"Lalu? Aku yakin kau akan menjadi pusat perhatian di pesta topeng itu, kek!" Lucas memajukan tubuhnya, dia amat tertarik mendengar cerita kakek Trevor dan menyela cerita itu dengan tak sabar. Dia melirik Abraham yang hanya diam saja sambil tetap merekam. "Iya kan, Theo? Aku yakin kakek Trevor lebih keren dibanding saudara laki-laki nenek Sybille yang sombong itu. Siapa namanya? Sylvestre? Namanya sulit sekali diucapkan!"
Trevor tersenyum mendengar celoteh Lucas yang bahkan sudah membayangkan hal yang belum diceritakannya. Dia mencoba meraih rokoknya namun sebuah tangan lainnya menahannya dengan halus. Dia mendapati senyum tipis Abraham untuknya.
"Kau sudah menghabiskan dua batang rokok. Kurasa itu sudah cukup, kek." Abraham menarik pelan bungkus rokok yang sudah berada di genggaman Trevor. "Aku akan menyimpannya untuk malam ini." dia menyeringai dan mengangsurkan kembali ponselnya.
"Tolong lanjutkan ceritamu. Aku ingin mendengarnya." Abraham menekuk punggungnya dan menekan kedua lengannya di lutut, meletakkan ponselnya di meja hadapan Trevor.
"Ya, aku ingin mendengar pesta topeng itu..."
"Dia belum menyelesaikan cerita di ruang sarapan dan latihan berkuda nenek Sybille," pungkas Abraham tenang. Dia melirik kakak kembarnya yang segera mengerem lidahnya. "Kau selalu tak sabaran."
Lucas mengembangkan kedua tangannya dan bersandar di kursinya. "Oke. Oke. Pada dasarnya hidup itu harus bersabar menurut kamusmu, Theo." Lucas mencibir dan menyeringai.
Trevor meringis melihat perbedaan yang amat besar di antara kedua pria kembar di depannya itu. Lucas sama sekali tak memiliki kesabaran Jacob dan lebih menjurus pada tabiat Adam dan David Randall sementara Abraham justru mewakili kesabaran Jacob dan lidah ketus Delilah. Dia berdehem dan mulai berbicara kembali.
"Jika kau membayangkan bahwa itu adalah pesta topeng keren seperti di dalam kisah-kisah lama, kau salah besar Luc. Aku bahkan tak melihat seperti apa pesta itu." dia melihat kerutan di dahi Lucas dan Abraham secara bersamaan. Dia tertawa. "Aku akan kembali pada pembicaraan di ruang sarapan."
****
Trevor menunggu dengan diam di depan pintu ruang makan dan sama sekali tidak duduk di kursi yang ada di lorong itu, dia hanya menanti dengan sikap patungnya hingga pintu ruang makan terbuka dan memunculkan sosok Nyonya Isabelle disusul Mademoiselle Latitia yang mengedipkan matanya pada Trevor yang segera menunduk.
Sylvestre tampak berjalan cepat diiikuti dua pemuda lainnya yang patuh padanya dan sama sekali tak memandang Trevor. Sikap tuan muda itu tak diambil hati oleh Trevor dan dia hanya menatap karpet tebal di bawah kakinya hingga didengarnya teguran halus di depannya.
"Aku akan menemanimu sambil menunggu Barnie."
Trevor mengangkat wajahnya dan menemukan wajah tersenyum Sybille di depannya. Gadis itu menutup pintu ruang makan dan bersandar di sana, menatap Trevor dengan sinar mata birunya yang cerah.
"Barnie takkan lama." Hanya itu yang bisa dikatakan oleh Trevor. Dia tak tahu harus bersikap bagaimana di hadapan Sybille sejak malam di mana dia mencium gadis itu. Dia mencoba menghindari wajah cantik itu namun hal itu sia-sia. Tatapannya justru terpaku pada Sybille, tak sanggup berpindah ke lain tempat.
Sybille melangkah mendekat dan sedikit memberi jarak di antara mereka. Dia mendongak untuk melihat wajah Trevor. "Kurasa cukup untuk kita berbincang di rumah kaca yang tak jauh dari ruang makan ini."
Trevor harus menolak ajakan mengundang itu tapi yang dikatakannya justru berbeda dari apa yang ada di pikirannya. "Baiklah." Dan Trevor mengumpat dirinya sendiri saat dia telah berada di rumah kaca yang dipenuhi bunga-bunga indah bersama Sybille, mendengar celoteh remeh gadis itu tentang semua jenis bunga dan dia sangat menikmatinya.
Trevor menekan pelipisnya tanpa diketahui Sybille dan mengeluh dalam hati. Tidak boleh, Treve! Tidak boleh seperti ini!
