“ Huuu ayah! Zakila mohon ayah.... “
“ diam kamu! Kamu itu nggak berguna! Sama kayak ibumu yang lari itu. Harusnya kamu sadar diri dan nurut susah amat! “
“ hiks ayahhh.... Zakila mohon jangan jual Zakila ayaahhh “
Seorang gadis muda terlihat mengiba di kaki seorang pria paruh baya, air mata turun dari manik indah gadis itu.
Zakila 16 tahun, ketika teman temannya menjalani hari yang begitu indah dan penuh sesuatu untuk dikenang. Ia menjalaninya dengan menyedihkan.
Sang ibu lari bersama selingkuhannya sekitar 6 bulan yang lalu, meninggalkan dirinya dan seorang ayah yang pemabuk dan gemar berjudi. Zakila memutuskan untuk berhenti sekolah demi menyokong hidupnya serta sang Ayah.
Dua hari sebelum ulang tahunnya yang 17. Sang ayah tiba tiba datang dan menyeretnya ke sebuah gang kumuh, ia dibawa ke pada seorang pria besar berkela botak yang terus melihat dirinya dengan pandangan menjijikkan.
Zakila takut dan memohon agar segera pulang. Namun naas, ayahnya berkata bahwa ia akan menjual dirinya. Putri kandungnya sendiri.
“ hey! Cepat sedikit kami harus membawa barangnya “
Tangis Zakila semakin pecah, ia memeluk erat kaki sang ayah. Ia ketakutan ketika pria besar itu semakin mendekat padanya.
Namun dengan kejam, Ayah zakila menghempas tubuh mungil itu dengan keras.
“ Aaa!! “
“ saya nggak perlu beban kayak kamu! Lihat, lihat uang yang saya dapat dari hasil jual kamu. Hahaha malam ini saya akan bersenang senang”
Zakila yang berusa menggapai ayahnya di tahan dengan kuat oleh bawahan pria botak tersebut. Lengannya terasa perih namun ia memilih untuk mengabaikan rasa sakit itu, ia hanya ingin pergi, ia tidak mau disini.
“ adu aduhhhh, cantiknya.... lihat ayahmu yang bodoh itu? Dia menjual mu dengan harga yang sangat murah. Sepertinya dia sangat buta hingga tidak menyadari betapa tinggi nilai dari putrinya sendiri. Hahahah aku akan untung besarrrr!!! “
Pria botak itu tertawa dengan keras, hati Zakila seakan tercabik. Ia tidak pernah menyangka bahwa ayahnya sendiri akan tega untuk menjual nya.
Tidak ada tempat baginya untuk kembali, ibunya lari bersama pria selingkuhannya, meninggalkan dirinya bersama sang ayah yang pemabuk serta gemar berjudi.
“ lepasin sayaaa hiks lepassss “
“ hah? Lepas? Hahaha jangan gila. Saya bisa jual kamu dengan harga mahal, sekarang kamu itu bakalan jadi b***k Hahahaha! “
Zakila seakan akan kehilangan harapan, ia masih terus memberontak ketika bawahan pria botak itu membawanya masuk ke dalam sebuah mobil Van berwarna hitam. Tapi apa yang bisa di lakukan nya, tenaganya tidak ada apa apa dibandingkan dua orang bertubuh kekar yang menyeretnya.
Zakila di bawa ke sebuah rumah yang di penuhi wanita penghibur, dan pria berbadan besar. Beberapa orang melihat dirinya dengan penuh minat hal tersebut membuat dirinya sangat takut.
Zakila di bawa ke sebuah kamar yang diisi oleh 3 gadis lain yang sepertinya seusai dengannya. Keadaan mereka terlihat mengenaskan, luka lebam di wajah serta beberapa bagian tubuh yang terlihat. Tidak ada jendela ataupun kasur.
Hanya kamar kosong dengan kamar mandi dengan sekat rendah di pojok ruangan. Tubuh mungil Zakila di dorong masuk hingga membuat dirinya hampir terjatuh.
Beruntung salah seorang dari ketiga gadis itu berhasil menangkapnya.
“ baik baik kalian, lusa kita mulai, berani macam macam lagi saya patahkan kaki kalian”
Mereka semua terlihat ketakutan, Zakila dan seseorang yang menangkap nya mulai menangis dalam diam. Mereka semua ketakutan, entah berapa lama mereka disana.
Menyedihkan, mereka semua masih di bawah umur. Namun nasib baik tidak serta merta mengikuti, Zakila gemetar. Ia merasa bahwa mungkin kematian menjadi lebih baik dibandingkan keadaan nya saat ini.
