Tinggal bersama Bibi Nicole adalah pilihan terburuk yang dilakukan Kristella bagi Trevor, demikian pikir sang adik ketika bangun tidur keesokan paginya. Suara gedoran pada pintu kamarnya membuat Trevor mencelat bangun dan semboyongan membuka benda yang tampak nyaris lepas dari engselnya. Dia mendengar suara Marcus yang berteriak-teriak menjengkelkan.
"Treve! Air di kamar mandi kosong! Kau harus segera mengangkutnya!"
Trevor menggelengkan kepalanya dan mencoba mencari tahu jam berapa saat itu. Dia melihat langit masih cukup gelap dan berpikir mengapa hal itu tak dilakukan Marcus jika pemuda itu sudah bangun demikian pagi? Pikirannya buyar ketika mendengar kembali suara gedoran yang terdengar tak sabar.
"Hei, pemalas! Bangunlah!"
Trevor membuka pintu dengan kasar dan berdiri menjulang di hadapan Marcus yang pendek seperti kerdil. Dia menunduk dengan tatapannya yang dingin dan menyadari bahwa Marcus gentar saat bertatapan dengannya.
"Kau...kau harus mengangkut air! Mom...Mom menyuruhmu!" Marcus tergagap, takut pada pemuda tanggung seusia dirinya yang telah memiliki tubuh jangkung dan besar, yang saat itu menatapnya seperti binatang buas yang siap menerkamnya.
Trevor membuka kepalan tangannya yang nyaris melayang ke arah wajah Marcus dan melemaskan bahunya yang menegang. Dia mengatupkan bibirnya dan menutup pintu di belakangnya dan berjalan melewati Marcus yang menggigil ketakutan karena tatapan Trevor.
Di bawah Bibi Nicole terlihat melipat kedua tangannya dan mendongakkan dagunya yang runcing, tangannya bergerak ke arah belakang dan mengeluarkan suara bernada memerintah. "Pergi ke sumur! Angkut air ke kamar mandi bersama Angus!" tak ada wajah keramahan di sana kepada Trevor.
Trevor menunduk dan menjawab lirih. "Baik, Bibi." Dia mengeraskan hatinya dan berjalan cepat melewati Bibi Nicole. Dia sempat mendengar teguran lainnya yang dilontarkan sang bibi.
"Jika besok kau masih terlambat seperti hari ini, maka kau tidur di kandang kuda!" Bibi Nicole membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju dapur.
Trevor menghembuskan napasnya dan mendengar teriakan bibi Nicole yang kali ini berkumandang dari arah dapur, memarahi tukang masak yang masih belum menyiapkan bahan-bahan untuk sarapan. Suara bentakan lainnya terdengar dari arah lain di rumah itu, suara paman Hyden yang memarahi tukang kebun.
Trevor berlari ke arah belakang di mana langsung tampak halaman berumput luas yang dipenuhi pohon-pohon menjulang. Suasana gelap samar-samar mulai berubah menjadi cahaya redup di bagian timur, dan Trevor melihat seorang pemuda lainnya seperti dirinya sedang menarik timba yang membawa air sumur.
"Hai, aku akan membantumu." Trevor menyapa pemuda yang diduganya adalah Angus. Dia menggulung lengan bajunya dan meraih timba lainnya.
Angus yang kurus dan bermata besar, menoleh dan menghela napas lega mendapatkan bantuan dari orang lainnya. Sambil menarik timba, Angus tersenyum letih. "Hai, aku Angus. Aku mohon bantuanmu." Dia menuangkan air dari timba ke dalam ember berukuran besar di dekat kakinya.
Trevor melihat bahwa ember besar itu telah penuh dan Angus mencoba membawanya dengan tulangnya yang kecil dan kurus. Dia melepaskan timbanya dan meraih ember itu. "Biar aku saja. Kau cukup menarik timba dari sumur." Sekilas Trevor melihat tangan kapalan Angus yang terlihat lecet dan berdarah. Dia mendesah dalam hati, entah sudah berapa lama pemuda itu menjalani tugas berat itu dan Trevor merasa kasihan.
Angus sangat berterimakasih. "Terima kasih, eee..."
