"Baik, sampai di sini dulu materi hari ini."
Suara Pak Dedi langsung disambut suara kursi yang bergeser.
"Kelas selesai."
Belum lima detik...
Mahasiswa langsung berubah jadi atlet lari.
"WOY! Kantin! Nanti ayam gepreknya habis!"
"Buruaan!"
Xyra masih duduk santai.
Ia memasukkan laptop ke dalam tas sambil menguap lebar.
Naya melongo.
"Lo gak buru-buru?"
"Kemana,,,????"
"Ke kantin!"
Xyra menatap jam dinding.
"Masih jam sebelas."
"Iya."
"Berarti ayamnya juga masih jam sebelas."
"..."
"Belum kabur."
Naya cuma geleng kepala.
"Gue heran sama cara mikir lo."
"Jangan heran."
"Kenapa?"
"Ntar ikut rusak."
------------------
Lima menit kemudian.
Kantin Universitas Garuda Nusantara sudah penuh.
Aroma bakso, mie ayam, nasi goreng, sampai ayam geprek bercampur jadi satu.
Xyra langsung menghampiri penjual langganannya.
"Bang."
"Iya, Xy."
"Es teh satu."
"Oke."
"Yang gratis."
Penjualnya melotot.
"Gratisan Mulu lu jadi orang"
Xyra nyengir.
"Kan abang baik."
"Emang Baek tapi kalo gratisin elu tiap hari bongkrat gue xy" keluh si Abang es
"Berarti gratis kan bang, gue doain deh abis ini es teh Abang laku keras" puji xyra
"Logikanya muter ni bocah" Abang es yang ngomel sambil ngaduk ngaduk es batu
"Yang penting nyampe bang" ucap xyra dengan polos
Penjual itu tertawa.
"Dasar anak ajaib."
Akhirnya Xyra tetap bayar.
Sambil menerima gelas, wajahnya mendadak berubah sedih.
Naya curiga.
"Kenapa?"
"Harga es teh naik." Ucap xyra manyun
"Seribu doang."
"Itu bukan seribu." Wyra tak terima es teh nya naik harga
"Terus?"
"Itu pengkhianatan."
Naya hampir menyemburkan minumnya.
"Lo lebay."
"Gue bukan lebay."
"Terus?"
"Gue miskin." Xyra yang pura pura memelas
Padahal...
Kalau semua rekening milik Xyra dijumlahkan...
Mungkin kantin itu bisa dibeli beberapa kali.
Tapi tentu saja...
Tak ada seorang pun yang mengetahuinya.
----------
Di sisi lain kota.
Sebuah mobil SUV hitam memasuki halaman sebuah gedung mewah.
Beberapa pria berbadan tegap langsung membuka pintu.
Seorang pria tinggi turun dengan langkah tenang.
Setelan jas hitamnya rapi.
Tatapannya tajam.
Aura dinginnya membuat suasana mendadak sunyi.
"Selamat datang, Tuan."
Pria itu hanya mengangguk.
"Bagaimana perkembangan pencarian?"
Seorang anak buah menyerahkan tablet.
"Kami menemukan aktivitas Ghost di Asia Tenggara."
"Negara mana?!" Ucap pria dingin sedingin freezer pas musim ujan
"Indonesia."
Pria itu berhenti melangkah.
"Pastikan informasi ini benar."
"Kemungkinan delapan puluh sembilan persen."
Tatapan pria itu semakin tajam.
"Kalau Ghost benar ada di Indonesia..."
"...aku akan menemukannya."
---------
Sementara itu...
Di kantin.
Xyra sedang sibuk memperdebatkan sepotong ayam goreng.
"Bang."
"Iya?"
"Ini ayamnya kecil." Tunjuk xyra ke Abang geprek
"Normal."
"Gak bang liat sendiri ni " sambil menyodorkan piringnya
"Kenapa?"
"Kayaknya pas kecil sering gak minum susu." Protes xyra
Penjual ayam sampai ketawa.
"Lu kagak tau si dia tu stunting soalnya kagak dapet PKH"
"Ya kalo mo yang gede nambah lima ribu ,kalo mo gede lagi gue aja yang lu Telen" semprot si Abang penjual ayam
Xyra langsung menarik piringnya.
"Kenyang kagak kelolotden iya bang nelen elu"
"Ya udah lah segini aja cukup biarin ayamnya stunting yang penting gue kagak"
Naya menghela napas.
"Elu tu ya doyan banget protes"
"Biarin emang ayamnya kecil kek kelingking kaki gue"
"Terus kenapa kagak lu tuker yang gede?!" Protes Naya heran
"Kagak ah Lima ribu itu motivasi buat gue bersyukur."
Naya benar-benar pasrah.
"Lo tuh ya..."
Belum sempat mereka lanjut makan...
Tiba-tiba...
BRAAAK!
Suara benda jatuh terdengar dari luar kantin.
Disusul teriakan seorang perempuan.
"JAMBRET!!"
Seluruh mahasiswa spontan menoleh.
Seorang pria berhelm hitam baru saja merampas tas mahasiswi dan melarikan diri menggunakan motor.
"Hei! Tangkap!"
"Copet!"
Suasana langsung kacau.
Semua panik.
Xyra masih memegang sendok.
Ia menatap pelaku yang semakin menjauh.
Lalu...
Menatap ayam goreng di piringnya.
Naya ikut melihat.
"Xy..."
"Hm?"
"Lo mau bantu gak?"
Xyra menghela napas panjang.
"Padahal ayam gue belum habis..."
Ia memasukkan potongan ayam terakhir ke mulut.
Mengunyah dengan tenang.
Lalu berdiri.
"Oke."
