Satria menepati janjinya untuk tidak datang tanpa izin. Selama beberapa hari ia hanya mengirim pesan singkat, menanyakan kabar Bia dan memastikan keluarga Bia baik-baik saja. Ia tidak membahas tanggal pernikahan. Bia membalas seperlunya, tidak dingin tetapi juga tidak memberi kesan bahwa masalah mereka sudah selesai.
Bia mulai mengisi harinya dengan hal-hal yang sempat ia tunda. Ia membantu Mamak di rumah, menemani Riska membeli alat tulis, dan menyusun kembali beberapa rencana pribadi. Ia menyadari betapa sering ia menyesuaikan jadwal dengan kemungkinan Satria menelepon. Sekarang, saat ponsel berdering, ia tidak langsung merasa harus meninggalkan semua yang sedang ia lakukan.
Nunu juga berusaha menjalani batas yang disepakati. Ia menulis skripsi di ruang belakang atau di kamarnya. Jika ingin mengajak Bia bicara, ia bertanya lebih dulu apakah Bia sedang senggang. Kadang Bia mengiyakan, kadang tidak. Nunu tidak merajuk ketika jawabannya tidak. Perubahan itu membuat hubungan mereka lebih mudah, meskipun Bia masih berhati-hati.
Pada suatu sore, Bia memergoki Nunu menyimpan foto lama keluarga di album yang diletakkan di meja. Ia langsung bertanya apakah Nunu kembali membuka album tanpa izin. Nunu terlihat terkejut dan cepat-cepat menjelaskan bahwa ia hanya membantu Riska merapikan album yang jatuh. Ia tidak membuka halaman-halaman lain.
Bia meminta Nunu meletakkan album itu di meja. Ia mendengar penjelasan Riska bahwa beberapa lembar terlepas ketika album jatuh. Setelah itu barulah Bia mengajak mereka mengembalikannya ke lemari. Ia masih ingat Riska pernah memberikan album masa kecilnya tanpa izin. Kali ini ia meminta adiknya memanggilnya jika ada foto yang perlu dirapikan. Nunu mengangguk dan tidak mengambil satu foto pun.
Malamnya, Riska mengajak Bia berbicara. Ia mengatakan bahwa ia senang Nunu kembali, tetapi ia juga tahu Bia sedang bingung. Riska tidak ingin rumah mereka berubah menjadi tempat semua orang memihak salah satu laki-laki. Bia memeluk adiknya dan berkata rumah ini harus tetap menjadi rumah mereka semua, bukan arena untuk memilih pemenang.
Riska bercerita bahwa Nunu sudah mengingatkan dirinya agar tidak lagi memengaruhi keputusan Bia. Ia berkata Nunu pernah meminta maaf karena membuatnya ikut membenci Satria berdasarkan cerita sepihak. Bia terdiam, sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Nunu akan meminta maaf kepada adiknya juga. Namun ia mengingatkan Riska agar tidak menjadikan perubahan Nunu sebagai alasan Bia harus membalas perasaannya.
'Aku tahu, Kak. Aku cuma mau dia jadi teman kita lagi,' jawab Riska.
Bia berkata ia juga menginginkan hubungan yang baik, tetapi semua perlu waktu. Ia tidak mau menjanjikan sesuatu kepada siapa pun hanya karena merasa berutang.
Beberapa hari setelah itu, Satria mengirim pesan bahwa ia ingin bertemu untuk membicarakan hal-hal praktis terkait rencana pernikahan. Ia menambahkan bahwa jika Bia belum siap, mereka bisa menundanya. Bia membaca pesan itu beberapa kali. Kali ini ia tidak merasa terdesak. Ia membalas bahwa ia bersedia bicara melalui panggilan pada akhir pekan, tetapi belum siap membahas tanggal atau persiapan.
Satria menyetujui tanpa membantah. Bia meletakkan ponsel dan duduk di teras. Ia menyadari bahwa menjaga batas bukan berarti menghukum Satria. Itu cara untuk memastikan ia tidak kembali mengiyakan sesuatu karena takut mengecewakan orang.
Nunu melewati teras sambil membawa gelas. Ia berhenti sejenak dan bertanya apakah Bia baik-baik saja. Bia menjawab bahwa ia sedang belajar membedakan rasa takut dan keinginannya sendiri. Nunu tersenyum kecil dan berkata bahwa itu terdengar seperti pekerjaan yang lebih sulit daripada skripsi.
Bia tertawa. Untuk pertama kalinya, tawa itu terasa tidak dipaksakan. Ia belum memilih siapa pun, tetapi ia mulai memilih dirinya sendiri dalam hal-hal kecil.
Akhir pekan tiba dengan langit mendung. Bia menunggu panggilan Satria setelah makan siang. Ia memilih duduk di kamar dengan pintu terbuka, sementara Mamak berada di ruang depan. Ia tidak ingin pembicaraan itu menjadi rahasia, tetapi tetap ingin berbicara dengan tenang.
