Dua minggu terasa lebih cepat dari perkiraan. Satria menyelesaikan beberapa urusan kantor dan mulai mengemas barang. Ia dan Bia tetap berkomunikasi, kadang lewat telepon, kadang melalui pesan singkat. Mereka tidak berbicara setiap saat, tetapi Satria memberi kabar jika jadwalnya berubah. Bia berusaha melakukan hal yang sama.
Bia tidak menyebut hubungan mereka kembali seperti dulu. Mereka masih sepakat sedang mencoba, dan belum membahas rencana pernikahan. Namun ia mulai terbiasa mendengar cerita Satria tentang persiapan kerja. Satria juga bertanya tentang kegiatan Bia dan keluarganya, bukan hanya meminta kabar singkat.
Pada hari keberangkatan, Satria datang ke rumah Bia untuk berpamitan. Ia membawa beberapa makanan untuk keluarga dan menyapa semua orang. Bapak mengajaknya bicara sebentar tentang perjalanan dan tempat tinggal. Mamak menyiapkan makan siang. Suasana tidak seperti pertemuan calon pengantin; lebih seperti dua keluarga yang saling menghormati tanpa kepastian tentang masa depan.
Setelah makan, Bia dan Satria berjalan ke teras. Satria berkata ia tidak ingin mengulang lima tahun berjauhan dengan cara lama, dan ingin mencoba lebih terbuka. Bia menjawab ia juga ingin mencoba, selama mereka tetap jujur tentang perasaan masing-masing. Ia tidak menjanjikan bahwa ia akan selalu merasa yakin.
Satria mengatakan ia tidak meminta kepastian itu. Ia meminta kesempatan untuk membuktikan bahwa ia bisa menjadi pasangan yang lebih terbuka. Bia berkata ia akan melihat tindakannya, bukan hanya kata-kata. Satria menerima.
Mereka berbicara tentang jadwal komunikasi. Mereka menyepakati panggilan pada hari tertentu, tetapi tetap bisa mengubahnya jika ada kebutuhan. Jika ada yang tidak dapat hadir, ia akan memberi kabar dan menawarkan waktu pengganti. Mereka juga sepakat tidak memakai diam untuk menghukum satu sama lain.
Satria bertanya apakah Bia akan merindukannya. Bia mengakui mungkin iya. Namun ia tidak ingin rasa rindu menjadi bukti bahwa mereka harus menikah. Satria tertawa kecil dan berkata ia akan mengingat itu. Bia pun tersenyum.
Ketika Satria berpamitan kepada keluarga, Riska memintanya menjaga diri. Satria berterima kasih dan berkata ia akan berusaha. Bia mengantarnya sampai pagar. Ia tidak menangis, tetapi matanya berkaca-kaca. Satria bertanya apakah ia boleh memeluknya. Bia mengangguk, dan mereka berpelukan singkat.
'Aku akan kabari setelah sampai,' kata Satria.
'Hati-hati di jalan.'
Satria pergi. Bia kembali ke rumah dan duduk di ruang tengah bersama Mamak. Ia merasa kehilangan, tetapi tidak panik. Ia tahu kepergian itu akan memberi mereka kesempatan melihat bagaimana hubungan berjalan ketika mereka tidak bisa bertemu dengan mudah.
Malamnya, Satria mengirim pesan bahwa ia sudah sampai di tempat tinggal sementara. Bia membalas agar ia beristirahat. Mereka tidak melakukan panggilan panjang. Bia mengerti bahwa hari itu melelahkan.
Ia lalu menerima pesan dari Nunu yang mendoakan perjalanan Satria lancar. Nunu mengatakan ia berharap semuanya berjalan baik. Bia berterima kasih dan tidak membahas hubungan mereka.
