Aksara memuat novel & drama bertema dewasa (romansa, kekerasan). Dengan lanjut, kamu menyatakan berusia 17 tahun atau lebih.

oleh Muhammad Ridho Al-Rasyid
Hai, Perkenalkan aku adalah seorang pemimpi yang ingin berekspetasi tinggi. Setiap malam ketika bulan terlelap dalam tidurnya, aku membiarkan pikiranku melayang bebas ke angkasa. Di sana aku bertemu dengan semua mimpiku yang ingin sangat ku capai.Sejak kecil, aku selalu dibesarkan dengan sebuah cerita tentang kerasnya hidup di masa depan. Aku diajarkan bahwa kita harus tahu bagaimana cara menggapai impian, harus berani berjuang di tengah ketidakpastian, dan siap menghadapi rintangan yang sering kali terlihat begitu gelap untuk dilihat. Namun, seiring berjalannya waktu, mimpi-mimpi itu kadang terasa jauh dan tak terjangkau.Namun, di balik jauhnya mimpi-mimpi itu, ada sesuatu yang selalu membuatku bertahan: sebuah keyakinan kecil yang diam-diam tumbuh di dalam hati. Keyakinan bahwa sejauh apa pun mimpi itu berlari, aku masih bisa mengejarnya, selangkah demi selangkah.Kadang aku lelah. Kadang aku ragu. Dunia nyata tidak seindah langit malam tempat aku biasa berkhayal. Ia keras, penuh batas, dan sering kali tidak memberi ruang bagi seorang pemimpi sepertiku. Tapi setiap kali aku hampir menyerah, aku kembali mengingat diriku yang dulu—anak kecil yang dengan polosnya percaya bahwa tidak ada yang mustahil.Aku mulai belajar bahwa mimpi bukan hanya tentang hasil akhir, tapi tentang perjalanan yang harus dilalui. Tentang jatuh dan bangkit, tentang kehilangan arah lalu menemukannya kembali. Mimpi memang terasa jauh, tapi mungkin itu karena aku belum cukup berjalan.Di suatu malam yang sunyi, saat aku kembali “bertemu” dengan mimpiku di langit khayalan, aku tidak lagi hanya memandangnya dengan kagum. Kali ini, aku mendekat. Aku menyentuhnya, meski hanya sebentar. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa mimpi itu bukan lagi sesuatu yang mustahil.Aku menyadari bahwa langit khayalan adalah tempat terbaik untuk memetakan tujuan, namun bumi tempat kita berpijak adalah medan perjuangan sesungguhnya. Aku mulai menyusun strategi kecil, memecah gunung impian menjadi langkah-langkah harian yang realistis. Setiap pagi, aku bangun dengan tekad baru. Aku tidak lagi hanya membayangkan garis finis, melainkan menikmati setiap tetes keringat yang jatuh di proses ini. Ada hari-hari di mana aku harus belajar hal baru, menghadapi penolakan, atau merelakan hal-hal yang nyaman demi sebuah tujuan yang lebih besar.Ternyata, rasa lelah itu wajar, tetapi menyerah adalah sebuah pilihan. Ketika keraguan datang menyapa, aku memeluknya sebagai bagian dari proses pendewasaan diri. Aku berkata pada diriku sendiri bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan batu loncatan untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh dan bijaksana.Sejak saat itu, aku tidak hanya menjadi seorang pemimpi. Aku menjadi seseorang yang berani melangkah menuju mimpinya. Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika aku melihat ke belakang, aku akan tersenyum dan berkata, “Aku tidak hanya bermimpi. Aku mewujudkannya.”ic_default
Karena kamu suka Keseharian, mungkin kamu suka ini juga:

kheisya
Keseharian · Romansa