Suara tangisan terdengar di malam itu. Di dalam sebuah kamar, tiga orang perempuan tengah duduk di atas ranjang. Suara tangis yang terdengar begitu menyesakkan membuat dua orang lainnya ikut bersedih. Freya menatap sedih sahabatnya Ashila yang sedang menangis di depannya sembari memeluk erat boneka milik Mila. Dia menepuk bahu sahabatnya itu dengan sedih.
"Aku tidak tahu apa alasan dia memutuskan aku.., padahal aku sudah memberikan semuanya padanya," ceritanya. Freya menatap Ashila sedih. Dia saling pandang dengan Mila sahabatnya sejak SMP itu. Mila menghela nafas menatap Ashila.
"Kau tidak perlu menangisi pria b******k seperti itu. Dia itu tidak tahu terima kasih!" kesal Mila. Freya menganggukkan kepalanya. Tangis Ashila yang tadi terdengar terisak tiba-tiba terhenti. Dia menatap Mila dan Freya membuat keduanya bingung. Wajah Ashila berubah marah dengan kedua tangan terkepal.
"s**t! Sialan! Dasar b******k! Aku menyesal memberikan semuanya pada Rama!" seru Ashila marah. Freya dan Mila yang awalnya bingung langsung saling pandang dengan wajah terkejut tidak menyangka. mereka mengerti apa yang di maksud Ashila.
"Ja-jadi maksudmu Rama memutuskanmu karena dia merasa jika kau sudah tidak menarik lagi? Karena dia sudah tahu semua hal yang ada di dalam dirimu begitu?" tanya Freya tidak percaya menatap Ashila yang mengepalkan kedua tangannya marah. Freya menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. Dia menghela nafas.
'Semoga saja Bima tidak seperti itu.'
Freya Faradhita gadis berusia 24 tahun seorang pegawai kantor di sebuah perusahaan besar. Dia memiliki dua orang sahabat baik. Mila sahabatnya sejak SMP karena mereka tetangga dekat dan bersekolah di tempat yang sama sejak Freya pindah tinggal bersama ayahnya. Dan juga Ashila sahabatnya sejak SMA-nya. Mereka berteman karena Ashila dulu menjadi teman sebangku Freya saat SMA karena Mila tidak satu kelas dengannya.
Persahabatan mereka berlanjut hingga sekarang mereka bekerja. Dan beruntungnya, Mila berada di kantor yang sama dengan Freya. Mila bekerja sebagai seorang sekertaris salah satu direktur di perusahaan. Dan Freya, dia hanyalah pegawai biasa yang bekerja di bagian keuangan. Sedangkan Ashila dia adalah pemilik sebuah cafe yang di teruskan dari orangtuanya. Sejak dulu juga Ashila pandai membuat kue dan memasak makanan.
Freya tinggal dengan ayahnya. Kedua orangtuanya bercerai saat Freya berusia sepuluh tahun. Selama tiga tahun dia tinggal bersama dengan ibunya. Namun karena ibunya menikah lagi dan dia merasa kurang nyaman tinggal dengan mereka. Freya memilih tinggal dengan ayahnya walaupun dia tidak terlalu dekat dengan ayahnya itu.
Ayahnya seorang dokter dan selalu sibuk. Maka dari itu, ibu Freya meminta bercerai karena kurangnya perhatian dari sang ayah. Sampai sekarang ayahnya tidak pernah menikah lagi. Mungkin karena hidupnya memang selalu bekerja. Ayahnya tidak mempunyai waktu untuk itu. Dan Freya senang dengan itu.
Hidup Freya tidak begitu menyedihkan. Dia memiliki sahabat, Mila dan Ashila. Dua orang itu selalu memberi warna dalam hidupnya. Apalagi kini dia juga memiliki kekasih. Bima Bagaskara, putra kedua dari keluarga Bagaskara. Keluarga kaya yang juga memiliki sebuah perusahaan besar. Mereka bertemu saat Bima pergi ke perusahaan LnA tempatnya bekerja. Perusahaan Aksa dan LnA melakukan kerja sama. Dari cerita Bima, keluarga Abraham selaku pemilik perusahaan LnA adalah keluarga mereka juga.