****
2 hari akhirnya berlalu, Mereka bertiga di paksa untuk berdandan dan memakai pakaian yang terbilang sangat terbuka. Zakila menggigil kedinginan, pakaian yang di kenakan oleh sangat tipis dan hanya menutupi bagian tubuh yang penting saja.
Afia, Mika, dan Lea. Mereka ber empat telah pasrah atas keadaan yang terjadi.
Terlalu lelah untuk berontak, air mata terus turun dari kelopak indah mereka.
Satu persatu di bawa paksa oleh seorang bertubuh besar yang menyeramkan.
Hingga tersisa ia dan Lea, Zakila menggenggam erat jemari Lea. Hingga seorang bertubuh besar datang membuat tangis Lea kembali pecah.
“ NOO!!!! Hiks “
“ hahahha sebaiknya kau menurut saja cantik. Setelah ini kau cukup mengangkang dan semua kehidupan mu akan penuh kemewahan Ahahahah”
Pria besar itu membawa Lea dan meninggalkan Zakila sendiri. Zakila terlalu putus asa untuk sekedar mengeluarkan air matanya kembali, ia teringat bagaimana hidupnya selama ini. Sekalipun ia tidak pernah menjalani apa itu kehidupan normal. Ia terus menerus mendapatkan siksaan, apa pun yang di lakukan nya menjadi salah.
Jika seperti ini.....
Untuk apa ia di lahirkan? Untuk apa ia terus berjuang selama ini?
Zakila terlarut dalam lamunannya, ia bahkan tidak menyadari seseorang dengan tubuh tinggi tengah berdiri menatap langsung kearah nya. Dan ketika Zakila menyadari kehadiran pria itu, ia dibuat terpaku oleh sepasang mata biru yang seakan bersinar dalam kegelapan.
Pria itu sangat tampan bak patung dewa. Tidak terlihat menyeramkan ataupun menjijikkan seperti pria lain yang sebelumnya ia temui, pria itu berjalan mendekati dirinya Zakila pun pasrah dan siap untuk di bawa.
1 detik....
2 detik....
5 detik...
Zakila dibuat bingung, mengapa pria itu belum juga membawa nya. Ketika Zakila menatap langsung mata biru itu ia kembali dibuat membeku, seakan akan netra samudera pria asing itu mampu menenggelamkan dirinya ke dasar lautan. Sangat indah, Zakila seakan terhipnotis olehnya.
Ia dengan berani maju mendekati pria itu, menyentuh wajah tampan milik pria itu. Matanya meneliti dengan seksama betapa sempurnanya fitur wajah pria tersebut. Pria itu tidak keberatan, ia membiarkan Zakila menelusuri wajahnya.
Ia juga mengamati Zakila yang dengan lembut menatap setiap inci wajahnya. Dan ketika tatapan mereka bertemu, mereka saling terdiam Biru samudera bertemu kelamnya malam. Mereka seakan sama sama terhanyut.
“ jika aku keluar dari sini..... Aku akan menjadi seorang jalang bukan?” Zakila mengeluarkan apa yang ada di fikirannya tanpa fikir panjang, entah kenapa ia sudah putus asa akan takdir yang menjumpai nya.
“ ......” pria asing itu diam seribu bahasa, ia bungkam dan terus menatap lurus netra sekelam malam milik Zakila.
“ Setidaknya... Bisakah, bisakah aku memilih ciuman pertama ku. Bisakah anda menciumiku?” Entah apa yang ada di benak Zakila ketika mengatakan hal itu, sejujurnya ia tidak ber ekspektasi tinggi dan akan mundur.
Namun rangkulan di pinggangnya membuat gerakan nya terhenti. Ketika ia hendak mengeluarkan protes nya, sebuah ciuman panas menutup mulutnya.
Bibir pria itu bergerak aktif melumat bibir mungilnya. Zakila terkejut dan hanya mampu memejamkan matanya, ia tidak tahu reaksi seperti apa mesti ia tampil kan.
“ balas aku” Suara pria itu terdengar serak dan berat. Hal itu mengundang reaksi aneh dalam diri Zakila, seakan sesuatu dalam dirinya tergelitik dan menuntut lebih.
Zakila terhanyut dalam permainan pria itu, tanpa sadar ia membuka mulutnya dan membiarkan lidah pria itu menari nari di dalam rongga mulutnya.
