Bia memilih tempat makan sederhana untuk pertemuan pertama mereka. Ia tidak ingin suasana terlalu romantis atau membuatnya merasa harus menjawab pertanyaan besar. Nunu datang tepat waktu dan bertanya apakah tempat itu masih nyaman bagi Bia. Ia tidak membawa bunga atau hadiah, sesuai kesepakatan mereka.
Mereka memesan makanan dan mulai berbicara tentang pekerjaan. Nunu bercerita tentang jadwal perjalanan yang mungkin berubah. Bia bertanya bagaimana ia akan menjaga waktu istirahat. Nunu menjawab ia sedang membuat batas agar tidak menerima semua tugas.
Bia menceritakan kerajinan dan keinginannya untuk belajar lebih banyak. Nunu mendengarkan dan bertanya apa yang paling ia nikmati. Bia berkata ia menyukai proses membuat sesuatu dari awal dan melihat hasilnya digunakan orang lain.
Percakapan berjalan ringan. Mereka membicarakan masa kecil, keluarga, dan kebiasaan yang dulu tidak pernah sempat dibahas. Nunu bercerita bahwa ia sering bercanda berlebihan karena takut terlihat gugup. Bia berkata ia dulu merasa tidak tahu kapan Nunu serius dan kapan bercanda.
Nunu mengakui hal itu membuat Bia sulit membaca batasnya. Ia meminta maaf dan berkata ia ingin belajar menyampaikan maksud dengan lebih jelas. Bia menghargai kejujuran itu.
Setelah makan, mereka berjalan sebentar di taman dekat kafe. Nunu bertanya apakah Bia merasa nyaman. Bia menjawab iya, meski sedikit gugup. Ketika Nunu bertanya apakah ia boleh menggenggam tangannya, Bia menggeleng.
'Belum, ya.'
'Oke.' Nunu memasukkan tangannya ke saku dan menyesuaikan langkah. Ia tidak mengubah pertanyaan itu menjadi lelucon atau mencoba lagi ketika mereka melewati bagian taman yang lebih sepi.
Mereka berhenti di bangku dekat jalan keluar. Bia mengeluarkan ponsel untuk memberitahu Mamak bahwa ia akan segera pulang. Ia meletakkan ponsel di sampingnya untuk mengambil tisu dari tas. Ponsel itu meluncur ke ujung bangku saat tasnya digeser. Nunu menangkapnya sebelum jatuh, lalu langsung menyerahkannya kembali. Layar menyala karena pesan masuk, tetapi ia tidak membalikkan ponsel untuk membacanya.
Bia menerima benda itu dan teringat percakapan ketika Nunu mengakui foto yang dihapusnya. Malam itu tidak dapat mengembalikan foto atau kesempatan yang dahulu hilang. Namun kesempatan untuk mengulangi perbuatan tersebut baru saja datang dalam bentuk yang sangat biasa, dan Nunu memilih mengembalikannya.
'Dari Mamak,' kata Bia setelah membaca. 'Dia tanya mau disisakan makanan atau enggak. Padahal tadi sudah kubilang kita makan.'
'Bilang aja gua yang butuh tambahan,' sahut Nunu, lalu cepat-cepat menggeleng. 'Bercanda. Gua enggak akan masuk rumah terus minta makan kedua.'
Bia tertawa. Ia mengetik jawabannya sendiri dan menyimpan ponsel. Ia mengatakan bahwa ia tidak ingin kencan ini dipakai untuk menganggap kesalahan lama sudah hilang. Nunu mengangguk. Ia tidak meminta Bia mengubah penilaiannya karena satu tindakan kecil. Ketika Bia berdiri, ia ikut berdiri dan menunggu sebelum mengajak berjalan ke parkiran.
Sebelum pulang, Nunu bertanya apakah ia boleh mengantar Bia. Bia menerima. Di depan rumah, mereka berpamitan dengan sederhana. Nunu tidak mencoba mencium atau menggenggam tangannya. Bia merasa batasnya dihormati.
