Trevor menatap kemeja putih licin serta celana linen hitam di atas ranjangnya. Beberapa temannya di dapur meminjamkannya setelan itu agar dikenakannya saat mengawal kakak dan adik majikan mereka. Bahkan Bernard meminjamkan dasi bututnya dan Lowan meminjaminya sepasang sepatu. Dia berusaha membuka ikatan dasi yang mengikat ketat di kerah kemejanya dan berkata datar pada Bernard yang mengerutkan dahi.
"Ini bukan pestaku, Barnie. Aku hanya menjadi supir sekaligus penjaga. Kemeja ini sudah cukup bagiku." Trevor mengembalikan dasi milik Bernard, mendapati raut kecewa pria itu. Dia tersenyum singkat. "Tuan besar hanya menuruti kemauan istrinya."
Bernard menghela napas dan menatap Trevor yang memasang sepatu, memerhatikan betapa tampannya pria muda itu bersama sikap defensifnya. "Nona Sybille menyukaimu."
Trevor mengangkat wajahnya dan mendapati senyum kecil Bernard. Dia memilih diam dan memasukkan bungkus rokoknya ke dalam saku celana. Tentu saja Bernard melihat sikap mengelak Trevor dan dia berkata lirih.
"Berhati-hatilah, Treve. Aku menyayangimu seperti anakku sendiri. Mungkin kau bisa menyembunyikan perasaanmu tapi nona tidak demikian. Sinar matanya menjelaskan banyak hal ketika dia melihatmu." Bernard menepuk pelan bahu Trevor sebelum dia keluar dari kamar, "Lakukan tugasmu dengan baik malam ini."
Trevor menatap punggung Bernard. "Apakah ini sebuah kesalahan?"
Bernard menoleh Trevor, dia tersenyum penuh sayang pada Trevor. "Tidak, nak. Tak ada kesalahan apapun ketika kau jatuh cinta. Yang salah mungkin adalah keadaan yang tak menguntungkan bagi orang seperti kita."
Trevor terdiam dan hanya melihat Bernard yang berlalu. Dia menunduk dan menatap kedua telapak tangannya yang kasar dan kapalan. Dia memejamkan matanya. Keadaan! Dia menghembuskan napasnya. Digenggamnya kedua kepalan tangannya dan merasakan kalung berliontin yang melingkari lehernya. Disentuhnya benda itu.
"Ya, bukankah aku harus mencari jalan untuk mencari Kristella? Lupakan keinginan aneh di dalam hatimu, Trevor Simons." Trevor berkata pada dirinya sendiri, menegakkan punggungnya dan berjalan keluar dari kamar.
***
Sybille menanti dengan tidak sabar di teras rumahnya bersama Sylvestre, menunggu munculnya Trevor yang akan membawa mereka dengan mobil milik keluarga Dubois. Gerak tak sabarnya dan selalu memanjangkan lehernya ke arah garasi, memancing kerutan di dahi kakaknya.
"Kau sedang apa?" Sylvestre bergumam heran, melirik Bibi Latitia yang tampak duduk santai di kursi teras dengan sebuah kipas harumnya.
"Eh, aku cemas kita akan telat..." Sybille mencoba mencari jawaban yang tepat agar terhindar dari perhatian Sylvestre. Tapi rupanya sang bibi sedang ingin menggodanya.
"Ho ho ho...kau hanya tak sabar menunggu mobil muncul dan supirnya." Latitia tersenyum lebar saat melihat Sybille memutar tubuh, menatapnya dengan sepasang mata birunya yang membuka lebar.
"Bibi!" Sybille mendesis lirih, melirik Sylvestre yang kelihatan sedang sibuk dengan kelepak jasnya. Dia mengintip pintu rumah yang terbuka lebar, takut jika ayahnya muncul mendadak.
Latitia menyeringai dan bangkit dari duduknya. Dia mendekati keponakannya dan berbisik ketika disadarinya sorot lampu mobil mendekati teras rumah. "Apa kalian sudah berciuman? Apakah tangannya sudah menyentuh kulitmu, sayang?" ada binar nakal pada sepasang mata Latitia saat melihat rona merah menjalari pipi Sybille.
"Bibi..." Sybille merasakan denyut di puncak payudaranya saat mengingat bagaimana sore tadi keduanya disentuh oleh tangan Trevor di atas punggung Oscar. Dia bisa mendapati wajah ingin tahu sang bibi. "Sudah..." akhirnya Sybille mencetuskan apa yang terjadi antara dia dan Trevor. "Kumohon, bibi...jangan sampai papa..."
