Seminggu berlalu sejak Bia dan Satria sepakat mengambil jeda. Bia mulai memahami bahwa ia bisa melewati hari tanpa berbicara dengannya. Ada saat ia ingin mengirim foto lucu atau menceritakan sesuatu, tetapi ia menulisnya di buku atau membagikannya kepada Sanah dan keluarga.
Ia tidak membenci Satria. Ia masih menyayangi bagian dari hubungan mereka dan berharap Satria berhasil di tempat kerja. Namun ia juga merasa lebih ringan karena tidak menunggu kabar yang tidak pasti. Rasa ringan itu membuatnya bingung sekaligus bersalah.
Mamak bertanya apakah Bia merasa lebih tenang. Bia menjawab iya, tetapi ia belum tahu apakah itu karena jeda atau karena ia mulai menerima bahwa hubungan mungkin berakhir. Mamak berkata tidak apa-apa jika jawabannya berubah-ubah. Perasaan tidak harus lurus.
Nunu datang berkunjung bersama Noval pada akhir pekan. Ia mengabari lebih dulu dan bertanya apakah keluarga Bia nyaman menerima mereka. Bia menyetujui. Nunu datang tidak membawa hadiah khusus untuknya. Ia berbicara dengan keluarga, bercerita tentang pekerjaan barunya dan bagaimana ia mulai menyesuaikan diri.
Bia menyambutnya dengan hangat tetapi menjaga batas. Mereka bercakap-cakap bersama keluarga, bukan mencari kesempatan untuk berdua. Nunu tidak bertanya tentang Satria. Bia merasa dapat menikmati kehadirannya tanpa merasa ditekan.
Setelah makan, Riska mengajak semua orang ke halaman. Nunu bermain dengan Nur, sementara Bia membantu Mamak membereskan meja. Suasana rumah terasa seperti saat Nunu dahulu tinggal di sana, tetapi kali ini lebih tenang. Ia tidak terus mengejar Bia dan Bia tidak merasa perlu menghindarinya.
Sore menjelang, Nunu dan Noval bersiap pulang. Nunu mengucapkan terima kasih karena diterima berkunjung. Bia berkata mereka selalu boleh datang jika memberi kabar terlebih dahulu. Nunu tersenyum dan mengangguk. Tidak ada kalimat tentang masa depan mereka.
Ketika mobil mereka pergi, Bia merasa senang sekaligus sedikit sedih. Ia rindu keakraban lama, tetapi ia tahu hubungan itu perlu tumbuh dengan cara baru. Ia tidak ingin mengubah kunjungan yang menyenangkan menjadi tanda bahwa dirinya harus segera membalas cinta Nunu.
Malam itu, Bia menerima pesan dari Satria yang mengatakan ia sudah tiba di kota cabang setelah perjalanan dinas. Ia membalas singkat agar ia beristirahat. Mereka tidak melanjutkan percakapan.
Bia kemudian duduk bersama Mamak dan berkata ia merasa ruang jeda ini membantunya bernapas. Mamak bertanya apakah ia ingin kembali bersama Satria. Bia menjawab ia belum tahu. Ia ingin memahami apakah rasa rindunya kepada Satria berasal dari cinta atau kebiasaan.
Mamak berkata Bia tidak perlu menjawab malam itu. Bia tersenyum kecil. Ia merasa untuk pertama kalinya, ia dapat membiarkan pertanyaan tetap terbuka tanpa panik.
Ia menutup hari dengan membaca buku di kamar. Di luar, suara keluarga masih terdengar. Bia merasa hidupnya tidak berhenti karena sebuah hubungan berubah. Ia masih punya dirinya sendiri, dan itu adalah tempat yang bisa ia mulai lagi.
Beberapa hari setelah jeda, Bia mulai membuat rencana kecil untuk dirinya sendiri. Ia mendaftar kelas membuat kerajinan di balai desa yang akan berlangsung tiap akhir pekan. Ia sudah lama ingin mencoba kegiatan baru, tetapi selalu menundanya karena jadwal dan hubungan.
Ia memberi tahu Mamak dan Riska. Riska tertarik ikut melihat, sementara Mamak bertanya apakah Bia yakin punya waktu. Bia menjawab ia ingin mencobanya. Jika ternyata tidak cocok, ia boleh berhenti. Ia tidak perlu mengubah hobi menjadi kewajiban.