"Treve. Namaku Trevor." Trevor tersenyum tipis dan mulai berjalan dengan dua ember penuh di kedua tangannya.
"Apakah kau keponakan Nyonya?" Angus berkata pelan.
Trevor menoleh melalui bahunya dan menyeringai. "Bukan! Aku kacung, mulai hari ini." dia menjawab dengan masa bodoh dan meneruskan langkahnya.
Trevor tak menganggap dirinya bagian dari keluarga yang tak berperasaan itu. Dia melihat betapa tak berperasaannya Bibi Nicole bersama suami dan anak-anaknya dalam mem perlakukan orang-orang yang bekerja di bawahnya. Trevor seakan mati rasa dengan semua tugas berat yang dijalaninya dari hari ke hari. Dia selalu mengangkut air dari sumur, membantu memotong kayu bakar, dan membuat s**u di peternakan sapi paman Hyden.
Tanpa membantah dia mengerjakan semua PR kedua sepupunya dan mencoba belajar untuk dirinya sendiri, kedinginan di balik selimut tipis di loteng dan hanya kebaikan para pekerja rumah sang bibi, dia mendapatkan selimut tambahan dan lilin untuk menghangatkan ruangan.
Kristella mengiriminya uang makan setelah mereka berpisah dalam dua bulan dan mendapatkan nomor kakaknya melalui Bibi Nicole. Saat itu kakaknya mengatakan bahwa dia bekerja di restoran cepat saji dan meminta maaf bahwa dia masih tidak sanggup membawa Trevor.
"Kapan, Kris?" Trevor merahasiakan perlakuan yang diterimanya dari bibi Nicole sekeluarga padanya. Dia tak ingin Kristella mengetahui penderitaannya pada saat mereka berjauhan.
"Sabarlah, Treve. Aku sudah melamar pada perusahaan besar di Sydney. Aku menunggu kabar panggilan. Jika lolos, aku akan magang di sana dan akan mendapatkan gaji lumayan. Jika waktunya tiba, aku akan menjemputmu."
Trevor percaya akan janji Kristella, menjadikan janji itu sebagai penguat hidupnya menghadapi Bibi Nicole dan Paman Hyden, membuatnya menahan emosi untuk menghantamkan tinjunya pada wajah kedua sepupunya. Trevor tak peduli sekitarnya dan terus saja bekerja sesuai yang diperintahkan bibi dan pamannya, belajar dengan tekun dan mengabaikan gadis-gadis remaja di sekitarnya yang mencoba menarik perhatiannya. Dia sama sekali tidak menyadari bahwa kerasnya hidupnya bersama Bibi Nicole telah mengubahnya secara fisik dan mental.
Tubuh Trevor lebih kekar dari remaja kebanyakan yang kerempeng dan jangkung. Otot-otot lengan dan d**a Trevor lebih padat dan keras serta tubuhnya jangkung hingga penampilan itu membuat banyak gadis menaruh hati padanya di sekolah, ditambah Trevor berwajah tampan. Namun secara mental, Trevorpun jauh berubah. Jika dulu Trevor memang pendiam, maka kali ini dia lebih pendiam dan menjadi sangat dingin. Sinar matanya tak ramah dan bibirnya selalu tertutup rapat, nyaris tak pernah bicara.
Dia selalu mengangkut air dari sumur, membantu tukang masak di dapur, memotong kayu bakar dan membuat s**u. Dia melakukan itu semua seperti tak berasa seperti robot, di dalam pikirannya adalah waktu di mana kakaknya akan menjemputnya, namun sejak pembicaraan terakhir mereka, Kristella sama sekali tak menghubunginya. Nomor yang dimilikinyapun tak bisa dihubungi, kakaknya seakan tenggelam di telan bumi. Namun Trevor selalu meyakini hatinya bahwa hari itu akan datang, hari di mana kakaknya akan muncul di depan rumah Bibi Nicole.
