Aksara memuat novel & drama bertema dewasa (romansa, kekerasan). Dengan lanjut, kamu menyatakan berusia 17 tahun atau lebih.

oleh kheisya
Seperti pagi-pagi pada umumnya, Aisyah melangkah menuju masjid dengan langkah ringan, meski hatinya penuh dengan berbagai macam perasaan yang sulit dijelaskan. Perjalanan dari rumahnya menuju masjid hanya memakan waktu lima menit, namun bagi Aisyah, lima menit itu terasa seperti perjalanan yang panjang. Terkadang ia berpikir bahwa setiap langkahnya menuju masjid adalah langkah yang membawa harapan. Harapan untuk menemukan kedamaian dalam setiap doa, harapan untuk mendapatkan jawaban atas setiap pertanyaan hidup yang selama ini membayangi pikirannya.Hari itu, seperti biasa, Aisyah mengenakan jilbab panjang berwarna putih yang menutupi seluruh tubuhnya, meninggalkan hanya wajahnya yang terlihat. Di tangannya, ia memegang tas kecil berwarna coklat yang sudah tampak usang, namun baginya tas itu adalah simbol dari kesederhanaan hidup yang selalu ia junjung. Sebagai seorang mahasiswi yang baru saja selesai kuliah, Aisyah merasa bahwa hidupnya belum sepenuhnya menemukan arah yang jelas. Ia selalu merasa ada sesuatu yang hilang, entah itu ketenangan, kebahagiaan, atau kedamaian batin. Satu-satunya tempat di mana ia merasa sedikit lebih tenang adalah masjid ini.Masjid yang terletak di ujung desa, meskipun tidak besar, namun selalu dipenuhi dengan orang-orang yang ingin menenangkan hati mereka. Masjid itu juga menjadi tempat di mana Aisyah merasa dekat dengan Allah, tempat ia bisa mengadu, bertanya, dan meminta petunjuk. Setiap kali masuk ke dalam masjid, Aisyah selalu merasa seperti menemukan tempat yang tepat untuk bertemu dengan dirinya sendiri.Saat memasuki masjid, Aisyah melihat seorang pemuda sedang menyapu halaman depan masjid. Pemuda itu tampak begitu tenang dan penuh ketulusan dalam setiap gerakannya. Ia mengenakan pakaian serba sederhana, dengan celana panjang hitam dan kaos oblong berwarna abu-abu. Wajahnya yang tampan tampak serius, tetapi ada senyuman yang tersirat di matanya. Mata itu, bagi Aisyah, seperti menyimpan banyak cerita yang belum terungkapkan. Pemuda itu bukanlah sosok yang asing bagi Aisyah. Namanya Rasyid. Ia sering terlihat di masjid ini, namun lebih sering bekerja di belakang layar—membersihkan, menyapu, dan melakukan hal-hal yang tidak pernah menjadi sorotan banyak orang.Aisyah tidak tahu mengapa, tetapi ada sesuatu dalam diri Rasyid yang membuatnya penasaran. Meskipun mereka tidak pernah berbicara banyak, Aisyah sering kali merasa ada koneksi yang tak terucap di antara mereka berdua. Sesuatu yang lebih dari sekadar tatapan biasa. Setiap kali ia melihat Rasyid, ia merasa seperti ada yang mengingatkan dirinya untuk menjadi lebih baik, untuk lebih dekat dengan Tuhan. Namun, ia tidak tahu apakah perasaan itu hanya ilusi semata ataukah sesuatu yang lebih mendalam.Hari itu, seperti biasanya, Aisyah melangkah menuju masjid untuk mengikuti kajian agama pagi. Ia berharap bisa menemukan sedikit ketenangan setelah minggu-minggu yang penuh dengan ujian kuliah yang menyita perhatian dan waktu. Namun, ada yang berbeda. Ketika Aisyah masuk ke dalam masjid, ia melihat Rasyid sedang duduk di sudut masjid, memegang Al-Qur'an. Ia tampak sangat fokus, seolah dunia di sekitarnya tidak ada. Suasana di dalam masjid yang hening semakin mendalam, terasa seakan dunia berhenti berputar sejenak. Aisyah merasa ada sesuatu yang membuatnya tersentuh melihat Rasyid, meski ia tidak mengerti apa yang dirasakannya.Setelah kajian selesai, Aisyah keluar dari masjid dan tidak sengaja menabrak Rasyid yang sedang berjalan ke dalam. "Astaghfirullah," kata Aisyah dengan cepat, merasa canggung. Rasyid menoleh, senyum lembut tersungging di bibirnya."Maaf, Aisyah. Tidak sengaja," kata Rasyid, suaranya tenang dan dalam, namun ada sesuatu yang menghangatkan hati Aisyah ketika mendengarnya."Tidak apa-apa, Rasyid," jawab Aisyah dengan sedikit gugup. Ia tidak tahu mengapa, tetapi hatinya berdebar lebih cepat dari biasanya.Rasyid hanya tersenyum dan kemudian melanjutkan langkahnya. Aisyah terdiam sesaat, merasa seolah-olah ada sesuatu yang harus ia perhatikan lebih dalam tentang pemuda itu. Hatinya merasa penasaran, tapi sekaligus ragu. Rasyid adalah sosok yang berbeda dengan pemuda lain yang pernah ia kenal. Ia tidak terlihat seperti orang yang mengejar status atau kedudukan. Ia adalah sosok yang sederhana, yang lebih memilih menjalani hidup dengan cara yang diam-diam.ic_default
Karena kamu suka Romansa · Keseharian, mungkin kamu suka ini juga:
Romansa