Okey, let's enjoy the story..
Itu adalah pertama kalinya Trevor mencium seorang gadis dan apa yang dilakukannya hanyalah berdasarkan nalurinya sebagai seorang pria secara alami. Lidahnya membelai dan membelit lidah Sybille tanpa ragu meski jantungnya seakan ingin lepas dari tempatnya. Trevor tak pernah menyangka bahwa bibir seorang gadis itu selembut kapas dan semanis gula-gula, ataukah itu hanya berlaku bagi bibir seorang Sybille Dubois? Entahlah, Trevor tak tahu. Yang diketahuinya bahwa dia mendamba bibir itu lebih dari bayangannya.
Bagi Sybille yang selama ini berada di asrama putri, bergelut dengan semua ajaran taat seorang gadis patuh, ciuman adalah hal tabu yang diketahuinya selama ini. Maka ketika Trevor menciumnya, itu menjadi ciuman pertama Sybille dan tak tahu harus melakukan apa saat merasakan lembutnya lidah Trevor menyusup ke rongga mulutnya dan mengelus langit-langit mulutnya. Seluruh bulu di tubuh Sybille meremang, membangkitkan sesuatu di dalam dirinya dan merasakan bagian sensitif dirinya berdenyut.
Desir angin malam berbaur bersama gesekan lambat tubuh kokoh Trevor di atas tubuh Sybille. Sybille tersentak kaget ketika perutnya merasakan sesuatu yang keras di sana, dia mencengkram erat baju di d**a Trevor dan tanpa sadar melebarkan kedua kakinya. Saat Trevor bergerak menurunkan posisinya untuk mencium bibir bawahnya, Sybille dapat merasakan sesuatu yang keras itu menyentuh area segitiganya, mengusap lambat dari balik celana jeans kasar yang dikenakan Trevor. Napas Sybille terengah dan telapak tangannya meraba leher Trevor.
Sebuah peringatan keras menghentak benak Trevor ketika bibirnya menelusuri rahang dan menuruni leher berdenyut Sybille, sebuah alarm batas diri yang membuatnya sadar akan apa yang sedang dilakukannya. Dia bisa mendengar napas berat Sybille berikut gerakan pelan p******a gadis itu di d**a kerasnya dan Trevor mengetahui bahwa dia sedang melanggar batas seharusnya. Dia telah menyentuh dan mencumbu putri majikannya.
Seketika Trevor melepaskan bibirnya dari kulit leher Sybille yang mulus dan dia mengangkat tubuhnya, terlepas dari denyut Sybille yang terasa panas di selangkangannya. Dia bersyukur bahwa Lowan telah menghilang. Dia melompat ke arah samping dan mengusap wajahnya yang terasa panas membara. Dia hampir tak sanggup menatap sepasang mata biru indah milik Sybille yang berusaha bangkit duduk.
"Maafkan aku, nona." Trevor berkata lirih dengan rasa bersalah. Dia mendengar suara tertahan yang dikeluarkan dari kerongkongan Sybille. "Maafkan aku..."
Sybille merapikan bagian lengan gaun tidurnya dan menarik kain gaunnya yang tersingkap hingga ke lutut, mengatur rambutnya yang berantakan dan menemukan batang rumput di sana. bibirnya terasa demikian tebal dan dia melihat Trevor menunduk dalam. Dia merasa sedih saat mendengar pria itu memanggilnya nona dengan nada putus asa.
"Tidak apa-apa, Treve...aku...aku menginginkannya..." Sybille menjawab lirih seperti semilir angin yang menerpa telinga Trevor. "Tak perlu meminta maaf...." rona merah menjalari pipi Sybille dan dia berterimakasih atas suasana remang malam itu, tak ada bulan di atas kepala mereka, hanya awan pekat berarak dan sedikit bintang yang mengintip.