****
Itu adalah malam yang berhujan. Angin menerpa dinding loteng dan udara dingin menusuk memasuki celah-celah dinding. Trevor menyelimuti tubuhnya dan mencoba menggosok tangannya menciptakan rasa hangat. Dia menatap goyangan api lilin dan tersenyum kecil membayangkan bahwa dia telah berusia 15 tahun, hampir menjelang 16 tahun. Dia berdoa bagi orantuanya dan masih menunggu kabar Kristella. Dia selalu bermimpi yang sama, Kristella menjemputnya.
Rasanya Trevor sudah lama terlelap ketika dia mendengar suara gedoran pintu berikut suara cemas bibinya. Dia membuka matanya, menggosok pelan dan melirik jam beker yang ada di dekatnya dan memicingkan matanya. Saat itu tengah malam dan dia tak bisa menduga apa yang diinginkan bibi Nicole.
"Treve! Bangunlah!" Bibi Nicole menggedor keras dan berteriak. "Bangunlah! Ini tentang kakakmu!"
Mendengar bahwa itu mungkin berita kedatangan Kristella, Trevor melempar selimut dan membuka pintu kamarnya dengan cepat. Sinar matanya penuh harapan saat menatap Bibi Nicole. "Di mana Kristella?"
Bibi Nicole menatap Trevor dan untuk pertama kalinya dia merasa iba pada pemuda tampan itu. Dia tak menjawab dan hanya memberikan sebuah surat kabar kemarin pada Trevor. "Bacalah. Aku baru membacanya malam ini. Kuatkan hatimu."
Trevor menatap bingung pada surat kabar yang ada di tangannya dan dia mulai membaca lingkaran merah yang tampaknya sengaja dibuat oleh Bibi Nicole. Dia membaca dengan perlahan pada artikel pendek di kolom orang hilang.
TELAH MENGHILANG GADIS MAGANG DI PERUSAHAAN R****** YANG KETAHUI ADALAH SALAH SATU GADIS YANG DITUDUH MENGGODA DIREKTUR. BAGI YANG MERASA BERTEMU DENGAN GADIS INI, DIMOHON MELAPOR PADA KEPOLISIAN SIDNEY. KRISTELLA SIMONS, 20 TAHUN. BERAMBUT PIRANG DAN BERMATA HIJAU PEKAT.
"Aku mendapat telepon dari tetangga bahwa Kristella menghilang setelah membawa uang dari pria kaya tersebut. Namun ada pula yang berkata bahwa Kristella sedang kabur karena mengandung anak pria tersebut. Aku tak tahu mana yang benar, tetapi yang pasti kakakmu menjadi salah satu daftar orang hilang di Sydney."
Trevor tidak percaya bahwa Kristella menghilang! Artikel itu menuliskan tentang orang lain dan bukan kakaknya. Dia tak mempercayai tulisan itu! kakaknya akan menjemputnya! Kakaknya akan membawanya keluar dari neraka rumah bibi Nicole! Kakaknya tak mungkin... airmata membasahi permukaan kertas surat kabar itu.
Bibi Nicole menyaksikan airmata Trevor untuk pertama kalinya. Pemuda bertubuh besar tinggi itu menangis seraya menatap tulisan di surat kabar. Dia menyentuh pelan lengan Trevor. "Kuatkan hatimu, Treve..." dia membiarkan Trevor masuk ke dalam kamarnya dengan membawa surat kabar itu.
Paman Hyden muncul dari belakang dan bertanya cemas. "Bagaimana dengannya?"
Bibi Nicole menoleh dan menghela napas. "Dia begitu syok. Kurasa dia tak bisa menerima berita itu." dia mengusap wajahnya. "Kristella menghilang bersama gosip miring tentangnya. Kurasa aku tak heran. Gadis itu dari kecil memang suka menarik perhatian lelaki." Dia mendengus.
"Apa kita tetap membiarkan Treve tinggal bersama kita?"
"Tidak! Aku sudah menghubungi pengurus organisasi penampungan anak di Melbourne. Kita akan mengirim Treve ke sana dan biarkan pemerintah yang mengurus anak itu."
