Sybille memasuki ruang minum teh dan melihat ibunya dan Bibi Latitia yang sedang bercakap-cakap dengan secangkir teh di hadapan mereka. Madame Dubois melihat kedatangan Sybille dan menepuk kursi di sebelahnya agar puterinya duduk di sampingnya.
"Duduklah di sini, sayang. Dengarkan pengalaman bibi Latitiamu di Amerika beberapa saat lalu." Isabelle Dubois tersenyum.
Sybille duduk di sisi ibunya dan tersenyum pada Bibi Latitia yang kali ini tampak bergaya amat glamor dengan aroma parfum yang begitu pekat. Bahkan Sybille mendengar suara bibinya sedikit melengking seperti artis opera yang kemarin dilihat oleh Sybille.
Latitia, wanita dewasa berusia menjelang 40 tahun, dengan tahi lalat kecil di sudut atas bibirnya, tersenyum lebar pada Sybille seraya tangannya menjangkau punggung tangan gadis di hadapannya itu.
"Kau selalu cantik tiap kali aku melihatmu, sayang." Latitia menoleh Isabelle dan tertawa genit yang membuat alis Sybille berkerut. "Apakah Sybille sudah keluar dari asrama putri?"
Isabelle menyesap tehnya dan tersenyum. "Dua bulan lagi Sybille akan lulus dan kembali ke rumah." Dia menoleh anak gadisnya yang terlihat menatap dengan menerawang. "Benar kan, sayang?"
Sybille tersentak dan merasa wajahnya menghangat. Dia melihat kemunculan Brenda yang memberikan cangkir teh miliknya. Sejenak pikiran Sybille tak berada di ruangan itu tapi mengembara pada sepasang mata hazel pekat yang selalu berusaha menghindar saat bertatapan dengannya. Dia menekan dadanya dengan pelan dan mencoba meraih cangkir tehnya.
"Ya, Mama." Sybille menjawab halus, mengangkat bulu matanya dan mendapati senyum rahasia penuh makna dari Bibi Latitia.
"Itu artinya kau sudah diijinkan menghadiri pesta-pesta para gadis." Bibi Latitia memajukan tubuhnya ke tengah meja. "Aku banyak mengenal pemuda kaya yang tampan. Kurasa mereka akan menyukaimu, Sybille sayang." Bibi Latitia mengedipkan matanya.
Pipi Sybille bersemu merah apalagi ketika mendengar tawa kecil ibunya. "Kurasa kau bisa memilih salah satu yang terbaik dari mereka, Latitia?"
"Mama..." Sybille menyela dengan tidak nyaman. "Aku masih 18 tahun..."
"Usia yang tepat untuk mengenal pria!" Latitia bertepuk tangan. "Selama ini kau mendekam di dalam asrama, bertemu dengan sejenismu dan terpujilah bahwa kau tidak lesbian."
"Latitia! Ucapanmu!" Isabelle menegur adiknya dengan keras dengan melotot.
Latitia tertawa tanpa rasa bersalah. "Itu bukan kata tabu di Amerika."
"Tapi kita bukan orang Amerika!" Isabelle mendecak tidak setuju.
"Ayolah, Isabelle. Sybille sudah dewasa. Dia mungkin sudah tahu istilah itu jauh sebelum kau menceramahiku tentang etika dan sopan santun." Latitia menatap wajah keponakannya yang merona. "Bagaimana, Sybille? Kau tak sabar untuk menikmati pesta yang biasa kuhadiri? Banyak pria muda yang akan membuat ayahmu senang..."
"Mengapa tidak bibi saja?" Sybille memotong kalimat ceriwis Bibi Latitia. Dia meletakkan cangkirnya ke atas tatakan cangkirnya, menatap sang bibi dengan sorot mata birunya yang tajam. "Bukankah usia bibi yang lebih tepatnya disebut sebagai usia layak menikah?"
"Sybille!" Isabelle berseru kaget mendengar protes Sybille yang selama ini hampir tak pernah didengarnya. Anaknya terlalu halus untuk membantah apa saja yang dikatakan sekitarnya, namun kali ini Sybille tampak berani mengungkapkan ketidaksukaannya.