Trevor mengangkat wajahnya, terperangah mendengar jawaban gamblang sang nona yang ketika itu tampak sangat cantik. Dia menelan ludahnya dan bangkit berdiri, menepuk kedua lututnya dan menatap Sybille dengan mengendalikan dirinya sendiri.
"Aku..aku akan mengantar anda kembali ke rumah." Trevor mengulurkan tangannya dan disambut oleh Sybille.
Sybille menarik tubuhnya dan berdiri tepat di hadapan Trevor yang jangkung dan tegap. Dia mengigit bibirnya dan menjawab pelan. "Aku bisa kembali sendiri." Dia menghembuskan napasnya dan mencoba tersenyum. "Kau tetap akan menemaniku berkuda besok kan?" dia mendongak dan menyadari betapa tingginya Trevor. Dia hanya mencapai batas leher pria itu.
Trevor tak mungkin membantah permintaan nona majikannya, selain itu dia pun ingin melihat sang nona dalam jarak berdekatan. Dia mengangguk kecil dan melangkah mendahului Sybille seraya berkata lirih.
"Aku akan mengantar anda kembali."
"Sudah kukatakan aku bisa kembali sendirian." Sybille memotong langkah Trevor, berdiri di depan pria itu dan tersenyum. "Sampai jumpa besok..sore...?" Sybille sedikit menunduk. "Tadi...tadi adalah ciuman pertamaku..."
Bola mata Trevor membesar. "Eh?" jantungnya berdebar kencang saat Sybille berkata demikian. "Maaf aku..."
"Dan aku senang karena itu berasal darimu." Sybille menukas malu-malu. Sambil memutar tubuhnya, dia berkata dengan ceria. "Selamat malam, Treve." Dia berlari menuju rumah besar tanpa tahu bahwa Trevor terpaku dalam rasa debaran yang tak kunjung usai.
Trevor menekan pelipisnya dan berjuang menekan gairahnya yang kembali timbul saat melihat bagaimana Sybille berlari kecil meninggalkanya. Dia memukul pelan tubuhnya yang mulai bereaksi kurang ajar dan tersentak ketika mendengar sapaan di belakangnya.
"Sejak kapan kau ada di sana, Treve?"
Sorot lampu senter menyinari wajah Trevor dan Lowan tampak berlarian dari arah barat, berlawanan arah dari Sybille. Trevor menghembuskan napas lega saat melihat Sybille yang berhasil menyelinap masuk ke dalam rumah. Dia membalikkan tubuhnya dan menjawab tanya Lowan.
"Sejak tadi."
Lowan mengatur napasnya dan kembali menyinari sekitarnya. "Apakah kau melihat hal aneh barusan? Kau katakan sejak tadi berada di sini. Ada gerakan di balik rumpun itu."
Trevor melihat tunjuk Lowan yang mengarah pada bagian persembunyiaannya bersama Sybille beberapa saat lalu. Dengan wajah datarnya, Trevor mengeluarkan bungkus rokoknya dan mengacungkan benda itu tepat di depan wajah Lowan.
"Aku merokok dari tadi dan tak melihat hal aneh."
Lowan menggaruk belakang kepalanya. "Aku yakin mendengar gerakan di balik rumpun."
"Mungkin kau salah dengar." Trevor menyahut tanpa ekspresi dan berjalan meninggalkan Lowan dalam kebingungan.
****
Sybille masuk ke dalam rumah dengan jantung berdebar, menutup pelan pintu belakang dan masih melihat sosok Trevor dari kejauhan yang memperhatikannya. Dia tersenyum seraya menyentuh bibirnya, merasai sisa kelembutan bibir Trevor dan kedua pipinya menghangat. Dia merapatkan leher gaun tidurnya dan melangkah pelan menuju lorong gelap rumah besar itu.
"Kau belum tidur?"
Sybille mendongak dan mendapati kakak laki-laki sulungnya tengah berdiri tak jauh dari lorong tempat dia berjalan, menatapnya heran di bawah sinar remang lampu lorong dengan menyipitkan mata birunya.
