Author POV
Pagi-pagi sekali, Sindy dan Senaf sudah rapi. Sindy hari ini ada bimbingan pagi di kampusnya. Kris berniat menjemputnya untuk menghadiri bimbingan itu bersama.
“Senaf nanti jangan nakal sama nenek, ya.” Ucap Sindy pada Senaf yang menggigit benda lunak ditangannya. Sebuah mainan plastik yang beberapa hari lalu di beli oleh Sindy.
“Kalau gitu, ayo kita berangkat!” seru Sindy membuat Senaf menepuk-nepuk tangannya dan benda kenyal itu sudah penuh dengan air liurnya.
Mereka pun keluar dari rumah dan berjalan menuju rumah bu Yeni. Sindy pun menitipkan Senaf seperti biasa pada bu Yeni. Hingga Kris datang, membuat Sindy harus segera menghampiri gadis itu.
“Lha! Baru juga gue mau mampir.” Ucap Kris yang dibalas gelengan oleh Sindy.
“Jangan! Nanti mata lo jadi tercemar.” Balas Sindy membuat Kris mengerutkan kening menatap Sindy yang terlihat aneh jika dia ingin mampir kekosannya.
“Udah, deh! Kita pergi aja!” ucap Sindy membuyarkan lamunan Kris. Kemudian Kris pun membawa motornya melaju membelah jalanan. Tanpa mereka sadari, ternyata ada sebuah mobil mengikuti pergerakan mereka.
“Ikuti, jangan sampai lolos!” perintah pria yang ada di dalam mobil.
“Baik, sir.” Ucap supir mobil itu memfokuskan diri pada dua gadis pengendara motor dihadapannya. Hingga akhirnya mereka berhenti disebuah bangunan yang cukup besar. Sebuah perguruan tinggi negeri yang cukup terkenal di kota itu adalah tempat Sindy dan Kris menimba ilmu.
“Enough! Kita kembali ke kantor!” perintah pria itu dengan tatapan tak lepas dari gadis yang baru saja turun dari motor dan berbincang dengan gadis lainnya.
“Baik, sir.” Ucap supir yang menyupiri pria itu dan mereka pun meninggalkan kawasan kampus, tanpa membuat siapapun curiga dengan kedatangan mereka.
Di parkiran motor, Sindy dan Kris tengah berdebat karena Kris lupa membawa pelembab bibirnya. Sindy yang mendengar gerutuan Kris, menatap malas gadis itu. Entah kapan? Gadis itu bisa tidak melupakan sesuatu.
“Sudahlah, kita sudah terlambat!” Sindy mencoba mengingatkan Kris.
“Tapi bibir gue kering, Sin! Nanti kalau pak Drew ga konsen gara-gara liat bibir gue yang pecah-pecah gimana?” tanya Kris membuat Sindy melayangkan pukulan ke kepala Kris.
“Khayalan mu, tolong agak dikurangi, ya! Ga nafsu pak Drew sama bibirmu, mbing!” balas Sindy membuat Kris meringis akibat kepalanya yang habis dipukul oleh tangan kuli Sindy.
“Sindy! Entar kalau gue lupa semua materi bimbingan hari ini, lo harus tanggung jawab!” gerutu Kris.
“Bodo, Kris! Bodo! Aku duluan! Bye!” balas Sindy meninggalkan Kris dengan u*****n dan gerutuannya.
Sindy berjalan cepat menyusuri koridor. Dia tidak mau sampai dosen pembimbingnya itu menganggap jelek dirinya yang terlambat karena harus mendengar ocehan pagi hari dari Kris.
“Sin! Tunggu!” seru Kris dari kejauhan yang dihiraukan oleh Sindy. Hingga dia pun menemukan ruang bimbingan dan bernafas lega, karena belum menemukan dosen di dalamnya.
“Ekhem!” batuk seseorang dari arah belakang Sindy, membuat gadis itu terlonjak kaget.
“Sampai kapan kamu mau berdiri di depan pintu?” tanya suara berat pria yang dikenal sebagai pak Drew tepat di belakang tubuh Sindy.
“Eh-bapak.” Sindy tersenyum malu karena menghalangi jalan dosen pembimbingnya.