Permainan panas pria itu membuat Zakila seakan kehilangan sendiri dalam tubuhnya, jika saja pria itu tidak memeluk nya saat ini sudah dapat di pastikan ia akan luruh ke lantai.
“ Mmmmhhh.... “
Zakila tanpa sadar membuat suara suara aneh, ia tidak tahu tapi ia ingin lebih.
Suasana menjadi semakin panas. Namun suara derap langkah kaki mengintrupsi kegiatan mereka, pria itu melepaskan pangutan nya dan tersenyum miring ke arah Zakila.
Zakila masih merona dan mengatur nafas nya yang terengah engah, pria itu telah menghilang entah kemana dan membuat nya bingung. Dalam kebingungannya suara kasar dari pria yang sebelumnya membawa Lea pergi.
“ Hei kau! Giliran mu” Zakila mengikuti pria besar itu tanpa memberontak, hal itu jelas mengundang tanda tanya di kepalanya pria itu. Namun ia memilih acuh.
“ Bagus, harusnya kau berhenti memberontak sejak dulu dasar bodoh “
Kilau cahaya lampu mulai menyilaukan mata Zakila saat tirai panggung itu terbuka. Nafasnya seketika memburuk melihat banyaknya orang tengah tertawa dan tersenyum menjijikkan menatap dirinya. Perasaannya semakin gelisah, ia sangat takut.
“ Lihatlah.... Seorang gadis muda yang cantik, dan tentu saja di jamin masih belum tersentuh sedikitpun..... “
Gelak tawa dan sorakan semakin menjadi, air mata seketika luruh dari mata kelamnya. Kakinya menjadi gemetar ia sangat ketakutan.
“ Tidak usah berlama lama para tamuku yang berharga. Mari kita mulai harga untuk b***k cantik ini, penawaran awal akan di buka dengan..... 10.000 USD! “
“ 12 “
“tamu nomor 26, 12.000 USD! “
“ 15 “
“ tamu nomor 9, 15.000 USD!! “
Harga semakin naik, Zakila semakin tak kuasa. Ia tidak dapat membayangkan seperti apa kehidupan yang akan di lakukan nya setelah ini. Kehidupan yang di idamkan olehnya, cita cita yang di dambakan olehnya, dan cinta yang selalu menjadi angannya, ia akan kehilangan segalanya.
“ 35 “
“ 35!!!! Tuan Mook memberikan penawaran luar biasa, apakah ada penawaran lainnya? “
Mata Zakila memandang putus asa kearah seorang pria tua yang memandang nya dengan tatapan menjijikkan. Nafasnya terasa berat seakan akan udara di sekitarnya menghilang. Pria tua itu dengan c***l memandang nya dari atas kebawah.
Senyum menjijikkan itu membuat Zakila semakin tak kuasa menahan tangis.
“ Selamat kepada tuan Mook! Malam ini anda membawa barang terbaik yang di kami miliki! “
*****
Zakila di bawa pergi entah kemana oleh para bawahan pria tua itu, ia dibawa ke sebuah kamar dengan interior mewah.
Air mata nya tak kunjung berhenti manakala membayangkan apa yang akan terjadi padanya setelah ini.
Zakila kembali dibuat waspada mana kala pintu kamar itu terbuka, disana di ambang pintu berdiri pria tua yang membeli nya. Ia hanya mengenakan pakaian tidur tipis berbahan satin dan dengan sengaja memperlihatkan tubuh atasnya.
Pria tua itu menyesap anggur di tangannya seraya meneliti Zakila dari atas kebawah dan sebaliknya. Ekspresi nya nampak puas. Semakin ia mendekat semakin Zakila berjalan mundur, Zakila semakin ketakutan mana kala pria tua itu mulai menanggalkan pakaian miliknya.
“ Hiks... Tuan, kumohon jangan..... “
“ kemari sayang. Kita punya ranjang yang harus di hangatkan”
Pria tua itu berhasil menangkap lengan Zakila, tatapan nya menggelap menatap kearah d**a Zakila yang memang nampak membayang. Zakila seketika panik dan berusaha melepaskan diri, ia meleparkan apapun yang bisa di jangkau olehnya.
‘ Tangg!!!
Zakila memukul kepala botak pria tua itu dengan nampan buah di atas nakas, suara benturan kepala dan nampan sangat nyaring. Zakila terdiam sejenak begitu pun pria tua itu, namun ternyata itu adalah kesalahan fatal.
