Kabut tipis masih melayang-layang di atas tanah Lycanthra ketika para prajurit berkumpul di lapangan utama. Mereka telah dipanggil pagi-pagi sekali untuk memulai persiapan yang diperintahkan oleh Magnus. Bagi banyak dari mereka, ini adalah pertama kalinya mereka melihat Magnus dalam posisi memimpin; bayangan legenda yang melekat pada sosoknya kini terasa lebih nyata.
Magnus berdiri di hadapan mereka, wajahnya tenang namun penuh dengan ketegasan. Di sebelahnya, Kaelin berdiri dengan tatapan tajam, memperhatikan setiap prajurit yang hadir. Orion, meski masih menyimpan keraguan, berada di baris depan, menegaskan bahwa ia siap mengikuti latihan yang dirancang Magnus. Sementara itu, Rhea, dengan semangatnya yang berkobar, berada di antara prajurit lainnya, siap mendengar setiap perintah.
“Kalian mungkin menganggap aku hanya sekadar cerita masa lalu,” kata Magnus memecah kesunyian. “Namun, hari ini aku berdiri di sini bukan untuk menjadi legenda, tetapi sebagai pemimpin yang akan membawa kita menuju kemenangan.”
Para prajurit terdiam mendengarkan, rasa hormat dan antusiasme mulai tumbuh dalam hati mereka. Magnus melanjutkan, “Musuh kita adalah pasukan iblis yang kuat dan terorganisir. Mereka dilatih untuk bertempur tanpa ampun, dan dipimpin oleh Raja Gelap Morak yang penuh tipu daya. Jika kita tidak bersatu dan memperkuat diri, kita akan terinjak-injak dalam pertempuran ini.”
Orion, yang akhirnya berbicara dengan nada lebih damai, menambahkan, “Apa pun keraguan yang kalian miliki, lupakan. Ini adalah tentang bertahan atau hancur.”
Prajurit lainnya mengangguk setuju. Meskipun ada yang masih meragukan kehadiran kembali Magnus, ketegasan dalam suara Orion cukup untuk membuat mereka fokus pada tugas yang ada di depan mata.
“Kaelin akan membantu kita dengan perlindungan magis,” lanjut Magnus, menoleh ke penyihir di sebelahnya. “Meskipun kami berjuang dengan kekuatan fisik, kita tidak boleh meremehkan kekuatan sihir yang bisa melindungi kita dari serangan yang tidak terlihat.”
Kaelin mengangkat tangannya, dan dalam sekejap, cahaya hijau berkilauan di udara, membentuk lingkaran perlindungan di sekeliling lapangan. “Ini hanyalah sedikit contoh,” katanya dengan suara lembut namun tegas. “Aku akan melatih kalian dalam menghadapi sihir gelap. Tidak semua pertempuran hanya menggunakan kekuatan fisik. Kalian perlu memahami energi di sekitar kalian, mengenali musuh bahkan sebelum mereka menyerang.”
Para prajurit terkesima oleh pameran kekuatan magis itu. Bagi sebagian besar dari mereka, sihir adalah sesuatu yang asing, tetapi kehadiran Kaelin memberi mereka keyakinan bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi ancaman.
Rhea mendengarkan dengan penuh perhatian, hatinya dipenuhi rasa ingin tahu dan hasrat untuk belajar lebih banyak. Ia tahu bahwa dengan bantuan sihir, peluang mereka untuk menang akan meningkat. Keberanian dalam dirinya mendorongnya maju. “Kaelin, bisakah kami belajar dasar-dasar sihir perlindungan itu?” tanyanya dengan nada bersemangat.
Kaelin tersenyum lembut, melihat semangat di mata Rhea. “Tentu saja. Semua dari kalian akan mempelajari dasar-dasar ini, karena dalam pertempuran, setiap perlindungan tambahan dapat menyelamatkan nyawa kalian.”
Magnus melanjutkan dengan rencana latihan fisik. “Kita tidak hanya perlu kuat secara fisik tetapi juga gesit dan terlatih dalam strategi. Hari ini kita akan mulai dengan serangkaian latihan yang menguji kecepatan, kekuatan, dan ketahanan kalian.”
Orion memimpin para prajurit dalam barisan, membagi mereka menjadi kelompok-kelompok kecil sesuai perintah Magnus. Rhea bergabung dengan salah satu kelompok, bersama dengan prajurit-prajurit muda lainnya yang bersemangat untuk menunjukkan kemampuan mereka. Dengan isyarat dari Magnus, latihan dimulai, dan suasana yang penuh ketegangan segera berubah menjadi hiruk-pikuk perjuangan.