Sylvestre Bruno Dubois yang jangkung dan bermata biru tajam meneliti adik bungsunya yang terlihat semakin merapatkan gaun tidurnya. Dia memiringkan kepalanya dan menunggu sang adik mendekat, menunduk dan mengecup puncak kepala berambut pirang kecokelatan itu dengan lambat.
"Rambutmu bau rumput?" Sylvestre mengernyitkan hidungnya, samakin dalam memperhatikan gaun tidur Sybille yang tampak kusut. "Kau berada di luar? Tengah malam seperti ini? Apa yang kau lakukan?"
Sybille menelan ludah dan mundur selangkah. Sejak kecil Sylvestre selalu menjadi mata-mata ayahnya untuk menjaga Sybille. Papa tak pernah menegur Sybille atas apapun yang dilakukan Sybille – dan memang tak ada hal yang perlu ditegur- dan menjadikan Sylvestre mata keduanya dalam menjaga Sybille.
Saudara laki-laki yang lain juga amat patuh pada Sylvestre hingga membuat kakak sulungnya itu dipercaya papa untuk menjaga mereka. Ketika Sybille masih di Paris, berada di asrama putri, papa meminta Sylvestre tetap di Paris untuk menunggu Sybille hingga menjelang kelulusan. Tugas papa sebagai duta besar tak memungkinkan pria tua itu memperhatikan Sybille dengan ketat karena mama menolak menyewa bodyguard.
Sekarang, ketika Sybille berada di Melbourne selama liburan menjelang kelulusan, Sylvestre bersama dirinya berada di Australia dan papa semakin ketat menjaga Sybille karena berita seorang duta besar Perancis yang memiliki seorang putri cantik sudah santer terdengar di kalangan jetset Melbourne. Itu semua karena bibi Latitia selalu menyebut nama Sybille di setiap pesta yang dihadirinya.
Sybillle tersenyum mendengar tanya Sylvestre padanya. "Aku hanya melihat bintang."
Sylvestre menoleh ke arah jendela, mengerutkan dahinya dan berkata datar. "Tak ada bintang?" dia menangkap sinar senter penjaga malam itu dan menatap Sybille. "Sepertinya di luar aman." Dia bergumam, "Tak ada bintang."
"Tadi ada banyak." Sybille menyahut dengan halus, mengecup pipi kakaknya dan melangkah pergi. "Selamat malam, Syl." Sebelum kakaknya mencari tahu semakin dalam dia berada di luar beberapa saat lalu, Sybille memutuskan untuk segera berlalu.
Sylvestre memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan bersandar di kusen jendela. Dia masih menatap keluar jendela dan mendapati Lowan tak sendirian kembali ke bangunan para pekerja. Ada seorang pria lainnya bersama penjaga malam itu.
*****
Sybille tak bisa tidur malam itu, dia menatap langit-langit kamarnya dan tak berhenti memikirkan Trevor Simons yang tampan dan tertutup namun anehnya amat hangat saat berada di dekatnya, demikian pikir Sybille. Dia berusaha memejamkan matanya namun kembali bayangan wajah tanpa ekspresi Trevor membayang di pelupuk matanya, membuatnya menunda kantuknya dan mulai tak sabar menunggu sore hari tiba.
Tak hanya Sybille, saat kembali ke kamarnya, Trevor seakan gamang dan duduk di ujung ranjangnya, menutup wajahnya dan mendesah pelan. Menyentuh Sybille seakan menciptkan fantasi baru di benak Trevor membuatnya merasa gerah namun berhasrat, merasa senang tetapi kehilangan. Sybille bukanlah hal yang harus dimilikinya dan Trevor memutuskan untuk membiarkan gadis itu tetap berada di fantasinya.
Dia membaringkan tubuhnya di ranjang dan mengusap perlahan leher yang disentuh Sybille dan dengan kesal dia membalikkan dirinya, menatap dinding kasar kamarnya. Dia memejamkan matanya dan berjuang keras untuk segera terlelap.
