"Oii Kinan, ngapain ke kampus? Tumben," Ucap salah seorang lelaki ketika melihat sahabatnya yang kini bertemu dengannya.
"Mau ketemu Pak Bhyakta, kira-kira beliau ada nggak di kampus?" Tanya Kinan dengan lesuh.
"Ada..lagi ngajar di kelas junior tingkat tiga"Jawab lelaki itu lagi.
"Baru dapat keberanian minta maaf sama beliau?" Sambungnya.
"Iya, Ri. Tadi Nafla ngomel di mobil karena gue baru cerita semuanya ke dia," Ucap Kinan.
"Calon istri gue gimana kabarnya?" Tanya Fahri.
Kinan langsung menoyor kepala Fahri.
"Punya hafalan berapa jus? Yakin lu setia? Bisa jaga amanah gak lu?" Ucap Kinan panjang lebar.
Fahri terkekeh geli sembari berucap "Gue lagi berusaha Nan, gue tahu lu lelaki kayak apa jadi mau yang terbaik buat adik lu, bahkan untuk melakukan hal salah kepada wanita saja takut alasannya takut Nafla kena karma."
"Karena Nafla wanita setelah Ummi yang gue lindungi. Seenggaknya bukan karena perbuatan buruk gue dia harus menanggung pil pahit," Jawab Kinan.
"Makanya Nafla jadi gadis impian para perjaka kampus yah, selain cantik dan pintar nilai plusnya Nafla juga ternyata agamis hasil didikan abangnya juga kok. Jadi semangat tambah hafalan" Ucap Fahri terkekeh.
"Perbaiki niat Ri, sakit kalau seandainya Allah nggak mengabulkan keinginan lu karena niat lu dari awal aja udah salah" ucap Kinan lalu berdiri meninggalkan sahabatnya yang kini termenung.
Bukan menjadi rahasia lagi, kalau Fahri benar-benar jatuh cinta kepada Nafla adik sahabatnya kini.
"Semoga Allah menjodohkan gue sama adik lu yah Nan," ucap Fahri bermonolog sembari menatap punggung Kinan.
.
.
"Pak..mohon maaf, saya-" Ucap Kinan gantung.
"Judul kamu sudah saya acc," Ucap lelaki di hadapannya kini.
"Silahkan tentukan isinya, dan cari waktu untuk bimbingan," Sambungnya lagi.
"Pak" Ucap Kinan kehabisan kata-kata.
"Saya tahu tujuan mu kemari untuk meminta maaf perihal kemarin. Sudah saya maafkan, semoga menjadi pembelajaran yah Kinan," Uccap lelaki di hadapan Kinan lagi.
Ingin rasanya Kinan memeluk tubuh lelaki yang berada di hadapannya kini.
"Pak, Bapak terlalu baik untuk memaafkan saya," Jawab Kinan berkaca-kaca.
"Kinan, berterimakasih kepada Abi mu yah. Saya suka ide yang kamu beri untuk beberapa bangunan yang di kerjakan oleh beliau."
Kinan teringat dengan beberapa gambar bangunan yang di terima Abinya, bahkan dia sedikit mengoreksi beberapa jenis material dan juga model, agar bangunan tersebut kokoh. Dan tanpa di sangka-sangka Bhyakta adalah atasan Abinya.
"Jadi Bapak atasan yang sering Abi ceritakan itu?" Tanya Kinan memastikan.
Bhyakta mengangguk "Mungkin" Ujar Bhyakta.
"MasyaAllah Pak, bapak benar-benar baik. Terimakasih banyak Pak sekali lagi" Ucap Kinan.
"Mohon maaf lancang Pak, dengan hormat saya mengundang Bapak untuk makan malam bersama dengan keluarga saya Pak. Karena, Abi sedang mencari waktu untuk mengundang Bapak ke rumah kami, tapi belum sempat karena takut Bapak sibuk," Ucap Kinan penuh keberanian.
Bhyakta sedikit berpikir lalu mengangguk.
"Mungkin, saya bisa tapi tidak sendiri. Saya bersama anak saya dan susternya" Sambung Bhyakta.
Kinan menatap wajah Bhyakta dengan tatapan tanya dan segara mengubah ekspresinya dengan cepat.
