Shalter memperhatikan mobil ibunya lebih lama ketika mereka hendak berangkat. Kendaraan itu sudah diambil kembali setelah Sabelle memilih pulang bersama Frank pada sore yang membuatnya teringat kecelakaan. Tidak ada kerusakan baru. Namun anak itu tahu sesuatu pernah terjadi, karena ia pernah melihat Mommy di rumah sakit dan mendengar kata kecelakaan di antara percakapan keluarga.
'Mobilnya rusak lagi?' tanyanya.
'Tidak. Waktu itu aku memilih dijemput karena belum nyaman menyetir. Sekarang kita bisa berangkat seperti biasa.'
Sabelle tidak menyalakan mesin sebelum memastikan Shalter sudah duduk dengan benar. Ia menanyakan apakah ada hal lain yang ingin ditanyakan. Putranya mengusap tali tas, kemudian mengatakan ia mendengar Grandpa menyebut pertolongan saat Mommy berbicara di ruangan lain. Ia tidak mendengar seluruhnya. Sejak itu ia bertanya-tanya apakah Daddy pernah ada di tempat yang sama saat Mommy terluka.
Sabelle menyimpan kembali kunci tanpa menyalakan mesin. Ia tidak ingin anak mendapat jawaban sambil melihat perhatian ibunya terpecah pada jalan. Mereka belum harus berangkat saat itu juga. Ia menjelaskan singkat bahwa Daddy memang membantu saat kecelakaan dahulu, lalu orang lain juga datang memberikan pertolongan. Damien memanggil ambulans dan membantu memastikan Mommy ditangani. Tidak perlu ada uraian tentang darah atau kepala yang membentur.
'Jadi Daddy bikin Mommy sembuh?'
'Daddy membantu pada waktu itu. Petugas dan dokter juga membantu. Banyak hal dilakukan supaya aku mendapat pertolongan.'
Shalter menunduk. Pertanyaan berikutnya keluar lebih pelan: kalau Daddy menolong, apakah mereka harus berhenti marah? Sabelle merasakan bagian dalam dadanya tertarik. Ia sudah meminta orang dewasa tidak menjadikan cerita tersebut kewajiban bagi anak, tetapi potongan percakapan ternyata cukup untuk membuat Shalter menghitung perasaan mana yang kini masih diizinkan.
Ia mengatakan pertolongan boleh dihargai tanpa mengubah semua hal menjadi baik. Mommy sudah mengucapkan terima kasih untuk bantuan yang diberikan. Tidak ada tugas lain yang harus diambil Shalter. Ia boleh senang mengetahui Daddy membantu, boleh tetap sedih karena ditinggalkan, dan boleh mempunyai pertanyaan yang belum ingin ditanyakan. Anak itu tidak perlu memilih satu perasaan untuk membuat orang dewasa lebih nyaman.
'Kalau aku ingin main sama Daddy, Mommy marah?'
'Tidak. Keinginanmu bermain dengannya tidak membuat kesedihanku salah atau membuat kamu berpihak melawanku.'
Sabelle melihat Shalter menghela napas yang sejak tadi ditahan. Ia menanyakan apakah rencana pertemuan berikut tetap membuatnya nyaman. Anak itu mengatakan ingin membawa bola, tetapi tidak ingin membicarakan rumah sakit. Sabelle mencatat kebutuhan tersebut sebelum mereka berangkat. Ia akan menyampaikannya kepada Peter sebagai batas percakapan, bukan sebagai laporan bahwa anak telah memaafkan atau mulai memilih ayahnya.
Setelah mengantar Shalter, Sabelle menelepon Frank. Ia tidak menuduh ayahnya sengaja membuka cerita. Ia mengatakan anak mendengar sebagian, dan mereka perlu lebih berhati-hati memilih tempat serta waktu berbicara. Frank mengaku sempat menyebut pertolongan ketika mengira Shalter belum mendekat. Ia menerima permintaan tersebut dan tidak meminta Sabelle mengatakan kepada anak bahwa Grandpa tidak salah.