Sybille mendorong kursinya dan mengatakan bahwa dia akan kembali ke kamarnya. Dia bisa melihat wajah berkerut ibunya tetapi dia tak memikirkan hal itu. Dia menyaksikan senyum kecil bibi Latitia seakan wanita itu telah menjenguk isi hatinya. Dia merasakan semburan rasa hangat menjalari kedua pipinya dan memutar tubuhnya, berlalu dari ruangan itu tanpa salam apa pun.
Isabelle menggelengkan kepalanya dan menatap Latitia. "Meski aku kurang setuju dengan sikap terbukamu, tetapi aku meminta maaf atas kekasaran Sybille padamu. Aku yakin kau merasa tersinggung, Latitia."
Latitia terkekeh dan meraih cangkir tehnya. "Tak masalah. Dia masih sangat muda dan...sedang jatuh cinta..." dia mengucapkan kata terakhir dengan amat halus hingga sang kakak memajukan tubuhnya.
"Apa? Dia apa katamu?"
Latitia mengibaskan tangannya. "Tidak. Aku tak mengucapkan apa pun." Dia tersenyum di balik bibir cangkirnya.
****
Trevor berada di dapur malam itu untuk membantu Bernard dan yang lainnya dalam mempersiapkan makan malam yang akan yang diadakan sang duta besar. Malam itu menjadi makan malam besar yang diketahui sebagai makan malam pertemuan para pejabat di pemerintahan yang selama ini rutin di adakan oleh Jean Bruno Dubois. Trevor tak peduli detail mengapa makan malam besar itu diadakan, dia hanya berjuang menyibukkan dirinya dari pikirannya yang selalu mengenang perjumpaannya bersama Sybille Dubois, bahkan setelah dua hari telah berlalu, bayangan gadis itu masih menetap di benaknya.
Dia mendengar beberapa pelayan wanita membicarakan putri duta Perancis dengan penuh kekaguman dan dia menunduk dalam saat salah satu dari mereka memuji kecantikan Sybille Dubois saat mengenakan pakaian.
"Dia benar-benar prototipe gadis Perancis yang cantik. Kulitnya putih pucat namun sangat mulus seperti porselein."
"Aku pernah membantu Anthea mengatur rambutnya. Helai rambutnya halus dan pirangnya amat cantik membingkai wajahnya."
"Dia memiliki kecantikan klasik."
"Ehem!" Appoline berdehem keras dan mengacungkan jarinya dengan lurus. "Jika masih bisa bergosip bagaimana jika kalian mulai mengeluarkan semua alat makan dan mengaturnya di meja makan?"
"Baik, Appoline." Para pelayan muda itu segera berpencar dengan tugas masing-masing yang membuat Appoline menghela napas.
"Biarkan saja mereka bergosip, Appo. Mereka mengagumi Nona Sybille." Bernard tertawa pelan seraya mendekorasi menu utama. Dia melirik Trevor yang terlihat membantu para pria mengeluarkan botol wine. "Kau taruh di sana saja, Treve."
"Ya." Trevor menjawab singkat.
Bernard menegakkan punggungnya dan mengelap tangannya di celemeknya. "Kau sudah melihat putri duta besar?"
Tanpa menghentikan kegiatannya mengeluarkan botol-botol wine, Trevor menjawab pendek. "Sudah."
Bernard tersenyum. "Cantik bukan?"
Trevor menelan ludah dan memindahkan semua botol ke atas lemari yang dikatakan Bernard. "Ya."
"Aku sudah menjadi koki di keluarga ini sejak mereka masih di Perancis. Ketika kecil nona Sybille paling gemar muncul di dapur dan meminta macaron yang kubuat. Sejak dia memasuki asrama putri, rasanya sudah lama aku tidak berjumpa dengannya."
Trevor berhenti dan menoleh Bernard dengan rasa ingin tahu yang disembunyikannya sehingga menghasilkan tanya yang terdengar masa bodoh. "Mengapa kau menceritakan hal itu padaku?"
Bernard menggaruk kepalanya dan tertawa. "Mengapa? Mungkin kau sudah bertemu dengannya dan menilainya lebih objektif daripada para gadis-gadis."
Trevor tersenyum kecil. "Aku tak tahu bagaimana sang nona saat masih kecil."
"Ah, benar juga!" Bernard menepuk dahinya dan tertawa-tawa konyol. Dia kembali pada pekerjaannya dan bergumam. "Baiklah, aku akan membuat macaron dan meminta Anthea membawanya untuk Nona Sybille."
Trevor menghela napas dan memutuskan untuk kembali ke kamarnya ketika Appoline meneriaki namanya.
