"Abi hari ini kerja sampai jam berapa?" Tanya seorang gadis yang kini tengah mengunyah nasi gorengnya.
"Lembur nak, pulangnya malam," Jawab lelaki yang di panggilnya 'Abi' ini.
"Jadi pulang sama Mas Kinan lagi dong?" Tanya si gadis dengan nada kecewa.
Lelaki tersebut mengangguk.
"Maaf yah, belum bisa jemput Adek tiap hari lagi," Ucap lelaki tersebut
"Abi, jangan terlalu memaksakan untuk bekerja. Kalau capek istrahat yah, jangan sampai Abi sakit karena kurang istrahat," Ucap gadis tersebut.
"Abi mu kalau di bilangin mah nggak akan dengar, paling dia ngomong konsisten dalam bekerja dan amanah. Padahal sudah tau kesehatan nomor satu."
"Ummi rajin mengadu yah," Ucap lelaki tersebut terkekeh
"Ummi, lagi ngapain?" Ucap seorang lelaki muda yang baru saja keluar dari kamarnya sembari membawa kaos kaki di tangannya.
"Urus bekal untuk tiga buntut Ummi," Ucap wanita tersebut.
"Hehe..boleh titip s**u coklat satu?" Ucap lelaki itu lagi.
"Minta tolong Adek dulu, ini tanggung kalau di tinggalin," Jawab wanita tersebut.
"Dek" Ucap lelaki tersebut.
"Iyaiya..tapi cuciin piring adek, kita barter yah Mas" ucap gadis muda itu lalu berdiri menyimpan piringnya di westafel.
"Iya sana cepetan di buatkan" ucap lelaki itu lagi.
Yah inilah kegiatan setiap pagi di keluarga Bapak Ikhsan, seorang kepala mandor bangunan yang berusaha memberikan waktu untuk keluarganya di pagi maupun malam hari.
"Mas Kinan, ponsel mu jangan sering di matikan. Adek semalam pulang telat karena ponsel mu nggak aktif" Ucap Ikhsan.
"Iya maaf Abi. Semalam Mas dari ngurus skripsi di rumah teman, ponsel Mas lowbet," Jawab Kinan penuh sesal.
"Kapan kamu kenalin calon istri ke Ummi dan Abi?" Tanya Aisya--Ummi Kinan dan juga Nafla dengan tiba-tiba.
"Loh..kok tiba-tiba nanyain itu? Kan sudah Kinan bilang selesai kuliah baru bisa fokus cari jodoh" Jawab Kinan
"Yah..kenapa nggak sekalian aja? Kan kamu udah ada usaha kecil-kecilan," Ucap Aisya
"Suruh Adek dulu deh" Ucap Kinan menatap punggung adiknya yang tengah fokus membuatkan s**u coklat untuknya.
Mendengar namanya di sebut, Nafla spontan berbalik dan menatap kedua orang tersebut.
"Naf, masih kecil. Baru sembilan belas tahun. Kuliah aja baru dua tahun," Ucap Nafla komplen.
"Eh jodoh mah nggak mau tahu usia mu berapa, kalau sudah di kehendaki sama Allah nggak bisa lari kamu," Celetuk Ikhsan
"Yaa Allah, Abi mendukung loh Dek," ucap Kinan mengompori pembicaraan ini.
"Kan Mas Kinan yang di tanyain perihal jodoh, kok malah Nafla yang di bawa-bawa sih," Ucap Nafla lalu membawa s**u hangat tersebut di hadapan Kinan.
"Iya kan siapa tahu kamu ada yang mau," Ucap Kinan.
"Amiin yaa Allah," Ucap Ikhsan teriak dari halaman belakang sembari tertawa.
"Abii..jangan di bercandain," Jawab Nafla merajuk.
.
.
"Hari ini ujian blok?" Tanya Kinan yang tengah fokus menyetir.
"Iya Mas," Jawab Nafla yang kini fokus membaca bukunya.
"Yaudah bentar kalau mau balik, telpon Mas saja" Ucap Kinan
"Iya" Ucap Nafla lagi
"Bagaimana urusan Mas di kampus?" Tanya Nafla.