Trevor mendengar percakapan itu dari balik dinding kamar lotengnya. Seraya mendekap surat kabar itu di dadanya, dia mendengar dirinya yang akan diungsikan ke penampungan anak-anak di Melboune. Dia duduk perlahan di lantai dan memeluk lututnya, menangis dalam diam akan nasibnya bersama sang kakak yang buruk. Dia tak mau mempercayai bahwa Kristella menghilang tanpa kabar bahkan menjadi daftar orang hilang dengan sederet dugaan-dugaan yang tak bermoral. Kakaknya bukan penggoda! Kakaknya tidak akan melarikan diri dengan membawa uang perusahaan! Kakaknya tidak akan...
Trevor memukul lantai di bawah kakinya, mengigit bibirnya keras-keras dan tak mau lagi berada di rumah Bibi Nicole maupun di tempat penampungan anak-anak. Dia akan mencari kakaknya! Dia akan keluar dari rumah biadab ini!
Tiba-tiba sinar mata Trevor berkilat, dia menyobek artikel tentang kakaknya dan melipatnya ke dalam saku celananya. Dia meraih jaket bututnya dan memasang sepatu boot kusamnya. Dia akan lari dari bibi Nicole! Dia mencoba menghitung uang yang dimilikinya dari sisa uang makan yang dikirim Kristella. Jumlah uang itu bahkan tak bisa membuatnya menaiki bis apalagi kereta menuju Melbourne.
Dia menatap pintu kamarnya dan membuka perlahan. Suasana telah amat sepi seperti di kuburan. Dia mengetahui tempat Bibi Nicole menyimpan uang. Dia hanya perlu mengambil seperlunya untuk menaiki kereta. Bibi Nicole takkan mengetahuinya. Maka dengan perlahan, Trevor menuruni tangga dan menuju bagian tempat perapian. Di sanalah Bibi Nicole menyembunyikan uang.
Trevor memasukkan tangannya ke dalam lubang perapian dan menemukan permukaan kotak berdebu. Dia menarik perlahan benda itu dan mengeluarkan jarum yang telah dipersiapkannya. Berpacu dengan waktu, Trevor merusak kunci kotak tersebut dan mengambil uang secukupnya untuk membayar kereta. Setelah itu dia mengembalikan kotak ke tempatnya dan dia berlari ke arah belakang dengan terburu-buru.
"Kau mau ke mana, Treve?" suara bisikan seseorang mengagetkan Trevor, membuat dia memaki dan memutar tubuhnya.
"Angus?" Trevor berkata lirih. "Kau tidak tidur?"
"Apakah kau akan kabur?" bola mata Angus membulat cemas. "Di luar sedang hujan lebat."
Trevor tersenyum dan memeluk Angus dengan rasa terimakasih. "Aku harus pergi dari tempat ini, Angus. Tak ada alasan aku tetap berada di rumah sialan ini." dia melihat sepasang mata Angus berkaca-kaca. "Jaga dirimu, bung!" dia menepuk bahu kurus Angus dan berlari menembus hujan lebat tengah malam itu.
Trevor tak mempedulikan tusukan tetes hujan yang mengaburkan pandangannya. Dia hanya perlu berlari jauh dan jauh. Airmatanya membaur menjadi satu bersama air hujan. Dia menangisi kakaknya, menangisi orangtuanya, menangisi dirinya sendiri. Saat Trevor membayar tiket kereta, petugas menatapnya yang mengigil basah kuyup.
"Ke mana tujuanmu, anak muda?"
"Melbourne." Trevor menjawab pelan, menunduk.
Petugas itu memberikan tiket pada Trevor dan ketika pemuda itu berjalan melewati jalur pembatas, dia keluar dari mejanya dan melempar jaketnya pada Trevor.
"Pakailah itu. Hangatkan tubuhmu."
Trevor menangkap jaket tebal dan menatap petugas setengah baya itu. "Terimakasih."
"Pakai saja. semoga kau beruntung."
Trevor memakai jaket itu dan menaiki kereta, menuju bangkunya yang berada paling belakang dan duduk diam di antara penumpang lainnya yang menunggu kereta bergerak. Di otaknya mulai merangkai beberapa sugesti untuk dirinya sendiri. Dia kini sebatang kara. Harus bertahan sendirian. Dia sebatang kara di usia 15 tahun. Saat itulah siapa saja yang menatap Trevor Simons akan menemukan sinar mata dingin di wajahnya yang tanpa ekspresi.
