"Terimakasih, Treve!" Bernard menyambut kedatangan Trevor dengan dua tank s**u ke dalam dapur dan meminta agar pria muda itu meletakkannya di salah satu sudut dapur. "Letakkan saja di sana." dia menoleh sekilas dan melihat bahwa tanpa kata-kata, Trevor melakukan apa yang dimintanya.
"Sudah." Trevor menyusun dua tank itu dengan rapi dan menepuk kedua tangannya dan melepas sarung tangan yang dikenakannya. Dia meringis akan telapak tangannya yang memerah meski sudah dilindungi sarung tangan.
"Aku akan mengoleskanmu minyak." Sebuah suara pelan menerpa pendengaran Trevor.
Trevor mengangkat wajahnya dan mendapati Brenda, salah satu pelayan dapur berambut merah dengan kepangnya yang panjang, menatapnya dengan sepasang bola matanya yang membulat. Di tangannya terdapat sebuah botol kecil berisikan minyak untuk mengurangi kulit yang membengkak.
"Ini bukan sesuatu yang membahayakan." Trevor menjawab singkat dan mengusap talapak tangannya di sisi celana panjangnya.
Brenda tampak ragu sejenak namun gadis itu mengulurkan botol di tangannya ke hadapan Trevor. "Tapi paling tidak simpanlah minyak ini untuk kau gunakan kemudian hari." Wajah manisnya tampak memerah.
Trevor menatap tangan yang terulur itu dan melirik tatapan melotot Bernard. Dia menghela napas dan meraih botol itu dari tangan Brenda. "Terimakasih, Brenda." Dia menggenggam botol itu dan berjalan menuju keluar pintu dapur.
Bernard berteriak lantang. "Jangan lupa menggosok kuda di istal. Nona hari ini akan berkuda. Aku akan menyimpan bir untuk kita nanti malam." Pria tua itu melihat lambaian tangan Trevor dan langkah pria muda itu yang terlihat santai menembus halaman luas menuju area istal.
"Tak terasa Treve telah menjadi pria muda berusia 20 tahun." Appoline berkata dengan halus di sela-sela kesibukannya mengadon adonan roti. "Tapi dia masih saja sama, pendiam dan dingin."
Bernard mencicip kuah masakannya dan bergumam. "Dia tumbuh dengan sangat sempurna dan tidak peka sama sekali." Dia melirik Brenda yang kembali sibuk membenahi piring-piring. "Sabarlah Brenda. Trevor tak mengerti apa artinya jatuh cinta."
Pipi Brenda bersemu merah dan dia mengelap permukaan piring dengan hati-hati. "Aku menyukainya tanpa meminta balasan apapun dari dirinya." Dia semakin menunduk dalam. "Trevor selalu menutup dirinya pada siapapun."
Appoline menatap Bernard dan berkata penasaran. "Apakah denganmu dia pun demikian? Kau sama sekali tak tahu seperti apa dirinya sebelum bertemu kita?"
Bernard mematikan kompor dan beralih pada tumpukan kentang dan mulai mengupasnya. "Dia tak pernah membicarakan keluarganya kecuali mengatakan bahwa mereka meninggal kerena wabah penyakit."
Appoline menatap luar jendela dan melihat Trevor yang berlarian menuju istal. "Anak muda yang malang."
****
Trevor memasuki istal dan berjalan di antara kandang-kandang kuda dan mencari kuda yang akan digosoknya. Dia bertemu dengan salah satu pengurus istal dan mengatakan bahwa dia akan menggosok kuda milik Nona besar.
Pengurus istal yang merupakan pria setengah baya itu mengenali Trevor dan menepuk pundak lebar pria muda itu dengan ramah. "Hewan itu ada di kandang paling ujung. Berbulu cokelat dan sangat besar. Dia tak ramah pada orang baru sepertimu."
Trevor mengikuti arah telunjuk si pengurus istal dan berkata pendek. "Mengapa menugaskanku untuk menggosoknya?" meski terdengar ketus, dia melangkah menuju kandang yang dimaksud.
