“Bukankah Hidup kita ini terlihat menyedihkan? bahkan untuk sekedar matipun perlu usaha”
“Don’t worry, I’m gonna to kill you”
7 bulan yang lalu…
Namaku Hana, usia 21 Tahun saat ini sedang menempuh kuliah di salah satu Universitas di Jakarta. Hidupku bisa dikatakan biasa saja, tidak ada yang menarik. Tinggi 165, mata hitam, memakai kacamata, berambut panjang. Bukan mahasiswa terpintar di kampus, terkenal juga tidak, aktif organisasi juga tidak. Hanya mahasiswa yang aktif kuliah-pulang dengan mengerjakan tugas yang selalu menumpuk. Aku juga bukan orang yang senang bergaul, teman pun hanya beberapa, keluarga hanya punya ibu dan adik. Tapi semuanya membuatku semakin memburuk. Terkadang aku merasa kelebihan apa yang aku punya, terkadang semua teman terlihat memiliki kelebihannya mereka cantik, pintar dan pandai bergaul.
Entah mengapa aku terasa seperti menanyakan pada Tuhan atas dasar apa aku terlahir. Ditambah dengan semester akhir ini yang mana semua orang mempertanyakan “Sudah sampai bab berapa?” “Sudah lulus?” Awalnya aku sanggup saja menjawabnya, namun apa salah jika kelamaan aku merasa tidak nyaman? Aku juga ingin seperti yang lain yang terlihat begitu lancar dalam setiap usahanya meskipun aku juga merasa bahawa itu tidak semudah terlihat. Dan semuanya semakin berubah ketika…
“Sudah 6 bulan masih Bab I!” kata ibuku, dengan suara kesalnya. Aku paham bahwa wajar dia sangat kesal. Lalu bagaimana dengan diriku? Kenapa harus dilimpahkan kepadaku? Apa aku terlihat tidak melakukan apapun? Aku juga ingin secepatnya, tapi mau bagaimana. Aku hanya bisa diam.
“Perasaan Ibu lihat kamu nonton malem terus, nonton apa sih?! Tidak ada manfaatnya kan?”.
Lagi-lagi aku hanya bisa diam. Hatiku hanya bisa bertanya, kenapa dibandingkan bertanya seperti itu bukankah lebih baik bertanya ada apa denganku? apa aku baik-baik saja?. Terkadang orang yang paling dekat dengan dengan kita justru terlihat seperti orang asing, bahkan orang asing pun mungkin bisa sangat dekat dan mengerti apa yang kita rasakan. Maka dari itu terkadang yang terdekat pun berakhir saling menyakiti. Sampai suatu ketika….
“Hello, I am Joon Woo” tiba-tiba seorang pria di sebelahku. Dia tinggi sekitar 180 kulitnya putih rambutnya hitam legam, warna matanya coklat keemasan, entahlah siapa dia. Sepertinya aku belum pernah melihatnya di kampus ini, mungkin dia anak baru?. “Hello, Hana. My name is Hana”
“Hello, nice to see you sweetie, ups sorry. Jangan terlalu kaku, just relax”
“Kamu siapa ya? Maaf aku belum pernah melihatmu disini”
“Ah iya aku bukan anak sini”
“lalu untuk apa kamu disini?”
“I just want to meet you” Hah?! Apa aku tidak salah dengar? Ada apa ini.
“Please don’t think badly. Karena aku tidak bermaksud aneh-aneh, aku hanya ingin memberikanmu ini” dia memberiku ipad dan disana bertuliskan sebuah artikel penelitian mengenai otak buatan? Apa maksudnya?. Aku hanya bisa menerka-nerka sambil terus membaca tiap kata dalam artikel itu sampai dia melanjutkan.
“Ya, seperti yang kamu lihat ku pikir kamu membutuhkannya, bukankah kamu ingin menyelesaikan semuanya? Dengan otak buatan ini kamu akan memiliki kemampuan diluar manusia pada umumnya”
“Bukankah ini pasti perlu biaya yang mahal?” ucapku.
“Don’t worry, the most important are you want it or nah. Ok maybe you need take a time to think. But, if you get your choice you can contact me” dia memberikan semacam kartu nama atas nama Kim Joon Woo juga nomornya. Tapi tunggu dia bilang mungkin membutuhkannya? Dari mana dia….
“Hei tunggu.. dari mana kamu ta…uu, kemana dia? Sudah pergi? Kapan perginya?. Eh ipadnya astaga, kenapa dia ceroboh sekali”
Apa aku ikut saja? Semakin hari aku memikirkan dengan melihat kartu nama itu, apa aku harus mengambilnya atau tidak. Apalagi setelah semua yang telah terjadi, selalu ada kesalahan dalam skripsiku. Apa aku harus mengambil pilihan ini? Kalau misalnya gagal bagaimana?, apa aku memang sebodoh itu ya?