"Gloxinia ini cantik." Sybille mengangsurkan bunga indah berwarna merah pekat dengan kelopaknya yang mengembang di hadapan Trevor yang mengerjabkan matanya. "Aku akan memberimu ini."
"Eh?" Trevor seperti orang bodoh menyambut pot kecil berisikan bunga tersebut ke dalam tangannya yang besar. "Untukku? Kamarku tak memiliki jendela agar cahaya matahari masuk."
Sybille tertawa dan mendorong pot kecil itu ke d**a Trevor. "Kumohon simpanlah bunga itu. Dan apakah kau tahu arti dari Gloxinia?" dia mundur selangkah.
Entah mengapa jantung Trevor berdebar kencang membayangkan apa arti dari bunga yang diberikan Sybille untuknya. Gadis itu berjinjit dan hampir menyentuhkan bibirnya pada dagu Trevor.
"Cinta pada pandangan pertama." Sybille berbisik lirih dengan wajah memerah. Dia mundur dan mengigit bibirnya. "Aku akan kembali ke rumah. Jangan lupa menemaniku berkuda sore nanti." Dia berkata dengan suara gemetar dan berlari menuju pintu keluar rumah kaca.
Trevor bengong mendengar arti bunga yang diucapkan Sybille. Tak mungkin gadis itu memberikan arti bunga itu untuk dirinya. Dia menatap punggung ramping Sybille yang akan berlalu dari pandangannya saat gadis itu berbalik untuk memandangnya dengan tersipu.
"Kuharap Papa memberimu ijin untuk menemaniku nanti malam." Sybille tersenyum dan mendorong pintu rumah kaca. "Sampai jumpa nanti sore."
Trevor menyandarkan pinggulnya di tepian pembatas pot-pot dan dia mengusap wajahnya yang memerah. "Ya Tuhan." dia mengeluh pelan dan memandang pot bunga Gloxinia di pelukannya. Dia memejamkan matanya demi menahan gejolak di hatinya untuk kembali mencium Sybille. Dia tak tahu sampai kapan dia bertahan akan keinginan tersebut jika Sybille kerap kali berada di dekatnya.
"Kau di sini, Treve?"
Trevor melihat kemunculan Bernard dan secara otomatis dia menyembunyikan pot bunga di belakang punggungnya. Dia menegakkan tubuhnya dan menanti apa yang akan diucapkan Bernard padanya.
Pria tua itu menghela napas dan berkata pelan. "Kau diperbolehkan untuk menemani Tuan Sylvestre dan Nona Sybille nanti malam. Kau akan menjadi supir mereka. Kau tak boleh memasuki ruang pesta dan menunggu di luar bersama supir lainnya." Bernard menatap Trevor dengan rasa bersalah. "Kau boleh menolaknya, Treve. Tuan Dubois juga sebenarnya tak menginginkanmu. Dia hanya meluluskan permintaan istrinya."
Senyum Sybille bermain di pelupuk mata Trevor, bisikan lirih gadis itu menggema di telinganya dan pot bunga yang ada di tangannya seakan mendesaknya agar tak peduli apapun yang dipikirkan oleh Tuan Dubois. Dia menjawab Bernard dengan tenang.
"Aku akan menerima tugas itu." Trevor tersenyum tipis dan berjalan melewati Bernard yang bengong. "Orang sepertiku memang tak seharusnya berada di dalam ruang pesta apapun."
***
Trevor memakai topinya dan mengenakan kemeja jeans untuk menuju istal di mana dia mengeluarkan Oscar dari kandangnya. Dia menepuk pelan leher hewan itu yang segera menyundul pelan wajah Trevor. Trevor tertawa dan menarik tali kekang Oscar dan menuntun kuda besar itu keluar dari istal.
Trevor melihat kedatangan Sybille yang bersama rambut pirang kecokelatannya. Gadis itu menyongsong Trevor dengan wajah ceria.
"Oh, kupikir kau tak akan datang."
Trevor menyerahkan tali kekang Oscar pada Sybille. "Aku sudah menyanggupinya padamu. lagipula kau sudah mengingatkanku di rumah kaca." Sekilas jari mereka bersentuhan dan Trevor segera menarik tangannya sebelum dia lupa kendali dirinya sendiri.
Sybille menggenggam erat tali kekang itu dan menatap Oscar yang tampak senang melihat dirinya. Dia melepaskan tali kekang itu dan memutar tubuhnya. "Naikkan aku ke punggung Oscar." Sybille berkata dengan nada khas nona, tersenyum menunggu reaksi Trevor.
Alis Trevor terangkat tinggi dan dia membungkuk, membentuk tangannya agar menjadi tumpuan bagi Sybille melompat ke punggung Oscar. Namun sang nona sama sekali tak bergerak. Trevor akhirnya mencetuskan sedikit rasa jengkelnya.