Hunter, si pengurus istal tersenyum, sama sekali tidak tersinggung dengan kalimat ketus Trevor. Para pekerja di rumah sang duta besar tahu bahwa Travor dikenal sebagai si dingin dari Tilba Tengah. Jarang di antara mereka melihat Trevor tertawa kecuali para penghuni dapur dan teman sekamar si dingin, Bernard. Namun para pekerja itu mengenal Trevor sebagai pribadi yang suka membantu tanpa banyak bicara.
Seperti sore itu, harusnya tugas menggosok Oscar adalah Connor. Namun pria itu meminta ijin pada kepala pengurus rumah tangga untuk kembali ke desa karena istrinya akan melahirkan. Maka Hunter teringat akan Trevor. Pria muda yang penuh dengan sarkasme itu memiliki tubuh kekar dan tinggi yang sanggup mengendalikan dengusan kemarahan Oscar. Hunter mempercayai itu hingga dia mendengar ringkik Oscar pada saat Trevor menarik tali kekang hewan itu untuk menuntun keluar dari kandang.
"Apa yang terjadi?"
Trevor menarik tali kekang itu dengan keras dan mengerutkan dahinya pada wajah Oscar yang marah, hidung hewan itu membesar dan mengecil serta mengeluarkan embusan kemarahan akan orang asing yang mencoba menarik lehernya.
"Hewan ini mencoba melawanku!" Trevor balas mendengus dan menarik tali kekang lebih keras.
"Berlakulah dengan lembut, Treve!" Hunter hampir menjerit saat melihat Oscar menggelengkan kepalanya yang membuat surainya bergerak kasar.
Trevor menatap Oscar dengan tatapan matanya yang tajam, dia menoleh Hunter dan bertanya acuh tak acuh. "Siapa namanya?"
"Bukankah sudah kukatakan namanya Oscar?!" Hunter mulai panik melihat Oscar kembali meringkik dan kali ini menaikkan kedua kakinya tinggi ke udara.
"Kau baru saja mengatakannya padaku," sahut Trevor dengan nada geli.
"Oh, apa saja yang kau katakan tolong jinakkan kuda ini!" Hunter histeris.
Trevor kembali pada Oscar dan dia menepuk pelan leher hewan itu. Dia berkata pelan seraya menatap bola mata Oscar yang memancarkan ketidaksenangan padanya. "Oscar. Oscar. Dengarkan aku."
Dia memanggil nama hewan itu dengan lembut, tampak Oscar menegakkan lehernya dan mengendus kencang ke arah wajah Trevor yang menyeringai. Oscar menantang Trevor namun menghentikan gerak liarnya ketika mendengar senandung pelan dari bibir Trevor.
Seraya bersenandung lirih, Trevor menarik perlahan tali kekang Oscar dan secara patuh hewan itu mulai melangkah mengikuti Trevor. Hingga akhirnya mereka telah keluar dari istal, Trevor sama sekali tak menghentikan senandungnya dan mulai mengusap tubuh kuda itu dengan perlahan.
"Ya, anak manis. Aku hanya perlu menggosokmu untuk majikanmu." Trevor membungkuk, melepas tapak kuda dengan hati-hati. Dia menatap Oscar yang menggerakkan ekornya dan kembali bersenandung. Dia meraih curry comb untuk mulai melonggarkan tanah, lumpur dan kotoran yang terdapat di bulu Oscar. "Kita akan membuat bulumu berkilauan."
Oscar sungguh menjadi jinak saat merasakan nyamannya Trevor menggosok tubuhnya dan dia menyundul wajah Trevor dengan pelan, menciptakan tawa kecil pria muda itu. Merasa bahwa Oscar sudah bisa menerima dirinya, Trevor semakin bersemangat menggosok punggung Oscar. Dalam satu kesempatan, dia membuka bajunya dan membiarkan dadanya terbuka lebar menyentuh lembutnya semilir angin sore yang manis.
Karena Oscar menyukai senandung yang dinyanyikan Trevor, maka Trevor tetap melantunkan senandung tersebut dalam bahasa Aborigin sebagai kenangannya akan bersama ayahnya saat menjaring ikan di laut lepas. Dengan bernyanyi dalam bahasa itu, Trevor seakan berada di dekat ayahnya hingga dia tak menyadari bahwa seseorang telah berada di dekatnya.
"Bahasa apakah itu?"