"Treve! Jangan kembali ke kamarmu, nak!"
Trevor membalikkan tubuhnya dan terkejut akan tumpukan baju yang berada di tangannya. "Apa ini?" dia menatap Appoline, bingung.
"Kita kekurangan pelayan di meja makan! Kau pakailah seragam itu dan berada di ruang makan rumah besar!" Appoline berkata sambil dia bergerak ke sana kemari meminta yang lainnya bersiap membawa dorongan berisi menu-menu.
"Bukankah aku dilarang memasuki rumah besar?" Trevor berkata dengan d**a berdebar. Jika dia masuk ke rumah besar bukankah artinya dia bisa melihat nona yang cantik itu?
"Itu dulu, Treve! Saat kau masih remaja dan belum tahu tugasmu." Bernard menjawab tanya di mulut Trevor. "Tapi kau merupakan pekerja yang rajin dan kurasa sudah waktunya kau mengenal orang-orang di rumah besar."
Trevor menatap seragam yang ada di tangannya dan sekali lagi mendengar suara histeris Appoline.
"Astaga, Trevor! Segera ganti pakaianmu dan bantu kami!"
Ini kesempatan! Inilah kesempatan baginya untuk bertemu Sybille Dubois!
****
Ini pertama kalinya Trevor memasuki rumah besar yang terlihat amat megah dengan dekorasi eropa yang amat kental bahkan Trevor merasa seakan dia tak berada di Melbourne malainkan berada di Perancis yang bercita rasa seni yang amat tinggi. Sebagian besar pelayan yang ada di rumah besar itu berbicara dalam bahasa perancis yang tak diketahui Trevor apalagi ketika dia melintas bersama pelayan lainnya.
Gadis-gadis pelayan itu menatapnya dengan lekat dan tertawa kecil sambil berbicara berbisik. Trevor menunduk, memperhatikan dirinya dan mencari letak keanehan dirinya hingga membuat para gadis itu tertawa kecil. Apakah aku terlihat konyol dengan pakaian ini?
"Jangan khawatir. Itu karena kau amat tampan dengan pakaian itu." Lou berkata santai seraya mendorong menu mendekati ruang makan yang terbuka lebar, dari kejauhan terdengar suara percakapan dan denting gelas yang saling beradu.
Trevor menaikkan alisnya dan hanya diam saja. Dia terus melangkah mengikuti para seniornya dan suara Brenda di sampingnya membuatnya menoleh.
"Saat melayani orang-orang di dalam sana, tolong jangan mengatupkan bibirmu."
"Bibirku memang seperti ini. Sulit digerakkan untuk tersenyum." Trevor menjawab asal yang membuat Brenda tersenyum kecil.
"Ya, paling tidak kau tak boleh memasang wajah tak bersahabat." Gadis itu mendahului Trevor memasuki ruang makan luas itu dan musik halus semakin terdengar di telinga Trevor.
Di sana, di kursi di bagian kiri, Trevor melihat gadis itu. Nona Sybille tampak cantik dengan gaun malamnya yang berwarna merah muda bersama rambutnya yang digelung rapi. Ada sirkam berbentuk mahkota kecil berada di puncak kepalanya yang dapat dipastikan Trevor beraroma harum. Gadis itu terlihat bosan dan menunggu menu makanan dengan menghela napas berkali-kali. Ketika pandang mata biru yang sedang bosan itu tertuju pada sosok Trevor, seketika bola mata indah itu melebar dan berbinar. Jantung Trevor berdebar kencang ketika menyadari bahwa sang nona kini memusatkan perhatiannya pada dirinya.
"Bawa minuman ini pada keluarga duta besar. Dimulai dari Tuan Besar." Lou menyerahkan nampan minuman pada Trevor. "Jangan biarkan gelas mereka kosong. Tawarkan jika sudah terlihat sedikit." Pria itu mendorong punggung Trevor. "Kau bisa melakukannya dengan sempurna, Treve."
Trevor tak yakin dia akan melakukan tugasnya dengan sempurna. Berjalan mendekati meja di mana Sybille duduk menambah kegugupan di hati Trevor. Dia harus bertahan dan berjalan tenang mendekati kursi duta besar, meletakkan gelas wine untuk pria berkumis itu dan secara berurutan pada nyonya duta besar, begitu seterusnya hingga dia mencapai kursi Sybille Dubois.
