Pita kuning yang diminta pelanggan ternyata tinggal sepotong pendek. Sabelle membukanya di atas meja, mengukur dengan mata, lalu menatap rangkaian yang belum selesai. Pagi itu pesanan harus diambil sebelum makan siang. Ia mempunyai cukup bunga, kertas pembungkus, dan waktu untuk membetulkan. Yang tidak dimilikinya hanya alasan untuk memutuskan warna lain tanpa menanyakan kepada pemesan.
Ia menelepon pelanggan dan menjelaskan pilihan yang tersedia. Setelah mendapat jawaban, Sabelle menaruh dua warna berdampingan untuk memperlihatkan melalui gambar sederhana, kemudian menunggu persetujuan. Ia lebih suka mengakui bahan yang kurang daripada menyerahkan hasil berbeda sambil berharap orang terlalu sopan untuk mengeluh.
Damien datang ketika konfirmasi baru diterima. Ia telah memberi kabar ingin mengambil pesanan kecil untuk seseorang yang baru menyelesaikan urusan rumah bersamanya. Sabelle menunjukkan rangkaian yang sudah disiapkan, lalu meminta waktu menyelesaikan satu pesanan yang lebih dahulu menunggu konfirmasi. Damien menanyakan apakah perlu menunggu karena wajahnya terlihat sangat serius terhadap sepotong pita.
'Aku hampir kalah melawannya,' jawab Sabelle.
'Kalau begitu aku datang pada akhir pertarungan?'
'Kau datang untuk membayar bunga. Jangan mengubahnya menjadi cerita kepahlawanan.'
Damien tertawa dan memindahkan barangnya agar meja tetap luas. Sabelle tersenyum sambil melanjutkan pekerjaan. Setelah tiga tahun menjalankan toko, masih ada hari ketika sesuatu yang kecil membuat rencana berubah. Ia telah melewati cukup banyak hari seperti itu untuk mengetahui perubahan tidak selalu berarti dirinya gagal.
Pesanan besar pagi itu merupakan hadiah ulang tahun untuk ibu seorang pelanggan. Pada kartu terdapat kalimat yang singkat dan sedikit kaku. Ketika pelanggan datang, ia menatap rangkaian cukup lama sebelum bertanya apakah tulisannya terlalu sederhana. Sabelle mengatakan bunga tidak dapat menjawab untuk penerima, tetapi kata yang sungguh ingin disampaikan tidak harus terdengar seperti kalimat orang lain.
Pelanggan tersebut membaca kembali, menambahkan satu baris dengan tangannya sendiri, lalu menyetujui hasil akhir. Ia berterima kasih karena perubahan warna sudah ditanyakan lebih dahulu. Sabelle membantu memegang pembungkus sampai kartu ditempatkan dengan rapi. Ia memperhatikan wajah pelanggan melunak ketika sekali lagi membaca baris yang baru ditulis. Bunga di depannya memang sama dengan yang beberapa menit lalu dikerjakan, tetapi sekarang seseorang sudah dapat membayangkan kepada siapa rangkaian itu akan diberikan dan apa yang ingin dikatakan. Sesudah keluar, Sabelle mencatat pengambilan dan menyimpan salinan pesanan. Satu urusan selesai tanpa ada nama Peter yang perlu disebut untuk membuatnya penting.
Damien masih menunggu karena diminta memeriksa penulisan nama pada kartu miliknya. Setelah memastikan benar, ia mengambil rangkaian. Ia mengatakan senang melihat Sabelle mengurus hal yang disukainya dengan begitu yakin. Perempuan itu mendengus kecil sambil menunjuk pita yang baru saja diselamatkan.
'Tidak selalu yakin. Kadang aku hanya tahu siapa yang harus kutanya.'
'Kurasa itu tetap berguna.'