Trevor terkejut dan segera menghentikan senandungnya, membalikkan tubuhnya dan bertatapan langsung pada seorang gadis cantik yang lebih muda darinya. Cantik, langsing dan jangkung dibalut pakaian berkuda. Rambut gadis itu berwarna pirang kecokelatan dan suara yang menyapanya amat lembut dengan aksen Perancisnya yang kental. Gadis itu muda dan cantik. Cantik yang unik menurut Trevor dan jantungnya berdebar tak kenal ampun.
"Bahasa apakah itu?"
Trevor tersentak akan pertanyaan yang sama yang dilontarkan gadis di depannya. "Oh, itu bahasa Aborigin..."dia menunduk dan mengalihkan tatapannya. Dia menyumpahi dirinya yang bertelanjang d**a seakan dia amat tidak sopan. Dan sialannya, jantungnya semakin keras debarannya hingga dia berpikir bahwa jantungnya akan lepas.
****
Ya Tuhan! Dia sangat tampan. Wajahnya, tubuhnya, Tuhan akan menghukumku karena mengagumi d**a berotot itu yang bagai hasil pahatan para seniman. Sybille berjuang untuk tidak memperhatikan d**a terbuka milik pria muda di depannya yang begitu maskulin dan indah. Mengikuti saran Anthea sungguh merupakan kesalahan besar, membuatnya semakin berdebar oleh pria itu.
Sybille bertekad untuk memutar balik tubuhnya namun yang terjadi adalah bahwa dia melangkah mendekati sang pria dan menyapanya dengan suara penuh ragu bercampur rasa malu. Mendengar jawaban pria itu, Sybille mulai menganalisis jenis suara yang didengarnya.
Suaranya berat dan datar. Sepasang matanya hijau pekat. Rambutnya berwarna gelap. Sybille mendekati Trevor dan memiringkan kepalanya, mencoba meneliti wajah tampan yang terlihat canggung.
"Apakah kau pria yang selalu mengangkut s**u sapi di peternakan?" Sybille bertanya halus. Jantungnya berdebar menanti suara sang pria.
Trevor mengangkat wajahnya dan kembali tatapannya bersirobok dengan sepasang mata berwarna biru yang jernih. "Oh, iya..itu aku..." dia menjawab sopan.
Sybille tersenyum lebar. "Kau selalu menjadi topik pembicaraan gadis-gadis di dapur bahkan pelayanku, Anthea membicarakanmu saat menyisir rambutku." Dia menatap Trevor yang terlihat membelalak kaget. "Kau sangat tampan. Seperti yang kudengar." Ya Tuhan! apa yang kukatakan? Sybille, kau sangat berani! Ya Tuhan! Ampuni aku! Dia menekan keinginannya meletakkan telapak tangannya pada d**a bidang di hadapannya.
Wajah Trevor memerah tanpa disadarinya mendengar pujian yang dilontarkan gadis di hadapannya. "Terima kasih...Nona..."
"Sybille. Namaku Sybille Dubois." Sybille mengulurkan tangannya yang putih. "Siapa namamu?"
Saat gadis itu menyebutkan nama, Trevor terkejut saat menyadari bahwa sedang berhadapan dengan nona majikannya. Gadis itu adalah puteri bungsu duta Perancis tempatnya bekerja, Jean Bruno Dubois, yang bahkan setelah berada 5 tahun bekerja di rumah itu, Trevor tak pernah sekalipun melihat secara jelas wajah sang duta. Berbicara dan bertatap muka dengan para pemilik rumah besar itu dilarang dan Trevor merasa ragu menyambut uluran tangan sang Nona yang diketahuinya dari segala pembicaraan para pelayan bahwa sang noba selama ini berada di asrama putri.
"Hei, di Perancis bahkan pria tak berani membiarkan seorang gadis menawarkan diri untuk berkenalan. Siapa namamu?"
Trevor menatap wajah cantik itu dan seakan tenggelam dalam kedalaman warna biru sepasang mata itu. Dia menatap tangan yang mulus dan putih itu dan menjabatnya dengan hati-hati. kulitnya seakan menyatu pada kulit halus sang Nona. Sebuah sengatan listrik yang mendebarkan menyerang keduanya dan tanpa sadar Trevor meremas telapak tangan itu. sekali lagi merasakan jantungnya yang berdebar kencang.