Kinan mendengus kesal "Pembimbing ku sulit sekali di temui Dek, dia sembunyi melulu atau memang malas masuk kampus yang jelas ponselnya saja sulit untuk di hubungi alamatnya juga sudah seperti alamat fiktif. Gimana mau wisuda cepat kalau pembimbingnya lari-lari gitu," Ucap Kinan mengeluh.
"Sabar Mas, mungkin beliau punya banyak urusan" Jawab Nafla.
"Gimana yah Dek, beliau itu orang paling disiplin dan tepat waktu. Mas sedikit buat masalah sama beliau" Ucap Kinan pelan.
"Yah..salah siapa dong? Salah Mas juga kan? Minta maaf kek Mas. Aduh gimana sih," Ucap Nafla gemas.
"Iya-iya, Mas belum ngumpul keberanian. Beliau itu sebenarnya baik, hanya tunggu momen aku minta maaf aja tapi takut. Akhirnya yah gini deh,"Jawab Kinan
"Yah kalau sampe kampus, langsung aja Mas temui dan masalahnya di bicarakan dengan baik biar cepat kelar dan nggak ada kesalah pahaman," Ucap Nafla lagi
"In syaa Allah," Jawab Kinan.
Mereka berdua lalu terdiam beberapa menit, hingga Nafla kembali membuka suara.
"Mas, bagaimana kalau Naf kerja paruh waktu buat membiyayai kuliah Nafla sendiri?" Tanya Nafla lalu menatap Kakaknya.
"Nggak boleh, kamu perempuan. Allah Azza wa jalla berfirman: "Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul- Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." Surah Al-azhab ayat 33 buka ponsel mu untuk memastikan. Abi semata-mata mengizinkan mu kuliah untuk menimba ilmu karena kamu akan mejadi Ibu kelak. Dan kerja paruh waktu tidak akan di izinkan oleh Abi dan Mas, fungsi Mas belum nikah sampai sekarang karena tunggu kamu tamat dulu biar biayaya kuliah mu masih bisa Mas bayarkan jadi nggak usah mikir kejauhan mau kerja dan lain-lain fokus kuliah aja sana dan jaga kepercayaan keluarga dan juga Allah," ucap Kinan panjang lebar.
"MasyaAllah.. Mas buat aku terharu tahu nggak," Ucap Nafla berkaca-kaca.
"Iya..jangan lambat-lambat kuliahnya, nanti Mas lama nikahnya," Jawab Kinan terkekeh geli.
"Iya Mas iya."
Setelah sampai, Nafla lalu menyalami tangan Kinan dan keluar dari mobil “Semangat Mas, semoga urusan mu berjalan lancar,” Ujar Nafla sebelum turun.
Kinan mengangguk.
“Iya, semoga ujian mu juga lancar,” Ujar Kinan
Sepeninggal Nafla, Kinan melihat seorang yang sepertinya ia kenali dan untuk memastikan itu lelaki tersebut menurunkan kaca mobilnya.
“Permisi, Paman Anto yah?” Tanya Kinan sopan.
Lelaki yang di sebut Anto ini menoleh dan menatap Kinan. Kinan tersenyum lebar lalu keluar dari mobilnya dan menyalami tangan lelaki ini.
“MasyaAllah nak Kinan, kita sampai bertemu di sini yah? Kamu ngapain di sini nak?” Tanya Anto.
Kinan tersenyum lalu menjawab pertanyaan Anto “Saya antar Nafla Paman, kalau Paman sendiri ngapain ke sini?” Tanya Kinan.
“Oh itu, saya ke sini mau bawa laporan yang di minta sama Bapak Bhyakta,” Ujar Anto.
Bhyakta dosennya? Apakah mungkin? Tapi sepertinya tidak.
“Bagaimana kabar Paman?” Tanya Kinan basa-basi.
“Alhamdulilah baik nak.”
“Yaudah Nan, saya mau balik ke lokasi proyek dulu. Kamu pulangnya jangan ngebut-ngebut loh,” sambung Anto,”
Kinan mengangguk.