“Hello, long time no see doctor ” kata Teresa.
“Sorry. I tried not make a mistake but, she had died”. Ucap Okta dengan menyeret perempuan yang ternyata adalah anak dari dokter itu. Luka parah yang dialami perempuan itu sungguh membuat menyedihkan. Dengan luka tusukan yang entah berapa kali, ada memar dan sayata seperti luka terkena benar seperti kawat yang tajam. Bahkan bagian dalam leher perempuan itu dapat terlihat.
“Sebenarnya kalian mau apa dari saya? Kenapa harus mereka yang jadi korban? Kenapa kalian tidak membunuh saya juga?!” ucap si dokter yang merasa sedih, kesal dan tentu saja marah melihat putri yang dirawat dan dibesarkan dengan baik mati dibunuh dengan cara yang biadab.
“Seharusnya anda mengatakan hal itu beberapa tahun yang lalu. Kami sudah menawarkan sesuatu pada anda bukan? Tapi apa yang terjadi? Anda menolak lalu sekarang anda terlihat paling menderita disini” ucap Lisa.
"We've also given you a chance, did you recall the terrors that you got?" ucap Bryan.
Si dokter pun mulai mengingat bawa beberapa bulan yang lalu memang pernah ada terror seperti batu yang dilempar ke kaca rumah, ada juga bom rakitan dengan ledakan kecil yang ada di taman dekat rumah. Maka dari itu dokter pun memutuskan untuk pindah rumah menghindari teror tersebut juga demi keselamatan putrinya. Sepertinya dokter terlalu meremehkan mereka, sehingga nasib naas pun harus ditanggung oleh putrinya.
“Lalu apa yang kalian mau?” tanya dokter.
“Berikan kami data rumus untuk membuat cairan itu!” ucap Okta.
“Dan jangan pura-pura tidak tau atau lupa dengan cairan yang kami maksud” timpal Teresa.
“Saya tidak akan memberikannya!”
“Really? It’s ok, goodbye” Ucap Joon Woo dan Lisa pun mengeluarkan pisau belatinya. Dan si dokter pun tewas.
“Bagaimana caranya kita bisa mendapat rumus itu?” tanya Bryan.
“Apapun itu caranya harus kita cari, karena dengan cairan itu, kita tidak perlu repot-repot untuk disuntik setiap bulannya” jawab Teresa.
“Sebaiknya kita segera kembali ke markas” ucap Joon Woo.
-
“Tapi bukankah sebaiknya kita bakar dulu rumah ini?” Tanya Lisa.
“Baiklah, kalian kembali saja ke markas, biar ini aku yang tangani” ucap Okta.
Sesampainya di markas…
“Ada apa ini?” tanya Bryan karena mendengar suara keributan suatu lorong.
“Apa tes pada Hana masih belum selesai?” ucap Lisa.
“Astaga! Bahkan ini sudah malam” ucap Teresa.
“Sebaiknya kita cek kesana” saran Joon Woo.
Sesampainya di ruangan itu, masih terlihat Hana dengan kondisi yang mengerikan. Banyak darah yang berada di wajah, tangan, kaki, hingga pakaian yang dikenakannya. Entah itu darahnya atau darah lawannya yang bercampur dengan darahnya. Semua itu dikarenakan para petugas berusaha untuk menenangkan Hana namun berakhir dengan luka parah.
“Prof what happened? Why is her condition getting worse? She looks like uncontrol” Tanya Joon Woo.
“Sepertinya otak buatan yang saat ini berada di dalam diri Hana mempengaruhi sistem yang ada di tubuhnya. Sehingga dia kesulitan untuk mengendalikan diri” penjelasan dari Professor.
“Berarti ini bukan hanya dari DID saja?” Tanya Teresa.
“Kita harus melakukan pemeriksaan untuk bisa memastikan”
“Apa dia akan terus seperti ini prof?” Tanya Lisa.
“Akan sangat berbahaya jika dia terus seperti ini, mau tidak mau dia harus ditembak obat bius” ucap Professor.
“Sekarang saatnya. Masuk!!!” ucap Professor pun masuk dan Hanapun tertembak yang berisikan obat bius, kemudian kesadarannya pun perlahan hilang.
“Prof, bisa bicara sebentar?” tanya dokter Lee.
“Tentu”
“Kemarin saya berjaga-jaga mengetes kondisi mental Hana. Dari pemeriksaan yang saya lakukan memang benar Hana menderita DID. Tapi ada yang aneh Professor”
“Apa yang aneh?”