"Aku akan merahasiakannya." Latitia menjawab dengan cepat. Dia tersenyum lebar dan memegang bahu Sybille."Oh, kau tampan sekali anak muda." Dengan halus dia membalikkan tubuh jangkung keponakannya, meminta agar gadis itu melihat apa yang dilihat matanya.
Trevor membukakan pintu mobil bagi Sylvestre yang mengambil posisi duduk di kursi depan, menutupnya dengan hati-hati. Dia membuka pintu bagian penumpang belakang, mendongak pada teras menjulang dengan beberapa undakan, pandangannya diterpa oleh tatapan lebar Sybille yang penuh makna. Dia memegang erat daun pintu dan berusaha bersikap layaknya posisi seharusnya. Dia juga mendengar sapaan nona Latitia padanya.
"Silakan, nona." Trevor memberi isyarat dengan sopan agar Sybille dan Latitia memasuki mobil.
Dengan riang, Latitia menuruni anak tangga dengan wajah tersenyum lebar. Dia mencapai di mana Trevor berdiri dan menekan lengan pria muda itu. "Kuharap kau bisa menjaga kami, Mr. Simons."
Trevor menaikkan alisnya menerima perlakuan genit dan manja sang bibi nona majikannya itu. Setelah meyakinkan diri bahwa wanita itu sudah masuk dengan aman di tempatnya, Trevor menoleh pada Sybille yang sudah berdiri di depannya, menatapnya dengan wajah merona dengan setengah menunduk.
Isi kepala Trevor bagai dipenuhi dengung-dengung tak jelas saat melihat sikap Sybille yang tertunduk, meremas pelan dompet kecilnya dan dia memejamkan matanya sejenak. Dia mengulurkan tangannya tepat di depan Sybille.
"Silakan masuk, nona." Trevor merasa lidahnya kelu dan jantungnya berdebar kencang.
Sybille mengangkat bulu matanya, menatap telapak tangan Trevor dan menyambutnya dengan pelan. Meski hanya sejenak, dia bisa merasakan genggaman erat Trevor untuknya dan pria itu membantunya memasuki mobil hingga akhirnya menutup pintu mobil dengan pelan. Sybille melihat bagaimana Trevor memutari mobil dan duduk di belakang kemudi. Perlahan dia mengelus dadanya seraya menghembuskan napas pelan. Dia merasa aman karena suasana mobil yang gelap hingga rona merah pada wajahnya tak terlihat oleh kakaknya. Dia menatap bahu dan punggung Trevor saat pria itu mulai menjalankan mobil.
Sybille merasakan genggaman halus Bibi Latitia. "Cobalah bersikap biasa jika tak mau ketahuan oleh kakakmu. Jika itu terjadi, ayahmu akan tahu segalanya."
Tapi bagaimana bisa Sybille menutupi isi hatinya pada Trevor tanpa diperhatikan sekelilingnya? Sybille adalah gadis polos yang selama ini menghabiskan hari-harinya di balik dinding asrama putri di Paris, mengisi harinya dengan membaca kitab dan berbicara penuh sopan santun dan hampir tak pernah bertemu dengan anak laki-laki secara bebas. Bagaimana bisa Sybille menahan gejolak hatinya ketika dia merasakan apa yang dinamakan jatuh cinta?
***
Itu adalah salah satu pesta yang diadakan oleh artis opera terkenal dengan tema topeng serta dansa yang memukau, seorang kenalan bibi Latitia dan amat akrab dengan wanita itu. Latitia mengeluarkan topeng miliknya dan menyerahkan satu pada Sybille, berupa topeng yang memiliki pegangan hingga tak perlu harus memasangnya di wajah.
Sybille menutupi wajahnya dengan topeng berwarna keemasan itu, keluar dari dalam mobil. Kakaknya, Sylvestre tampak menunjukkan lengannya agar dia menggandeng, dan dia mendengar perintah kakaknya pada Trevor yang terlihat berdiri dengan tenang.
"Kau tunggu di sini bersama supir lainnya. jangan masuk ke dalam jika tidak kupanggil." Sylvestre menatap Trevor yang saat itu sudah mengeluarkan ujung kemejanya, gerah oleh pakaian rapi.
