluk cewek yang hanya mengenakan tangtop itu dari belakang, berusaha menciumi tengkuknya, "kamu bau rokok," Epica menunjukan wajah kesalnya. Jillian hanya cengegesan di leher cewek itu, nggak peduli.
"Kamu libur kerja aja, ya?" Tanya Jillian lebih terdengar seperti membujuk, Epica menarik seragam kerjanya dari dalam lemari. Jillian masih nggak mau melepaskan pelukannya, ia justru menjilat leher Epica yang seketika membuat cewek itu bergidik.
"Jangan macing deh,"
"Hehe," Jillian terkekeh. Ia tahu, pacarnya ini paling nggak tahan godaan di leher.
"Pagi-pagi udah m***m," Epica berusaha melepaskan pelukan Jillian. Jillian menatap Epica dengan wajah kecewa. "Aku butuh uang, kamu juga harus kuliah, kan?" Ucap Epica sesegera mungkin memakai bajunya, membuat Jillian berdecak sebal karna nggak mendapatkan apa yang ia mau.
"Aku bisa kasih kamu uang,"
"Aku nggak mau uang kamu. Lagian, uang itu kamu dapat dari papa kamu," perkataan Epica membuat Jillian memutar matanya malas. Ia kembali berbaring di kasur dengan muka yang masam, sulit mengajak cewek itu bercinta akhir-akhir ini.
"Aku anterin kamu, ya?" Epica hanya mengangguk menerima tawaran Jillian, biasanya ia selalu menolak dengan alasan nggak mau teman di tempatnya bekerja terus bertanya, kenapa ia bisa di antar dengan mobil mewah oleh cewek yang sama berulang kali.
"Wenda jadi ke Kalimantan?" Epica mulai menyisir rambut hitamnya yang tergerai sepungung.
"Iya, mungkin bulan depan. Kenapa nanya dia?"
"Nggak papa, biasanya kalian bareng terus."
"Kamu cemburu?" Jillian tersenyum menggoda cewek itu. Epica nggak menggubris.
"Nggak kok," jawabnya singkat, sudah selesai berdandan dan siap untuk berangkat.
"Dia sibuk akhir-akhir ini," Jillian mengambil jaket bombernya yang berwarna cokat, lalu beralih pada kunci mobil yang tergeletak di lantai samping kasur. Sebelum Jillian membuka pintu, ia mengecup kening Epica singkat. Tetapi cewek itu nggak menunjukan respon apapun.
Di dalam mobil madza merah yang melaju dengan kecepatan sedang itu mereka hanya terdiam, sesekali Jillian melirik pacarnya yang hanya melihat keluar kaca mobil. Menatap keramaian dengan pandangan kosong. Epica terlihat murung akhir-akhir ini.
"Kamu ada masalah?" Epica menoleh ke arah Jillian, tersenyum simpul lalu menggeleng.
"Nggak ada," Jillian sedikit kecewa mendengar jawaban Epica, karna sepertinya cewek itu berbohong. Jillian menghentikan mobilnya di depan supermarket tempat Epica bekerja beberapa bulan terakhir.
"Aku juga sayang kamu," Epica mengecup pipi Jillian cepat sebelum turun dari mobil, sadar akan perubahan raut wajah cewek itu.
"Hei, baru masuk?" Tanya seorang cowok berambut plontos yang tiba-tiba sudah berada di samping Epica yang sedang memilah barang di rak. Epica hanya tersenyum simpul ke arah cowok itu.
Dams Sagala, cowok yang akhir-akhir ini berusaha mendekati Epica. Ia berbadan tinggi dan ideal. Penampilannya nggak pernah terlepas dari celana jeans kulot dan kaos polos yang sangat pas di badannya, nggak ketinggalan headphone yang juga selalu mengantung di lehernya.
"Aku kira kamu udah nggak kerja disini." Lanjut Dams sambil mencoba memilih rasa permen karet yang selalu di kunyahnya. Salah satu cara agar ia berhenti merokok.
"Aku sakit, jadi nggak masuk kerja." Jawab Epica, cowok itu hanya mengangguk paham.
"Aku nyariin kamu tau," Dams memperhatikan Epica.
"Oh gitu," Cewek itu terlihat acuh tak acuh dan berlalu ke rak bagian roti, membawa keranjang yang masih kosong, Dams hanya mengikutinya dari belakang.
"Iya, gimana kalo malem ini kita jalan?" Ajak Dams membuat Epica menolehkan wajahnya, menatap cowok itu nggak percaya. Dams hanya tersenyum menunjukan kedua lesung pipinya yang dalam.
"Kemana?" Tanya Epica mengeryit.
"Ya, kemana aja. Tempet yang asik." Epica nggak merespon, ia malah sibuk memasukan roti yang sudah hampir kadaluwarsa ke dalam keranjang.
"Gimana?" Tanya Dams lagi, karna merasa di cuekin.
"Maaf, tapi aku nggak bisa." Tolak Epica.
"Aku boleh minta nomor kamu? Email? Akun line? Atau apapun itu." Epica nggak menjawab, ia justru berlalu pergi, membawa keranjang yang penuh dengan roti. Epica mulai membantu temannya di kasir, ia lumayan kewalahan karna antrian yang panjang. Tapi cewek itu tetap berusaha tersenyum ramah pada pengunjung meskipun wajahnya terlihat lelah.