“Aku tidak tau pilihan ini benar atau tidak, tapi apa ada pilihan lain? tidak kan, rasanya sangat lelah, muak dengan diri sendiri. Mungkin ini yang terbaik” akhirnya aku mengambil Hp ku dan menghubungi nomor yang tertera di kartu itu.
“Hello Joon Woo, this is Hana….”
Joon Woo bilang dia akan menjemputku nanti malam sekitar jam 8. Terkadang juga aku merasa sedikit takut, bukankah hal seperti ini akan ada resikonya? Tapi bagaimana jika berhasil?
“Ah nggak tau lah, pusing. Mana di kosan sendirian lagi, temen kost an pada balik” terlalu banyak pertanyaan yang ada di dalam kepalaku, ada sedikit penyesalan atas pilihan ini, tapi mau bagaimana lagi. Aku tidak tau lagi harus bagaimana.
“Hello sweetie, lama nunggu?”
“Belum kok. Tapi tunggu aku boleh tanya sesuatu?”
“Sure”
“Ini beneran kan?”
“Do you think I’m making a joke? Tentu aja serius, memang ada apa?”
“Kamu tidak ada niat jahat kan?”
“Kamu kira wajah ini wajah penjahat huh?”
“Ya siapa tau”
“Ok, let me tell you something. Actually, I was asked to find someone who was willing to be the subject of this research”
“So I’m the first one?”
“No, ada yang sebelumnya juga, termasuk aku. Tapi masih dianggap kurang sempurna”
“Hah, jadi kamu juga?”
“Yup, dan setelah kucari sepertinya kamu orang yang tepat”
“Atas dasar apa kamu bisa bilang begitu?” ucapku, wajar jika aku curiga bukan?
“Kamu merasa seperti tidak memiliki kemampuan apapun kan? Baik akademik maupun non akademik. Kamu akan mendapatkan semua itu jika bergabung, IQ kamu akan meningkat, dan juga kamu akan memiliki kemampuan-kemampuan lain”
“Misal?”
“Kamu akan bisa menguasai berbagai macam bahasa hanya dengan satu kali melihatnya, kamu juga akan sanggup menyelesaikan masalah dalam hal hitungan, kamu juga akan bagus dalam hal menyanyi atau sport atau hal-hal lain yang kamu fikir kamu tidak akan bisa melakukannya”
“terlihat menarik, tapi semua itu ada resikonya kan?”
“Of course, in order to get something, you have to take a substantial risk, right?”
“Resiko apa?”
“Nanti aku akan jelaskan disana. Ayo” Pilihanku ini benar kan.
Kini aku sampai di sebuah gedung yang sangat besar. Dengan kaca kaca besar yang sedikit terlihat di dalamnya. Mungkin karena ada beberapa lampu yang menyala di malam yang semakin gelap. Untuk sampai kesini aku harus menutup mataku dengan kain karena hanya orang tertentu yang dapat kesini. Kadang terlintas di dalam pikiranku apa aku sedang diculik, lalu organku dijual, aku benar-benar takut. Tapi aku juga penasaran apa benar ada hal semacam itu.
“Ok Hana, they are My Friends. Hm, I mean partners maybe. This is Lisa, Bryan, Teresa and Okta”.
Aku melihat satu persatu orang yang dikenalkan kepadaku,
● Lisa memiliki rambut hitam legam sepundak, berpakaian seba hitam, matanya coklat gelap, hidungnya kecil namun mancung, wajah khas oriental asia, dengan kulit seputih s**u, tingginya mungkin sekitar 168.
● Lalu Bryan tinggi besar sekitar 175, mata Biru Ocean, alis tebal yang cantik, kontur muka yang tegas khas Eropa sangat tampan dengan kulit kecoklatan. Mengingatkanku dengan tokoh-tokoh prince di film.
● Kemudian Teresa mata hitam dengan bulu mata lentik, rambut blonde sepinggang dan tingginya hampir sama denganku sekitar 165 keatas.
● Dan yang terakhir Okta matanya yang hijau lembut, dengan rambut yang dikuncir lalu tingginya hampir sama seperti Joon Woo. Hanya saja Okta kulitnya jauh lebih putih, sangat putih pucat, mungkin jika kalian melihat film vampir gambaran seperti inilah yang akan kalian lihat.
“This girl huh?” ucap Bryan. Sepertinya dia meremehkanku, apa aku sejelek itu.
“Yup” kata Joon Woo dengan yakin.
