Perlahan aku mulai membuka mata. Aku mencoba sekuat mungkin melihat di sekeliling, ternyata masih berada diruangan yang sama.
“Hana” suara professor terdengar di speaker yang ada di sudut ruangan.
“Ya”. Hanya kata itu yang sanggup aku jawab ditengah sakit kepala yang melanda.
“Bagaimana keadaanmu?” lanjut professor.
“Kepala saya sangat sakit prof”
“It’s ok. Kamu istirahat saja, jika sakitnya tidak berkurang dalam 30 menit kamu bisa menekan tombol yang ada di depanmu” aku melihat seperti bell mungkin dengan tombol warna merah diatasnya.
“Baik prof”
Hari pun mulai berganti. Tidak terasa pagi sudah datang, entah apalagi yang harus aku lewati dan apa saja yang harus aku lakukan setelah ini.
Aku dibawa lagi ke sebuah ruangan. Entah ruangan apa itu, setiap lorong yang kulewati terasa panjang dan tidak berujung. Aku melihat ke atas dan semua dokter juga professor berada disana. Aku mulai berpikir ada apalagi ini. Entah langkah apalagi yang harus aku lalui.
“Suara apa itu” ucapku yang mendengar suara seperti suara anjing yang sangat banyak mungkin sekitar 3 atau 4. Sebenarnya ada apa ini?
“Whoff, whoff whooofff” anjing-anjing itu kini berada di dalam ruangan yang sama denganku dibawa oleh salah satu petugas yang ada disini yang aku sendiri tidak tahu siapa dia. Entah kenapa aku merasa tidak nyaman dengan ini. Kenapa anjing-anjing ini ada disini.
“Lepaskan anjing-anjingnya”
“APA???!!!” aku benar-benar belum mempersiapkan apapun, kenapa professor mengatakan itu. Apa aku akan mati oleh para anjing ini.
Semua anjing ini menyerangku secara membabi buta, aku mencoba melawan mereka semampuku, rasanya aku ingin menyerah dengan rasa sakit dan luka yang bertubi-tubi datang. Apa ini akhirnya?
Dan entah mengapa disaat aku ingin menyerah, aku teringat akan seseorang.
“Jangan lari Hana, nanti jatuh” entah mengapa kalimat itu membuatku ingin menangis. Aku tidak ingat apa, siapa dan bagaimana. Tapi kalimat itu membuatku merasa harus bertahan.
Dengan jalan tertatih aku meraih salah satu anjing itu dan melemparnya hingga menabrak dinding, lalu melihat sebuah pisau yang ada di atas meja dan aku mencoba untuk menusuk para anjing itu. Ada yag aku lempar, injak, tusuk hingga mereka semua mati dengan penuh darah. Entah sebanyak apa darah yang saat ini berada ditangan, baju, dan wajahku. Ini membuatku sedikit terkejut. Karena jangankan membunuh anjing, membunuh semutpun aku tidak tega. Sebenarnya subject experiment apa aku ini?
“Dia adalah subject yang sempurna”
“Bagaimana professor bisa yakin?”
“Kita akan panggil yang berikutnya. Selanjutnya. masuk”
“Apalagi ini?”
Aku melihat ada 4 anak. masing-masing mungkin berusia 10-12 tahun ada 2 laki-laki dan 2 perempuan. Jangan katakan jika aku harus melawan mereka? Tidak mungkin kan? Mereka masih anak-anak astaga.
Ternyata benar, anak-anak ini tidak bisa diremehkan. Ada yang ahli dalam menggunakan pisau, ada juga yang ahli dengan tongkat, lalu ada juga yang ahli menggunakan kawat. Bagaimana bisa seusia mereka bisa menggunakan benda-benda berbahaya seperti itu.
“Tunggu dulu adik-adik, aku tidak ingin melukai kalian” aku mencoba untuk membujuk mereka, aku benar-benar tidak ingin melukai mereka. Melihat para anjing yang mati tadi saja masih membuatku gemetaran. Apalagi anak-anak.