Sabelle membereskan potongan pada meja. Ia mengingat saat orang tuanya menunjukkan toko ini setelah dirinya dan Shalter keluar dari rumah sakit. Mereka membelinya dari Damien, lalu menghiasnya sebagai kesempatan memulai pekerjaan yang diinginkan. Kini yang mengisi sebagian besar hari adalah pesanan, catatan, dan pelanggan yang mengenalnya karena datang kembali. Ia bersyukur dibantu, tetapi juga mengetahui pekerjaan yang telah dikerjakan dengan tangannya sendiri.
Ketika Damien hendak berpamitan, Sabelle mengatakan besok ada penyesuaian jam buka. Ia akan menemani Shalter bertemu Peter untuk pertama kali setelah bertahun-tahun. Rencana sudah dibicarakan dengan anak dan dikonfirmasi dengan ayahnya: pertemuan singkat di tempat yang dapat disepakati, Sabelle tetap dekat, tidak ada rombongan atau hadiah besar.
Damien memandang bunga yang dipegangnya sebelum menanyakan bagaimana perasaannya. Sabelle mengatakan takut Shalter kecewa lagi dan takut dirinya memperlihatkan terlalu banyak kesedihan. Ia sudah membicarakan bantuan yang dapat diterima dari keluarga, tetapi tetap harus hadir pada hari yang tidak dapat dilalui orang lain menggantikannya.
'Apa kau ingin aku menunggu di dekat sana?' tanya Damien, lalu segera menambahkan ia dapat memahami bila itu justru membuat semuanya lebih rumit.
Sabelle berpikir sebentar. Ia menghargai tawaran tersebut, tetapi memilih ditemani melalui pengaturan keluarga yang sudah ada. Ia tidak ingin pertemuan ayah dengan anak berubah menjadi kesempatan Peter melihat siapa yang selama ini lebih banyak hadir. Damien menerima, meskipun ada sesuatu dalam wajahnya yang membutuhkan waktu untuk kembali tenang.
'Aku bisa menelepon setelahnya kalau ingin bercerita,' kata Sabelle.
'Boleh. Kalau kau ingin. Tidak perlu menyiapkan laporan untukku.'
Kalimat itu membuatnya tersenyum. Ia tidak perlu membayar perhatian dengan memastikan lelaki tersebut menjadi orang pertama yang mengetahui semua hal. Damien mengangkat rangkaian dan mengatakan akan terlambat pada urusannya sendiri bila terus berdiri. Sabelle menyuruhnya berangkat sebelum pelanggan mengira bunga dibawa ke rumah yang salah.
Siangnya Shalter datang melalui pengaturan penjemputan yang sudah dibuat. Ia meletakkan tas, menanyakan apakah pita kuning pada meja boleh dipakai untuk mobil karton, lalu menerima bagian kecil yang memang tidak lagi diperlukan. Sabelle menunggu sampai ia selesai minum sebelum memastikan apakah rencana besok masih diinginkan.
Anak itu mengangguk. Ia ingin membawa gambar, tetapi belum memutuskan apakah akan menyerahkannya. Sabelle mengatakan boleh menyimpan di tas sampai ingin menunjukkan. Ia menjelaskan kembali tempat, waktu, dan siapa yang akan berada dekat. Tidak ada kata bahwa ia harus memeluk karena ayah pasti sangat rindu.
Setelah Shalter mulai mengerjakan tugas, Sabelle memasang keterangan jam buka esok pada tempat yang dapat dibaca pelanggan. Pesanan yang perlu diselesaikan sudah diatur dan tidak ada pengambilan yang dibiarkan tanpa kabar. Ia mengirim konfirmasi singkat kepada Peter bahwa rencana tetap berjalan sesuai kesepakatan, kemudian menyimpan telepon.
Sore itu toko tutup dengan meja lebih rapi daripada pagi. Pita yang hampir menggagalkan satu pesanan kini tersimpan sebagian pada tas Shalter, menunggu menjadi sesuatu pada mobil buatannya. Sabelle mematikan lampu setelah memastikan semua yang perlu diurus telah dicatat. Ia masih takut menghadapi besok. Namun hari ini telah mempunyai pekerjaan yang selesai, tawa yang tidak dipaksakan, dan pilihan yang dibuatnya sendiri sebelum kembali memikirkan Peter.