Memasuki pekan terakhir persiapan pameran, ruang kerja Bia dipenuhi kain, benang, kotak, dan kertas catatan. Ia menempelkan jadwal di dinding agar dapat melihat seluruh tahapan sekaligus. Riska membantu menyusun daftar biaya, sementara Mamak menyiapkan makanan supaya Bia tidak melewatkan jam makan. Bia merasa disokong, tetapi ia tetap memegang kendali atas desain dan jumlah produk yang akan dibawa.
Penyelenggara pameran mengirim informasi bahwa peserta boleh berbagi meja dengan seorang pendamping. Sanah langsung menawarkan diri menemani Bia. Mereka membagi tugas: Bia menangani produk dan transaksi, Sanah membantu mencatat pesanan dan berbicara dengan pengunjung jika meja sedang ramai. Bia berterima kasih, tetapi juga menjelaskan bahwa ia ingin berlatih menjawab pertanyaan sendiri. Sanah setuju untuk memberi ruang, sambil tetap siap membantu bila diminta.
Nunu berada di luar kota ketika kabar pameran itu datang. Ia meminta Bia mengirim rincian tanggal dan lokasi. Setelah melihat jadwalnya, ia mengatakan kemungkinan besar ia sedang bertugas pada hari pertama, tetapi bisa saja pulang sebelum pameran selesai. Bia menjawab ia akan senang jika ia datang, namun Sanah sudah menjadi rencana pendamping. Nunu menyukai bahwa Bia tidak menggantungkan acara pada jadwalnya.
Beberapa hari kemudian, penyelenggara mengumumkan peserta akan mendapat ruang penyimpanan bersama yang terkunci. Bia tetap bertanya tentang akses dan waktu bongkar muat. Ia tidak ingin tiba di kota tanpa mengetahui cara mengangkut barang ke gedung. Setelah mendapat jawaban, ia dan Sanah menyusun rencana perjalanan. Mereka memilih berangkat sehari sebelumnya agar dapat beristirahat dan menata meja dengan tenang.
Pada malam sebelum keberangkatan, Bia merasa sulit tidur. Ia memeriksa kembali daftar barang, menghitung uang tunai, dan memastikan alat pembayaran digitalnya berfungsi. Mamak menyuruhnya berhenti mengecek hal yang sama berulang kali. Bia tertawa, tetapi masih perlu waktu untuk menenangkan diri. Ia mengirim pesan kepada Sanah dan mendapat balasan bahwa semua sudah siap.
Nunu menelepon singkat dari kota tugas. Ia tidak bisa hadir mengantar, tetapi ingin mendoakan Bia secara langsung. Bia bercerita ia gugup. Nunu tidak mengatakan bahwa semuanya pasti sempurna. Ia justru mengingatkan bahwa pameran bisa berjalan dengan berbagai cara, dan Bia sudah menyiapkan langkah yang bisa ia kendalikan. Bia merasa dukungan itu jujur dan menenangkan.
Keesokan pagi, Bia dan Sanah berangkat. Mereka membawa kotak-kotak dengan hati-hati, lalu tiba di penginapan kecil dekat gedung pameran. Setelah meletakkan barang, Bia berjalan ke lokasi untuk melihat meja yang akan digunakan. Ruang itu lebih besar daripada bazar sebelumnya, dengan peserta dari berbagai daerah. Ia merasakan gugup kembali, tetapi kali ini ia tidak menganggapnya tanda bahwa ia tidak mampu.
Saat tiba, mereka mendapati lorong menuju ruang pameran sedang direnovasi sebagian. Bia sempat khawatir kotak-kotak sulit dibawa, tetapi petugas memberi jalur alternatif. Mereka mengangkut barang secara bertahap dan meminta troli yang tersedia. Tidak semuanya lancar, namun mereka menyelesaikannya tanpa panik. Bia menyadari kesiapan bukan berarti tidak ada kendala; kesiapan memberinya cukup ruang untuk mencari cara ketika kendala muncul.
Mereka menata meja sampai sore. Bia memasang kartu nama, label harga, dan contoh bahan yang bisa disentuh pengunjung. Sanah membantu mengambil foto, lalu menunjukkan hasilnya kepada Bia. Meja itu terlihat rapi dan mencerminkan kerja kerasnya. Bia mengirim satu foto kepada Nunu. Ia membalas dengan kalimat singkat bahwa ia berharap Bia menikmati prosesnya, bukan hanya memikirkan hasil.