Kepada Peter, Sabelle menyampaikan hal yang memang diperlukan. Shalter sudah mengetahui secara sederhana ada bantuan ketika kecelakaan, tetapi tidak ingin membahas rumah sakit. Peter mengucapkan terima kasih telah diberi tahu. Ia tidak menanyakan apakah kabar tersebut membuat anak lebih menyayanginya. Sabelle menegaskan rencana bermain tetap berlangsung, dengan kesempatan Shalter menghentikan pertemuan jika merasa terlalu penuh.
Pertemuan berikut berlangsung di tempat yang telah disepakati, tanpa pengunjung tambahan. Peter menyambut putranya dengan pertanyaan tentang bola yang dibawa. Shalter menjawab singkat, mencoba beberapa pantulan, lalu menatap ayahnya seolah masih menyimpan kalimat. Peter tidak mendesak. Ia menunggu sampai anak itu mendekat sendiri dan mengatakan terima kasih karena pernah membantu Mommy.
'Sama-sama,' jawab Peter. 'Kamu tidak perlu melakukan sesuatu untuk membalasnya.'
'Aku tidak mau cerita rumah sakit.'
'Baik. Kita tidak perlu membicarakannya sekarang.'
Shalter memutar bola pada kedua telapak sebelum menanyakan apakah ayahnya akan sedih karena tidak boleh bercerita. Peter mengatakan ia dapat mengurus perasaannya sendiri. Putranya tidak perlu menerima cerita yang tidak diinginkan supaya Daddy merasa didengarkan. Jika ada pertanyaan suatu saat nanti, ia boleh menanyakannya; jika tidak ada, mereka tetap dapat bermain bersama.
'Kalau aku cuma mau main?'
'Hari ini kita memang datang untuk itu.'
Anak itu melempar bola, kali ini lebih pelan. Peter menangkapnya dengan kedua tangan. Di antara mereka tidak ada ucapan terima kasih tambahan yang harus diselesaikan sebelum permainan dapat dimulai. Shalter memilih tempat berdiri dan meminta ayahnya bergeser sedikit supaya lemparan berikut tidak mengenai kursi.
Peter tidak menambahkan kisah keberanian yang membuat penolakan anak sia-sia. Ia menerima bola yang dilempar sedikit terlalu kuat, memperbaiki pegangan, kemudian mengembalikannya. Shalter menyuruhnya menekuk lutut seperti yang diajarkan Mien. Peter mencoba dan meleset. Anak itu tertawa, bukan karena ayahnya berhasil menjadi orang paling hebat di lapangan, melainkan karena orang dewasa itu bersedia mendengarkan petunjuknya.
Sabelle melihat dari tempat yang cukup dekat untuk dipanggil. Ada saat ia masih merasa berat memandang keduanya bersama. Kehangatan tersebut mengingatkannya pada keluarga yang pernah diharapkan, sekaligus pada tahun-tahun ketika ia harus menjawab pertanyaan sendirian. Ia tidak mendekat untuk memotong permainan demi menenangkan dirinya. Ia juga tidak memaksa tersenyum supaya Peter menganggap semuanya telah selesai.
Ketika waktu hampir habis, Peter mengingatkan dengan cukup awal. Shalter meminta beberapa lemparan lagi, lalu setuju berhenti setelah jumlah yang dipilih bersama. Tidak ada penawaran hadiah agar pertemuan diperpanjang. Saat hendak pulang, anak itu memeluk ayahnya singkat dan kembali ke sisi Sabelle. Peter melepaskan tanpa meminta pelukan kedua untuk menebus hari yang telah lewat.
Dalam perjalanan, Shalter mengatakan Daddy masih belum pandai memantulkan bola dengan tangan yang lain. Sabelle mendengarkan cerita tersebut tanpa mencari tanda apakah putranya kini lebih bahagia daripada ketika bermain bersama Damien. Orang-orang yang hadir tidak perlu dijadikan pertandingan. Hari itu Shalter mendapat waktu dengan ayahnya, mempertahankan batas yang diminta, dan pulang tanpa kewajiban memperbaiki hubungan perkawinan orang tuanya. Untuk sementara, itulah yang perlu dijaga.