Jakarta, 2013
Mengambil langkah cepat, Fatur langsung menerobos keramaian stasiun Gambir. Dia sudah cukup kesal karena kesulitan mendapat tempat untuk memarkirkan motornya tadi, sekarang ia hampir mengumpat pada orang-orang asing karena menghalangi jalannya. Pria itu tahu kalau seharusnya ia tidak bersikap seperti ini, seharusnya ia benar-benar mengakhiri semuanya, seharusnya ia tidak perlu takut akan kehilangan, seharusnya ia tidak lagi menengok ke belakang dan mengejarnya, seharusnya dirinya cukup pura-pura tidak tahu dan tidak lagi peduli.
Tapi pikirannya terus berlari ke satu titik, tak peduli berapa kali dirinya mencoba untuk menghindar. Ia tahu kalau dirinya akan menyesal, ia tahu kalau semuanya akan percuma.
“Aya!”
Fatur berteriak keras saat melihat sosok yang ia cari. Dia tidak terlalu peduli kalau suaranya bukan hanya menarik perhatian orang yang dipanggilnya, tapi juga orang-orang lain yang ada di sana. Yang ia pedulikan hanya Kanaya, wanita yang mungkin tidak akan bisa ia temui lagi setelah hari ini.
Melihat Kanaya berbalik dan menatapnya, Fatur berlari menghampiri wanita itu. Tanpa mengatakan apa-apa, ia langsung menarik Kanaya yang sedang kebingungan ke dalam pelukannya. Awalnya Kanaya tidak membalas pelukannya, bahkan wanita itu hanya berdiri kaku karena merasa kaget tiba-tiba dipeluk di tengah keramaian oleh pria yang baru saja memutuskan hubungan dengannya. Tapi saat Fatur mengeratkan pelukannya, Kanaya kemudian menepuk lembut punggung pria itu.
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Kanaya segera setelah Fatur melepaskannya. Tatapan dan nada bicaranya sama-sama datar, mengingatkan Fatur pada hari pertama mereka bertemu.
“Aku mau lihat kamu untuk terakhir kalinya, sebelum kamu pulang ke Bandung.” jawab Fatur yang tidak sedikit pun melepaskan pandangannya dari Kanaya, seolah takut kalau ia berkedip sebentar saja maka wanita itu akan langsung menghilang.
“Oh, ya udah. Kalau gitu aku masuk dulu.” Kanaya menganggukkan kepalanya sekali, lalu berbalik.
Tapi sebelum Kanaya sempat melangkah, Fatur lebih cepat menahan tangannya. Pria itu mendaratkan kecupan singkat di puncak kepala Kanaya, membuat Kanaya kembali membeku.
"Hati-hati." ucap Fatur sebelum benar-benar melepaskan tangan Kanaya, dia tersenyum tulus pada wanita di hadapannya.
Kanaya kembali mengangguk, berbalik lalu berjalan meninggalkan Fatur yang masih berdiri di tempatnya. Ada rasa sedih juga lega yang tergambar di mata Fatur setelah melepas kepergian Kanaya.
***
Sudah lima tahun berlalu sejak hari itu, saat ini Fatur sedang menatap ke arah meja kerja wanita yang ia pikir tidak akan pernah bisa ia temui lagi. Mereka memang akhirnya kembali bertemu, tapi keadaan saat ini sudah berubah. Ia sudah memiliki orang lain, Bricia Erna Jayashree, seorang wanita yang resmi menjadi pacarnya sejak dua tahun lalu. Cantik, anggun, baik, segala hal yang diperlukan wanita untuk menjadikannya idaman para pria, gadis itu memiliki semuanya.
Usia mereka terpaut tiga tahun, sudah sepantasnya untuk memikirkan perihal pernikahan. Mengingat itu empat bulan lalu Fatur melamar Erna, tapi sayangnya Erna menolak karena merasa belum siap dan masih ingin melanjutkan karirnya. Sejak saat itu baik Fatur ataupun Erna tak pernah lagi membahas masalah pernikahan, pria itu sendiri tidak ingin terlalu memaksakan.
Satu pesan baru saja masuk ke ponsel Fatur, dari Erna yang mengatakan kalau hari ini ia tidak bisa datang ke apartemen karena akan menemani ibunya ke acara arisan. Erna memang sering mampir ke aparteman hanya sekedar untuk memastikan Fatur makan malam, pria ini harus selalu diingatkan soal makanan. Fatur membalas dengan kata ya, sebelum kembali fokus pada layar monitornya.
“Bang, kok Kanaya lama banget ya?” Pertanyaan Julio membuyarkan konsentrasi Fatur pada monitor.
“Mungkin belum ketemu.” jawab Fatur.
“Gue susul ke bawah aja, ya? Siapa tau dia butuh bantuan.” ucap Brahma.
“Gak perlu, Bram. Biar saya aja yang ke sana.” cegah Fatur, membuat Brahma yang sudah bersiap untuk berdiri jadi mengurungkan niatnya.
“Loh?” Julio yang bingung dengan sikap Fatur yang terburu-buru meninggalkan mejanya, membuat pria itu bersuara.
Pria itu hanya memberi alasan kalau ia yang lebih tahu di mana letak mobilnya terparkir. Setelah memberi alasan singkat itu ia segera meninggalkan ruangan, menghindari tatapan heran dari empat orang lainnya. Di tempat parkir ia melihat pintu mobil terbuka, lalu tak lama Kanaya keluar dari sana. Fatur mempercepat langkahnya, ia memanggil nama Kanaya saat jaraknya sudah cukup dekat.
"Hah?" Wajah kaget Kanaya langsung bisa Fatur tangkap, wanita itu membanting pintu dan terlihat seperti baru saja melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.