Mata mereka saling beradu untuk kedua kalinya dan gadis itu tersenyum gugup, sama seperti dirinya saat menggerakkan tangannya meraih gelas yang diangsurkan Trevor.
"Terimakasih...." Sybille bersuara halus, tanpa sengaja menyentuhkan jarinya pada jari Trevor yang memegang kaki gelas. "Kau bertugas di rumah besar?"
Trevor mencium aroma harum yang menguar dari tubuh dan pakaian Sybille. Dia mengencangkan rahangnya dan menjawab dengan nada suara normal.
"Aku mengisi kekosongan, Nona." Trevor menunduk dan membiarkan Sybille menerima gelas winenya.
"Oh, begitukah?" Sybille berkata lirih. Dia merasa tak ingin Trevor menjauh dari sisinya dan selalu mengikuti arah berlalunya pria itu. jantungnya seakan berlompatan dengan tak sabar untuk kembali berbicara bersama Trevor.
***
Baik Trevor dan Sybille sama-sama tak bisa mengalihkan mata mereka sepanjang makan malam itu dan Trevor berdoa agar tugasnya segera berakhir. Dia tak sanggup berada di dekat Sybille tanpa mampu menyentuhnya dan hanya bisa menatap saja. Gadis itu selalu melihatnya dan hal itu membakar tubuh Trevor, membuatnya ingin kabur. Saat makan malam telah usai dan para orang penting itu meninggalkan ruang makan, Trevor segera mengemasi alat-alat makan dan tak memandang Sybille yang beranjak dari kursinya.
Dengan geraknya yang halus, Sybille bisa melihat Trevor yang berusaha mengabaikan dirinya. Dia ingin berbicara apa saja dengan pria tertutup itu, mendengar cerita apa saja dari bibir terkatup tak ramah itu. pikiran itu membuatnya mendekati Trevor di saat pria itu berada jauh dari pelayan lainnya.
"Apakah...apakah...kau akan menggosok Oscar lagi?"
Trevor terkejut saat mendengar suara pelan yang muncul di belakangnya. Dia membalikkan tubuhnya dan tanpa disadarinya, pinggulnya membentur sisi meja. Dia meringis dan menatap Sybille yang menutup mulutnya.
"Tidak. Aku tidak memiliki jadwal di istal." b******k! Benturan ini sakit sekali.
"Sakitkah?" Sybille mengulurkan tangannya untuk menyentuh sisi tubuh Trevor namun hal itu membuat Trevor menggeser dudukan kakinya.
"Tidak! Tidak. Sama sekali tidak sakit." Trevor menjawab cepat dan membalikkan tubuhnya untuk menuntaskan pekerjaannya.
Sybille menelan ludahnya dan kembali bersuara. "Apakah...apakah...apakah kau mau menemaniku berkuda lagi?"
Trevor memutar tubuhnya dan menunduk, mendapati sinar mata biru di depannya yang sedang menatapnya. Dia seakan mendengar suara dengung lebah di telinganya, benaknya dan juga di pusarnya. Sybille terlihat bagai peri mungil di hadapannya, dan dia mengakui gosip para gadis di dapur. Sang nona memiliki kulit putih pucat namun anehnya tampak merona di atas kulitnya yang mulus tanpa noda.
"Bernard membuatkan anda macaron di dapur. Anda bisa memintanya melalui pelayan anda, Anthea." Bukan itu yang ingin diucapkan Trevor pada Sybille, dia ingin mengatakan bahwa dia bersedia menemani Sybille berkuda. Tetapi lidahnya kelu untuk mengatakan kenyataan yang diinginkannya. Dia dan Sybille seharusnya tak bercakap-cakap seperti ini.
Sybille jelas merasa kecewa mendengar jawaban Trevor dan hanya bisa tersenyum kecil. "Ya, Bernard. Dia masih mengingat kesukaanku." Dia melihat kepala ibunya berputar ke arahnya. Ada kerutan di dahi ibunya yang membuat Sybille mundur beberapa langkah, sengaja menjatuhkan saputangannya.
Otomatis Trevor membungkuk, memungut saputangan itu dan menyerahkannya pada Sybille. Tangannya dipegang gadis itu dan dia mendengar suara pelan sang nona untuknya.