“Pemeriksaan ini saya lakukan sebelum operasi dilakukan, itu berarti sakit yang diderita Hana itu bukan effect dari operasi ini”
“Lalu apa yang membuatmu merasa aneh”
“Kepribadian utama Hana adalah dia perempuan yang ramah, sedikit sulit akrab dengan orang lain, jarang bergaul, kurang percaya diri, selalu curiga dan dia takut melihat darah, sedangkan kepribadiannya yang lain memiliki sifat terlalu percaya diri, ceria, mudah tersinggung, senang bersosialisasi, cuek, manja dan tidak takut dengan darah. Permasalahannya disini adalah kepribadian Hana yang satunya ini bisa dikatakan tidak terlalu kuat sehingga kemungkinan muncul itu sangat jarang. Karena biasanya orang yang bertukar kepribadian tidak akan sadar jika dirinya menggunakan karakter lain dia merasa terdesak tapi jika sudah berkejasama dengan kepribadiannya yang satunya maka ia akan sadar jika ia bertukar kepribadian. Dan ketika saya bertanya pada Hana dia hanya menjawab dia tidak tau tapi dia kadang merasa bahwa dia sedang tidur di malam hari tiba-tiba dia sudah berada di sekolah di keesokan paginya”
“Jadi intinya?”
“Kemungkinan yang kita lihat tadi adalah kepribadian ke 3 Hana. Dan bisa jadi ini muncul akibat operasi otak buatan yang kita lakukan, karena dari yang saya jelaskan kepada professor meskipun kepribadian ke 2 Hana ini tidak takut dengan darah tapi dia tidak memiliki kecenderungan untuk membunuh. Sedangkan yang kita lihat tadi, rasa ingin membunuhnya meningkat tajam bahkan lebih parah dari subject experiment kita sebelumnya”
“Lalu apa saranmu untuk masalah ini?” tanya Professor.
“Terpaksa kita harus menggunakan cairan serum itu agar Hana bisa mengendalikan dirinya. Tapi cairan itu hanya bisa kita berikan setiap 6 bulan sekai”
“Kenapa berbeda dengan yang lain? mereka bahkan perlu sebulan sekali disuntik” tanya professor.
“Karena kondisi Hana yang sebenarnya cukup kuat tidak seperti subject experiment kita yang lain. dia hanya perlu terbiasa mengendalikan dirinya saja” jawab Dokter Lee.
“Baiklah, lakukan apapun aku tidak perduli. Kita harus menyelesaikan experiment ini dan harus berhasil” ucap professor tidak dapat diganggu gugat.
“Baik Prof”
***
“Joon Woo” Panggil Okta.
“Ada apa?” tanya Joon Woo.
“Seharusnya aku yang bertanya, ada kegaduhan apa tadi? Kenapa ruang latihan itu hancur parah? Bukankah ruangan itu adalah ruangan yang dipakai siapa itu namanya, Hantu, bukan Hani, siapa sih namanya?” ucap Okta dengan nada kesal.
“Hana, Okta. Panjang ceritanya, kalau kamu ingin tau apa yang terjadi datang saja ke ruang pantau dan kendali” jawab Joon Woo.
“Astaga apa yang sebenarnya wanita itu lakukan? Dimana yang lainnya?” tanya Okta dengan melihat keseluruh ruangan tidak menemukan angoota yang lain. agak mengherankan memang karena biasanya mereka selalu bersama dan kalaupun ada yang harus pergi biasanya satu sama lain tahu.
“Mereka ada di ruangan Hana” jawab Joon Woo.
“Untuk apa?” tanya Okta merasa semakin heran.
“Sebaiknya kamu lihat saja sendiri”
“Hi, jangan mulai menyebalkan. Kau tahu kan apa saja yang bisa aku lakukan untuk membungkam mulutmu yang beracun itu” ucap Okta dengan nada rendah dan tegang menunjukan ketidaksukaan ditambah menggunakan kata
“kau” itu semakin menunjukan ketidaksukaannya. Dan Joon Woo hanya membalas dengan menjulurkan lidahnya mengejek Okta. Membuat Okta mencekik dan mengangkat Joon Woo juga memojokannya ke dinding.
“Sudah ku tunjukan bukan rasa ketidaksukaanku? Tapi sepertinya KAU
MELUPAKANNYA!!!” kemarahan Okta membuat Joon Woo terlempar dan menghancurkan dinding. Tentu saja dia terluka namun jika Joon Woo manusia pada umumnya mungkin saat ini dia sudah berada di rumah sakit dengan tulang yang patah dan remuk.