Setahun kemudian..
Sindy POV
“Happy birthday my sunshine!” seruku pada bayi mungil tampan yang tengah tengkurap diatas tempat tidur.
“Bunda ga nyangka udah ngerawat kamu selama setahun ini.” Ucapku membuatnya menatapku dengan kepala berat ke samping. Maklum. Baru belajar tengkurap sama merangkak dianya.
“Kebetulan bunda hari ini off. Gimana kalau kita jalan-jalan keluar? Kasihan kamu bunda kurung di rumah terus.” Ucapku bersemangat. Ini yang ulangtahun siapa, yang semangat '45 siapa?
“Kalau gitu, kita siap-siap ya!” seruku yang langsung bangkit dari tempat tidur dan mempersiapkan peralatan tempur kami. Iya kami, aku dan Senaf.
Aku membawa beberapa popok, celana dan baju untuk Senaf. Jaga-jaga dia pup atau kotor karena sesuatu. Lalu botol s**u dan susunya, air panas dalam termos kecil, bubur dalam tupperware dan gendongan.
Setelah selesai menyiapkan alat tempur Senaf, aku pun menyiapkan alat tempurku dan memasukkannya ke dalam tas Senaf. Kemudian aku pun mengambil Senaf dari tempat tidur dan memandikannya. Ah tidak! Kami mandi bersama. Tidak mungkin aku meninggalkan dia sendiri di kamar saat aku mandi, bukan?
Setelah selesai dengan semua kehebohan pagi hari yang kami buat, kami pun keluar dari rumah dan berjalan menuju rumah bu Yeni. Tidak mungkin kami tidak pamit pergi, kan? Yang ada nanti bu Yeni nyari’in.
“Bu! Permisi!” panggilku dan tak lama terdengar derap langkah kaki mendekati pintu.
“Iya! Sebentar!” balas bu Yeni dari dalam. Kemudian muncullah sosok bu Yeni dengan daster kebesarannya.
“Eh! Ada si akang sama bundanya.” Ucap bu Yeni membuatku tersenyum. Kemudian bu Yeni melihat penampilan kami yang lebih rapi dari biasanya.
“Eh-kalian mau kemana?” tanya bu Yeni.
“Hmm. Gini, bu. Hari ini Senaf ulang tahun. Jadi Sindy mau quality time sama Senaf.” Jawabku membuat bu Yeni mengangguk.
“Wah! Si akang ulang tahun, ya? Nenek lupa, lho!” ucap bu Yeni yang kubalas senyuman.
“Selamat ulang tahun, akang! Semoga semakin menjadi kebanggaan bunda dan nenek! Cepat besar biar bunda ada yang lindungi.” ucap bu Yeni yang kubalas tawa kecil.
“Si ibu bisa aja.” ucapku.
“Amin.. Makasih ya, nenek.” Balasku.
“Ya sudah, kalau gitu kalian pergilah. Nanti keburu panas. Kasian si akang.” Ucap bu Yeni yang aku angguki.
“Kami pamit ya, bu.” Pamitku.
“Dadah nenek!” aku membawa tangan Senaf melambai pada bu Yeni.
“Dadah akang! Bawa oleh-oleh untuk nenek ya, nanti.” Ucap bu Yeni yang kuhadiahi senyuman. Kemudian kami pun berjalan menuju halte bus.
Tak lama, bus tujuan kami pun tiba. Aku dengan sigap pun masuk ke dalam bus dan kebetulan ada bangku kosong. Huft! Biasanya dapat bangku kosong di jam segini itu susah! Sepertinya hari ini benar-benar rezeki Senaf.
Tujuan utama kami adalah sebuah pusat perbelanjaan. Aku sengaja mengajak Senaf kesana karena ada tempat bermainnya. Walaupun dia masih kecil, setidaknya dia bisa bertemu anak-anak lain. Bukan ibu-ibu yang biasa ditemuinya, jika bu Yeni membawanya ke warung.