"Aku tak tahu apa yang kupikirkan saat ini. Ini pikirana gila, tapi aku ingin bertemu denganmu...lagi..." Sybille merasa pipinya merona dan dia menarik saputangannya dari Trevor yang ternganga. "Maafkan atas sikapku..."
"Aku bersedia menemani anda berkuda..." dan pikiran gila itu pun menular pada Trevor. Tepatnya keinginan gilanya yang liar untuk bisa menyentuh Sybille. Dia bisa melihat punggung ramping itu menegak, tegang dan hanya menoleh pelan.
"Seperti hari itu? sore hari?" Ya Tuhan! Mama di sana! Mama sedang memperhatikanku! Namun ada gejolak aneh sedang melanda Sybille.
"Ya. Seperti hari itu." Trevor berkata dengan bergetar. Dia ingin memeluk punggung Sybille, mengecup tengkuk jenjang yang menerpa penglihatannya dan dia tahu bahwa dia sudah mulai gila, berfantasi atas gadis itu.
"Sampai jumpa." Sybille melanjutkan langkahnya, menerima genggaman ibunya berikut pertanyaan ingin tahu dari wanita itu.
"Apa yang sedang kau lakukan pada pria muda itu? Dia pelayan kita bukan?"
Sybille meremas erat saputangannya. "Dia memungut saputanganku." Dan dia melihat wajah pengertian ibunya. Dia tak sabar menunggu esok sore.
****
Trevor tak bisa tidur. Dia membuka lebar kedua matanya dan mendapati langit-langit kamar yang tinggi di hadapannya. Dia duduk dan mengusap wajahnya. Dia beruntung bahwa Bernard memutuskan untuk memberikan kamar itu pada Trevor dan pria gemuk itu pindah di kamar lainnya. Trevor tak perlu memberikan alasan mengapa dia tak bisa tidur dan memilih keluar dari kamar, mengambil jatah bir di dapur dan membuka pintu dapur.
Dia bersandar di jendela dan berniat berada di luar, menatap langit pekat malam dan mungkin duduk di halaman berumput basah demi menyegarkan pikirannya yang dipenuhi wajah Sybille. Tanpa alas kaki, Trevor berada di halaman luas rumah duta besar, duduk di rumput dengan tangan memegang sebotol bir. Dia mendongak ke langit dan mencoba mencari bintang. Tak ada satu pun bintang yang dapat dilihatnya. Saat seperti itulah Trevor merindukan orangtuanya dan Kristella. Dia mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya dengan perlahan.
Sudah lima tahun dia di Melborne dan sama sekali tak tahu apa yang akan dilakukannya untuk menemukan Kristella yang dinyatakan hilang. Dia hampir yakin bahwa tak ada yang bisa dilakukannya untuk membersihkan nama baik kakaknya seperti yang dituduhkan di dalam surat kabar. Dia mencabuti rumput dan mengigitnya dengan keras untuk menahan airmata kesedihannya. Kalung berliontin di lehernya seakan semakin memberatkan lehernya hingga dia menegak birnya dengan frustrasi.
"Apakah kau juga tak bisa tidur?"
Trevor menoleh dan mendapati sosok cantik yang sedang membungkuk ke arahnya. Di antara angin malam yang hangat, di balik gaun tidur yang ditutupi mantel, dia menemukan pemilik rambut pirang kecokelatan yang sedang menatapnya dengan saksama.
"Nona...Sybille...?" Trevor mencelat bangun dari dudukknya, dia tak menyangka akan bertemu dengan Sybille. "Mengapa kau berkeliaran di tengah malam?"
Sybille meringis mendengar tuduhan Trevor. "Kau seperti sedang mengumpat hantu." Dia menjelajahi Trevor saat itu dan mau tak mau dia memalingkan wajahnya ketika melihat d**a terbuka Trevor.
Trevor segera mengancing kemeja tidurnya dan membuang rokoknya ke rumput, menginjaknya hingga hancur. "Maaf...aku akan menemani anda kembali ke rumah besar."
Sybille menoleh Trevor dengan alis berkerut. "Aku tak bisa tidur dan aku bebas mau ke mana saja di sekitar rumah." Dia menaikkan dagunya dan menjatuhkan tubuhnya, duduk di atas rumput basah.
"Gaun tidurmu akan kotor." Trevor menunjuk hamparan rumput. "Rumputnya basah."
Sybille memeluk lututnya dan memiringkan kepalanya. "Aku berhak duduk di mana saja."
