Rintik demi rintik hujan mulai membahasai tubuh seorang gadis remaja. Basa hingga dingin tidak membuatnya bergeser dari tempat itu. Bahkan untuk melindungi dirinya terasa enggan.
Gue, iya gue gadis itu gadis yang penuh luka maklum habis tauran. Kenalin gue Yeri panggil aja gue Eri. Kok nama panggilannya kek cowok? Karna gue suka itu.
Liatlah langit hitam di atas sana yang seperti menandakan kehidupan gue yang begitu suram. Nyokap gue sudah meninggal lima tahun yang lalu saat gue masih duduk di kelas tujuh SMP sedangkan bokap gue lagi di dalam sel dengan kasus membunuh haha bokap gua sendiri yang menjadi alasan nyokab meninggal, semiris itulah kehidupan.
Takdir memaksa gue untuk sekeras ini jadi jangan heran sama sikap gue yang terbilang antagonis.
Kalau di novel biarkan gue yang memerankan sosok antagonis itu.
...........
"Eri masuk!" gue membalikkan badan menatap wanita yang selama lima tahun ini merawatku tampa letih, dialah wanita hebat yang sabar menghadapi sifat sifat aneh gue ya walau kadang b****g tepos enggak ada isi itu harus ia tendang saat kesal memuncak. Dia adalah tanteku yang gue panggil bunda.
"IYA BUND!" jawabku sambil mengedipkan sebelah mataku niat menggombal. "CEPAAT AYAH UDA NINGGUIN." gue geleng geleng kepala melihat sikap bunda yang tidak tau sabar.
Gue berlari masuk dalam rumah dalam keadaan masih basah, melewati Bunda yang berdecak pinggang di pinggir pintu utama.
"Eri pokonya besok kamu yang ngepel!" gue terkekeh geli mendengar ucapannya, tentu saja gue enggak mau lakukannya haha.
Dengan lincah kaki gue mulai menaiki tanggah menuju kamar yang menjadi saksi bisu perbuatan yang terkadang di luar kendali.
Ini adalah awal, awal dari Kisah menyedihkan seorang Yeri.
......
Mataku menatap Ayah dan Bunda yang sedang menatapku dengan tatapan tajam setajam silet. "Iya Eri enggak lakuin itu lagi deh." gue mengangkat jariku membentuk huruf V, tapi tidak bisa merubah raut wajah keduanya.
"Ayah enggak mau liat kamu ikut ikut taruran lagi Yeri!" dengan malas gue mengangguk atas pernyataan ayah yang itu itu mulu.
"Ala yah, paling kak Eri tetep tauran. Gimana kalo kak Eri pindahin aja ke madrasah biar taubat."
Apa katanya madrasah? Ooo tentu tidak gue enggak suka tempat yang berbau agama kek begitu, dasar adik rese. Dia selalu begitu hobi mengompori ayah dan bunda kalau gue lagi di marahin kaya begini.
"Apaan sih lo Sat, gue enggak mau!" hardikku tidak terima.
"Bunda setuju, lagi pula kamu masih bisa pulang ke rumah ini juga bukan pesantren yang harus tinggal di sekolah." mampus!
Gue menatap tajam Satria yang hanya menahan tertawa, dasar bocah ingusan!
"Enggak mau! pesantren sama madrasah sama aja, peraturannya bikin aku risih!"
"Tidak ada alasan Eri, besok ayah akan daftarin kamu ke madrasah aliya pelita!" nasib gue astaga. Gue enggak tau mau ngomong apa lagi kalau begini. Ayah sudah mutusin dan gue hanya bisa pasrah, b*****t emang.
"Tapi yah Eri..."
"Enggak bisa di gugat lagi!" gue ngeliat ayah mulai berdiri dan meninggalkan ruang tamu, debatnya secepat ini dan bahkan gue enggak setuju! Oo tuhan tolong gue.
........
~Author POV ~
Pagi sudah tiba menyapa, hari berganti, cahaya rembulan pun kini telah di gantikan oleh cahaya sang raja bumi.
Setelah perdebatan semalam Yeri nampak tak tenang, hari ini adalah hari pertama ia pindah ke madrasah. Yang awalnya dia sekolah di SMA garuda kini harus pindah ke sekolah yang sangat sangat ia tidak sukai.
Pagi buta tadi, bunda sudah membangunkan Yeri dan sekarang gadis berumur 16 tahun itu sudah memakai seragam khas sekolah agama.
"Ribet ihhk bun, Eri buka aja ya hijabnya? Erik enggak usah pakai hijab ke sekolah." Yeri menatap Bunda dengan manja, semoga wanita setengah baya itu mengizinkannya.
