Aku berjalan kaki menuju halte bus. Namun belum sampai di halte bus, sebuah motor berhenti tepat dihadapanku. Ku lihat seorang gadis cantik dari balik helm itu menatapku tersenyum.
“Gue tahu lo mau naik bus. Tapi mending sama gue, biar gue ada teman ngobrolnya.” Ucap gadis itu membuatku menggeleng dengan kata-kata yang terlontar dari mulutnya.
“Bilang aja ada maunya. Sok-sokan ngeles biar ada temen ngobrol segala.” Ucapku meninju pelan lengannya.
“Aw! Sakit b**o!” cacinya. Lebay! Padahal aku meninjunya dengan pelan.
“Bodo. Yuk jalan!” ucapku dan kami pun membelah jalanan dengan motor matic miliknya.
“Sin! Lo temanin gue ngopi yuk abis ini.” Ucap Kris membuatku memutar bola mata.
“Kan bener, ada maunya.” Ucapku yang dibalas kekehan olehnya.
“Ayolah, gue traktir deh.” Ucapnya membuatku berpikir sejenak.
“Liat nanti, deh. Kalau kita balik cepat, aku temenin. Kalau enggak, kamu ikut aku aja bantu di cafe. Sekalian jadi tenaga kerja. Hahaha..” tawaku membuatnya menepuk pahaku kuat dari depan.
“Sialan lo!” serunya membuatku tak berhenti tertawa.
15 menit kemudian, kami pun tiba di kampus. Saat motor Kris berhenti dengan baik di parkiran, aku pun segera memperbaiki penampilanku yang cukup acak-acakan karena Kris membalap jalanan. Lalu aku dan Kris pun berjalan menuju kelas yang 20 menit lagi dimulai.
“Hai, Kris!” sapa Ken membuat kami langkah kami terhenti. Sebenarnya Kris yang berhenti. Namun Kris memegang tanganku untuk ikut berhenti. Jadinya kami berdua menoleh kearah Ken yang sekarng ada dihadapan kami.
“Gue tau, lo manggil gue buat kode ke Sindy, kan?” tanya Kris membuat Ken menggaruk tengkuknya-salah tingkah.
“Yaelah pake salting lagi, lo.” Kris dengan mulut liar nan pedasnya mengomentari.
“Ga ngerti-ngerti juga, ya? Sindy ga mau pacaran. Kalau lo beneran serius, langsung datang ke rumah dia dan ngomong sama orang tuanya.” Ucap Kris membuatku menghela nafas. Mulut nih anak ga ada rem-nya, ya.
“Udah yuk, Kris. Entar dosen masuk.” Ucapku menarik Kris menjauhi Ken.
“Gue kesel liat mereka-mereka yang ga ngerti Bahasa Indonesia.” Ucap Kris membuatku menggeleng.
“Udah, Kris. Biarin aja. Kamu juga jangan judes-judes. Aku ngeri denger berita akhir-akhir ini soal kasus pembunuhan gara-gara sakit hati.” Ucapku membuat dia berhenti dan menatapku tajam.
“Lo jangan nakut-nakutin gue, Sin!” ucapnya membuatku mengangkat bahu.
“Aku ga nakut-nakutin. Tapi memang bener itu kenyataannya.” Ucapku sambil berjalan kembali.
“Sindy! Awas lo!” seru Kris membuatku terkekeh.
Tak lama, kelas dimulai. Dosen di depan yang aku kenal sebagai dosen penghancur mood, tampak bersemangat hari ini. Entah apa yang membuat dirinya tampak bugar hari ini? Apa jangan-jangan dia baru saja menang togel? Atau dia baru saja kedatangan bulan?
“Sin. Lo curiga ga sama sikap dia?” tanya Kris yang duduk disampingku.
“Siapa?” tanyaku pura-pura tak tahu.
“Itu, si dosen penghancur mood.” Balas Kris membuatku menatap ke depan dan memerhatikan dosen yang baru saja di nobatkan menjadi dosen pengampu Psikologi Sumber Daya di kelas.
“Lagi jatuh cinta kali.” Balasku tak berniat menggosipkan dosen itu.
“Gila lo! Yang bener aja!” seru Kris tiba-tiba, membuat semua mata menatap kearahnya.
“Kristabel! Kenapa kamu berteriak?!” tanya pak Tio dengan tatapan tajam, setajam pisau daging.
“Hah? Eh-itu, pak. Eh-anu..”
“Itu. Anu. Apa?” tanya pak Tio membuat Kris mati kutu. Makanya nak, jangan suka gibahin dosen.