Trevor mengangkat bahunya."Terserah anda." Dia ikut duduk di rumput, sedikit menjauh dari Sybille.
"Panggillah aku Sybillle." Sybille menatap profil samping Trevor yang tampan. "dan aku memanggilmu...Treve..." dia melihat wajah itu menatapnya. "Aku mendengar semua gadis pelayan memanggilmu demikian..."
Saat Sybille memanggilnya 'Treve', hati Trevor merasa hangat dan dia hanya bisa mengangguk. "Terserah anda..."
"Sybille!" Sybille menukas cepat, menggeser duduknya agar lebih dekat ke sisi Trevor. Dia berada amat dekat dari Trevor yang seketika kaku. "Kumohon...panggillah aku Sybille...Treve..."
Trevor menatap wajah Sybille yang cantik dan sangat menggoda untuk dikecup. Dia mengepalkan tinjunya dan bersuara rendah. "Kau muncul di sini...apakah sungguh karena kau tak bisa tidur?" dia memajukan wajahnya.
Sybille mengigit bibirnya dan merasakan helaan napas hangat Trevor yang sehangat malam itu. "Aku..."
"Siapa di sana!"
Sebuah sorot lampu senter menyorot ke arah mereka, membuat Trevor dan Sybille tersentak kaget. dengan panik, Sybille mencengkram erat lengan Trevor. "Penjaga! Ada penjaga!"
Trevor melihat bayangan seseorang mendekati mereka dan tanpa basa basi lagi, dia meraih tubuh Sybille dan memeluk gadis itu di bawah tubuhnya yang segera mengambil posisi menelungkup. Ada rimbun kecil yang membatasi mereka dengan dataran rumput yang menurun hingga mereka bisa bersembunyi dengan aman.
Napas Sybille tercekat saat merasakan tubuh hangat Trevor yang besar menindihnya. Matanya bisa melihat d**a berotot yang membayang dari kemeja longgar yang dikenakan Trevor dan dia berjuang menahan desah tertahannya saat Trevor menekan tubuh kerasnya di atas tubuh Sybille.
Trevor menunduk dan berkata pelan. "Bertahanlah sejenak..." dia terdiam saat menyadari posisi mereka saat itu.
Wajah Trevor dan Sybille terlalu dekat bahkan d**a mereka saling menghimpit satu sama lain dan sialannya dia bisa merasakan sentuhan kecil dari p******a Sybille dari balik gaun tidurnya. d**a mereka berpacu liar dan Trevor mencengkram erat rumput di kedua sisi kepala Sybille.
"Apakah ada orang di sana?"
Trevor mengumpat Lowan yang malam itu mendapatkan giliran jaga. Dia menekan denyut tubuh tengahnya saat merasakan hangat napas Sybille menyapu lehernya. Dia tetap mempertahankan lehernya agar tidak menunduk untuk bertatapan dengan Sybille. Rasanya waktu amat lama hingga Lowan berlalu dan Trevor merasa enggan untuk menyingkir.
Hatinya tak sejalan dengan pikiran sehatnya. Dia justru menunduk dan merasakan Sybille menggerakkan tangan untuk menyentuh d**a kerasnya. Dia bisa melihat rona merah memenuhi kulit wajah Sybille.
"Seharusnya kau mendorongku..." Trevor berkata dengan suara berat. Semilir angin membuat puncak p******a Sybille mencuat tegang, mengusap dadanya. Dia menunduk semakin dalam. "Seharusnya kau menyingkirkanku...."
Sybille memejamkan matanya ketika bibir penuh Trevor mengusap bibir atasnya, mencoba mengenali tekstur bibirnya. Dia membuka bibirnya. "Tidak mau....aku tidak mau menyingkirkanmu dari tubuhku..."
Seakan menjadi pembuka, bibir Trevor membuka dan melumat bibir Sybille dengan penuh gairah. d**a kerasnya menekan p******a Sybille dan lidahnya mendesak serta meluncur ke dalam rongga mulut hangat Sybille yang segera menyambutnya. Kedua kaki Sybille terbuka lebar, memberi akses bagi tubuh Trevor berada pas di antaranya hingga dia bisa merasakan bukti gairah pria itu di balik celana jeansnya, menyentuh area segitiganya dan mengusapnya dengan pelan seiring gerakan bibir pria itu menggelut bibirnya, mencumbu lidahnya dan mengisapnya.