Tanpa diketahui siapa pun...
Tatapan santai Xyra berubah tajam.
Dan untuk pertama kalinya...
"Xy... cepetan!"
Naya refleks berdiri saat melihat motor penjambret melaju kencang ke arah gerbang kampus.
Mahasiswa lain hanya bisa berteriak.
"Kejar!"
"Ada yang catat plat nomornya!"
"Telepon satpam!"
Xyra masih berdiri sambil menatap gelas es tehnya yang tinggal setengah.
Ia menghela napas pelan.
"Sayang banget..."
Naya melotot.
"Apanya yang sayang?!"
"Es teh gue belum abis."
"..."
"Prioritas lo emang aneh."
Xyra menghabiskan es tehnya dalam sekali teguk.
"Yaudah."
Ia mengembalikan gelas ke meja.
"Titip tas."
"Oke ati ati Lo"
Xyra hanya mengangkat bahu.
"Oke kawan doain gue"
Xyra lalu berlari.
Namun anehnya...
Ia tidak mengejar ke arah jalan utama.
Melainkan masuk ke gang kecil di samping gedung perpustakaan.
"Eh?"
Naya mengernyit.
"Tu bocah kok beloknya kesitu si ,entah lah pemikiran dia Ama gue beda arah"
---
Di jalan raya...
Penjambret itu menyeringai puas.
"Hahaha! Gampang banget!"
Tas hasil rampasannya disangkutkan di bahu.
Motor terus melaju.
Ia tak sadar ada petaka di depan sana.
---
Sementara itu...
Di dalam gang.
Xyra berlari santai.
Napasnya bahkan masih stabil.
"Untung masih inget jalan pintas."
Ia melompat melewati tumpukan kardus.
Tangannya menyentuh tembok lalu Tubuhnya berputar ringan.
Gerakannya lincah.
Tak seperti mahasiswi biasa.
Kurang dari satu menit...
Ia sudah sampai di ujung gang.
Xyra melirik jam tangan.
"Harus cepet."
"Gue belum makan kerupuk."
---
Beberapa detik kemudian...
Braaam...!
Suara motor terdengar semakin dekat.
Penjambret itu keluar dari tikungan.
Saat itulah...
Xyra melangkah ke tengah jalan.
"Hai....."
Pria itu kaget.
"Woy! Minggir!"
Bukannya minggir...
Xyra malah tersenyum tipis.
"Maaf."
"Gue lagi buru-buru."
Pria itu memutar gas lebih dalam.
"Dasar bocah!"
Jarak tinggal beberapa meter.
Tiga...
Dua...
Satu...
Xyra bergeser setengah langkah.
Kakinya menyentuh bagian samping motor.
Brak!
Motor langsung kehilangan keseimbangan.
Penjambret itu terguling ke aspal.
"Argh!"
Tas korban terlempar.
Xyra mengambil tas itu lebih dulu.
Ia menatap pria yang masih berusaha bangun.
"Balikin."
"Kurang kerjaan ya, lo!"
Pria itu maju dengan marah.
Belum sempat menyentuh Xyra...
Buk!
Sebuah dorongan cepat mengenai dadanya.
Pria itu mundur beberapa langkah.
Tatapannya berubah kaget.
"Lo..."
Xyra hanya berdiri santai.
"Tasnya bukan punya lo."
Pria itu hendak menyerang lagi.
Namun...
Dari kejauhan terdengar suara sirene.
"Wiuu... wiuu..."
Wajah penjambret langsung panik.
"Sial!"
Ia buru-buru meninggalkan motornya dan kabur masuk ke gang lain.
Xyra tidak mengejar.
Ia melihat tas di tangannya.
"Lumayan."
"Masih utuh."
Tak jauh dari tempat itu, di lantai dua sebuah bangunan kosong...
Seorang pria memegang kamera berlensa panjang.
Klik.
Klik.
Klik.
Ia baru sempat memotret dari kejauhan.
Sayangnya...
Wajah gadis itu tertutup bayangan topi dan posisi cahaya.
"Hmm..."
Pria itu memperbesar hasil fotonya.
Buram.
Yang terlihat hanya siluet seorang perempuan bertubuh ramping.
Ia segera mengambil ponsel.
"Tuan."
"Ada perkembangan."
"Seorang perempuan menghentikan penjambret hanya dalam beberapa detik."
Suara di seberang terdengar tenang.
"Itu Ghost?"
"Belum bisa dipastikan."
"Hanya insting."
Pria itu kembali melihat foto buram tersebut.
"Tapi..."
"Ada sesuatu yang berbeda dari gadis itu."
---
Lima menit kemudian.
Di kantin kampus.
Naya masih mondar-mandir.
"Ke mana sih anak itu..."
Tiba-tiba...
"Permisi."
Naya menoleh.
Xyra sudah berdiri di belakangnya sambil mengatur napas seolah baru selesai berlari jauh.
"Capek juga."
Naya langsung menghampiri.
"Lo gak papa"
"Iya santai aja"
"Beneran"
"Iya bener liat gue masih utuh kan"
"Iya sih sapa tau otak lu yang tinggal separo"
"Kampret lu"
Naya memicingkan mata.
"Eh gimana jambretnya"
Xyra mengangguk polos.
"Lari dia"
Jemarinya masih menggenggam sebuah gantungan kunci kecil yang terlepas dari tas korban.
Lalu memasukkannya diam-diam ke saku.
Belum sempat ia berkata apa-apa...
Ponselnya bergetar pelan.
Sebuah pesan tanpa nama muncul di layar.
> "Kami melihatmu."
Xyra menghentikan langkahnya.
Untuk pertama kalinya hari itu...
Senyumnya memudar