Pagi menyambut Lycanthra dengan langit abu-abu dan kabut tipis yang mengambang di atas hutan. Para prajurit klan serigala berkumpul di lapangan utama, berbisik satu sama lain, sementara Magnus berdiri tegak di hadapan mereka, dikelilingi oleh sosok-sosok yang tak pernah membayangkan akan melihat pemimpin mereka lagi.
Rhea, yang berada di barisan depan, menatap Magnus dengan rasa kagum. Namun, dalam hatinya ada sedikit keraguan—keraguan yang ditanamkan oleh suara-suara di sekitarnya, terutama oleh para prajurit yang lebih tua. Mereka berbicara dalam nada rendah, meragukan keaslian dan niat dari sang Alpha yang kembali setelah bertahun-tahun menghilang tanpa penjelasan.
Orion melangkah maju, masih dengan mata yang menyimpan perasaan tidak percaya dan amarah. “Kau kembali begitu saja dan berharap kami menerimamu dengan tangan terbuka, Magnus?” Ia berbicara dengan nada tajam, membuat para prajurit menghela napas. Orion adalah pemimpin yang kuat dan tegas selama Magnus tak ada, dan banyak yang menghormatinya, meskipun beberapa memendam kerinduan akan Alpha sejati.
Magnus menatap Orion dalam diam, membiarkan tantangan itu bergulir di udara. “Aku tidak datang untuk meminta penerimaan,” katanya tenang, namun suaranya penuh dengan kekuatan yang membuat prajurit lainnya terdiam. “Aku datang untuk melindungi kalian dari ancaman yang akan menghancurkan segalanya.” Matanya bersinar tajam, mencerminkan kesungguhan dan keyakinan yang tak terbantahkan.
Rhea merasa tergerak oleh kata-kata itu. Ia tahu apa yang diceritakan tentang Morak dan pasukan iblis bayangannya—kisah-kisah serangan yang mengerikan, klan-klan yang diratakan dengan tanah, dan kekejaman yang tak terkatakan. Kembalinya Magnus membawa harapan baru, tetapi juga ketakutan akan konflik besar yang akan segera meletus.
“Aku memahami keraguan kalian,” lanjut Magnus, suaranya kini lebih lembut, mengarah pada setiap prajurit yang mendengarkan. “Namun, musuh kita semakin kuat. Morak bukan hanya ancaman lama yang sudah berlalu. Ia semakin besar, dan kekuatannya telah menguasai sebagian wilayah Lycanthra. Jika kita tetap terpecah seperti ini, kita semua akan hancur.”
Para prajurit mulai saling berpandangan. Bisikan di antara mereka semakin pelan, keraguan yang tadi ada mulai tergantikan oleh kepastian bahwa Magnus membawa lebih dari sekadar legenda. Ia membawa tujuan dan tekad yang dirasakan oleh setiap prajurit di sana.
Orion tidak menyerah begitu saja. Tatapannya tetap dingin, meskipun dalam hati kecilnya ada ketakutan yang muncul. Sebagai Beta, ia telah mengorbankan banyak hal untuk menjaga klan tetap bertahan dalam masa-masa sulit, dan kedatangan Magnus mengguncang otoritasnya. “Kau mungkin pemimpin sejati,” katanya, “tetapi selama bertahun-tahun aku yang ada di sini, memimpin mereka yang tertinggal.”
Magnus mengangguk kecil, mengakui beban yang ditanggung oleh Orion. “Aku tidak meremehkanmu, Orion,” katanya. “Tapi perang ini tidak bisa dimenangkan oleh satu orang. Kita membutuhkan persatuan, bukan perselisihan.”
Di antara prajurit yang berkumpul, Rhea berdiri tegak, merasa dorongan dalam dirinya untuk melakukan sesuatu. Ia maju satu langkah, membuat beberapa prajurit terkejut melihat prajurit muda itu mengambil inisiatif. “Jika kita tetap terpecah seperti ini, Morak akan menang,” katanya dengan suara lantang. “Alpha Magnus telah kembali, dan kita harus menyambutnya sebagai pemimpin kita. Bersama-sama, kita bisa lebih kuat.”