"Sialan," umpat Dams pelan, sebelumnya nggak pernah ada cewek yang menolaknya. Bahkan ia menyandang gelar sebagai ‘playboy’ saat masih berada di sekolah menengah atas, walau kenyataannya nggak seperti itu. Dams orang yang setia.
Perkenalannya dan Epica memang terjadi tanpa di sengaja, ketika Dams dengan cerobohnya menjatuhkan bungkus mie instan di atas kepala Epica, saat cewek itu sedang merapihkan barang-barang di rak bagian bawah. Semenjak hari itu Dams jadi lebih sering mampir ke supermarket yang nggak terlalu jauh dari kampusnya ini. Hanya sekedar untuk mengamati cewek itu bekerja. Penampilan Epica memang sederhana, namun bagi Dams cewek itu lebih dari sekedar menarik.
"Udah tau di tolak, tetep aja ngotot." Erik merenggangkan badannya, memutar pinggang ke kanan dan kekiri hingga berbunyi 'krek'. Ia merasa tulangnya hampir patah setelah melewati dua sks sekaligus. "Katanya kolektor cewek, tapi masih nggak paham juga."
Entah sejak kapan cowok berbadan jangkung ini jadi banyak bicara, Dams nggak menggubris perkataan temannya itu. Ia asik memandang ke bawah dimana orang-orang berlalu lalang, sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Sekarang mereka berada di gedung kampus paling atas, tempat paling cocok untuk nongkrong.
"Iya-iya, si paling jago urusan cinta," Dams terkikik geli saat Erik menatapnya nggak suka. Sebenarnya itu sebuah penghinaan, karna Erik bahkan nggak pernah berpacaran, setelah di tolak oleh cinta pertamanya, sahabat mereka sendiri! Tapi untungnya itu nggak menghancurkan persahabatan mereka. Sekarang cowok berkacamata itu sibuk berkutat pada organ tubuh manusia, berusaha meraih predikat utama di jurusan forensik mengikuti jejak ayahnya.
Jillian berlari kecil membawa payungnya ke supermarket tempat Epica bekerja, cewek itu sudah berada di teras, memeluk tubuhnya yang kedinginan. Gemerlap kilat membuat Jillian lebih bergegas, membawa pacarnya masuk ke dalam mobil dan segera mengambilkan selimut kecil di kursi belakang. Jillian selalu menyiapkanya karna nggak tega melihat Epica kedinginan saat pulang kerja dari shift malam.
"Makasih," ucap Epica lirih. Jillian hanya tersenyum hangat sebelum menjalankan mobilnya. "Kamu nggak bolos lagi, kan?" Tanya Epica dengan tatapan menyelidik, tapi Jillian hanya menoleh sambil cengegesan menandakan jika ia memang membolos, Jillian kembali fokus ke jalanan yang licin.
"Kuliah itu bosenin," jawab Jillian dengan entengnya membuat Epica tersenyum kecut. Bosan ia bilang? Ia hanya belum pernah merasakan sulitnya menjadi seseorang yang mempunyai mimpi untuk kuliah tapi harus menguburnya jauh-jauh karna kendala biaya. Seperti yang Epica rasakan saat ini. Ibu Epica hanya seorang tukang sapu jalanan, adiknya masih memerlukan biaya untuk sekolah. Sedangkan ayahnya sudah nggak ada.
Jillian, mahasiswi dari Jurusan Ilmu Pemerintahan, cewek urakan dan tomboy itu nggak pernah benar-benar serius dengan kuliahnya, ia bahkan mungkin nggak memiliki tujuan hidup. Jillian menjalani kehidupan kuliahnya hanya untuk memenuhi permintaan ayahnya. Ayah Jillian berkarir di bidang politik, tentunya ia juga ingin semua anaknya mengikuti jejak suksesnya. Termasuk Kakak Jillian.
"Maaf aku nggak maksud ngomong gitu," Jillian sepertinya sadar jika perkataannya menyakiti hati Epica. Ia menggegam tangan dingin Epica lalu meremasnya pelan, sedangkan tangan yang lain masih sibuk menyetir.
Epica nggak merespon, cewek itu menyandarkan kepalanya ke dekat jendela, kembali menatap jalanan yang masih padat merayap biarpun di guyur hujan. Malam ini lagi-lagi Bandung kembali banjir.
"Kalo semisal aku ninggalin kamu, apa yang bakal kamu lakuin?" Tanya Epica lihir, mebuat Jillian seketika menghentikan mobilnya yang beberapa meter lagi akan sampai di depan gerbang kost Epica.
Epica meringis, sedikit takut dengan tatapan Jillian yang sulit untuk di terka, Epica masih sedikit trauma karna percobaan bunuh diri Jillian saat ia berusaha memutuskan hubungan dengan cewek itu. Jillian menarik wajah Epica dengan kasar lalu mencium bibirnya dengan ganas. Epica sedikit meronta, tapi akhirnya memilih pasrah dan mengikuti alurnya. Menyatukan nafasnya yang memburu dan saling beradu, bertukar silva dengan Jillian.
Jillian melepaskan ciuman singkatnya, ia menatap wajah Epica dengan pupil mata coklat yang sayu. "Tolong jangan pernah bilang kaya gitu lagi," Jillian memohon menatap mata Epica lekat-lekat. "Aku bakal bunuh diri kalo kamu ninggalin aku," lanjut Jillian lalu mengigit bibir bawah Epica pelan, membuat Epica seketika terdiam membeku.
ooOoo