“Cepat masuk!” perintah Pak Drew membuat Sindy terlonjak karena suara perintah itu.
“I-iya, pak.” Ucap Sindy tergagap dan langsung masuk ke dalam kelas.
Saat Drew ingin memulai kelas, tiba-tiba pintu dibuka secara paksa, hingga menimbulkan bunyi kuat.
Brak!
“Maaf, pak. Saya sedikit terlambat.” Ucap seorang gadis dengan nafas memburu. Drew yang melihat siapa mahasiswa yang terlambat hanya menggelengkan kepala.
“Kamu lagi. Untung saya belum mulai. Cepat duduk!” ucap Pak Drew membuat Kris mengangguk dan duduk di bangku dekat Sindy.
“Baiklah, kita akan mulai bimbingan hari ini.” Ucap Pak Drew memulai bimbingannya.
“Makanya! Inget waktu!” bisik Sindy menegur Kris yang dibalas dengusan sebal oleh Kris. Kemudian kelas itu pun dimulai.
***
Selesai kelas bimbingan pak Drew, Sindy dan Kris langsung menempatkan diri di kantin kampus. Cukup terkuran otak mereka untuk memahami semua materi yang disampaikan oleh dosen pengampu satu itu.
“Gila! Hampir hibernasi gue!” seru Kris membuat Sindy mengangguk, menyetujui.
“Kalau enggak demi-demi 3,5 tahun, aku ga mau masuk bimbingan dia.” tambah Sindy.
“Eh iya! Gue baru dapat kabar euy!” seru Kris yang kekesalannya sudah menguap.
“Kabar apa?” tanya Sindy sambil menyeruput es teh miliknya.
“Nih!” Kris menyodorkan ponsel pintarnya pada Sindy. Sindy pun menerima ponsel itu dan membaca isi dari artikel yang terpampang disana.
Saat di bagian terakhir, dimana terpampang gambar dari isi artikel itu, Sindy terkejut dan tak sengaja menyemburkan minumannya.
“SINDY! LO JOROK BANGET, SIH!!!” jerit Kris. Sedangkan Sindy yang diteriaki seperti itu, tak menggubris. Dia masih terkejut dengan gambar yang baru saja dilihatnya.
“Ga tertarik.” Balas Sindy mengembalikan kembali ponsel Kris. Kris yang tengah membersihkan sisa semburan Sindy, menatap aneh gadis dihadapannya.
“Tadi aja terkejut sampai nyembur. Sekarang sok-sok ga peduli.” Gumam Kris.
Mereka pun menikmati makan siang mereka dengan tenang, setelah insiden semburan es teh Sindy. Kris menaruh curiga pada gadis dihadapannya. Dia merasa seperti ada yang disembunyikan oleh gadis itu, dari dirinya.
“Sin!” panggil Kris membuat Sindy menoleh.
“Hm.” Balas Sindy tanpa niat.
“Lo lagi ada masalah, ya?” Tanya Kris membuat Sindy menatap Kris bingung.
“Ha?”
“Iya. Lo lagi ada masalah? Setahun terakhir, lo ngelarang gue buat mampir di kosan lo. Padahal biasanya lo hayuk aja. Apa lo..”
Pletak
“Ga usah ngomong yang enggak-enggak. Aku ga apa-apa.” Sindy menatap tajam Kris.
“Yaaa soalnya lo aneh, sih! Terus siapa lagi tuh Senaf? Dari kemaren kayaknya lo nyebut dia terus pas ada cowok deketin.” Kris menatap Sindy aneh.
“B aja.” Balas Sindy acuh.
“Serah lo deh, Sin. Capek gue sama lo.” Ucap Kris menyerah dengan kebatuan Sindy. Sedangkan Sindy hanya cuek dan kembali menikmati makanannya.
“Balik, kuy!” ajak Kris sesaat mereka menghabiskan makanan mereka.
“Balik-balik.. Aku harus ke tempat kerja, woi!” Sindy melempar Kris dengan tisu bekas mulutnya.
“Jorok banget sih lo, Sin! Mati ae sono!”.
“Bodo.”.