"Trevor. Namaku Trevor Simons."
Sybille tersenyum demi menyembunyikan rona merah wajahnya serta deburan jantungnya yang memekakkan telinganya. Dia berkata dengan lambat. "Maukah kau menemaniku berkuda?"
****
Trevor menuntun Oscar bersama penunggangnya yang cantik, yang duduk tegak di pelana dengan sikap diam dan mencengkram erat tali kekangnya. Dia sudah kembali mengenakan bajunya dan melirik nona yang hanya diam saja seakan kehabisan kata-kata.
"Apakah anda ingin berlari bersama Oscar? Aku akan melepaskan tali yang kupegang." Trevor berkata dan melihat bahwa Sybille terkejut.
Sybille menunduk dan menemukan tatapan Trevor padanya. Dia tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya. "Biarlah seperti ini. Aku ingin menikmati udara sore..." dia menunduk dan melanjutkan kalimatnya di dalam hati. Aku lebih menikmati kehadiranmu.
Trevor membuang tatapannya pada hamparan rumput hijau luas di depannya. Oscar semakin jinak sejak pemiliknya menungganginya dan Trevor nyaris tak sanggup menghentikan pikirannya akan nona majikannya.
"Apakah kau asli Australia? Kau bisa berbicara dalam bahasa suku Aborigin?" Sybille memecah kesunyian keduanya.
Trevor menjawab tanpa menatap wajah sang nona. "Aku asli Australia. Tilba Tengah."
"Di mana itu?" Sybille bertanya penasaran, dia sengaja membungkukkan tubuhnya dan mencoba melihat wajah Trevor. "Apakah jauh dari Melbourne?"
Trevor menoleh dan terdiam melihat wajah Sybille yang sedang menunduk, menatapnya. Tubuh gadis itu membungkuk hingga nyaris miring dari punggung Oscar. Seketika Trevor menyentuh pelan bahu gadis itu dan berkata kaku. "Anda bisa terjatuh."
Sybille memegang lengan Trevor dan tersenyum canggung. "Anthea mengatakan padaku bahwa kau sudah bekerja di sini selama bertahun-tahun. Mengapa aku tak pernah melihatmu?"
Trevor mengencangkan rahangnya. Kepalanya mendadak pusing saat menghirup aroma tubuh dan rambut Sybille. Dia mencoba mendorong gadis itu agar duduk tegak di punggung Oscar namun dia mendengar suara halus itu.
"Turunkan aku."
"Eh?"
Sybille menekan sebelah tangannya pada bahu Trevor. "Turunkan aku." Dia berkata lirih dan bergetar.
Trevor menelan ludah dan melepaskan tali Oscar. Kedua tangannya memegang pinggang ramping Sybille dan dia hanya sanggup berkata pelan. "Letakkan tangan anda di bahuku."
Sybille melakukan hal yang dikatakan Trevor, meletakkan kedua tangannya di bahu kokoh pria itu dan merasakan bahwa tubuhnya terangkat dari punggung Oscar. Dia menatap wajah Trevor lebih dekat dan dia mendesah kecil seraya berkata.
"Berapa usiamu?"
Trevor berhasil membuat Sybille berdiri tegak di atas tanah dan membiarkan kedua tangan gadis itu terletak di bahunya. Bahkan dia tak bisa melepaskan kedua tangannya pada pinggang Sybille. "20 tahun."
Perlahan Sybille menggerakkan tangannya dan dengan lambat menyentuh d**a Trevor. "Aku 18 tahun." Dia merasakan embusan hangat napas Trevor di puncak kepalanya. "Mengapa kau tak pernah muncul di rumah besar?"
Dengan enggan Trevor melepaskan tangannya dari pinggang Sybille, sama sekali tak tahu bahwa pemilik pinggang ramping itu protes di dalam hati. Trevor merasa kulit tangannya panas terbakar saat menyentuh tubuh Sybille meski dibalut pakaian lengkap. Perasaan apa ini? Aku ingin menyentuh gadis ini. jantungku seakan lepas dari tempatnya dan tubuhku terasa panas membara. Dan hal yang tak dikira oleh Trevor bahwa bagian tubuhnya yang lain bereaksi atas pikirannya yang ingin menyentuh sang nona.