Hubungan mereka sangat baik. Bagi Freya, saat ini hanyalah Bima satu-satunya pria yang bisa dia percaya dan begitu Freya cintai. Bima adalah sosok yang akan melindunginya seperti seorang ayah yang melindungi putrinya. Walaupun Freya tidak pernah tahu bagaimana rasanya. Dia memang memiliki seorang ayah. Seorang ayah yang hanya peduli pada orang lain tapi tidak pada putrinya. Lucu sekali. Tapi itulah kenyataannya.
Melihat Ashila yang di putuskan oleh Rama, Freya jadi sedikit takut. Karena bosan dan sudah tidak memiliki rasa penasaran pada Ashila yang sudah memberikan semuanya pada Rama. Semuanya termasuk uang dan juga kesucian Ashila. Mereka memang sudah setahun lamanya menjalin kasih dan kandas dengan cara seperti ini. Itu membuat Freya jadi berpikir apakah semua pria seperti itu?
Freya menggelengkan kepalanya takut jika Bima akan melakukan hal yang sama. Namun tidak. Hubungannya dan Bima baru berjalan dua bulan dan tidak mungkin Bima bosan padanya secepat itu bukan? Tidak mungkin juga Bima memutuskannya hanya karena dia menolak untuk berciuman dan melakukan s*x seperti yang Ashila lakukan. Freya tidak seberani itu. Dia masih takut apalagi Bima adalah kekasih pertamanya.
***
Itu yang Freya katakan kemarin malam. Dan siang ini ketakutannya itu benar terjadi. Nyatanya semua pria itu sama saja. Tangan Freya bergetar menatap foto dua orang berpelukan mesra di atas ranjang. Dan bisa Freya pastikan di balik selimut itu mereka tidak memakai sehelai benang-pun. Freya menggelengkan kepalanya. Bima tidak mungkin melakukan itu. Freya menarik nafas dalam menahan air matanya yang siap meluncur kapan saja.
Hubungannya baik-baik saja tidak mungkin Bima tega berkhianat. Jika saja foto itu sudah ada sejak sebelum mereka berpacaran Freya bisa memaklumi itu. Tapi ucapan Ashila dan Mila saat awal Bima dan dirinya menjalin kasih terus mengusik Freya.
"Bima adalah pria playboy yang dekat dengan banyak perempuan. Melakukan s*x bukanlah hal asing untuknya. Apalagi dia juga berasal dari keluarga kaya. Dia bebas melakukan apapun." Itu yang di katakan Ashila yang merupakan teman sekantor Bima dulu. Yahh.., Ashila dulu bekerja di perusahaan Aksa. Dan kemudian resign untuk fokus pada cafenya.
"Apa kau yakin menerima Bima?" tanya Mila ragu saat dulu Freya mengatakan dia siap menerima Bima. Namun cinta itu memang buta. Freya tetap menerima Bima atas dasar cinta.
Di siang yang panas itu Freya berusaha meredam api panas di dadanya berjalan menemui Bima untuk menanyakan perihal foto itu. Wajah si perempuan di foto itu tidak terlihat jelas dan hanya wajah Bima yang terlihat. Freya hanya akan bertanya untuk menghilangkan rasa takut dan khawatirnya. Freya tidak mau hubungan ini berhenti seperti ini.
Namun semua pikiran positif yang berusaha Freya tanamkan di otaknya langsung hilang saat melihat Bima tengah berpelukan mesra dengan seorang wanita di dalam sebua cafe. Mata Freya memanas dengan jantung berdegup nyeri menatap mereka. Lalu, tanpa sengaja pandangan mereka bertemu. Freya diam berusaha meredam emosi dan air matanya yang siap meluncur dengan sekuat tenaga.
Bima melepaskan pelukannya pada wanita di depannya dengan cepat bahkan sedikit mendorongnya menatap Freya terkejut. Dan Freya membelalakkan kedua matanya saat melihat siapa wanita yang di peluk oleh Bima. Dia bahkan sedikit limbung hampir terjatuh saat melihat wanita itu. Freya tidak mungkin salah melihat. Dia ingat jelas bagaimana wajah dan bentuk tubuh sosok wanita yang paling di bencinya itu.
Karina, sepupu sekaligus rival dalam hidup Freya. Perempuan yang selalu menciptakan permusuhan dan persaingan di antara mereka. Sejak dulu, anak dari adik ibunya itu suka sekali bersaing dengannya. Di saat dia lebih unggul, Karina pasti melakukan apapun untuk lebih daripada dia. Entah itu nilai, pakaian, barang, bahkan laki-laki. Freya akui jika fisiknya dengan Karina kalah jauh. Karina adalah seorang model. Dia cantik dengan tubuh seksinya. Tidak sulit untuk merebut kekasihnya. Kedua tangan Freya terkepal marah dan berbalik pergi.
