Sejak awal Suri tidak antusias untuk menghadiri pesta ulang tahun ini.
Sekarang, justru Yosan-sang suami menghilang di tengah pesta, membuat Suri semakin tidak nyaman. Kesendirian Suri di tengah keramaian dengan orang-orang yang tidak terlalu akrab tentu saja menimbulkan kecanggungan tersendiri. Sapaan dan ucapan selamat untuk jabatan baru Yosan, sama sekali tidak membantunya dalam menghilangkan kecanggungan yang ada.
Bahkan pemandangan menawan Sky Night Cafe yang berada di lantai lima belas di gedung hotel mewah di Burston, tidak menarik bagi Suri. Karena sang suami tidak ada disisinya.
Sudah dua kali Suri mencoba menghubungi lewat telepon, namun tak ada jawaban. Suri berjalan menuju cafe bagian dalam, meninggalkan kerumunan di area rooftop. Barangkali Yosan sedang berada di dalam.
Namun setelah membaca papan petunjuk, yang menunjukkan toilet di sebelah kanan, sementara emergency exit ada di sebelah kiri, keputusan Suri berubah. Ia berfikir perlu untuk ke toilet, mengingat saat ini dia tidak terlalu percaya diri dengan lipstik merah yang dia kenakan.
Lalu Suri melangkah melewati koridor menuju ke toilet. Saat itu juga terdengar suara samar-samar yang cukup familiar, sosok perempuan. Suri memperlambat langkahnya. Rasa ragu kini mulai menghantui, apakah terus melangkah atau berhenti?
“Kau pikir aku akan senang. Aku tak mengundangnya!” ucap perempuan itu dengan nada tinggi.
“Tenang dulu! Kendalikan emosimu!” Suara pria itu terdengar sangat pelan bahkan nyaris tak terdengar oleh Suri.
“Persetan! Omong kosong!” umpat perempuan itu.
Lalu suara itu menghilang.
Secepat kilat rasa panas mulai menjalar ke dalam aliran darah Suri. Suara pria itu persis dengan sosok yang dia cari. Meskipun tidak yakin jika dugaan itu benar.
Suri melangkah perlahan berusaha untuk menangkap suara mereka, namun percuma saja tidak ada lagi suara mereka. Percakapan di lorong emergency exit itu telah lenyap.
Suri menghirup udara panjang lalu dihembuskan perlahan, kemudian berjalan setenang mungkin melanjutkan langkah seakan-akan menuju toilet.
Dua mata Suri menatap ke samping lorong sebelahnya. Sial, mereka sudah tidak berada di sana.
Diurungkan niat untuk toilet, kini Suri menuju ke arah pintu emergency exit. Daun telinga Suri menempel pada pintu, yang hanya ada suara lamat-lamat umpatan seorang perempuan, sedangkan pria itu tak bersuara lagi.
Dan rasa ingin tahu semakin tak terkendali. Kini Suri telah menyentuh gagang pintu kemudian mendorong dengan cepat. Sebuah pemandangan fantastis.
Kedua tangan Yosan tengah menyentuh lengan Rachel dengan jarak yang begitu dekat. Mata mereka saling memandang satu sama lain. Mirip seorang pria yang sedang bicara serius dengan kekasihnya.
Namun, hal itu tak berlangsung lama ketika melihat sosok Suri di ambang pintu. Suri melangkah mundur, berjalan cepat menjauh dari pintu darurat. Tak kuasa dia melihat Yosan bersama wanita lain di tempat yang tak semestinya.
“Suri! Berhenti!” teriak Yosan sambil menaiki anak tangga meninggalkan Rachel di tangga darurat.
Suri tak peduli, dia justru mempercepat langkah kakinya.
“Suri! Berhenti!” Suara hentakan kaki Yosan menggema keras di koridor mengejar Suri.
Langkah kaki Suri terhenti. Berdiri dan diam menunggu Yosan menghampiri, dengan api amarah yang tengah membakar d**a dan seluruh tubuh.
“Aku bisa jelaskan semuanya,” ucap Yosan berhenti berdiri di samping Suri dengan nafas terengah-engah. “Tidak seburuk yang kamu lihat.”
“Atau lebih buruk dari yang aku sangka!” Dua mata Suri tak berkedip menatap wajah Yosan.
“Tidak Suri!”
“Dugaanku selama ini benar! Aku pulang!” Suri melangkah pergi meninggalkan Yosan.
Sedangkan pria itu hanya bisa melolong seperti seorang i***t dengan menatap dua perempuan di sisi kanan dan kiri. Suri atau Rachel yang harus dia hampiri.
Suri berjalan cepat menuju ujung koridor dan masuk ke dalam lift, rasanya ia ingin segera menghilang dari tempat ini sekarang juga. Butuh waktu tiga menit untuk Suri akhirnya sampai di lobby.
***
Angin berhembus kencang bersama dengan rintik hujan. Orang-orang mempercepat langkah masuk ke dalam lobby, ada pula yang berlari masuk ke dalam mobil. Hanya Suri yang berlari menembus rintik hujan.
Tidak peduli jika hujan lebat sekalipun, dia tetap akan pergi. Yang ada dalam kepalanya saat ini, dia harus segera menghilang dari sekeliling Yosan dan pesta b*****h itu.
Suri mempercepat langkahnya, sedangkan hujan semakin deras. Dengan pandangan yang terbatas, Suri berusaha mencari taxi .
“Suri!” panggil sosok dari jauh di area parkiran mobil.
Suri mendengar suara itu, akan tetapi tidak membuat langkahnya terhenti.
“Kau mau kemana hujan begini?” Teriak pria itu lagi. Kali ini suara itu jauh lebih jelas, hingga Suri bisa menebak sosok itu.
Kali ini Suri sedang tidak menginginkan bicara dengan siapa pun. Dia hanya menginginkan segera melangkah pergi.
Joe masuk mobil kemudian menginjak gas dan memutar stir menuju Suri berada.
Sia-sia langkah kaki Suri menghindari Joe. Mobil pria itu kini tengah berdiri sampingnya dengan kaca samping terbuka.
“Ada yang bisa aku bantu?” teriak Joe.
Suri menatap ke arah Joe. “Oh terimakasih. Tidak.”
“Kau mau kemana?”
“Mencari taxi.”
“Di sini kau harus pesan online untuk mendapatkan taxi,” jawab Joe. “Jika kau mau aku bisa mengantarmu.”
“Seharusnya kau bisa menjaga sikap dengan wanita yang sudah menikah!” Tekanan suara Suri sedikit keras.