Bunda menatap Yeri dengan tajam "mau ke pesantren kamu Er?!" Yeri refleks mengeleng brutal dan langsung merapikan hijabnya.
"Aaa gerah banget." batin gadis itu.
Bunda hanya geleng geleng kepala melihat tingkah keponakannya itu, wajar bila Yeri tidak betah memakai hijab sekarang tapi jika tidak di paksa kapan lagi.
"Sudah siap ayo kita ke bawah pasti ayah sama Satria sudah nungguin." ajak bunda, dan di angguki Yeri dengan terpaksa.
Balutan rok panjang di tambah hijab membuatnya benar benar gerah, selama menuruni tangga gadis itu terus menarik roknya agar terlihat lebih pendek, ini terlalu panjang buat gadis sepertinya.
"Wah lo cantik banget kak." Satria menahan tawa agar tidak tertawa di depan keluarganya, dia benar benar senang melihat wajah Yeri yang tertekan saat ini.
"Hilih bicit." Yeri.menarik kursi makan dengan ogah ogahan.
Melihat reaksi anak dan keponakannya ayah terkekeh "nah kan gini enak di liatnya Er." ucapnya sambil tersenyum.
"Iya dong cantik, bunda gitu loh yang makein." balas bunda menggoda.
"Ay..."
"Iya sama- sama, makan dulu sana nanti pak Mamat anterin kamu ke sekolah." Yeri menekuk wajahnya pasrah bahkan dia tidak bisa berbuat apa apa sekarang.
Kini Yeri sudah berada di dalam mobil, ayah memang sangat tidak bisa di bantah bahkan motor kesayangan Yeri kini entah di ke manakan.
"Gerah banget ya Mat!" Dasar gadis ini tidak ada sopan santunnya dia bahkan menyebut supir tidak memakai embel embel bapak, melainkan menggunakan nama.
"Ini sudah di pakein AC loh non." pak Mamat tersenyum melihat Yeri yang sekarang menggunakan hijab.
"Diem deh mat!"
Tidak cukup 15 menit mobil mewah Yeri sudah tiba di madrasah. pak Mamat dengan sopan membukakan pintu untuknya dan membungkuk hormat.
Semua mata yang melihat itu nampak kagum dengan kehadiran siswi baru di sekolah mereka.
"Huuft jadi ini?" Gumam gadis itu saat keluar dari mobil.
Yeri menatap pak Mamat dari atas hingga bawah, "Mat lo enggak balik?" tanya penuh intimidasi.
"Saya tunggu nona masuk dulu baru saya pulang." balas pak Mamat dengan sopan.
Yeri memutar bola matanya malas, gadis itu memegang bahu supirnya dan membalikan badannya. "Mending lo pulang sekrang gue bukan anak TK yang harus lo jagain terus." ucapan Yeri adalah perintah baginya, dengan patuh pak Mamat melakukan apa yang di katakan Yeri, lelaki itu mulai menaiki mobil dan membawa mobil itu hingga tak terlihat oleh pandangan Yeri.
Gadis itu bernafas lega, ia melepas hijab yang terpasang rapi di kepalanya sambil berjalan, Yeri memasukan hijabnya ke tas. Tanpa peduli dengan komentar- komentar Siswa lain yang ada di sana.
Brak.
"Auuuh kepala gue nabrak tiang listrik atau gimana." gumam Yeri tanpa melihat sosok siapa yang barusan ia tabrak.
"Siapa lo?!" pertanyaan yang dingin itu membuat Yeri menatap suber suara, ganteng hanya itu yang bisa Yeri katakan.
"Gu- gua__ sudahlah lupain aja, kelas 11 ipa 4 ada di mana ya?" tanya Yeri mengganti topik.
"Sinta!" cowok itu memasukan salah satu tangannya ke dalam saku celananya, sambil menatap seorang gadis yang tidak jauh dari tempat ia berdiri.
"Iya Qi?"
"Siapa dia?" cowok itu menunjuk Yeri dengan telunjuknya, "dia murir baru di sekolah kita."
"Suruh cewek oon ini pake hijabnya kembali setelah itu antar dia ke kelas 11 ipa 4! Dan lo ingat ini sekolah agama kami punya peraturan!" cowok itu berjalan dan langsung menabrak punggung Yeri.
"b*****t! DASAR LO COWOK KULKAS!" teriak Yeri murkah.
"Kamu mau ke mana?" tanya Sinta saat melihat Yeri seperti ingin pergi.
"Gue mau kejar manusia setan itu!"
"Astagfirullah jaga ucapan kamu, mari ikut saya dulu." Sinta langsung menarik lengan Yeri tanpa persetujuan darinya.
Baru saja sehari tapi Yeri sudah memberikan dampak buruk untuk dirinya sendiri.