Trevor mundur beberapa langkah dan mencoba menenangkan perasaannya. "Aku tak diijinkan untuk mendekati rumah utama."
Alis Sybille menyatu tanda tidak setuju. "Mengapa? Apakah Papa yang membuat peraturan?" Sybille maju selangkah yang membuat Trevor mundur beberapa langkah.
"Tidak, memang demikian aturannya." Ya Tuhan, jangan mendekat. Aku nyaris meledak dan rasanya amat sakit karena menahannya. Trevor berusaha agar Sybille tak memperhatikan tubuh tengahnya yang untungnya celana panjangnya berwarna gelap.
"Apakah Mama?" Sybille bertanya penasaran.
"Itu...itu karena aku pelayan rendahan..." Trevor kembali mundur setiap Sybille maju selangkah demi selangkah.
"Bukankah itu tidak adil?"
Persetan dengan kata adil. Yang diinginkan Trevor saat itu adalah kabur dari Sybille agar dia bisa menenangkan miliknya yang semakin membengkak tak tahu aturan. Dia melihat dari kejauhan sosok gadis lainnya berlari ke arah mereka.
"Nona Sybille!"
Sybille menoleh dan mendesah tak sabar pada pelayannya yang mengganggunya saat bertanya pada Trevor. Wajahnya menunjukkan rasa tidak senangnya saat Anthea sudah berada di hadapannya. "Ada apa?"
Anthea berusaha mengatur napasnya dan melirik Trevor yang menyibukkan diri bersama tali kekang Oscar. "Madame memanggilmu. Saatnya minum teh bersama Mademoiselle Latitia."
"La Tante Latitia? (di perancis la tante artinya bibi. Ada keterangan "la" karena jenis kelaminnya perempuan.)" Sybille jelas tak suka bertemu dengan bibinya yang mempunyai hobi membawa foto-foto pemuda untuk dijodohkan dengannya.
Anthea menarik lengan sang nona dan berbisik. "Anda masih bisa bertemu dengan Treve jika anda menghendakinya."
Wajah Sybille merona dan dia memukul lengan Anthea. "Kau! Dasar tidak sopan." Dia memutar tubuhnya dan terperangah mendapati kudanya, Oscar, telah dipacu Trevor kembali ke istal dengan jalur memutar. Pria itu menunggang Oscar tanpa kesulitan dan berlalu dari hadapan Sybille.
"Oh, dia bahkan tak mengucapkan selamat tinggal padaku!" Sybille protes dan mendengar suara cekikikan Anthea.
"Bukankah jenis pria seperti itu yang membuat anda penasaran?" Anthe menggoda Sybille. "Bagaimana? Apa yang anda bicarakan dengannya?"
Sybille menghela napas dan menunduk. "Aku terlalu takut berbicara dengannya. Aku sudah mengikuti saranmu, berbicara banyak dengannya namun itu bukan gayaku. Aku pemalu, Anthea. Dan dia...dia sangat pendiam..." Sybille menekan dadanya dengan telapak tangannya. "Kupikir aku jatuh cinta padanya."
Sementara itu, Trevor menunggangi Oscar dengan berlari kencang menuju istal. Kuda itu meringkik girang saat berlarian bersama Trevor yang amat ahli mengendalikannya. Trevor melompat dari punggung Oscar dan menepuk pelan leher hewan itu dengan senyum tipis.
"Kau kuda unggulan." Dia menuntun Oscar memasuki kandang dan memberi hewan itu makanan yang sudah tersedia.
Trevor menutup pintu kandang dan menunduk, memperhatikan dirinya yang sudah kembali dalam kondisi normal. Dia bersandar pada dinding istal dan mengusap wajahnya yang terasa hangat. Di pelupuk matanya tercetak wajah cantik sang nona bersama aroma tubuhnya yang harum, memabukkan Trevor bagai di dalam dunia fantasi dan khayal.
"Demi Tuhan, dia sangat cantik dan halus...." Trevor mendesah lirih dan berjalan keluar dari istal menuju tempatnya, dapur, bersama Bernard dan yang lainnya. Namun sekejabpun dia tak melupakan sosok Sybille Dubois yang telah menghipnotisnya.