Setibanya kami di sebuah pusat perbelanjaan yang cukup besar di kota, kami pun langsung memasuki sebuah arena permainan anak-anak. Aku pun menuju loket tiket untuk membeli tiket arena mandi bola. Setidaknya disana aku sedikit aman melepas Senaf.
“Tiketnya satu anak-anak, satu orang orang tua.” Ucapku pada petugas.
“Baik, bu. Ini tiketnya.” Ucap petugas itu sembari menyerahkan dua buah tiket. Akupun langsung mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna hijau untuk membayar tiket tersebut.
“Terima kasih, bu. Selamat bersenang-senang.” Ucapnya yang aku angguki.
Aku dan Senaf pun masuk ke dalam arena mandi bola setelah memberikan tiket pada seorang petugas yang berjaga di depan pintu gerbang arena. Kemudian aku melepas gendongan Senaf dan segera saja bayi tampan itu merangkak menjauh dariku.
“Senaf! Jangan laju-laju!” ucapku memperingatkan bayi tampan yang menulikan telinganya saat ini. Aku pun akhirnya mengejar Senaf yang sudah berada di depan sebuah perosotan.
“Senaf! Nanti kalau ada yang meluncur, gimana?” aku sedikit meninggikan suaraku dan mengangkatnya menjauhi perosotan itu.
Bukannya menangis atau apa? Dia malah marah dan berontak ingin kembali ke perosotan itu.
“Tidak, Senaf!” ucapku lagi dan dia keras kepala juga.
“Baiklah-baiklah. Bunda bawa kesana.” Ucapku akhirnya mengalah dengan dirinya yang ternyata sangat keras kepala.
Aku pun membawa Senaf menuju perosotan dan kami pun meluncur bersamaan dari sana.
“Yeay!” seruku membuatnya ikut tertawa senang.
“Yeee!”
“Senaf mau lagi?” tanyaku membuat bayi tampan itu menepuk-nepuk tangannya keudara.
“Baiklah, pangeran Senaf!” ucapku dan mengulangi permainan kami.
Asli! Ini aku seperti merasakan, gimana mama dan bapak dulu menemaniku bermain disini. Jadi gini perasaan orang tua saat mengulang masa kecil bersama anak sendiri?
“Senaf senang?” tanyaku membuatnya menatapku sejenak dan tertawa.
“Bunda juga senang punya Senaf.” Ucapku sambil menciumi wajahnya, hingga dia kegelian.
Kami pun menyambung permainan kami. Semua permainan yang ada di dalam arena kami coba, tanpa terkecuali. Aku pun tak lupa mengabadikan setiap momen itu melalui ponsel pintarku.
Tak terasa, kami sudah menghabiskan waktu hampir 2 jam di dalam arena itu. jangan tanya apa saja yang kami lakukan! Menceritakan kejadian dua jam itu sama dengan menulis Bab 1 skripsi. Ngomong-ngomong skripsi, aku coba buat ngajuin judul sih tahun ini. Moga-moga tembus dan aku bisa lulus 3,5 tahun.
Setelah keluar dari arena mandi bola, aku dan Senaf pun mengunjungi salah satu cafetaria yang ada untuk mengisi perut.
“Permisi, ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang waiters padaku saat berhasil mendaratkan diri dikursi sofa yang ada disana.
“Boleh lihat menu-nya, mbak?” tanyaku membuatnya mengangguk.
“Tentu, bu. Ini.” Ucapnya dan aku pun langsung menyebutkan pesananku sambil menunjuk menu yang ada di list buku menu.
“Baik. Ada lagi, bu?” tanyanya yang aku balas gelengan.
“Kalau begitu, saya permisi dulu.” ucapnya yang aku angguki. Lalu dia pun pergi meninggalkan kami dengan sebuah nomor meja.
“Anak bunda makan dulu, ya!” ucapku sambil mengambil kotak tupperware yang berisi bubur Senaf.
“Udah dingin ternyata, sayang. Kita tunggu sup bunda datang, ya.” Ucapku.