“I don’t think she can handle it” ucap seorang wanita yang tidak salah namanya Teresa. Sudahlah sepertinya aku salah alamat. Tidak disini tidak disana semua meremehkanku.
“I don’t know, but let see”
“Bisakah kalian berhenti berbisik dan jelaskan semuanya?”
“Oke jadi kamu harus menandatangani surat persetujuan ini bahawa kamu akan mengikuti semua prosedur dengan baik” “Boleh aku membacanya?”
“Sure” Di dalam surat itu berisi hal-hal apa yang harus ku jalani seperti diberikan suntikan, obat bahkan sampai operasi. Rasa takut mulai muncul dalam pikiranku. Bagaimana jika ini gagal? Apa ini terakhir kalinya aku hidup?. Tapi jika aku tidak melakukannya aku akan kembali hidup dengan berbagai macam pertanyaan. Aku tidak ingin mendengarnya lagi, aku sudah berusaha, apapun sudah aku lakukan tapi mau bagaimana.
“How?”
“Ok. I’m in” Aku dibawa ke salah satu ruangan seperti ruangan yang ada di dalam rumah sakit. Tempat tidur, alat-alat medis. Hanya saja ada beberapa hal yang aku tidak tau, seperti asing. Kemudian aku dikenalkan oleh seorang wanita dia biasa dipanggil professor dan namanya kalau tidak salah Professor Stella ada juga beberapa dokter seperti Dokter. Damian, Dokter. Lee, Dokter Rena dan Doter. Bara. Dokter. Lee memintaku untuk berbaring dan memeriksakan kesehatanku, lalu Dokter Rena membawaku ke ruang CT-scan. Setelah semua prosedur sudah kujalani Dokter Bara memberikanku suntikan yang membuatku tertidur dan aku tidak tau lagi apa yang terjadi.
“Hana, kamu bisa dengar saya? Hana?” ucap seorang dokter.
“Ya, Dokter Damian. Apa operasinya sudah selesai?” tanya ku, mungkin saja aku sudah di alam lain bukan?
“Tentu saja, kamu melakukannya dengan baik. Kondisi otakmu baik, coba gerakan jari tanganmu” Jari tanganku bergerak.
“Jari kaki” jari kakiku juga.
“Apa ada keluhan?” tanya Dokter Damian.
“Sejauh ini hanya pusing dok”
“Ok, mulai besok kita bisa langsung melakukan tes” ucap Professor
“Tes? Tes apa prof?”
“Kamu nanti akan tau sendiri, Lisa akan mengantarmu keruangan, ruangan itu aka diawasi selama 24 jam untuk memastikan keadaanmu disana. Lisa, jika dia sudah membaik, bawa dia keruangan”
“Baik Professor”
Kemudian aku dibawa ke sebuah ruangan. Ruangan yang terdiri dari lorong panjang. Di Sepanjang lorong itu terdapat pintu yang terdiri dari besi atau baja yang sangat kuat yang hanya bisa diakses dengan sidik jari.
“ini kamarmu, kamu bisa istirahat disini” kata lisa membawaku ke salah satu pintu. Di dalamnya terdapat tempat tidur dan beberapa barang yang belum aku lihat secara fokus. Boleh aku sebut ini penjara dibandingkan kamar?.
“Lisa, maaf. Aku datang kesini tidak membawa baju ganti”
“Di dalam sana ada baju dan lainnya yang kamu butuhkan”
“Baikalah, terimakasih”
“Yup”
Setelah aku melihat secara detail. Ada beberapa barang seperti meja dengan buku, pulpen, kubus rubik, tapi yang paling aneh adalah isi dari buku dengan sampul warna coklat bertuliskan Dark. Isi buku ini ada dari hitungan matematika, ilmu sains seperti fisika, kimia, astronomi. Yang pastinya kepalaku langsung sakit melihatnya. Tapi tunggu? Kenapa aku merasa bahwa aku bisa memahaminya? Misalnya contoh pertanyaan ini “Jelaskan mengenai bintang yang paling terang dilangit!” “Bukannya itu Bintang Sirius? bintang yang menjadi paling dekat dilangit karena kedekatannya dengan bumi sekitar 8,6 tahun cahaya”
“ada apa ini sebenarnya? Akh!!!! Sakittt!!!!!!” aku belum pernah merasakan rasa sakit seperti ini. Rasa yang membuatku merasa bahwa aku akan berakhir. Hingga darah keluar dari hidungku. Kemudian banyak dokter dan perawat yang datang dan memberiku suntikan yang membuat rasa sakit itu perlahan menghilang. Apa ini resiko yang dimaksud Joon Woo?.