*****
Sunyi suasana di ruangan itu. Kembali angin malam memasuki celah jendela yang kini telah dirapatkan. Di tengah ruang yang hangat itu, dua pria muda menatap pria tua yang duduk diam sambil merokok pelan.
Lucas memberanikan diri membuka mulutnya. "Lalu? Bagaimana hidupmu di Melbourne? Apakah kau tidak sakit, kakek Treve?"
Trevor menurunkan pandangannya, menatap Lucas dan Abraham yang sedang menatapnya dengan sinar mata penasaran. Rekaman pada ponsel Abraham terus berjalan. Sinar lampu di kamar itu membayang di wajah tua Trevor yang masih tampan.
"Sakit? Aku bahkan tak merasakan apapun di tubuhku. Yang kupikirkan hanyalah lari sejauh mungkin dari Tilba, jauh dari jangkauan bibi Nicole."
"Kau sebatang kara. Saat kau tiba di Melbourne ke mana arah tujuanmu?" Abraham melontarkan pertanyaan tak sabarnya.
Trevor tertawa pelan. Dia menyelami arti tatapan pekat Abraham.
Anak-anak itu telah menjadi pria dewasa yang luar biasa. Lucas dan Abraham. Dia mendongak dan meletakkan kedua tangannya di kedua lengan kursi. "Aku hanya berjalan tak henti, menatap Melbourne yang besar dan ramai."
"Kapan kau bertemu Nenek Sybille? Bertemu Dad?"
Trevor terdengar tertawa rendah dan menatap Lucas yang melontarkan pertanyaan beruntun, khas dirinya semenjak kecil. Trevor merindukan masa-masa itu. "Lucas. Lucas. Lucas. Kau selalu tak sabaran dan berdarah panas, mengingatkanku akan ayahmu saat kecil."
Lucas tersenyum dan membuka kancing teratas kemejanya dan menyulut batang rokoknya yang kesekian. "Aku penasaran."
Trevor menyandarkan kepalanya. "Aku turun di stasiun kereta di Melbourne ketika hari sudah pagi."
****
Trevor melihat pemandangan Melboune melalui jendela kereta api dan mulutnya ternganga lebar menyaksikan betapa besarnya kota itu. apalagi ketika dia sudah berada di jalanan besar Melbourne. Kota itu begitu sibuk dengan orang-orangnya yang lalu lalang, amat berbeda seperti di Tilba tengah yang tenang dan berjumlah sedikit.
Dia mendongak, menatap langit biru cerah di atas kepalanya. Sejenak dia tak tahu harus ke mana dan akhirnya berjalan tak tentu arah. Dia hanya memiliki sedikit uang yang bahkan tak mampu membuatnya membeli roti kering sekalipun. Melbourne tak hanya megah namun berharga tinggi.
Berhari-hari Trevor hanya berjalan di sudut-sudut kota Melbourne, meringkuk kedinginan di antara para tunawisma di salah satu gang sempit dan gelap serta kelaparan. Dia bahkan hanya bisa menatap salah satu tunawisma yang mengigit roti kering dan mendapatkan sepotong kecil dari si tunawisma yang amat dihargai Trevor.
Trevor hanya mengandalkan jaket tebal dari petugas kereta api di Tilba untuk menahan dinginnya malam dan merasakan sepasang kakinya yang mulai kesemutan. Matahari amat terik siang itu membuat kepala Trevor pusing. Perutnya sakit karena rasa lapar yang amat luar biasa.
Dia berjalan di area tenang di sebuah kawasan elit Melbourne yang bahkan dia tak menyadarinya di mana keberadaannya. Sepasang matanya berkunang dan dia berpegangan pada sebuah pagar rumah megah yang terlihat tenang. Dia yakin mungkin dia akan pingsan saat itu bersama pandangannya yang mulai kabur dan perlahan menggelap.
Trevor merasa di sekelilingnya gelap gulita dan tubuhnya melemas seketika. Dia tak ingat apa-apa lagi dan segelanya sunyi.