"Fey tunggu!" seru Bima berlari menghampiri Freya. Pria itu menarik tangan Freya dan dia langsung menyentaknya dengan keras menoleh menatapnya dengan air mata yang sudah mengalir.
"Itu dia bukan?!" tanya Freya. Bima terlihat gelagapan dan bingung. Freya tersenyum sinis enggan menatap pria itu.
"Katakan! Kau tidur dengannya?!" teriak Freya. Karina tiba-tiba datang dan merangkul Bima. Dan pria itu hanya terkejut dan berusaha melepaskannya.
"Itu memang aku dan aku yang mengirimnya padamu," jawab Karina. Freya terkekeh sinis menatap Bima.
"Ku pikir kau..., ahh.., sudahlah. Untuk apa juga aku mempertahankan dirimu?" sinis Freya kesal. Bima menggelengkan kepalanya.
"Maafkan aku," sesalnya.
"Sayang, untuk apa kau meminta maaf pada perempuan seperti Freya? Kau itu memang tidak pantas dengannya," ujar Karina. Freya tertawa sinis menatap Karina.
"Kau merasa bangga? Kau bangga yah mengambil pria milik orang lain? Kasihan sekali. Wajah cantikmu tidak menarik memang hingga kau mengambil pria milik wanita lain.., dengan tubuhmu! Dan Bima, ternyata perkataan temanku benar. Pria b******k akan tetap b******k! Aku menyesal menerimamu dan mencintaimu!" seru Freya. Dia berbalik pergi meninggalkan mereka. Bahkan Bima tidak ada niatan sedikitpun untuk mengejarnya.
Freya tersenyum miring. Dadanya terasa sesak dengan rasa ngilu yang menusuk. Sesakit ini rasanya di khianati oleh orang yang di cintai. Langkahnya terhenti sejenak saat Karina berbicara. Ternyata wanita itu mengikutinya? Apa yang dia katakan pada Bima hingga Karina yang mengejarnya bukanlah Bima.
"Sampai kapanpun kau tidak akan bisa lebih unggul dariku, sepupu," ucap Karina. Freya menoleh menatap Karina tajam. Dia tersenyum miring.
"Kau pikir hanya Bima yang mendekatiku?! Banyak pria yang mau bersamaku! Tidak seperti dirimu yang-"
"Sebanyak apapun pria yang mendekatimu, mereka tidak akan lebih baik dari Bima," potongnya bicara. Freya tersenyum sinis.
"Baik? Pria seperti dia baik?!"
"Dia memang suka mempermainkan wanita. Tapi Freya, dia itu keluarga Bagaskara. Keluarga kaya dan terpandang. Dia tidak pantas hanya bersama dengan perempuan sepertimu," ucap Karina. Freya tertegun. Dadanya terasa semakin sesak mendengar itu. Ucapan itu.., Freya pernah mendengarnya.
"Jadi, sekarang cinta juga memandang kasta dan kedudukan begitu?" gumam Freya. Karina tersenyum miring bersedekap d**a menatap Freya.
"Bagi orang kaya, cinta itu bukanlah hal yang penting Freya. Terima saja kenyataannya," ejek Karina. Freya menarik nafas dalam mengisi ruang dadanya yang sesak.
"Bagaimana jika aku bisa mendapatkannya?" tanya Freya datar. Dia menatap Karina dengan mata memerah karena menangis. Dia menatap Karina dengan tajam. Karina terkekeh sinis.
"Ternyata kau masih sama yah.., tetap saja sombong dan angkuh padahal kau tahu jika kau sudah pasti kalah dariku," sinis Karina.
"Aku bisa buktikan jika aku bisa mendapatkan pria yang lebih baik dan pastinya lebih segalanya dari Bima!" tegas Freya. Karina hanya tertawa.
"Tertawa saja dan lihat buktinya nanti!" kesal Freya. Karina menaikkan sebelah alisnya.
"Aku tunggu bukti ucapanmu, Freya sayang," sinis Karina dan kemudian berbalik pergi. Kedua tangan Freya terkepal marah dan berbalik pergi. Kali ini dia tidak boleh kalah!