"Tidak mengapa Pak, kalau perlu saya yang jemput Bapak," ucap Kinan tersenyum.
"Tidak perlu Kinan, saya tahu kok rumah mu di mana dan jangan berlebihan menanggapi hal ini karena ini samata-mata saya lakukan karena Abi mu" Ucap Bhyakta.
.
.
"Bagaimana ceritanya kamu bisa undang Pak Bhyakta kemari? Padahal Abi rencana dari jauh-jauh hari loh tapi belum terlaksana juga," Tanya Ikhsan.
"Panjang ceritanya Abi, nanti saja Kinan ceritakan. Ummi mau di bantu apalagi?" Tanya Kinan.
"Ambil piring dan juga sendok di lemari, habis itu di cuci," Ucap Aisya.
"Siap Ummi," ucap Kinan.
Setelah semuanya siap, mereka lalu menunggu kedatangan Bhyakta. Hingga yang di tunggu-tunggu datang bersamaan dengan seorang gadis muda.
"Assalamualaikum Ummi," Ucap wanita tersebut menciumi tangan Aisya.
"Waalaikumsalam, eh geser dikit Dek" ucap Aisya lalu menatap lelaki yang baru saja turun dari mobil bersama anaknya dan juga seorang wanita yang masih berpakaian rapi.
"MasyaAllah..Pak Bhyakta suatu kehormatan Bapak bisa memenuhi undangan kami" Ucap Ikhsan menyambut tamunya tersebut dengan hangat.
"Masuk Dek, mandi lalu turun buat makan malam bareng" Suruh Aisya berbisik.
Nafla mengangguk lalu masuk terlebih dahulu masuk ke dalam.
"Ummi, nggak tanya Adek kenapa pakai masker?" Tanya Ikhsan khawatir.
"Lupa Bi," Ucap Aisya dan tentu saja masih di dengar oleh Bhyakta.
"Mari Pak masuk, anggap saja rumah sendiri," Ucap Ikhsan.
Bhyakta tersenyum kaku lalu mengangguk.
"Tolong yah, Alika di jaga sebentar." Ucap Bhyakta berbisik kepada Berlian
Berlian mengangguk sebagai jawaban, lalu duduk di kursi ruang tamu rumah ini.
"Mohon maaf yah Pak, menu kami sederhana sekali."
Bhyakta tersenyum haru.
"Pak Ikhsan, ini masakan rumahan yang sangat saya rindukan. Sudah lama saya tidak makan masakan seperti ini d rumah orang tua saya," Ucap Bhyakta.
'Semenjak kehadiran Alika pastinya' sambungnya membatin.
"Orang tua Bapak jauh?" Tanya Kinan
Dan spontan Ikhsan menginjak kaki anaknya tersebut, itu adalah privasi keluarga Bhyakta.
"Alhamdulilah masih di kota yang sama" Ucap Bhyakta.
Kinan benar-benar merutuki dirinya karena pertanyaan yang dia lontarkan.
"Loh Dedeknya kok nggak ikut makan sih? Tunggu yah, Ummi ambil Dedeknya dan panggil susternya. Kursi makan Qila masih ada kok, nggak di bawa pulang" Ucap Aisya
"Maaf Bu, tidak perlu. Anak saya sedikit nakal, nanti buat kekacauan" Jawab Bhyakta tak enak hati
"Lohloh, nggak apa-apa kok. Namananya juga anak kecil" ucap Aisya
Bhyakta sedikit terdiam, lalu membuka suara haruska lagi dia menjelaskan keadaan Alika secara detail? Bagaimana jika mereka tiba-tiba merasa jijik atau sebagainya? Tapi tidak dia harus menjelaskannya.
"Anak saya punya kelainan dan itu bawaan lahir Bu, bukan karena dia anak kecil. Dia beda dari anak-anak pada umumnya" Ucap Bhyakta pelan
Suasana ruang makan sedikit hening, bahkan Kinan tak bersuara sama sekali dan pada akhirnya Aisya membuka suara.
"Si kecil adalah titipan Allah yang paling istimewa dari yang lain. Jadi, jangan anggap dia kurang yah Pak dia anak banyak kelebihan," Ucap Aisya yang sukses membuat Bhyakta terharu.