****
Jean Bruno Dubois berkata akan sangat sibuk beberapa hari itu atas tugasnya di kedutaan saat mereka sarapan pagi, pria tampan berambut kelabu itu menatap empat anaknya yang tampan dan cantik berada di sisinya bersama istrinya yang cantik, Isabelle. Dia melemparkan senyum sayang pada putri bungsunya yang saat itu tampak manis dengan sikap lemah lembutnya dan meletakkan tangannya di punggung tangan mungil itu.
"Apakah kau senang di sini, sayang?" Jean tersenyum pada Sybille yang meletakkan peralatan makannya demi menatapnya dengan sepasang matanya yang indah.
"Tentu saja, papa." Sybille menjawab dengan tersenyum. "Sangat senang."
"Dia akan kubawa ke beberapa pesta. Apakah diberikan ijin, kakak ipar?" suara Bibi Latitia menyela suasana hangat ayah dan anak itu.
Jean melepaskan tangan Sybille dan menatap adik iparnya yang duduk di samping istrinya. Latitia terkenal sulit diatur dan lebih senang menjadi lajang penggoda di sekitar pria-pria tampan. Jean keberatan jika Sybille bersama Latitia menghabiskan hari-harinya menjelang kelulusan, bibi sejenis Latitia akan membawa dampak buruk bagi Sybille yang patuh.
"Ah, kurasa aku bisa memilih beberapa pesta yang layak dihadiri Sybille..."
"Jika bersama Latitia akan lebih aman, sayang." Isabelle menukas halus, tersenyum pada Jean yang menatapnya tajam. "Latitia sudah sangat dikenal di beberapa pesta di sini."
"Di Paris mungkin." Jean menyahut ketus. Dia memotong dagingnya dengan kasar.
Sybille dan yang lainnya menutup mulut. Tapi Isabelle tak pernah merasa gentar pada suaminya. Dia tahu bahwa Jean Bruno Dubois yang keras kepala akan luluh atas permintaannya.
Isabelle menyentuh lengan suaminya. "Sybille butuh udara segar setelah selama ini berada di dinding asrama putrinya di Paris." dia menoleh Sylvestre yang memasang wajah waspada. "dan kurasa Syl bisa mendampingi adiknya. Dia juga tampan dan butuh hiburan dalam sebuah pesta." Dia juga mengetahui bahwa anak sulungnya membenci pesta.
"Mama!" Sylvestre mencoba membantah.
Isabelle menggoyangkan jarinya. "Non, non, non, Syl sayang. Kau tak bisa membantah. Kau boleh memilih adik-adikmu yang lain untuk menemanimu atau siapa saja yang kau anggap bisa meringankan bebanmu?"
"Seorang kacung?" Sylvestre mengangkat alisnya.
"Bukan, sayang. Seseorang yang mungkin bertubuh kuat untuk menemani kalian." Isabelle tertawa saat melihat sorot tersinggung di mata biru anaknya. "Oh, jangan salah. Kau amat kuat, sayang. tapi kalian adalah anak-anak duta besar. Kalian membutuhkan satu orang yang bertubuh kuat berada di sisi kalian." Dia menoleh Jean. "Aku benar lagi kan, sayang? Syl bisa ikut berpesta dan kita hanya butuh satu pekerja yang kita miliki untuk menjaga mereka."
Jean menghela napas dan tersenyum. "Kurasa kau bisa mengaturnya, sayang."
Sylvestre melanjutkan makannya sambil menggerutu dan Sybille tak bisa membayangkan pesta seperti apa yang akan dihadirinya. Namun ketika mama mengatakan akan memilih salah satu pekerja yang akan menjaga mereka, benak Sybille melayang pada sosok Trevor yang tegap dan kuat. Dia bisa melihat otot-otot membayang di lengan pria itu serta dadanya yang keras. Seketika desir hangat menjalar di seluruh tubuh Sybille hingga dia tersentak saat mendengar seruan bibi Latitia.