Hana mencoba mengalahkan mereka satu persatu mereka benar-benar sangat gesit dan lincah, gerakan mereka juga cepat. Hana mencoba menyeimbangkan diri dengan kemampuan mereka hanya dengan bermodalkan pisau yang berada ditangannya. Satu Per satu dari mereka mulai merasa lemah, entah karena kalah dengan kekuatan atau mereka yang kesulitan menghadapi Hana. Entahlah apa yang terjadi padanya. Dia mulai merasa bahwa mereka adalah lawan yang harus dihancurkan. Dia mulai berubah dan menjadi buta, buta bahwa tanpa sadar dia menggunakan seluruh kekuatannya. Bahkan sihir yang selama ini tidak dia ketahui keluar dari dirinya
“aku sudah mengatakannya bukan? Kenapa kalian tidak mau mendengar? Kegelapan ini membuatku tidak bisa membedakan apakah ini siang hari ataukah malam hari, aku melihat seseorang dengan darah keluar dari matanya, luka tusukan di perutnya, dan luka itu mengeluarkan darah di mulutnya”
Setelah Hana mengatakan itu, salah satu anak laki-laki yang dilihatnya tiba-tiba bereaksi sesuai dengan apa yang dikatakan. Darah yang keluar dari mata, perut dan mulutnya membuat anak laki-laki itu jatuh dengan kondisi yang memprihatinkan.
“Anak perempuan yang kulihat tubuhnya terpental dari sisi kanan ke sisi kiri dinding”. Lalu salah satu anak perempuan itu juga mengalami sesuai yang dikatakan Hana. Sampai semua anak itu dinyatakan kalah. Mereka semua masih hidup hanya saja terluka parah.
“Apa ini Joon Woo?!” tanya Teresa
“Aku juga tidak tahu, hal seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya” ucap Joon Woo.
“Kita bisa menggunakan semacam sihir tapi, sihir seperti ini?” ucap Lisa.
“Pasti ada yang tidak beres, kita harus menemui profesor sekarang” ucap Okta yang tanpa berpikir panjang langsung memasuki ruangan yang berisi para dokter yang melihat bagaimana Hana berada diluar kendalinya.
“Prof, ada apa ini sebenarnya? Kenapa Hana jadi seperti ini?” Tanya Joon Woo
“Saya juga tidak yakin tapi dari yang terlihat sepertinya Hana juga mengalami hal yang sama seperti kalian yaitu menderita dissociative identity disorder”
“Tapi kekuatan apa yang ada pada Hana dokter? Kami belum pernah melihatnya” ucap Lisa.
“Hasil dari pemeriksaan menjelaskan bahwa otak buatan yang saat ini bekerja pada Hana sangat sesuai dan cocok. Sehingga dapat dikategorikan sebagai subject yang sempurna. Maka dari itu dia mampu memaksimalkan apa yang ada di dalam dirinya. Suara, penglihatan, pendengaran dan semua indra yang ada pada dirinya dapat digunakan dengan baik. Bahkan kecerdasannya dalam akademik maupun non akademik dianggap unggul”
“Tapi kenapa Hana menderita dissociative identity disorder?” Tanya Bryan.
“Itulah yang saat ini saya coba pahami, sudah sebaiknya kalian pergi menemui seseorang. Kalian tau kan harus kemana?” Tanya professor.
“Iya professor, lalu Hana?” Tanya Bryan.
“Biar dia saya dan seluruh dokter yang ada disini yang akan mengurusnya” jawab professor. Dan semuanya pun pergi ke tempat sesuai yang diinginkan professor.
“Apa experiment kita masih ada kesalahan prof?” Tanya dokter Bara.
“Tidak, saya yakin tidak ada kesalahan. Tapi….”
Di sisi lain…
“Ada apa Joon Woo? ajigdo Hana-e daehae saeng-gaghago issseubnikka? (apa kau masih memikirkan Hana?)” tanya Lisa.
“Ye, siljelo museun il-i iss-eossseubnikka? Hanaga DIDleul bad-eun iyuneun? (ya, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Hana menderita DID?)”
"Whatever it is, her power is extraordinary. Yeah, let's just say I admit it a little bit.” Ucap Bryan.
“Seriously? Don’t make a joke dude. She is nothing” ucap Teresa.
“Sudah, kita tidak perlu memikirkan itu. Sekarang kita lakukan tugas kita. Kita harus kemana sekarang?” tanya Okta.
“Jalan Kelapa Gading” Jawab Teresa.