Hujan turun lagi dimalam itu.
Langit di kota Neoville City seperti kain abu-abu yang disulam petir, membungkus seluruh kota dalam cahaya yang dingin. Di halaman Akademi Orion, air yang mengalir di antara ubin dan batu, memantulkan siluet, menara yang menjulang tinggi, dimana menara itu adalah tempat sumpah para pemburu iblis ditanamkan dengan darah dan kehilangan.
Di ruang bawah tanah akademi, dua sosok berdiri di depan simbol bercahaya yang samar di dinding logam ada bekas dari portal di Distrik Bayangan.
“Polanya… tidak sepenuhnya iblis,” gumam Maya sambil menyeka sisa darah dari simbol itu. “Ada serpihan energi manusia di dalamnya.”
Tatsuya mengangguk, sambil menyalakan sebatang rokok Filternya. Asapnya mengepul, membentuk bentuk lingkaran yang lenyap di udara. “Itu artinya seseorang dari dunia kita yang membuka pintu itu,” ujarnya dingin. “Seseorang dari dalam Orion.”
Maya menatapnya, nada suaranya menurun. “Kalau benar begitu, maka kita bukan hanya melawan iblis di luar tembok ini, tapi juga bayangan di antara kita sendiri.”
Tatsuya menatap simbol itu lama, sebelum menjawab pelan, “Kadang pengkhianatan tak datang dari kebencian, tapi dari rasa takut.”
Ia mematikan rokoknya dan berjalan pergi, meninggalkan ruangan yang kini hanya diterangi cahaya biru yang redup.
---
Ruang Medis – Di Sayap Timur Orion
Asha terbangun dengan napas terengah. Hembusan udara dari ventilasi dingin menyentuh kulitnya. Di sisinya, Kaze duduk dengan mata terpejam, kepalanya tertunduk, seolah menunggu selama berjam-jam.
“...Kaze?” suaranya nyaris seperti bisikan.
Kaze menegakkan tubuhnya, tatapannya langsung menenangkan. “Kau sadar.”
Ia menatap wajah Asha yang pucat, matanya masih menyimpan bayangan ketakutan dari malam sebelumnya.
“Dimana aku?”
“Di Orion. Aman sekarang.”
Asha menatap sekeliling, lalu menatap Kaze lagi. “Aku ingat... ada simbol di lantai, suara yang memanggilku, lalu semuanya gelap.”
Ia menatap tangan Kaze yang terluka, lalu berkata pelan, “Kau... kau menyelamatkanku lagi.”
Kaze tersenyum tipis. “Bukan aku. Kau yang melawan.”
Ia menatap langit-langit putih ruangan itu sejenak “Tapi... ada sesuatu yang lain di balik serangan itu.”
Asha diam. Lalu dengan ragu, ia bertanya, “Apa itu... yang disebut Mata Iblis?”
Kaze menatapnya lama, seperti menimbang atau berpikir apakah ia pantas tahu. Akhirnya, ia menjawab lirih, “Ya. Itu bukan kekuatan—itu adalah sebuah kutukan. Warisan dari perjanjian lama antara pemburu pertama dan dunia iblis. Aku bisa melihat apa yang seharusnya tidak dilihat oleh mata manusia... dan mendengar apa yang bahkan malaikat pun ingin lupakan.”
Asha menatapnya, air mata perlahan turun. “Tapi... jika itu membuatmu menderita, kenapa kau tidak menolaknya?”
Kaze menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis—penuh lelah. “Karena kalau aku melepaskannya, tidak ada yang akan menutup pintu-pintu itu.”
Dalam hening, Asha meraih tangannya.
“Kau lebih manusia daripada siapapun yang pernah aku temui,” katanya lembut. “Mungkin karena kau tahu bagaimana rasanya menjadi monster.”
Kaze tidak menjawab. Tapi di balik matanya yang merah samar, ada kilasan rasa takut—bukan pada iblis, tapi pada dirinya sendiri.
---
Ruang Briefing Utama
Keesokan harinya, ruang briefing Orion dipenuhi aura tegang. Tatsuya berdiri di depan meja holografik besar. Maya di sisi kanannya sementara Ryo dan Mira di sisi kirinya menatap data yang berputar di udara.
“Ini hasil analisis dari misi semalam,” kata Tatsuya. “Energi portal terdeteksi meningkat 37% dalam waktu kurang dari satu jam sebelum kalian tiba. Artinya, ada pemicu eksternal atau sinyal dari dalam kota.”
Mira menggeser layar, menampilkan peta Neoville yang berkedip merah di satu titik. “Sinyal itu dikirim dari wilayah dalam radius satu kilometer dari Orion. Lebih tepatnya… dari kompleks pengiriman data internal.”
Semua saling berpandangan.
Kaze diam, hanya menatap titik merah itu seperti menatap mata monster.
“Jadi ada yang membantu iblis dari dalam tembok kita sendiri,” gumam Ryo.
Tatsuya mengangguk. “Mulai hari ini, kita tidak hanya memburu iblis di luar sana. Kita memburu bayangan yang menyamar jadi manusia.”