****
Seorang pria bertubuh gemuk keluar dari rumah megah itu untuk menunggu kedatangan sebuah pick up yang mengangkut sayur-sayuran dari berbagai desa sebagai persediaan bahan makanan para penghuni rumah tersebut. Ketika dia membuka pagar rumah, pandangannya jatuh pada sosok yang tengkurap di jalanan.
Dia mendekati sosok itu dengan terkejut dan membalikkan tubuh itu. Dia menemukan seorang pemuda tanggung yang pingsan dengan wajah pucat bersama bajunya yang lusuh dan compang camping. Dia menepuk pipi si pemuda dengan panik.
"Hei, anak muda! Bangunlah!" ketika si pemuda tetap tak bereaksi, dia akhirnya berteriak memanggil temannya yang kebetulan muncul untuk menemaninya menunggu mobil sayur. "Hendry!! Kemarilah! Bantu aku!"
Pria itu bersama pria lainnya yang bernama Hendry segera membawa pemuda pingsan itu ke dalam rumah dan menuju halaman belakang yang langsung menembus bagian dapur dan area para pekerja di rumah tersebut. Mereka berusaha membangungkan pemuda tanggung itu di salah satu ruang sempit khusus penyimpanan buah-buahan, berharap bahwa pemuda itu tidak meninggal.
*****
Trevor mencium aroma pekat di ujung hidungnya yang terasa menggelitik dan menganggu. Dia mengerang dan membuka matanya secara perlahan. Samar, dia melihat bayangan beberapa wajah di atas pandangannya, langit-langit bercat putih di atas kepala mereka dan suara-suara lega di sekitarnya.
"Puji Tuhan, dia sudah sadar!"
"Bernard! Anak ini sudah sadar!"
"Bawa brendi! Dia butuh sesuatu yang hangat!"
"Sudah sadar? Bagaimana keadaaannya?"
Trevor perlahan bangkit duduk dan menatap heran pada wajah-wajah orang dewasa yang mengerumuinya. Ada 5 pria dewasa dalam balutan pakaian serba putih dan beberapa dari mereka menggunakan topi memanjang yang diketahui Trevor adalah topi para koki serta 2 orang wanita setengah baya yang memakai celemek dan tubuh mereka bau aroma masakan yang membuat air liur Trevor terbit.
Seorang pria bertubuh gemuk menyeruak di antara mereka dan menatap Trevor dengan sinar mata lega. Pria itu memegang kepala Trevor dan berkata cemas. "Apakah kepalamu baik-baik saja? Apakah kau bisa melihat berapa jumlah jari-jariku?" dia mengacungkan satu jarinya tepat di depan wajah Trevor.
Alis Trevor berkerut dan dia menjawab lirih. "Satu."
"Dia tidak gegar otak, Bernard!" seorang wanita menertawai pria gemuk itu. kemudian dia menatap pemuda terlihat bingung. "Kau pingsan di depan rumah ini, nak. Apa kau tersesat?" dia menatap keadaan pemuda itu yang mengenaskan.
Trevor menelan ludah."Pingsan? Aku..." tiba-tiba terdengar suara keras dari perutnya yang amat jelas didengar oleh orang-orang yang mengelilinginya. "Kruyuk..." dan wajah Trevor memerah saat orang-orang itu saling pandang. Dia menunduk dan berkata lirih. "Maaf..." sambil menekan perutnya.
Tiba-tiba tawa pria gemuk itu pecah membahana. Dia menepuk bahu Trevor dan menatap pemuda itu dengan tatapan ramahnya. "Ternyata kau kelaparan?"dia menoleh teman-temannya. "Hei, beri anak ini makan!"
Terdengar tawa lainnya dan mereka semua bubar setelah yakin bahwa si pemuda akan aman bersama rekannya. Wanita yang menyapa Trevor tersenyum. "Tunggulah di sini bersama Bernard. Aku akan mengambilkanmu makanan."
Trevor hanya bisa mengangguk dan menatap pria di depannya yang kini duduk dengan wajah merahnya yang ramah. Dia menatap ruangan kecil di mana dia berada, bersih namun penuh dengan tumpukan keranjang berisikan buah-buahan dan peti-peti wine.
"Kau berada di rumah Duta Perancis di Melbourne. Jean Bruno Dubois." Pria itu tersenyum lebar dan mendengar kemunculan rekan wanita yang masuk membawa nampan makanan. "Makanlah dulu."