Trevor menatap pria muda jangkung yang memerintahnya demikian rupa, dia mengangguk dan bersandar pada mobil, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan menatap para majikannya melangkah menuju pintu masuk. Dia mendapati Sybille menoleh dari balik bahunya demi menatapnya dan Trevor mengalihkan tatapannya dengan merogoh saku celananya, mengeluarkan bungkus rokoknya.
Sybille ingin menepis lengan Sylvestre yang dipegangnya karena jengkel akan sikap angkuh pria itu. Kakaknya memperlakukan Trevor layaknya b***k! Dia mencoba menarik lengannya namun Sylvestre berbisik penuh ancaman.
"Jaga sikapmu, Syl. Aku bukannya tak tahu tentang latihan berkudamu tadi sore." Dengan menunduk, Sylvestre menuding wajah adiknya dengan tatapan penuh tuduhan. "Jika papa tahu, tamatlah riwayat pria muda itu dan kau akan terancam kembali ke Paris! Ke asrama putri!"
Sybille menelan ludah mendengar ancaman Sylvestre, tak tahu bagaimana sang kakak bisa mengetahui soal berkuda sore tadi bersama Trevor. Dia mencengkram lengan Sylvestre nyaris mencubit. Dia mencoba sekali lagi menoleh Trevor yang ternyata tengah menatapnya.
"Ayo, cepatlah!" dengan sentakan, Sylvestre menarik lengan Sybille.
Sybille marah. Dia ingin membalikkan badannya, berlari ke arah Trevor dan berkata bawalah dia pergi dari tempat itu.
***
Trevor melihat bagaimana Sybille dua kali menoleh ke arahnya. Pertama, dia bisa menghindari tatapan itu dengan sibuk mengeluarkan rokoknya namun untuk kedua kalinya, dia tak sanggup menampik tatapan gadis itu. Dia bersandar di mobil, mendongak ke langit kelam di atasnya dan mengembuskan asap rokoknya di udara. Dia bisa mendengar percakapan hangat para supir yang membawa majikan mereka, bercanda dan berkelakar ringan. Trevor hanya menatap itu dengan diam tanpa berniat bergabung. Dia lebih senang sendirian dan menatap pintu rumah yang tertutup, yang diketahuinya pastilah amat ramai dengan para undangan pesta. Ada Sybille di sana, dengan kecantikannya yang unik dan sikap halusnya yang membuat Trevor jatuh cinta.
Jatuh cinta. Ya, Trevor jatuh cinta namun pada yang tidak tepat. Sybille Dubois bukanlah untuknya. Itu sudah jelas. Dia membuang rokoknya, menginjak benda itu hingga pipih dan melipat kedua tangan di d**a. Dia hanya perlu menunggu pesta usai dan berada di kamarnya, tanpa harus melihat Sybille di depan matanya, tak dapat direngkuh dan dipeluk dengan bebas.
Sementara di dalam ruangan pesta, Sybille sudah tidak menikmati suasana pesta. Dia menolak minuman tambahan, menepis ajakan dansa para pria lajang kaya serta membungkam mulutnya dari semua berita gosip yang diceritakan para gadis. Dia sudah tak melihat Sylvestre di ruang pesta berikut bibi Latitia. Dia merasa itu adalah waktu yang tepat untuk menyelinap keluar.
Dia meletakkan gelasnya di salah satu meja di ruangan itu dan undur dari dari kelompok para gadis biang gosip. Kehadiran Sybille Dubois cukup menyita perhatian para pria muda di ruang pesta tersebut hingga ketika putri sang duta besar berniat pergi dari ruang pesta, beberapa pria mendekati Sybille, membujuknya agar berdansa.
"Tidak, terima kasih. Aku akan mencari udara segar." Sybille kembali menolak ajakan dansa dan semakin merapatkan topengnya. Dia mencengkram erat pegangan topeng dan berusaha kabur dari serangan ajakan dansa.
"Nona, aku sudah cukup lama penasaran dengan anda. Rumor mengatakan bahwa putri duta besar Dubois sangat cantik dan ternyata benar. Muda dan cantik." Seorang pria berkemeja abu-abu mencengkram erat lengan Sybille.
Sybille menarik lepas lengannya dan mendapati tatapan ingin tahu yang mulai ramai padanya. Dia bisa melihat Bibi Latitia terburu-buru menyeruak kerumunan.
"Sybille."
Sybille menatap wajah bibinya dari balik topengnya. "Aku akan keluar, bibi."
"Ayolah, berdansa denganku sekali." Pria kemeja abu-abu itu kembali bersuara.