Saat suasana tegang itu menggantung, pintu terbuka—Ren masuk dengan jas abu-abu, membawa tumpukan laporan.
“Laporan komunikasi dan suplai yang diminta,” katanya singkat.
Tatsuya mengangguk tanpa curiga, menerima dokumen itu.
Ren berusaha tampak tenang, tapi tatapannya sempat bertemu dengan Kaze. Ada sekelebat rasa bersalah di mata lelaki itu sebelum ia segera menunduk.
Kaze menatapnya lama. Entah kenapa, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
---
Malam di Asrama Orion
Hujan belum berhenti. Cahaya Lampu lampu yang memantul di kaca jendela kamar Kaze. Di meja, Requiem Edge tergeletak, meneteskan air hujan sisa dari misi kemarin.
Kaze berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya sendiri mata merah yang samar itu kini tampak lebih pekat.
> “Kau memikul mata kami, tapi kau belum memahami apa yang kau bawa.”
Suara itu bergema di kepalanya. Lembut, tapi menusuk.
Kaze menatap sekeliling, tapi tidak ada siapa-siapa.
> “Kau ingin melindungi mereka, bukan? Maka pahamilah kegelapan kami.”
Bayangan Kael muncul di belakang pantulan cermin, tersenyum samar. “Kegelapan bukan musuhmu, Kaze. Ketakutanmu lah yang membunuhmu.”
Kaca bergetar. Kaze memejamkan mata dan berteriak lirih, menahan rasa sakit di kepalanya.
Ketika ia membuka mata lagi, cermin itu retak.
“Tidak… aku bukan seperti kalian.”
Tapi bisikan itu tak hilang. Ia seperti gema yang berulang dari dalam darahnya sendiri.
---
Gang Belakang Neoville – Tengah Malam
Ren berjalan cepat sambil menutup kepala dengan jasnya. Kota di malam hari terasa seperti rahang besar yang siap menelan siapa saja. Suara langkahnya memantul di dinding bata basah.
Dari kegelapan, muncul kabut berwarna ungu pekat. Suara rendah terdengar dari dalamnya.
“Ren...”
Sebuah bayangan muncul perlahan, samar berbentuk manusia tapi tidak punya wajah.
Ren mundur setengah langkah. “Kau siapa?”
“Utusan,” jawabnya datar. “Kael ingin berbicara... tapi kau belum siap. Untuk sekarang, dia hanya ingin kau tahu: dunia manusia tidak pernah menyelamatkan orang seperti kita.”
Ren menelan ludah, suaranya gemetar. “Aku bukan pengkhianat. Aku hanya... tidak ingin mati sia-sia.”
Kabut itu mendekat, seperti tangan yang membelai wajahnya. “Maka bantu kami... dan kau akan hidup lebih lama daripada siapapun di Orion.”
Sebuah batu hitam kecil muncul di udara, berdenyut seperti jantung.
“Ambil ini. Ia akan menuntunmu.”
Ren menatap batu itu. Dalam pantulan kilat, wajahnya tampak bimbang—antara ketakutan dan rasa bersalah. Tapi pada akhirnya, jemarinya meraih batu itu.
Cahaya ungu menyala sekejap, lalu padam.
Kabut menghilang, meninggalkan Ren sendirian di bawah lampu jalan yang redup. Ia menatap batu itu, lalu menatap langit.
“Maafkan aku, Kaze... aku hanya ingin hidup,” bisiknya.
---
Balkon Asrama Orion – Dini Hari
Badai sudah reda. Langit Neoville kini biru kelam, diselimuti awan berat yang bergerak lambat.
Kaze berdiri di balkon, Requiem Edge disampirkan di punggungnya. Pandangannya kosong, tapi pikirannya dipenuhi gema suara yang tak bisa ia hilangkan.
Maya datang dari belakang, langkah sepatunya nyaris tak terdengar. “Kau belum tidur sejak misi kemarin.”
Kaze tidak menjawab.
Maya berdiri di sampingnya, menatap kota yang tak pernah benar-benar tidur itu. “Aku tahu rasanya, Kaze. Ketika kekuatan yang seharusnya menyelamatkan orang justru membuatmu takut menyentuh siapa pun.”
Kaze menunduk. “Terkadang... aku tak tahu apakah aku masih manusia.”
“Selama kau masih mempertanyakan itu, berarti kau masih manusia,” jawab Maya tegas. “Yang berbahaya adalah ketika kau berhenti peduli.”
Angin malam berembus pelan. Kaze menatap horizon kota, lampu-lampu kecil berkilau seperti bintang yang tersesat.
“Bagaimana kalau jiwaku memang sudah milik kegelapan itu sejak awal?” katanya lirih.
Maya memandangnya lama, lalu berkata pelan, “Kalau begitu, tugas kami bukan menarikmu keluar dari kegelapan... tapi berjalan bersamamu sampai kau menemukan cahayanya sendiri.”
Kaze menatap langit. Petir terakhir menyambar jauh di utara.
Di kejauhan, menara hitam Crown Hollow di dunia iblis bergetar samar—seolah mendengar kata-katanya.
Dan di antara dua dunia itu, sebuah gema samar terdengar…
sebuah janji yang mulai retak.