Mata pria tua itu di penuhi amarah, tanpa sedikit pun rasa kasihan ia menampar wajah Zakila hingga Zakila jatuh terduduk.
‘ PLAAAKKK!!
“Jalang tidak tahu diri!! Seharusnya kau merasa terhormat bisa melayani seorang Adison Mook yang hebat ini!!! Akan ku buat kau hidup bagai mati sekarang “
Tanpa tendeng alih alih, Pria tua itu menarik rambut Zakila. Ia meleparkan Zakila ke atas ranjang, tangis Zakila semakin kuat ia ingin lari, namun kedua kakinya di tahan oleh pria tua itu. Tenaga Zakila kalah jauh oleh pria tua itu.
Pria tua itu dengan mudah melebarkan kaki Zakila, dan tertawa dengan keji. Zakila merasa dirinya lebih baik mati di bandingkan harus menyerahkan dirinya kepada seseorang b***t pria tua yang tengah mencoba memerkosa nya saat ini.
“ Lapaskan!!! Aaaaa jangan!! Kumohon lepaskan!!! “
“ hahahah!!! Mari kita nikmati ini manisss “
‘sraaakkk!!!
Baju tipis yang menjadi satu satunya penutup tubuh Zakila di robek dengan mudah, tatapan pria tua itu semakin menggila. Zakila sudah kehabisan tenaga, sudut bibirnya telah robek dan pipinya di penuhi lebam. Ia hanya berharap kematian datang sekarang juga padanya.
Ketika pria itu hendak menyentuh tubuh Zakila, pintu seketika terdobrak. Sontak pria tua itu bangkit dan memasang mode siaganya. Zakila yang berada dalam batas sadar dan tidak sadar tidak bereaksi sedikit pun.
“ Anderson Mook, tidakkah kau malu. Anak itu bahkan seumuran cucumu dasar pria tua menjijikkan” kesadaran Zakila seketika kembali. Ia seperti mengenali suara berat ini, dan benar saja ketika ia menggulirkan matanya, ia menemukan pria yang di temui nya tadi berdiri disana.
“ Maximiliano dela Re Martuz....”
Suara bisikan rendah dari pria tua di sampingnya membuat Zakila tersadar dengan keadaan nya saat ini. Zakila meraih apapun untuk menutupi tubuhnya, saat ini ia berada di situasi yang cukup genting. Atmosfer antara mereka berdua sangat buruk.
“ bagaimana bisa kau masuk kemari! “
“ melewati pintu rumahmu “
“ b******n sombong!” Pria tua itu menodongkan pistol ke arah pria asing yang terlihat tidak bergeming sedikitpun.
Pria asing itu tidak terintimidasi sedikitpun meski Anderson Mook tengah mengarahkan moncong pistol mendekat ke arahnya. Bahkan dengan Santai ia menatap Zakila dengan mata tajamnya, Zakila bergetar dibawah pandangan samudera pemuda itu, sama seperti pertama kali bertemu tatapan itu menenggelamkan dirinya.
“ Kau tidak lebih dari serangga yang merangkak dari tempat sampah Martuz. Jangan berfikir dirimu adalah elang yang dapat membelah langit” Anderson tua semakin mendekati Maximiliano.
“ Kau hanya sampah di hadapan Anderson yang mulia ini, kau E’-“
Tanpa Anderson sadari, Zakila mengendap dari arah belakang dan menusuk leher Anderson menggunakan pisau buah. Anderson seketika berbalik dan mengarahkan moncong pistol nya ke arah Zakila yang gemetar.
‘Dorrrr!!!
Sebelum Anderson menekan senapan miliknya. Maximilian lebih dulu menghancurkan tengkorak kepala Anderson, darah pria tua itu menodai wajah cantik Zakila. Suaranya tertahan di tenggorokan ia memandangi kedua tangannya yang gemetar.
Ia menusuk seseorang.......
“ haaaaa...... Ahaha hiks hahahha”
Zakila merasa gila, ia tertawa dan menangis di saat bersamaan. Ia mencoba menghilangkan noda darah di tubuhnya, air mata kini telah bercampur dengan darah.
Maximiliano menahan tangan Zakila. Ia memandang dingin netra kelam gadis cantik di hadapannya.
“ pilihlah, hidup sebagai b***k ku.... Atau mati disini “
Tungkai kaki Zakila bergetar. Sosok pria yang teramat tampan ini begitu mengintimidasi dirinya, pandangannya bergulir anatar Maximiliano dan tubuh tua Anderson yang telah terbujur kaku.
“ Yes Master.... “