Trevor menatap semangkuk sup kental yang masih mengepulkan asap serta potongan daging besar dalam masakan berbumbu yang terlihat amat lezat. Sepasang matanya membelalak lebar dan dia menelan ludah.
"Makanlah, nak. Itu Soupe a l'oignon. Sup tradisional Perancis yang amat lezat, cocok untuk menghangatkan perutmu."
Trevor memegang ujung nampan dan menatap wanita yang kini duduk di sebelah pria gemuk. "Apakah aku boleh memakannya?" dia bertanya konyol dengan wajah memerah.
Wanita itu berseru kecil seraya menatap pria gemuk di sampingnya. "Ya Tuhan! Bernie! Anak ini menggemaskan sekali!"
Bernard tertawa dan mengangsurkan tangannya pada Trevor. "Itu memang untukmu." Dan dia melanjutkan tawanya melihat betapa lahapnya pemuda tanggung di depannya melahap makanan yang tersaji.
Itu adalah makanan dari surga, pikir Trevor saat memakan dua menu itu. Perutnya yang kosong selama berhari-hari bagai menemukan oasisnya, dia nyaris tak memikirkan bagaimana rupanya saat memakan semua itu dan menerima air mineral di sela-sela makannya.
"Namaku Bernard. Kau bisa memanggilku Bernie." Bernard menatap Trevor yang mengunyah potongan dagingnya. "Siapa namamu, Nak? Dari mana asalmu? Di mana orangtuamu?"
Trevor mengusap ujung bibirnya dan menatap Bernard. Ekor matanya melirik wanita setengah baya yang sedang menatapnya.
"Aku Appoline. Aku berasal dari Perancis." Appoline tertawa."Kami koki di sini dan Bernie adalah kepala koki."
Trevor menelan dagingnya dan menjawab pelan. "Aku Trevor Simons."
"Dari mana asalmu?" tanya Bernard halus.
"Tilba Tengah."
"Dan di mana orangtuamu?" Bernard memperhatikan pakaian Trevor yang rusak. "Kau sepertinya belum mandi. Aku bisa mencium bau tak sedap darimu." Dia menyeringai dengan lucu. "Kau boleh mandi di sini."
Sekali lagi pipi Trevor menghangat dan dia menjawab dengan menahan getaran di dadanya tiap kali mengenang keluarganya. "Aku sebatang kara."
Bernard dan Appoline terdiam. Appoline menatap tangan Trevor yang saling bertautan setelah pemuda itu meletakkan garpu. Dia menangkap tangan itu dan menemukan kulitnya yang kasar dan kapalan.
"Tanganmu kasar dan kapalan! Apakah kau menjalani hidup yang keras?"
Trevor menarik pelan tangannya dan tersenyum kecil. "Hanya kehidupan tak menyenangkan bersama seorang bibi." Dia menyingkirkan nampan makanan yang di atasnya telah ludes isinya di tiap mangkuk dan piring. "Terimakasih atas bantuan kalian. Aku akan pergi sekarang. suatu hari aku akan membalas budi kalian."
Sejak tadi Bernard hanya diam saja dan ketika pemuda itu berkata akan pergi, dia bersuara dengan halus. "Kau tak memiliki tempat tinggal dan mungkin saja kejadian hari ini akan terjadi lagi."
Trevor memasang kembali jaketnya dan menjawab dengan santai. "Aku tak masalah."
"Tunggulah dulu. Kami membutuhkan seseorang yang membantu kami untuk mengangkut s**u dari peternakan sapi. Jika kau mau menunggu, aku akan meminta ijin pada Madame untuk mempertimbangkan dirimu."
Trevor ternganga dan menjatuhkan tubuhnya di dipan kayu yang tadi ditempatinya. "Aku mempunyai kesempatan untuk tinggal di sini?"
Bernard tersenyum. "Ya, bekerja bersamaku dan yang lainnya. Mungkin uang yang kau terima sangat minim namun kau akan memiliki tempat untuk tinggal dan makan bersama kami secara gratis di dapur. Bagaimana? Apa kau mau menunggu?"
