***
Hari pertama satu kantor dengan mantan pacar ternyata membuat pikiran Fatur lebih lelah dari biasanya, sampai ia melupakan janji pada kekasihnya, Erna, untuk nonton di bioskop malam ini. Yang pria itu lakukan sepulang kerja adalah tidur, saat membuka matanya dia jadi kaget sendiri melihat Erna sudah ada di ambang pintu kamarnya dengan wajah yang ditekuk dan tangan terlipat di d**a.
Begitu mengingat kalau seharusnya saat ini mereka berada di bioskop bukannya di kamar tidur, Fatur langsung terduduk dan tersenyum manis pada Erna karena merasa bersalah. Erna memang punya kunci apartemennya jadi wanita itu bisa masuk sendiri, tanpa perlu menunggu si pemilik untuk membukakan pintu.
“Aku tunggu kamu di bioskop sampai jamuran ... dan kamu malah tidur di sini?” Erna geleng-geleng tak percaya sambil menatap Fatur.
“Maaf, aku ... ketiduran.” ucap Fatur setelah sebelumnya berpikir tidak mungkin ia bilang melupakan janji mereka.
“Kalau kamu memang capek, bilang aja. Aku juga gak apa-apa kok.” Erna duduk di sisi kasur Fatur, merapikan sedikit rambut Fatur yang berantakan.
Fatur kembali meminta maaf, Erna memang bukan tipe wanita yang akan marah-marah walaupun sudah di buat menunggu berjam-jam di bioskop sendirian. Erna malah menawarkan untuk membuatkan Fatur makan malam dan meminta Fatur untuk mandi karena melihat pria itu sama sekali belum mengganti pakaiannya, Fatur langsung mengangguk mengiyakan karena dirinya sudah lapar dan perlu mandi.
Pria itu melihat pantulan dirinya di cermin sebelum berjalan menuju ke kamar mandi, ternyata ia benar-benar masih dengan pakaian lengkap seperti saat bekerja tadi kecuali sepatunya, bahkan dirinya masih memakai kaos kaki. Hanya dengan begitu saja Fatur tau, kalau dia pikirannya memang sedang sangat lelah.
Selesai mandi ia memilih memakai pakaian santai, tanpa perlu merapikan rambutnya Fatur langsung menuju dapur. Senyuman mengembang di wajahnya saat melihat isi panci di atas kompor, Erna yang menangkap ekspresi Fatur hanya geleng-geleng kepala karena sudah biasa.
“Itu sayur asem, bukan acara komedi. Masih aja ya kamu ... senyum-senyum gitu.” komentar Erna sambil menyodorkan piring pada Fatur.
“Masih belum bisa lupa, sayur asem rasa sayur.” ucap Fatur, senyuman masih berada di wajahnya.
"Tapi kalau menurut aku, temen kamu itu hebat tau ... gimana caranya coba bikin sayur asem, tapi jadi sayur sop?" tanya Erna sambil mengambilkan sayur yang menjadi topik pembicaraan mereka ke dalam mangkuk terpisah untuk Fatur.
“Jadi kamu kasih pujian, atau sindiran nih?" canda Fatur.
"Ini pertanyaan, Sayang ...." jawab Erna, dia memberikan mangkuk berisi sayur asem pada Fatur.
Pria itu tersenyum lembut menatap Erna, “Bukan jadi sayur sop, memang dia gak bisa masak aja. Sayur asem yah harusnya kayak buatan kamu ini nih, enak.” puji Fatur lalu berjalan ke ruang tengah, ia biasa makan di sana sambil menonton televisi.
“Kalau sekarang mungkin dia jago masak, kamu pernah ketemu temen kamu itu lagi?” tanya Erna yang sekarang sudah duduk di samping Fatur, mereka makan bersama.
“Hm? Nggak sih.” jawab pria itu tanpa melihat pada Erna, karena dia memang sedang berbohong.
Selama delapan jam di kantor tadi ia berada di ruangan yang sama dengan pembuat sayur asem rasa sayur sop itu, Kanaya adalah orang yang membuatnya selalu tersenyum karena sayur asem. Hari itu Kanaya mengaku kalau dia belum pernah memasak selain mie rebus dan telur, tapi pria itu meminta Kanaya untuk mencoba memasak. Kebetulan di kulkas hanya ada bahan untuk membuat sayur asem dan ayam potong, Kanaya sukses membuat ayam goreng tapi tidak dengan sayur asemnya.
Fatur masih cukup ingat bagaimana ekspresi wajah Kanaya saat merasakan masakannya sendiri. Dia juga ingat saat Rahma, kakaknya Fatur, waktu itu mengkoreksi rasa sayur asem yang menjelma menjadi sayur asem itu. Raut wajah Kanaya terlihat lucu saat berusaha mengingat bumbu-bumbu yang Rahma sebutkan, wanita itu terlihat sangat serius. Fatur tidak pernah berusaha mengingat-ingat raut Kanaya, tapi hal itu selalu meluncur bebas di ingatannya setiap kali melihat makanan satu ini di depan matanya.