Satria menelepon tepat waktu. Ia membuka percakapan dengan meminta maaf sekali lagi atas sikapnya di halaman rumah. Bia menerima permintaan maaf itu, tetapi mengatakan bahwa ia belum bisa melupakan begitu saja. Satria menjawab bahwa ia mengerti dan tidak akan meminta Bia segera kembali seperti dulu.
Mereka membahas rencana pernikahan. Satria bertanya apakah Bia ingin membatalkannya sepenuhnya atau hanya menunda. Bia mengatakan ia belum tahu. Ia tidak ingin mengambil keputusan final melalui telepon, tetapi ia ingin semua persiapan dihentikan dulu. Ia meminta agar keluarga mereka tidak mengumumkan tanggal apa pun dan tidak membuat rencana baru.
Satria menghela napas. Ia mengaku kecewa karena mereka sudah membicarakan banyak hal, tetapi ia menerima bahwa Bia tidak bisa dipaksa meneruskan. Ia bertanya apa yang perlu ia lakukan agar Bia merasa hubungan itu layak diperjuangkan. Bia menjawab bahwa ia tidak ingin memberi daftar tugas yang harus dilakukan Satria demi mendapat hadiah berupa pernikahan. Ia ingin melihat apakah Satria mampu hadir dan berkomunikasi karena memang menganggap hubungan mereka penting.
'Aku tidak bisa berjanji akan selalu punya banyak waktu,' kata Satria. 'Tapi aku bisa berhenti menganggap kamu akan selalu mengerti tanpa aku menjelaskan. Aku juga bisa cerita soal pekerjaanku dan keputusan yang memengaruhi kita.'
Bia berkata ia menghargai niat itu, tetapi tindakan harus konsisten. Satria menyetujuinya. Ia juga bertanya tentang Nunu. Bia menjelaskan bahwa Nunu tinggal sementara dan mereka sedang mencoba berteman dengan batas yang jelas. Ia tidak meminta Satria menyukai keadaan itu, tetapi ia tidak akan memutus hubungan dengan orang lain hanya karena Satria merasa cemburu.
Satria terdiam cukup lama. Lalu ia berkata bahwa ia masih sulit menerima Nunu, tetapi ia tidak ingin mengatur siapa teman Bia. Ia mengakui bahwa saat melihat Nunu, ia merasa hubungan mereka terancam dan bereaksi buruk. Bia berkata rasa takut boleh disampaikan, tetapi tidak boleh digunakan untuk mengancam atau merendahkan.
Sebelum menutup telepon, Satria bertanya apakah Bia masih menyayanginya. Bia tidak menghindar. Ia menjawab bahwa ia masih punya rasa sayang, tetapi perasaan itu tidak otomatis berarti ia siap menikah. Satria menerima jawaban itu dengan suara pelan. Ia mengatakan bahwa ia akan menunggu sampai Bia siap bicara lagi, namun Bia meminta agar ia tidak menggantungkan hidupnya pada janji menunggu. Mereka sama-sama perlu menjalani hari masing-masing.
Setelah panggilan berakhir, Bia duduk diam. Ia merasa lega karena percakapan itu tidak berakhir dengan pertengkaran. Namun ia juga tidak merasa semua masalah selesai. Ia keluar ke ruang depan dan menceritakan isi percakapan kepada Mamak. Mamak mendengarkan, lalu bertanya apakah Bia ingin menangis atau ingin minum teh.
'Teh dulu,' kata Bia, lalu tersenyum kecil.
Di halaman, Nunu sedang membantu Bapak mengangkat karung beras untuk warung. Ia tidak tahu isi pembicaraan Bia dengan Satria dan tidak bertanya. Bia menyukai bahwa hari itu ia bisa berbicara dengan satu orang tanpa membuat orang lain segera menuntut penjelasan.
Sore menjelang malam, ia berjalan sebentar ke lapangan bersama Riska. Mereka duduk di tepi jalan, memandangi anak-anak bermain. Bia teringat saat ia pernah menangis di tempat itu karena Satria, sebelum Nunu datang dan mengubah arah hidupnya. Ia kini mengerti bahwa Nunu memang menjadi bagian penting dari ceritanya, tetapi bukan berarti ia harus menjadi jawaban untuk setiap luka.
Riska bertanya apakah Kakaknya akan menikah dengan Satria. Bia menjawab bahwa ia belum tahu. Riska menerima jawaban itu tanpa mendesak. Ia hanya berkata bahwa ia ingin Bia bahagia, dengan siapa pun atau bahkan tanpa pasangan untuk sementara.
Bia menggenggam tangan adiknya. Kata-kata itu terdengar sederhana, tetapi membuatnya merasa tidak sendirian. Ia tidak punya jawaban terakhir hari itu. Namun ia mulai percaya bahwa ia bisa menjalani proses tanpa mengkhianati dirinya sendiri. Ketika mereka pulang, Nunu sedang membaca di beranda. Ia menyapa Bia, dan Bia membalas dengan senyum kecil.
Tidak ada janji baru yang dibuat. Tidak ada keputusan besar yang diumumkan. Hanya satu hari lagi yang dilewati dengan kejujuran yang lebih besar daripada sebelumnya.