Bia menutup ponsel. Dua orang yang ia sayangi kini berada di tempat berbeda, masing-masing menjalani hidupnya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi ia merasa mampu menunggu tanpa menghentikan hidupnya sendiri. Esok pagi, ia tetap harus membuka warung, membantu keluarganya, dan menjalani hari. Dan untuk sekarang, itu cukup.
Satria menghubungi Bia dua hari setelah tiba di kota cabang. Ia sudah menata sebagian barang dan mulai mengenal lingkungan tempat tinggalnya. Bia mendengar suara kendaraan di latar belakang ketika panggilan tersambung. Satria bercerita bahwa perjalanan dari tempat tinggal ke kantor memakan waktu lebih lama daripada perkiraannya.
Bia bertanya apakah ia sudah makan. Satria menjawab belum, karena ia baru pulang dan ingin menyelesaikan beberapa pekerjaan. Bia mengingatkannya untuk tidak mengulang kebiasaan mengabaikan kebutuhan sendiri. Satria tertawa kecil dan berkata ia akan membeli makan setelah panggilan selesai.
Mereka berbicara tentang hari-hari mereka. Satria menjelaskan suasana kantor baru, sementara Bia bercerita tentang warung dan kegiatan keluarga. Bia tidak banyak bertanya tentang detail pekerjaan, tetapi ia mendengarkan ketika Satria menjelaskan hal yang ia anggap penting.
Pada akhir panggilan, Satria berkata ia merasa kesepian di tempat baru. Bia memahami, tetapi tidak berjanji akan selalu menjadi penghiburnya. Ia berkata Satria juga perlu mencari rutinitas dan mengenal orang-orang di sekitarnya. Satria mengakui itu benar.
Mereka menutup panggilan setelah hampir satu jam. Bia merasa senang bisa berbicara dengannya, tetapi juga lega ketika kembali pada kegiatannya sendiri. Ia tidak merasa harus mengisi seluruh kekosongan Satria.
Beberapa hari berikutnya, Satria mengirim kabar tentang jadwal kerja yang padat. Ia meminta maaf karena panggilan mereka mungkin tertunda. Bia menjawab bahwa ia mengerti dan meminta Satria memberi kabar jika rencana berubah. Ia tidak ingin menunggu tanpa informasi.
Malam yang dijadwalkan, Satria tidak menelepon pada waktu yang mereka sepakati. Bia menunggu sekitar dua puluh menit, lalu mengirim pesan menanyakan apakah ia masih bisa bicara. Tidak ada balasan. Bia merasa kecewa, tetapi ia tidak mengirim pesan berulang. Ia melanjutkan membaca bersama Riska.
Beberapa jam kemudian, Satria mengirim pesan bahwa rapatnya berlanjut dan ponselnya tertinggal di ruang kerja. Ia meminta maaf dan menawarkan panggilan esok pagi. Bia menjawab ia kecewa karena menunggu, tetapi bersedia bicara besok. Ia menegaskan ia tidak marah karena Satria sibuk; ia marah karena tidak ada kabar.
Satria meminta maaf lagi dan berkata ia akan berusaha membawa ponsel atau meminta seseorang menyampaikan jika rapat berlangsung lebih lama. Bia menghargai permintaan maaf itu, tetapi ia tidak mengatakan semuanya baik-baik saja.
Panggilan keesokan harinya berlangsung singkat, sebelum Satria bekerja. Ia mendengarkan saat Bia menjelaskan bagaimana rasanya menunggu tanpa tahu. Satria tidak defensif. Ia mengakui bahwa ia seharusnya memberi kabar dan bertanya apa yang bisa ia lakukan jika hal serupa terjadi lagi.
Bia berkata ia tidak mengharapkan kesempurnaan, hanya usaha untuk memperbaiki. Mereka sepakat jika panggilan terlewat, orang yang tidak bisa hadir akan menghubungi saat memungkinkan dan mengusulkan waktu baru. Bia merasa mereka sedang belajar, meskipun prosesnya tidak selalu nyaman.