Sybille mencium aroma minuman keras dari mulut sang pria dan dia semakin mundur. "Tidak, terima kasih!" dia memutar tubuhnya, bahkan bibi dan kakaknya sama sekali tidak membantunya. Dia tak tahu di mana Sylvestre.
"Sybille!" Latitia berseru kaget melihat Sybille berlari keluar dari ruang pesta, diikuti pria muda kemeja abu-abu. "Oh, seseorang hentikan pria itu!" dia mencari sosok Sylvestre, namun keponakannya itu tak tampak sama sekali dan para undangan seakan tak mengindahkan seruannya. Bagi mereka itu hanyalah pemandangan biasa dimana seorang pria muda menginginkan pasangan dansanya.
Tapi Latitia tahu itu tak berlaku untuk keponakannya. Dengan menghentakkan kakinya dan mengangkat rok gaunnya, dia berlari mengejar Sybille.
***
Trevor sedang meregangkan lengannya ketika dia mendengar suara jeritan kecil dari arah pintu masuk. Dia menatap lurus demikian pula para supir yang ada di sekitarnya. Dia melihat Sybille. Sybille tampak sedang berusaha menarik lepas lengannya dari pegangan seorang pria dengan tampang marah bercampur jijik.
"Lepaskan aku!" Sybille menarik lengannya dengan kasar, dia yakin pria itu mabuk.
"Jangan jual mahal. Ayahmu dan ayahku adalah teman!" si pria masih ingin meraih lengan Sybille dan kali ini harus merasakan penolakan yang lebih nyata.
"Jangan sentuh aku!" Tanpa sadar Sybille menggerakkan tangannya dan menampar wajah si pria yang terpana.
Dengan memegang pipinya, pria itu menjadi berang. Dia mencoba menangkap lengan Sybille yang kaku karena dia tak sengaja menampar. "Kau pikir kau siapa?" dia berhasil menangkap lengan Sybille.
Sybille menjerit dan menatap wajah kemerahan itu dengan ngeri. Dia tak menyangka bahwa ditolak berdansa, seorang pria sudah merasa demikian sakit hati. Dia harus memanggil Trevor.
"Tre..."
"BUK!"
Sybille ternganga pada sebuah tinju yang bergerak menyerang dagu si pria berkemeja abu-abu hingga terjengkang di lantai dan otomatis pegangannya pada lengan Sybille terlepas. Dengan cepat, Sybille telah berada di dalam rangkulan hangat yang diketahuinya adalah Trevor Simons. Seketika hati Sybille merasa lega yang amat sangat. Dia bisa mendengar detak jantung pria itu, hangatnya tubuhnya dan perlindungan penuh hanya untuknya.
Pria kemeja abu-abu itu mencoba bangkit duduk namun kepalanya sudah teramat pening dan dagunya berdenyut-denyut nyeri. Dia melihat seorang pria jangkung berdiri di depannya dengan wajah dingin dan menyeramkan.
"Kau...berani memukulku?" dia menuding Trevor.
Trevor mengetatkan rahangnya, dia tak ingin meladeni pria itu dan memilih memutar tubuhnya, membawa Sybille ke mobil. Dia masih mendengar teriakan si pria berikut suara Latitia.
"Sybille!"
Tapi Sybille sudah masuk ke mobil, menatap Trevor yang sekilas ragu karena panggilan bibinya. Dia menarik lengan pria itu dan berkata dengan terburu-buru. "Bawa aku pergi dari sini." Dia menatap Trevor. "Kumohon, Treve..." dia harus pergi dari pesta itu.
Trevor mencengkram pintu mobil, bimbang. Suara Latitia semakin mendekati mereka dan tatapan Sybille mengunci tatapannya.
"Treve...kumohon...bawa aku pergi dari sini...aku ingin bersamamu saja..."
Trevor mendengar suara detak jantungnya yang berpacu kencang, dia masuk ke dalam mobil dan berada tepat di belakang kemudi. Dia membalas tatapan Sybille. "Kau mau dibawa ke mana?"
Sybille tak berkedip. "Ke mana saja asal jauh dari pesta itu. Jauh dari bibi Latitia dan kakakku."
Trevor tersenyum tipis. "Apa kau ingin mencoba bir di kota?" dia menghidupkan mesin mobil.
Sinar mata Sybille berbinar. "Tentu saja."
Trevor menekan gas dan melajukan mobil meninggalkan rumah pesta tersebut, menyisakan teriakan panik Latitia.
"Trevor! jangan bawa keponakanku! Aku bisa mati!"