Waktunya bersama Erna setelah ia mengantar kekasihnya itu pulang selesai makan malam tadi, lalu kembali pulang ke apartemen yang dia beli tiga tahun lalu tapi baru dia tempati satu tahun belakangan karena sebelumnya ia memilih tinggal di kediaman Rahma. Alasannya pindah adalah karena merasa tidak enak karena terus mengganggu waktu istirahat Rahma saat harus pulang malam karena lembur, alasan lainnya karena apartemen ini letaknya lebih dekat dengan kantornya sekarang.
Kalau saat sendirian seperti ini sudah pasti Fatur hanya akan menonton televisi, walaupun sebenarnya mata pria itu ebih fokus pada layar ponselnya. Ia membaca isi percakapan grup tim kreatif yang biasanya tidak pernah seramai ini. Ternyata Kanaya sudah ditambahkan ke dalam grup itu, isinya obrolannya hanya soal membantu Kanaya merapikan kamar kosnya, tidak ada satupun pembicaraan soal pekerjaan.
Fatur menutup ruang obrolan yang sebenarnya masih ramai, lalu menaruh ponselnya sembarangan di sofa. Ia hanya bisa menarik napas dalam, karena mulai besok dan seterusnya dirinya akan terus bertemu Kanaya. Baru memikirkannya saja membuat Fatur merasa lelah, mungkin sebenarnya keputusan Fatur memasukkan Kanaya ke dalam timnya adalah keputusan yang salah.
***
Kanaya menaruh ponselnya di atas meja, kalau terus-menerus menanggapi obrolan dari para rekan kerjanya itu entah kapan Kanaya bisa selesai merapikan kamar kosnya ini. Mojang Bandung yang sekarang ini tinggal di kosan yang jaraknya sekitar empat puluh lima menit dari kantor, menggunakan motor dalam keadaan lalu lintas lancar.
Wanita itu memilih rumah kos karena tempat tinggal terdekat dengan kantor adalah apartemen, sedangkan tidak mungkin Kanaya tinggal di sana mengingat biaya sewa yang cukup tinggi. Kanaya yang baru tiba di Jakarta kemarin sore, memang belum sempat membongkar semua barang bawaannya. Walaupun repot, Kanaya menyukai kehidupan anak kos, terutama karena ia bisa terhindar dari kecerewetan orang tuanya. Itu hal yang paling menyenangkan, walaupun resikonya sekarang adalah bertemu Fatur. Setidaknya Fatur tidak akan ikut campur pada urusan kehidupannya, pria itu sekarang hanya atasan di tempat kerja yang artinya tidak punya hak untuk ikut campur dalam kehidupan pribadi Kanaya.
Tangan Kanaya yang tadinya sibuk memindahkan baju-bajunya ke dalam lemari berhenti begitu mengingat Fatur. Sudah bertahun-tahun tidak bertemu, Fatur terlihat semakin mendekati pria idamannya. Mungkin istilah udah jadi mantan makin bening aja adalah benar. Menurut kesimpulan Kanaya sendiri, hal ini terjadi dikarenakan beban yang tadinya mengganggu pikiran lepas dan menyebabkan hidup menjadi lebih bahagia. Dan Kanaya tidak bisa setuju dengan hasil penelitiannya sendiri, karena menurutnya selama ia menjadi pacar Fatur Rahman dirinya sama sekali tidak pernah menuntut apapun, jadi ia tidak bisa dianggap sebagai beban.
Walaupun tidak pernah saling bertemu secara langsung, tapi Kanaya dan Fatur saling mengikuti akun sosial media masing-masing, jadi sedikitnya Kanaya tau tentang Fatur. Tentang Fatur yang dulu menghindari teknologi sekarang sudah lebih modern dari Kanaya, badannya yang dulu kurus bak orang kurang gizi sekarang terbentuk dengan baik, walaupun Kanaya yakin Fatur tidak mungkin punya six pack apalagi eight pack. Kanaya perkirakan kalau saat ini Fatur minimal mandi tiap hari, tidak seperti dulu yang hanya mandi dua hari sekali.
Menyadari kalau dirinya sudah memikirkan Fatur terlalu banyak, Kanaya langsung menggelengkan kepalanya dengan kuat seolah dengan begitu bisa meruntuhkan semua pikirannya tentang Fatur. Tentu saja bukan hal yang bagus kalau ia terus menerus memikirkan mantan pacar yang sudah punya pasangan baru.
“Nggak boleh dipikirin, Naya! Dia udah punya pacar dan kamu tau itu. Pokoknya jangan, kalau nggak mau patah hati lagi!” Sambil sibuk bermonolog Kanaya mengusap-usap dadanya sendiri.
Kanaya kembali menyibukkan dirinya dengan merapikan kamar kos dan setiap kali Fatur kembali melintas di pikirannya, ia akan menggelengkan kepalanya keras-keras lagi.
***