"Ah, pencuci mulut kesukaanku!"
Sybille menoleh ke arah pintu ruang makan yang terpentang lebar disusul kemunculan troli makan yang didorong Bernard. Dia tersenyum pada pria gemuk itu dan jantungnya berdentum kencang ketika melihat siapa yang berada di belakang Bernard dalam setelah pakaian seragam putihnya yang diketahui Sybille adalah pakaian pelayan utama di rumah besar menurut Anthea.
Oh, dia di sini. Dia akan menjadi bagian pelayan utama.
Tatapannya beradu pada bola mata hazel pekat milik Trevor. Sejenak Sybille merasa hanya ada dirinya dan Trevor di ruang makan itu hingga dia merasa senggolan halus pada lututnya di bawah meja.
Sybille menoleh dan mendapati kedipan mata bibi Latitia. Dia merasa wajahnya memerah saat sang bibi berbisik. "Pria muda yang tampan." Dengan kerling matanya, bibi Latitia meneliti Trevor yang menunduk dan mulai membantu Bernard membagikan piring kecil berisi pencuci mulut.
Trevor berusaha bersikap biasa saat mendekati kursi Sybille dan meletakkan pencuci mulut bagian gadis itu. Dia menunduk dan tercium olehnya aroma harum gadis itu. "Ini, nona..."
Sybille menoleh dan tersenyum. "Terimakasih Tre...eh, terimakasih banyak." Dia menghentikan lidahnya yang nyaris menyebut nama Trevor dan menunduk, meraih garpu untuk mencicipi pencuci mulutnya, potongan savarin, kue yang disiram sirup cokelat dan dibagian tengah kue diberi krim dan potongan-potongan buah segar. Rasanya leher Sybille tercekat saat akan menelan makanan itu apalagi mendengar suara merayu bibi Latitia.
"Sepertinya ini wajah baru, Barnie?" Latitia tertawa merdu seraya menyentuh otot bisep lengan Trevor yang terlindung oleh lengan panjang kemeja putihnya.
Trevor mengelak dan mundur selangkah, menatap wajah wanita cantik ceriwis yang tersenyum-senyum padanya dengan sepasang bibir terkatup.
"Latitia..." Isabelle menegur adiknya dengan cemas, melirik wajah Jean yang kaku.
Tapi Latitia tidak peduli bahwa kakak iparnya mungkin marah melihat sikap genitnya. Dalam sekali pandang, dia menangkap sinar mata penuh keinginan yang terkadung di sepasang mata keponakannya pada pria muda tampan pelayan itu.
"Ayolah, Barnie.. Wajah barukah?"
Bernard menatap Trevor yang memasang wajah tak ramah. Dia tertawa seraya mendorong mundur troli.
"Tidak, mademoisselle. Anak ini bukan wajah baru. Trevor sudah lima tahun bekerja di sini."
Latitia meneliti Trevor seperti seorang yang ingin memilih barang di sebuah lelang, mengetukkan jari manisnya di pipi dan mencetuskan ide tak terduganya.
"Ah, Belle! Anak muda ini memiliki tubuh kekar! Pantas menjadi penjaga Sybille di pesta. Tentu saja Syl tak perlu repot mengekor kami. Syl bisa berkenalan dengan pria muda lainnya."
Tak hanya Trevor yang ternganga mendengar ide gila sang nona lajang itu, tapi semua yang ada di meja sarapan itu tersentak kaget. Sybille menjatuhkan garpunya dan menatap wajah bibi Latitia dengan takjub.
Terdengar deheman keras Jean dan dia menukik pandang tajamnya pada adik iparnya. "Aku bisa menugaskan salah satu bawahanku untuk menjaga Sybille. Bukan salah satu pekerja di rumahku."