Latihan pertama adalah uji ketahanan. Setiap prajurit diminta untuk berlari melintasi hutan dan kembali tanpa berhenti, di mana mereka akan menghadapi berbagai rintangan yang telah dipersiapkan oleh Magnus dan Kaelin. Para prajurit berlari melewati akar pohon yang menjalar, melompati batu-batu besar, dan melewati area yang penuh dengan duri dan ranting tajam. Di sini, Magnus mengamati setiap orang dengan seksama, mencatat siapa yang memiliki kekuatan dan ketahanan yang bisa diandalkan dalam pertempuran.
Rhea berlari dengan semangat, namun di tengah perjalanan ia mulai merasakan lelah. Tetesan keringat mengalir di dahinya, namun ia terus berjuang. “Aku bisa melakukan ini,” gumamnya dalam hati, memotivasi dirinya untuk tidak menyerah. Ia tahu, pertempuran yang akan datang tidak akan memberi mereka kesempatan untuk mundur, dan ia harus kuat, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk klan.
Ketika para prajurit kembali ke lapangan, mereka diberi waktu singkat untuk beristirahat sebelum latihan kedua dimulai. Magnus kemudian memimpin sesi latihan yang menguji kemampuan bertahan dalam serangan fisik. Para prajurit berpasangan dan diminta untuk bertarung satu sama lain, belajar bagaimana menghadapi serangan tak terduga dan menahan pukulan yang kuat.
Orion, dengan posturnya yang besar dan berotot, menjadi pasangan latihan Magnus. Mereka saling bertukar pukulan dan serangan dengan intensitas yang tinggi, membuat para prajurit lain berhenti sejenak hanya untuk mengagumi keahlian mereka. Orion, meski memiliki kekuatan besar, merasa terdesak oleh kecepatan dan ketangkasan Magnus. Setiap gerakannya diantisipasi oleh Magnus, yang bergerak dengan kelincahan yang luar biasa.
Di sisi lain lapangan, Rhea bertarung dengan prajurit muda lain, mencoba mengikuti teknik yang telah diajarkan. Meskipun merasa tertekan, Rhea belajar banyak dari setiap kesalahan, menggali keberanian dalam dirinya untuk terus bertahan. Setiap pukulan yang ia terima membuatnya lebih kuat, dan setiap kesalahan yang ia buat menjadi pelajaran untuk perbaikan.
Saat matahari mulai terbenam, Magnus akhirnya memberi isyarat untuk mengakhiri latihan hari itu. Para prajurit, meskipun kelelahan, merasa lebih hidup dari sebelumnya. Mereka telah melewati batas kemampuan mereka, dan pelajaran yang didapat hari itu adalah tentang kesatuan dan ketahanan.
Magnus berdiri di depan mereka, memberikan pandangan penuh kebanggaan. “Hari ini kalian telah menunjukkan keberanian dan ketahanan. Ini baru awal. Peperangan ini tidak hanya membutuhkan kekuatan tubuh, tetapi juga ketahanan hati dan pikiran. Kalian harus bersiap untuk segalanya.”
Para prajurit, dengan napas berat dan wajah penuh semangat, mengangguk. Rhea merasa lebih terhubung dengan klan dan memiliki keyakinan yang lebih besar terhadap kemampuan Magnus sebagai pemimpin. Ia mulai melihatnya bukan hanya sebagai legenda, tetapi sebagai seseorang yang benar-benar memiliki kekuatan dan kebijaksanaan yang dibutuhkan untuk membawa mereka menuju kemenangan.
Kaelin mendekati Magnus setelah para prajurit mulai berpencar. “Kau melatih mereka dengan keras,” katanya dengan senyum samar. “Tapi aku tahu ini hanya persiapan dasar.”
Magnus mengangguk, matanya menatap jauh ke dalam hutan, seakan menunggu sesuatu yang akan datang. “Benar, Kaelin. Apa yang kita lakukan hari ini hanya sebagian kecil dari apa yang akan mereka hadapi. Jika Morak benar-benar datang dengan kekuatannya, maka latihan ini hanyalah setitik persiapan dalam lautan pertempuran yang akan segera tiba.”
Kaelin mengangguk, tatapannya penuh dengan pemahaman. “Kita harus segera bersiap dengan lebih banyak perlindungan magis. Energi gelap semakin terasa.”
Magnus menghela napas, perasaannya bercampur aduk antara kekhawatiran dan keyakinan. “Mereka harus siap untuk semuanya, Kaelin. Dan aku akan memastikan mereka mendapatkan semua yang mereka butuhkan.”
Di balik kabut yang mulai menyelimuti malam, bayangan ancaman Morak semakin mendekat, dan para prajurit Lycanthra tahu bahwa waktu mereka untuk bersiap tidak akan lama lagi.