Hari pertama kelas berlangsung sederhana. Bia belajar membuat pola dan memilih bahan. Ia beberapa kali salah mengukur, tetapi tertawa bersama peserta lain dan mencoba lagi. Ketika pulang, ia membawa hasil yang belum rapi namun dibuat dengan tangannya sendiri.
Bia merasa bangga bukan karena hasilnya sempurna, melainkan karena ia melakukan sesuatu yang ia pilih untuk dirinya. Ia mulai menyadari bahwa ruang jeda dapat diisi dengan hal-hal baru, bukan hanya dengan menunggu perasaan berubah.
Satria menerima surat penetapan setelah menyetujui perpanjangan yang ditawarkan kepadanya. Penugasannya di kota cabang akan ditambah empat bulan. Ia mengabari Bia langsung, bukan untuk meminta Bia menunggu atau menjawab keputusan hidupnya, melainkan untuk menutup kabar yang sebelumnya masih berupa tawaran.
Bia membaca pesan itu beberapa kali. Ia merasa sedih, tetapi tidak terkejut. Ia membalas bahwa ia berterima kasih Satria memberi kabar dan berharap pekerjaannya berjalan lancar. Setelah itu, ia meletakkan ponsel dan melanjutkan kelas kerajinannya.
Di kelas, Bia belajar menyelesaikan bagian yang sebelumnya salah ia potong. Ia fokus pada ukuran dan jahitan, tetapi pikirannya sesekali kembali pada Satria. Ia tidak ingin berpura-pura bahwa kabar itu tidak memengaruhinya. Namun ia juga tidak ingin membatalkan kegiatan hanya untuk mengurung diri.
Malam harinya, Satria mengirim pesan bertanya apakah Bia bersedia berbicara. Bia menjawab ia bisa menelepon esok malam. Satria menyetujui. Bia ingin percakapan itu berlangsung dengan tenang dan tidak melalui pesan singkat.
Keesokan malam, mereka berbicara melalui video. Satria menjelaskan bahwa ia menerima perpanjangan karena proyeknya belum selesai dan ia merasa bertanggung jawab. Bia berkata ia menghargai kejujurannya, tetapi ia perlu mengakui bahwa hubungan mereka tidak lagi terasa seperti hubungan yang ia inginkan.
Satria bertanya apakah Bia ingin mengakhiri hubungan. Bia menjawab ia ingin berhenti menyebut mereka pasangan. Ia tidak ingin terus berada dalam jeda yang tidak jelas, menunggu sampai salah satu berubah pikiran. Ia masih menyayangi Satria, tetapi ia tidak melihat dirinya menjalani hubungan jarak jauh yang semakin panjang.
Satria diam cukup lama. Ia berkata ia sedih, tetapi memahami. Ia mengakui mereka berdua sudah mencoba memperbaiki komunikasi, namun rasa dekat yang hilang tidak kembali sepenuhnya. Ia tidak ingin memaksa Bia bertahan.
Mereka berbicara tentang kenangan baik dan kesalahan yang pernah terjadi. Bia tidak menyalahkan Satria sepenuhnya. Ia mengakui dirinya juga sering diam dan membiarkan kecewa menumpuk. Satria mengakui ia terlalu lama menganggap pekerjaan sebagai bukti keseriusan, sementara Bia membutuhkan kehadiran.
Mereka sepakat mengakhiri hubungan. Tidak ada tanggal kembali atau janji menunggu. Mereka juga membatalkan rencana pernikahan yang selama ini dihentikan sementara. Satria akan memberitahu keluarganya sendiri, dan Bia akan berbicara kepada Bapak serta Mamak. Mereka tidak pernah menikah; yang berakhir adalah pertunangan dan rencana mereka menjadi suami istri.
Setelah panggilan selesai, Bia menangis. Ia merasa kehilangan, meski ia tahu keputusan itu berasal dari dirinya. Mamak duduk di sampingnya dan memeluknya. Bia berkata ia tidak menyesali hubungan mereka, tetapi ia sedih karena masa depan yang dibayangkan tidak jadi terjadi.
Mamak berkata kesedihan itu wajar. Bia boleh berduka tanpa menganggap keputusan itu salah. Bia mengangguk dan berusaha menerima bahwa dua hal dapat benar sekaligus: ia mencintai Satria, dan ia memilih berhenti.
Sebelum tidur, ia mematikan notifikasi pesan Satria, bukan untuk menghukum, melainkan agar ia tidak terus memeriksa ponsel. Ia ingin memberi dirinya kesempatan untuk bernapas.