"HP kamu udah ketemu?" tanya Fatur.
"HP?" raut terkejut masih belum hilang dari wajah Kanaya.
"Iya. Gak ada HP-nya? Ketinggalan di Datson gak?" Fatur mencoba meraih handle pintu di belakang Kanaya, membuat wanita itu bergeser untuk memberi ruang.
"Benar gak ada?" tanya Fatur lagi tapi Kanaya malah hanya terdiam menatapnya.
Fatur menarik handle pintu mobilnya yang ternyata sudah terkunci, dia lalu mencoba mengambil kunci dari tangan Kanaya tapi wanita itu malah tersentak dan membuatnya jadi ikutan kaget hingga tidak jadi mengambil kuncinya.
Kanaya memberikan kunci mobil pada pemiliknya, “Makasih.” ucapnya sebelum kabur tanpa menjawab pertanyaan Fatur soal ponsel.
Melihat tingkah aneh Kanaya membuat Fatur bingung, ia menatap ke arah Kanaya dan kunci mobilnya bergantian lalu tersenyum dan menggeleng tak habis pikir. Ternyata sampai saat ini wanita itu masih memiliki sifat pemalu, ceroboh, dan selalu terburu-buru, Kanaya yang ia kenal dulu ternyata masih ada.
Setelah sekali lagi memastikan mobilnya sudah terkunci, Fatur kembali ke ruangan. Para penghuni ruangan itu terlihat sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Saat melirik ke arah meja kerja Kanaya, wanita itu langsung membuang muka dan menunduk dalam-dalam menghindar dari tatapannya. Hal itu terlihat lucu bagi Fatur, dia bahkan tidak berusaha menyembunyikan senyumannya.
Saat Satrio menoleh padanya, Fatur menepuk bahu rekannya itu sebelum duduk di tempatnya. Satrio lalu menoleh pada Kanaya yang masih terlihat berusaha sibuk, tatapannya lalu bertemu dengan Brahma. Saat itu Satrio menyadari kalau bukan hanya dirinya yang menyadari hal tidak biasa di antara Fatur dan Kanaya.
Sisa hari itu berlalu dengan cepat sampai tidak terasa sudah pukul tujuh malam, ruangan tim kreatif sudah sepi dan hanya menyisakan Fatur yang masih duduk di tempatnya. Pria itu menatap lurus pada monitor di hadapannya, tidak ada yang dia kerjakan sejak tadi selain menonton video ulasan otomotif dengan pikiran kosong sejak. Sampai dering ponsel menyadarkannya, sebuah telepon masuk dari Erna.
"Iya, Na. Kenapa?" tanya Fatur segera setelah mengangkat teleponnya.
“Lagi di mana? Udah makan belum?"
"Aku masih di kantor. Sekalian jalan pulang, nanti aku beli makan." jawab Fatur.
"Kalau gak ada kerjaan jangan kelamaan di kantor, Tur." ujar Erna.
"Iya, aku pulang sekarang."
"Ya udah, pokoknya jangan lupa makan. Love you." ucap Erna terdengar sangat manis.
“Iya.” Setelah sambungan telepon terputus, pria itu menghela napas berat. Kepalanya tiba-tiba jadi bertambah berat, walaupun ia sendiri tidak terlalu yakin apa alasan yang membuatnya merasa terbebani.
Fatur meninggalkan ruangan setelah mematikan semua barang elektronik di sana, termasuk lampu dan pendingin ruangan. Sebelum menuju ke mobilnya dia mampir ke salah satu gerobak penjual makanan yang berjajar di depan gedung, dia memesan satu porsi nasi goreng untuk dibawa pulang.
“Bang Fatur!” Sebuah tepukan mendarat di bahu Fatur saat dia sedang berdiri di samping gerobak, menunggu pesanannya.
"Hai, Di! Tumben masih di kantor.” Fatur heran melihat pegawai HRD yang terkenal selalu pulang tepat waktu, masih berada di kantor semalam ini.
“Baru kelar cuti, kerjaan jadi agak numpuk." jawab pria yang bernama Adi itu. Fatur mengangguk mengerti, ia lalu menawarkannya untuk makan tapi pemuda itu mengatakan kalau ia sudah makan dan sudah berniat pulang.
“Oh iya, di tim kreatif ada anak baru ya?” tanya Adi yang tadinya sudah pamit pergi tapi kembali berbalik, Fatur menjawab mengiyakan.
“Namanya Kanaya Aisyah?” tanya Adi lagi, Fatur kembali mengiyakan.
“Bang Fatur tau dia kos dimana?” Pertanyaan Adi ini membuat kening Fatur berkerut, tapi kemudian dia menggeleng mengatakan kalau tak tahu tempat tinggal Kanaya.
“Kenapa?” Fatur bertanya tak acuh.
“Gak apa-apa kok, Bang.” Adi tersenyum sambil menggaruk tengkuknya, mengalihkan pandangannya dari Fatur.
“Sekedar informasi, Kanaya gak tertarik punya hubungan spesial dengan rekan satu kantor.” tutur Fatur membuat Adi bingung.
Fatur lalu mengambil bungkusan nasi goreng yang sudah disodorkan oleh penjualnya, ia lalu pamit pergi lebih dulu. Begitu masuk mobil Fatur langsung meletakkan nasi gorengnya di kursi penumpang sementara dia menutup pintu agak keras. Pembahasan soal Kanaya dengan Adi tadi membuatnya merasa tak nyaman. Setelah menyalakan mesin mobil pandangannya teralih pada foto yang tergeletak di dasbor, dia meraih foto itu dan tersenyum masam menyadari hal apa yang membuat Kanaya bersikap aneh setelah keluar dari mobilnya sore tadi.
***