"Sebenarnya apa maumu?" Trevor bertanya seraya mendongak pada wajah semringah Sybille.
"Aku mau kau mengangkatku dengan kedua tanganmu." Sybille menunduk dan melihat perlahan Trevor berdiri menjulang. Tuhan, dia memiliki tubuh yang demikian gagah. Buanglah segala puja puji yang selalu kulakukan setiap kali di asrama, mataku seperti diciptakan untuk memuji tubuh jantan ini.
Mengangkat Sybille sama artinya menyentuh tubuh gadis itu. Trevor mengepalkan tinjunya dan menelan ludahnya saat dengan patuh dia memegang kedua sisi pinggang ramping Sybille, merasakan sentuhan lembut kedua tangan Sybille yang menyentuh tangannya. Perlahan gadis itu mendekat pada d**a Trevor hingga napas hangatnya menyapu leher Trevor.
Trevor mengetatkan rahangnya dan mengangkat tubuh Sybille ke atas punggung Oscar. Dia mendudukkan sang nona dengan sukses di atas Oscar, menyerahkan tali kekang di kedua tangan Sybille yang tersenyum.
"Terimakasih." Sybille berkata halus.
"Sudah sewajarnya."
Trevor mulai menuntun Oscar menuju lapangan rumput luas yang terbentang luas di depan mereka, dia menepuk pelan leher Oscar dan memberi tanda agar hewan itu mulai berlari membawa Sybille. Tapi Sybille mengelus leher Oscar dan membisiki sesuatu yang membuat Oscar tak mau melarikan kaki-kaki kokohnya.
"Mengapa kuda ini tak mau berlari?" Trevor bertanya heran.
"Aku ingin berkuda denganmu." Sybille menjawab tanya Trevor. Dia memandang ke bawah, di mana Trevor berdiri kaku di samping Oscar. "Duduklah di belakangku."
Pandangan Trevor hampir dipenuhi Sybille. Meski dia tahu bahwa Sybille tak bisa direngkuhnya menjadi miliknya, namun saat di mana dia merasa bahwa fantasinya akan gadis itu dapat diraihnya, Trevor tak mau menunda. Dia melompat ke atas tubuh Oscar, duduk tepat di belakang Sybille dan mengulurkan tangan untuk memegang tali kekang.
Itu artinya dadanya akan menyentuh punggung Sybille. Aroma tubuh gadis itu demikian dekat dengannya bahkan dia merasakan bahwa Sybille menyandarkan punggung di dadanya.
"Apa kau ingin berlari kencang bersama Oscar?" Trevor memiringkan wajahnya hingga nyaris menyentuh sisi wajah Sybille.
Sybille menggigit bibir dan mengangguk. Dia berkata lirih. "Bawa aku sekencang mungkin bersama Oscar."
Trevor tersenyum dan menarik tali kekang hingga Oscar meringkik nyaring. Hewan itu bagai kegirangan sehingga menaikkan dua kaki depannya sebelum berlari kencang menembus rerumputan di lahan luas milik keluarga Dubois khusus berkuda.
Sybille berseru keras saat deru angin menerpa wajahnya dan membaur rambutnya. Oscar merupakan kuda unggulan untuk pacuan kuda dan semakin unggul jika ditunggangi dengan joki yang amat lihai. Dan Trevor memenuhi syarat itu. Dia mendongak dan melihat wajah Trevor di atasnya.
Ada kegembiraan di sana yang Sybille lihat. Sinar matahari sore menimpa kulit kecokelatan Trevor dan membias indah di rambutnya yang pekat. Sybille jatuh cinta. Seperti arti dari bunga Gloxinia. Cinta pada pandangan pertama. Status dan kasta bagai tak berarti bagi Sybille.
"Maukah kau menciumku lagi?" Sybille berkata di antara deru angin yang menerpanya.
Trevor menarik tali kekang dan menghentikan laju lari Oscar. Dia menunduk dengan wajah terkejut. Seraut wajah cantik yang aristokrat itu menatapnya dengan sungguh-sungguh.
"Nona..."
"Bukan. Bukan nona...." Sybille berkata lirih, menggerakkan tangannya untuk meraih tengkuk Trevor.
Trevor memajukan wajahnya, membuka bibirnya saat bibir Sybille amat dekat dengannya. "Haruskah aku memanggilmu Sybille?" dadanya berdebar kencang. Bibir merah muda itu sudah menempel di bibirnya yang tegas.