Malamnya, Nunu mengirim pesan bahwa ia senang bertemu. Bia membalas bahwa ia juga. Ia merasa kencan itu berjalan baik, tetapi ia tidak ingin segera memutuskan apakah ingin kencan kedua.
Ia menulis di buku catatan bahwa ia merasa nyaman, tertarik, dan tetap waspada. Ia ingin mengingat semua perasaan itu tanpa hanya memilih yang menyenangkan. Bia tahu hubungan yang sehat dibangun dengan melihat kenyataan, bukan hanya harapan.
Keesokan paginya, ia membantu keluarga membuka warung. Ia merasa hari itu tetap berjalan seperti biasa. Kencan semalam bukan perubahan besar yang membuat hidupnya berhenti. Namun ada sesuatu yang baru: ia mulai mengenal Nunu dengan cara yang berbeda.
Bia dan Nunu bertemu lagi beberapa hari kemudian. Kali ini Bia mengusulkan mereka berjalan di sekitar taman kota setelah makan siang. Ia ingin berbicara lebih banyak tentang masa lalu mereka, terutama hal-hal yang pernah membuatnya merasa tertekan.
Nunu mendengarkan ketika Bia menceritakan bahwa ia dulu sering merasa harus menolak rayuan Nunu dengan hati-hati karena takut melukai persahabatan. Ia berkata Nunu beberapa kali mengabaikan permintaannya untuk berhenti memanggilnya calon istri.
Nunu tidak membela diri. Ia berkata ia menganggapnya lelucon, tetapi sekarang ia mengerti bahwa itu membuat Bia merasa tidak didengar. Ia meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya.
Bia bertanya bagaimana ia tahu perubahan itu akan bertahan. Nunu menjawab ia tidak bisa membuktikan semuanya dalam satu percakapan. Ia hanya bisa terus melakukan hal yang benar dan menerima jika Bia masih perlu waktu.
Bia menghargai jawaban itu. Ia tidak ingin meminta Nunu memberi jaminan mustahil. Ia hanya ingin melihat tindakan yang konsisten.
Nunu juga berbicara tentang perasaannya. Ia berkata selama ini ia menempatkan Bia di pusat hidupnya dan mengira cinta berarti tidak pernah menyerah. Kini ia memahami bahwa mencintai seseorang juga berarti menerima batas dan tidak menjadikan ketekunan sebagai alasan untuk menekan.
Bia merasa percakapan itu penting. Ia mengatakan ia pun pernah menghindari kejujuran karena takut kehilangan Nunu sebagai teman. Ia tidak mau lagi mengatakan sesuatu hanya untuk menjaga suasana.
Mereka berjalan cukup lama dan berbicara tentang hal-hal lain. Nunu bercerita tentang masa kuliahnya, Bia tentang keluarga dan rencana kerajinannya. Mereka tertawa beberapa kali. Percakapan terasa lebih dekat karena keduanya berani bicara tentang luka lama.
Sebelum berpisah, Bia berkata ia ingin melanjutkan proses saling mengenal, tetapi tetap perlahan. Nunu menyetujui. Ia tidak bertanya kapan mereka akan menjadi pasangan.
Bia pulang dengan perasaan campur aduk. Ada bagian yang merasa lega karena Nunu mendengarkan tanpa defensif. Ada juga bagian yang takut mereka mengulang pola lama. Ia bercerita kepada Mamak dan berkata ia ingin melanjutkan kencan, tetapi belum siap memberi label.
Mamak bertanya apakah Bia merasa aman. Bia menjawab iya, sejauh ini. Mamak mengingatkan ia bisa berhenti kapan saja. Bia merasa didukung.
Malam itu ia menulis bahwa masa lalu tidak hilang, tetapi bisa dibicarakan. Ia ingin melihat apakah Nunu mampu mempertahankan perubahan ketika percakapan tidak lagi serius dan ketika ia kecewa. Ia tidak menuntut kesempurnaan; ia hanya ingin rasa hormat menjadi kebiasaan.