Jean menekan kalimat "pekerja di rumahku" dengan jelas bahwa Trevor tak seharusnya berada di dekat putrinya. Dia menatap tajam pria muda tanpa ekspresi yang hanya diam mengatupkan bibirnya.
Tapi Latitia berkicau membuat telinga Trevor gatal.
"Oh, para bawahanmu pasti akan ikut bersenang-senang di pesta. Mereka takkan ingin memikirkan putri duta besar dan celakanya lagi mereka akan menjadikan hal itu kesempatan untuk menggoda Sybille. Lagipula Syl bisa tersaingi oleh pria-pria muda pesolek itu." Seakan meminta bantuan kakaknya, Latitia menoleh Isabelle yang mengerutkan dahinya, dia senang tanda kakaknya memikirkan kalimatnya. "Bagaimana, Belle?"
Isabelle menatap Trevor dan dalam hati mengingat bahwa pria itulah yang memungut saputangan Sybille saat makan malam usai. Mungkin pria itu hanyalah pekerja rendahan di rumah mereka, namun apa yang dikatakan adiknya ada benarnya juga. Para pria muda di sekitar suaminya akan memanfaatkan situasi tersebut untuk mendekati Sybille dan akan membuat Sylvestre kehilangan kesempatan mengenal para gadis.
"Mungkin pendapat Latitia ada benarnya, sayang." Isabelle tersenyum pada Jean yang melotot. "Sybille akan aman pada anak ini karena aku yakin dia takkan berani menyentuh Sybille. Dan Syl.. Dia akan leluasa mengenal para gadis tanpa saingan dari anak buahmu yang terkenal pesolek. Lagipula.. Aku tak mau para hidung belang mendekati Sybille."
Sylvestre protes. "Aku bisa menjaga Sybille seperti biasanya." dia menatap Trevor. "Kupikir membawanya sama sekali tak ada gunanya. Dia hanya akan menunggu di luar saja, masuk jika aku dan Sybille membutuhkannya saja."
Trevor sudah biasa menerima ucapan kasar padanya. Dia hanya diam dan tak lepas menatap wajah Sybille yang tak memiliki kesempatan bersuara.
Terdengar suara nyonya besar dengan tawa merdunya. "Terserah apapun yang kau inginkan, Syl. Yang pasti akan lebih mudah jika kita menggunakan pekerja di rumah untuk menjaga anak-anakku."
Jean meletakkan garpunya dan menghela napas. Napsu makannya hilang seketika dan menatap Latitia. "Memangnya ada pesta yang ingin dinikmati Sybille?"
Bola mata Latitia berbinar. "Oh, tentu! Sebuah pesta persahabatan yang diadakan seorang artis opera Jumat malam. Pesta topeng."
Jean sekali lagi menatap wajah sybille dan pria muda yang diakuinya bertubuh kekar dan jangkung, amat pas menjaga Sybille yang lemah lembut dan Sylvestre yang kerempeng. Tapi Jean tak setuju jika dikemudian hari pria muda itu terlibat lagi dalam acara apapun. Cukup sekali ini saja!
Jean beralih pada Bernard. "Ikut aku. Kau harus mengatakan banyak hal padaku tentang pelayan baru itu." Pada Trevor, dia menuding ke arah pintu keluar. "dan kau.. Tunggu di luar ruang makan ini."
Bernard menatap Trevor yang mengangkat bahu dan bersiap memutar tubuh. Dia menepuk pelan bahu pria itu dan mengedipkan matanya. "Tunggu di luar."
Trevor menjawab datar. "Memang itu yang akan kulakukan." dia menoleh sekilas Sybille yang tak bisa menutupi wajah gembiranya atas kejadian yang berlangsung.
Rasa panas menjalari wajah Trevor saat menerima sinar hasrat di mata Sybille. Dia senang bisa berdekatan dengan sang nona meski dia sadar, kehadirannya tak lebih hanya menjadi bayangan sang nona majikan yang cantik itu.