Malam itu Bia dan Sanah makan di warung dekat penginapan. Mereka membicarakan strategi besok: tetap ramah, mencatat pertanyaan yang sering muncul, dan beristirahat bergantian jika perlu. Bia merasa lebih tenang karena ia tidak menghadapi acara itu sendirian, tetapi keberhasilan dan keputusan tetap berada di tangannya. Saat kembali ke kamar, ia menyimpan ponsel dan tidur lebih cepat daripada malam sebelumnya.
Pameran dibuka pukul sembilan. Bia dan Sanah tiba lebih awal untuk memastikan semua barang masih tertata. Bia merapikan beberapa produk yang bergeser selama malam, lalu berdiri di belakang meja dengan napas panjang. Pengunjung mulai berdatangan sedikit demi sedikit. Ada yang berjalan cepat, ada yang berhenti untuk melihat kain dan jahitan.
Pada jam pertama, belum ada transaksi. Bia merasa suasana yang luas membuatnya lebih kecil dibandingkan bazar sebelumnya. Ia melihat peserta lain menyapa pengunjung dengan percaya diri dan sempat bertanya apakah produknya cukup menarik. Sanah mengingatkan mereka sudah datang untuk memperkenalkan karya, bukan membandingkan diri dengan setiap meja. Bia menarik napas dan kembali fokus pada orang yang berhenti.
Seorang perempuan muda mengangkat dompet kain berwarna hijau tua dan bertanya apakah ukurannya bisa dibuat sedikit lebih besar. Bia menjelaskan pilihan ukuran serta perbedaan harga. Ia mencatat kebutuhan perempuan itu dan meminta nomor kontak jika pelanggan bersedia. Perempuan itu tidak langsung membeli, tetapi meminta Bia mengirim rincian setelah pameran. Bia tidak menganggapnya penolakan. Ia menulis detail pesanan dengan lengkap.
Menjelang siang, seorang pemilik toko kecil tertarik pada tas bersulam. Ia bertanya apakah Bia sanggup memproduksi dalam jumlah banyak untuk dijual kembali. Bia menjawab ia terbuka membicarakan kerja sama, tetapi perlu mengetahui jumlah, tenggat, dan cara pembayaran sebelum menyanggupi. Pemilik toko itu menghargai jawabannya dan memberikan kartu nama. Setelah ia pergi, Bia mencatat percakapan tersebut, termasuk pertanyaan yang perlu ia ajukan bila mereka menghubunginya.
Pada tengah hari, Bia makan sebentar di belakang meja. Ia memilih produk yang terjual beberapa buah dan melihat jumlah uang yang masuk. Hasilnya belum besar, tetapi pengunjung lebih banyak bertanya dibandingkan pada bazar pertama. Ia merasa mulai memahami bahwa pameran juga dapat menjadi tempat belajar tentang pasar dan kebutuhan orang.
Nunu mengirim pesan dari perjalanan kerja. Ia menanyakan keadaan acara dan mengatakan ia mungkin bisa datang pada hari kedua jika rapatnya selesai tepat waktu. Bia menjawab ia akan senang bertemu, tetapi ia tidak tahu apakah jadwal Nunu memungkinkan. Ia kembali menyambut pengunjung tanpa mengawasi layar. Sore itu, Nunu mengabari bahwa rapat berakhir terlambat dan ia tidak akan sempat datang. Bia merasa kecewa, lalu menulis bahwa ia mengerti dan akan bercerita nanti.
Malamnya, Nunu menelepon setelah Bia dan Sanah kembali ke penginapan. Bia mengaku ia berharap melihat Nunu, terutama karena acara terasa menegangkan. Nunu meminta maaf ia tidak bisa datang, tetapi tidak menjanjikan akan mengganti dengan sesuatu yang besar. Ia bertanya apa bagian paling sulit dari hari itu. Bia menceritakan percakapan dengan pemilik toko dan kekhawatirannya tentang skala pesanan.
Nunu mendengarkan, lalu bertanya apakah Bia ingin pendapat atau hanya ingin didengar. Bia memilih bercerita dulu. Ia menjelaskan bahwa ia tertarik pada peluang itu, tetapi takut kehilangan kendali atas produksi jika menerima terlalu banyak. Setelah selesai, ia meminta Nunu membantunya melihat pertanyaan apa yang perlu ia ajukan. Nunu menyebut tenggat, uang muka, contoh produk, dan apakah toko bersedia menerima pengiriman bertahap. Bia mencatatnya.
Sanah mengingatkan Bia sudah waktunya tidur. Bia menutup panggilan dan beristirahat. Hari pertama pameran telah selesai, namun ia sudah menghadapi beberapa hal yang membuatnya gugup. Ia merasa lebih percaya diri karena mampu membuat keputusan dan meminta dukungan tanpa menyerahkan tanggung jawabnya kepada orang lain.