“Sekarang kamu keluar dari kelas saya!” seru pak Tio membuat Kris mengangguk. Untung kita dapat jatah 3 kali. Kalau enggak, siap-siap ngulang semester depan.
Kris pun keluar dari kelas dan seketika itu juga, aura si pak Tio kembali suram. Baiklah, siap-siap aja mood pagi ini hancur.
“Besok kumpulkan makalah tentang materi hari ini ke ruangan saya! Jika ada yang tidak mengumpulkan, sampai bertemu di semester berikutnya.” Ucapnya tegas membuat kami tak berkutik. Kalau sampai ada yang menghela nafas, siap-siap tugas di tambah!
“Kalau begitu, kerjakan dari sekarang!” ucapnya membuat kami langsung mengeluarkan catatan dan mulai mencatat untuk di ketik setelah pulang dari kampus.
Jam pak Tio yang memang hanya 2 SKS, membuat kami bernafas lega saat dia bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan kelas dengan tanpa pamit seperti dosen-dosen lainnya. Itulah dia. Dosen baru songong yang ingin dilenyapkan para mahasiswa disini.
Aku pun segera keluar dari kelas untuk menemui Kris. Namun itu anak malah ga kelihatan disekitar kelas. Percaya deh! Tampang sedih dia tadi cuma topeng! Dia tuh sebenarnya seneng banget dikeluarin sama pak Tio. Apalagi udah absen gitu.
“Sindy!” seru suara yang sedari tadi aku cari.
“Kamu dari mana?” tanyaku membuat dia mengacungkan botol minuman ditangannya keudara.
“Ohh. Terus jadi ke cafe?” tanyaku membuatnya mengangguk.
“Kalau gitu, ayo! Aku harus pulang cepat hari ini.” Ucapku menariknya menuju parkiran. Kemudian kami pun langsung menuju cafe tempatku bekerja.
“Tumben lo buru-buru. Biasanya lo males kalau udah masuk jam kerja.” Kris sedikit mengeraskan suaranya karena angin yang menerpa wajah kami membuat pendengaran sedikit terganggu. Seketika aku teringat dengan baju Senaf yang mau aku laundry.
“Kris! Cariin laundry yang murah dan cepat siap!” seruku membuat Kris terdiam sesaat dan mengangguk.
“Oke!” serunya dan menambah kecepatan motornya membelah jalanan.
Tak jauh ternyata. Kami sudah tiba disebuah laundry pilihan Kris. Buru-buru aku masuk ke dalam laundry dan menghampiri mbak-mbak penjaga depan.
“Permisi, mbak.” Sapaku bentuk sopan-santun.
“Iya, ada yang bisa saya bantu?” sahutnya membuatku mengeluarkan sebuah kantong dari dalam tas.
“Kira-kira kalau saya laundry sekarang, kapan selesai ya, mbak?” tanyaku membuat dia mengeluarkan dan menimbang pakaian itu. Kris yang melihat itu terkejut dan menatapku aneh.
“Baju bayi?” Kris menautkan alisnya menatapku. Sedangkan aku hanya mengangguk membalas kebingungannya.
“Kira-kira besok sih, mbak.” Balas mbak-mbak itu membuatku berdecak dan melihat jam yang ternyata udah jam 11.
“Kalau jam 6 sore. Bisa, mbak?” tanyaku membuat mbak itu mengerutkan dahi.
“Tapi hitungan 2 kali lipat, mbak.” Ucapnya membuatku mengangguk cepat. Tak apalah untuk sehari ini. Lagi pula nanti aku akan menyuci sekalian menyiapkan tugas dosen itu.
“Baiklah, mbak. Ini pakaiannya 2 Kg, ya. Jadi hitungan 4 Kg.” Ucapnya yang aku angguki.
“Ini uangnya, mbak.” Ucapku menyerahkan uang rupiah berwarna hijau dan ungu.
“Saya terima ya, mbak. Ini kembaliannya dan kwitansinya.” Ucap mbak itu sembari menyerahkan kembalian dan kwitansi tanda aku sudah melunaskan pesananku.
“Kalau begitu saya kembali jam 6 sore nanti ya, mbak.” Ucapku yang dianggukinya.
“Terimakasih, mbak.”
“Sama-sama.”
Kami pun keluar dari tempat itu menuju tempat Kris memarkirkan motornya. Kemudian Kris tanpa berkata apapun melajukan motornya menuju cafe tempatku bekerja.