Sybille menyusupkan jemarinya ke balik rambut gelap Trevor. "Ya. Panggil aku Sybille..." dia membuka bibirnya, menerima ciuman Trevor yang dalam dan penuh gairah untuknya. Dia merebahkan punggungnya di d**a keras Trevor dan memejamkan matanya saat bagaimana lidah Trevor membelai rongga mulutnya dengan lambat hingga tubuh Sybille menggelenyar hangat.
Jika dia harus bermimpi, Trevor rela terjatuh selamanya dalam mimpi itu agar bisa menyentuh Sybille dan memeluknya penuh cinta. Dia memeluk tubuh Sybille yang ramping dan melumat bibir gadis itu semakin dalam, menggelut lidah mereka dengan erotis di ambang sore itu bahkan Oscar dengan santainya mengunyah rumput di bawahnya.
Tangan Trevor tak hanya memeluk Sybille, perlahan dia membelai bagian depan tubuh itu dan menangkupkan kedua tangannya di atas p******a Sybille, merasakan gerakan lembut keduanya dan meremasnya pelan hingga terdengar desah tertahan Sybille. Bagi Trevor, dia begitu menghargai waktu saat itu meski sesingkat apapun yang akan dirasakannya.
Dia melepaskan ciumannya pada Sybille dan menatap wajah merona itu sementara tangannya masih berada di atas p******a Sybille. "Aku akan mengantarmu kembali." Trevor dengan enggan menjauhkan dirinya dari Sybille. Dia melompat turun dari tubuh Oscar dan menuntun hewan itu untuk berbalik ke rumah.
****
Dentang lonceng terdengar keras di sepanjang lorong kastil. 2 kali. Abraham sudah dua kali mengganti kayu bakar di perapian agar udara kamar tetap hangat. Lucas terperangah mendengar ciuman romantis di atas punggung kuda di sore hari yang diceritakan Trevor. Saat Abraham kembali duduk di hadapan Trevor, pria itu meletakkan selimut hangat di pangkuan Trevor.
"Tidurlah, kek. Besok pagi akan kita lanjutkan lagi." Abraham tersenyum, melirik Lucas yang segera meregangkan kedua lengannya di udara. "Bibi Bell akan cemas jika kakek belum tidur. Dia sudah dua kali mengintip dan memberi isyarat agar kami menyudahi ceritamu."
Trevor terkekeh. "Ah, Bell. Dia sangat mencintaiku."
Lucas bangkit berdiri dan tersenyum. "Tak ada anak yang tak mencintai orangtuanya." Dia menepuk pelan lutut Trevor.
Abraham menawarkan Trevor untuk kembali ke ranjang namun pria tua itu menggelengkan kepalanya.
"Biarkan aku duduk seperti ini agar seluruh kenangan yang ingin kuceritakan pada kalian tak ke mana-mana. Hingga besok pagi kita bertemu, kenangan itu masih berada di sini." Trevor menunjuk pelipisnya.
Abraham dan Lucas berpandangan. Keduanya memutuskan untuk menerima alasan itu dan mengucapkan selamat tidur pada Trevor. Perlahan Abraham menutup pintu kamar itu dan mendengar pertanyaan lirih Lucas.
"Sebagai psikiater, menurut ilmu psikologi yang kau pelajari, apa yang bisa kau analisis atas prilaku kakek Trevor?"
Abraham menghela napas dan memasukkan kedua tanganya ke dalam saku celananya. "Dia dalam fase mengenang masa lalunya. Ada rasa ketakutan jika dia melupakan semua memori itu mengingat usianya yang sudah 80 tahun ke atas."
"Bukan sesuatu yang membahayakan?" Lucas berbisik pelan. "Di dalam film misteri biasanya yang seperti itu menunjukkan tanda-tanda aneh..."
"Kakek Trevor dalam keadaan sehat, Bastian." Abraham menampik dugaan buruk yang bermain di benak kembarannya. "Dia hanya..entahlah...hanya ingin mengenang istrinya. Dalam taraf ini, dia seakan ingin nenek Sybille berada di sampingnya ketika dia menceritakan kisah masa lalu mereka pada kita."
Lucas merangkul bahu Abraham. "Yeah, kuharap itu hanya sekedar mengenang saja tanpa adanya tanda-tanda lainnya."
Abraham hanya diam saja.
Sementara di dalam kamar, Trevor sama sekali tidak tidur. Di matanya, dia selalu melihat Sybille, tersenyum padanya. "Sabarlah sayang....aku akan menceritakan kisah kita pada kedua anak itu agar kisah kita bisa hidup selamanya." Dia mendapati senyum Sybille, kekasihnya. Ya, hanya pada kedua anak kembar itulah Trevor mempercayai kisahnya. Hanya pada keturunan Jacob dan Delilah lah yang sangat dipercayanya. Dan dia yakin, kisahnya akan selalu dijaga penuh cinta oleh keduanya.