Sejauh ini, tak ada orang yang mau menerima keadaan dan kekurangan anaknya bahkan orang tuanya sekali pun. Namun, hal berbeda justru di rasakannya ketika Alika mampu di terima baik oleh keluarga ini.
"Nah..ini dia Dedeknya nggak nakal kok," Ucap Aisya yang kini tengah menggendong Alika.
"Ayo Mbak duduk, makan bareng-bareng," Ucap Ikhsan kepada Berlian.
"Bapak, ini menu favorit keluarga kami mau di coba?" Tanya Kinan penuh antusias.
"Wah..boleh-boleh"Jawab Bhyakta.
Kinan lalu menarik piring Bhyakta dan mengambil lauk tersebut di piring Bhyakta. Rasanya, kehangatan keluarga yang sudah tidak pernah lagi dia rasakan, kali ini di rasakannya kembali.
Hingga sosok gadis muda, turun dengan menggunakan gamis mocca dan juga kerudung senada membuat semua tatapan tertuju padanya.
"Sini yuk, makan bareng," Ucap Ikhsan kepada putrinya.
"Sudah Abi, di hajatan tujuh bulanan Putri tadi" ucap Nafla.
"Kenapa pakai masker?" Tanya Kinan.
"Lagi flu" ucap Nafla lalu tatapannya tertuju kepada seorang anak yang tengah duduk di kursi makan milik Qila anak dari kakak pertamanya yang tinggal tidak jauh dari rumah mereka.
"MasyaAllah, anak siapa Ummi? Cantik sekali," Ucap Nafla.
Sementara yang lain hanya terkekeh mendengar Nafla bersuara.
"Anaknya Pak Bhyakta" ucap Iksan.
"Sini ayo sama tante, main yuk," ucap Nafla lalu menggendong tubuh Alika sementara itu si kecil Alika terlihat tertawa bahagia.
"Eh..kaldu ayam sisa makanan Qila masih ada loh masih baru juga, kita buatkan makanan untuk Alika yuk," Ucap Aisya
"Ayoo," Balas Nafla tak kalah girang.
"Ehh..sudah izin sama orang tuanya belum?" Tanya Ikhsan.
"Tau ih..anak orang langsung di monopoli begitu saja," Ucap Kinan komplen.
Bhyakta terkekeh.
"Boleh nggak Pak Bhyakta? Apa mungkin si Dedeknya sudah makan apa gimana?" Tanya Aisya.
"Silahkan Bu Aisya, Alika paling suka kalau ada temannya dan di ajak main kalau masalah makan coba di tanya sama susternya," ucap Bhyakta
"Belum Bu, rencana nanti balik rumah Alika makannya," Jawab Berlian
"Ayo Dek, kita buat makanan untuk kamu," Ucap Nafla
Selepas kedua orang ini hilang dari pandangan mereka, Ikhsan membuka suara "Maaf yah Pak, mereka berdua memang suka nggak tahan kalau lihat anak kecil," Ucap Ikhsan tak enak.
"MasyaAllah, saya justru bahagia Pak Ikhsan kalau seandainya Alika di terima baik sama keluarga Bapak. Karena sejauh ini, Alika tidak bisa di terima oleh siapa pun yang mengetahui kondisi dan juga keadaannya," Ucap Bhyakta spontan.
Ikhsan dan Kinan ikut tersenyum, bukannya Bhyakta mencari perhatian atau apapun itu namun dia benar-benar mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Bawa aja ke sini tiap hari Pak, Ummi paling demen Nafla juga, yah saya juga sih sebenarnya," Ucap Kinan terkekeh.
"Bisa saja kamu Kinan," ucap Bhyakta tak enak hati.
Keluarga kecil sederhana, yang isinya adalah orang-orang baik dan juga ramah. Entah karena apa dia menerima ajakan Kinan kemari tapi, yang jelas banyak sekali pelajaran yang dia terima dari keluarga ini mulai dari kehangatannya hingga perhatian kecil yang mereka berikan satu sama lain. Ada rasa nyaman ketika bersama dengan keluarga ini.