Para prajurit terdiam mendengarkan Rhea, yang berbicara dengan semangat dan keberanian yang mengingatkan mereka pada Magnus saat ia masih muda. Orion melirik Rhea dengan pandangan marah, namun Magnus hanya tersenyum tipis, merasa bangga pada prajurit muda itu. Keberanian dan ketulusannya menunjukkan bahwa harapan untuk klan masih ada, meski di tengah konflik batin yang terus membara.
Kaelin, yang berdiri di belakang Magnus, memperhatikan perdebatan ini dengan penuh minat. Ia tahu bahwa waktu akan memperkuat Magnus atau menghancurkannya. Pengaruh Morak semakin kuat setiap harinya, dan Kaelin bisa merasakan energi gelap itu semakin dekat. Ia tak bisa mengabaikan firasat buruk yang menyelimutinya.
Magnus menarik napas dalam dan menatap para prajuritnya dengan penuh harapan. “Aku datang bukan hanya untuk memimpin kalian, tetapi untuk melawan bersama kalian. Kita akan berlatih, memperkuat barisan, dan menyiapkan strategi. Ini bukan hanya peperangan untuk klan kita, tetapi untuk seluruh Lycanthra.”
Orion masih terdiam, tampak berpikir keras. Ia akhirnya mengangguk kecil, meskipun sorot matanya tetap tajam. “Baiklah, Magnus. Aku akan menghormatimu sebagai pemimpin, tetapi jangan berpikir bahwa aku akan tunduk sepenuhnya. Kau harus membuktikan bahwa kau layak memimpin kembali.”
Magnus mengangguk mengerti. Ia tahu bahwa kepercayaan tak bisa dibangun dalam semalam, terutama dengan ketidakhadirannya yang lama. “Aku akan membuktikannya,” katanya, lalu menatap Orion dengan tajam. “Dan aku butuh dukunganmu, Orion. Bersama-sama, kita bisa menghadapi apa pun yang datang.”
Dengan itu, suasana menjadi lebih tenang. Para prajurit mulai menerima bahwa Magnus, meski belum sepenuhnya mereka percayai, adalah satu-satunya harapan untuk menghadapi ancaman besar yang mendekat. Magnus mengatur agar latihan segera dimulai keesokan harinya, dengan Kaelin sebagai penasihat magisnya, membantu memperkuat perlindungan dan strategi mereka.
Saat para prajurit mulai membubarkan diri, Kaelin mendekati Magnus, matanya penuh kekhawatiran yang ia coba sembunyikan. “Kau tahu, bukan?” katanya pelan. “Morak telah bergerak. Aku bisa merasakan kehadirannya semakin dekat.”
Magnus mengangguk, suaranya rendah dan penuh beban. “Aku tahu, Kaelin. Dia akan datang lebih cepat dari yang kita duga.”
Sementara itu, Rhea, yang melihat semua kejadian ini dari jarak jauh, merasa dorongan yang kuat dalam dirinya. Ia tak hanya ingin menjadi seorang prajurit; ia ingin membuktikan bahwa ia mampu berdiri di baris depan, melindungi klan dan mereka yang ia cintai. Rhea merasakan perubahan dalam dirinya, sesuatu yang mendorongnya untuk menjadi lebih kuat. Ia akan berjuang, tidak hanya untuk Magnus, tetapi untuk masa depan Lycanthra.
Malam kembali turun, dan kabut tebal sekali lagi menyelimuti hutan. Di kejauhan, suara-suara tak kasatmata berbisik di antara pepohonan, seolah mengisyaratkan badai yang akan datang. Magnus berdiri dalam diam, menatap ke arah hutan gelap yang terasa penuh misteri, merasa bahwa waktu semakin mendekat untuk pertempuran besar yang akan menentukan segalanya.