Trevor mengangguk berulang kali dan menatap Bernard berlalu dari hadapannya bersam Appoline. Dia menanti dengan jantung berdebar dan ketika sejam kemudian Bernard muncul di kamar kecil itu, pria gemuk itu melemparkan pakaian bersih pada Trevor.
"Mandi dan kenakan pakaian itu. nyonya besar memberi ijin untuk mempekerjakanmu. Aku mengatakan bahwa kau adalah keponakan jauhku." Bernard menepuk bahu Trevor yang terpana. "Berapa usiamu, Trevor?"
Trevor menatap Bernard penuh terimakasih dengan sepasang mata berair. "15, Sir."
Bernard menepuk kepala berambut gelap itu. "Panggil aku Bernie. Kau akan mendapatkan kamar sendiri berdampingan dengan para koki muda. Kau bisa bersamaku kapan saja dan bersama yang lainnya. Aku akan mengenalkanmu pada mereka setelah kau mandi."
"Terimakasih, Bernie." Tak terkira betapa bersyukurnya Trevor telah bertemu Bernard. Dia membungkuk berulang kali dan mendapatkan pelukan hangat Bernard.
"Bekerjalah dengan baik dan jadikan kami keluargamu. Hanya satu pesanku, jangan sekali-kali mendekati rumah utama. Hanya kepala koki dan pelayan pada hari yang dijadwalkan boleh memiliki akses masuk. Selebihnya kau bebas berada di area rumah ini." Bernard tertawa dan menarik bahu Trevor.
Trevor tak peduli tentang hal itu. Yang dipikirkannya adalah bahwa dia memiliki tempat berteduh dan pekerjaan yang membuatnya bisa menyambung hidup. Dia membersihkan dirinya di kamar mandi yang diarahkan Appoline dan memakai pakaian bersih yang diberikan Bernard. Itu adalah pakaian pelayan yang amat pas di tubuh jangkung Trevor.
Ketika dia diperkenalkan Bernard di dapur, sejak itulah nama Trevor dikenal sebagai pemuda pengangkut s**u tampan yang pendiam. Pemuda itu rajin dan selalu siap membantu para seniornya di dapur maupun pekerjaan lainnya sehingga semuanya menyukainya. Tak hanya para pria pekerja di rumah itu yang menyukai Trevor, para pekerja wanitapun menyukai Trevor terutama para pelayan perempuan yang masih gadis.
Hubungan Trevor dan Bernard menjadi sangat dekat sehingga Bernard berpikir bahwa Trevor adalah anaknya. Mereka tertawa bersama dan menikmati malam-malam bersama minuman mereka di dapur dengan para koki dan pelayan pria lainnya selama bertahun-tahun.
Tiap kali Trevor datang bersama s**u-susunya, dia melewati area luar rumah utama dengan menundukkan wajahnya demi mematuhi aturan yang berlaku. Sebuah gorden tersingkap dari arah jendela kamar atas ketika Trevor lewat di bawahnya dengan dua buah tank s**u penuh di kedua tangannya, menatap dengan sinar mata penuh penasaran.
"Siapakah itu, Anthea?" suara halus yang dihasilkan pemiliknya yang cantik, menatap tanpa berkedip ke arah menghilangnya pria muda yang melintasi bawah balkon kamarnya.
"Oh, apakah si pengangkut s**u?" seorang gadis mendekati jendela dan melongok. "Dia sangat tampan!"
"Apakah dia sudah lama di sini?"
"Setahuku dia sudah di sini cukup lama. Nona tidak tahu?"
Sang Nona menggelengkan kepalanya dan menjawab dengan tertawa kecil, meraih gelas susunya. "Kau tahu bahwa aku berada di asrama." Dia menatap Anthea. "Siapa namanya?" dia bertanya lirih.
Anthea mengerjabkan bulu matanya dengan nakal. "Anda terpesona dengan wajah tampannya?" melihat wajah sang nona memerah, gadis itu menyentuh ujung hidung bangir di hadapannya. "Namanya Trevor Simons. Dia memiliki jadwal memandikan kuda sore ini di istal. Kau boleh melihatnya di sana, Nona Sybille."