Kabut malam yang menyelimuti kota Neoville City seperti selimut selimut yang dingin. Jalanan basah berkilau memantulkan cahaya lampu jalan yang temaram, sementara sirene jauh terdengar seperti gema jauh dari ancaman yang belum terlihat. Di langit, awan yang gelap bergerak cepat, menutupi bulan sebagian, seolah ikut menahan napas di kota ini.
Di ruang briefing utama Orion, atmosfer tegang masih terasa pekat. Layar holografik menampilkan peta distrik-distrik di kota, beberapa titik merah berkedip—indikasi energi portal yang masih aktif. Tatsuya berdiri di depan, matanya tajam menatap tim yang berkumpul.
“Kita menghadapi sesuatu yang lebih besar dari sekadar iblis parasit,” ucap Tatsuya. Suaranya berat, seperti setiap kata menambah beban di ruangan itu. “Portal yang kalian tutup semalam hanyalah pintu pertama. Ada sisa energi yang masih aktif… dan kita belum tahu siapa yang menyalakannya.”
Mira mencondongkan tubuh ke layar. “Sinyal berasal dari area data internal Orion… titik koordinat yang sama seperti semalam. Ada seseorang yang sengaja membocorkan informasi lokasi portal.”
Kaze menatap titik merah itu, matanya merah samar memantul dari pantulan holografik. “Ren?” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada suara yang bisa didengar orang lain.
Ryo menatapnya tajam. “Kau curiga seseorang dari dalam Orion?”
Kaze tidak menjawab, hanya mengangkat alis. Pandangannya tetap tertuju pada layar. Dalam hatinya, ada rasa tidak nyaman bukan karena takut, tapi karena firasat yang tak bisa ia abaikan.
Maya menepuk bahunya ringan. “Kaze, ini bukan hanya soal kekuatan. Ini soal siapa yang kau percayai. Hati-hati.”
---
Asrama Orion – Malam
Di kamar asramanya, Asha duduk di tepi ranjang, rambutnya masih sedikit basah karena hujan sebelumnya. Kaze berdiri di dekat jendela, tangannya menyentuh gagang Requiem Edge yang tergantung di punggungnya.
“Kau terlihat berbeda malam ini,” kata Asha perlahan. “Seperti… ada sesuatu yang menahanmu.”
Kaze menoleh, matanya menyapu wajahnya. “Ada sesuatu yang tidak bisa aku katakan sepenuhnya. Tentang mata ini… dan tentang pengkhianatan yang mungkin ada di antara kita.”
Asha menggenggam tangannya, suaranya lembut tapi tegas. “Kaze… kau tidak harus menanggung semua sendiri. Aku tahu kau selalu melindungi orang lain, tapi kau juga bisa membiarkan orang lain melindungimu.”
Kaze menarik napas panjang. Perasaan hangat yang jarang ia rasakan muncul di d**a, bercampur dengan ketegangan yang selalu ada ketika menyadari kekuatannya sendiri. “Aku tidak terbiasa… membiarkan orang lain masuk.”
Asha tersenyum tipis. “Kalau begitu biarkan aku mencoba. Setidaknya sebagai manusia, bukan sekadar pemburu atau pembawa kutukan.”
Sebuah keheningan panjang menggantung, hanya dipecahkan oleh gemericik hujan di jendela.
---
Lorong Data Orion – DiTengah Malam
Ren berjalan cepat di antara lorong-lorong gelap, jasnya menempel basah oleh hujan yang menetes dari atap luar. Di tangannya, menggenggam batu hitam yang diberikan Kael berdenyut samar, seolah memiliki kesadaran sendiri.
Suara langkahnya bergema di lorong beton. Ren menelan ludah, mencoba menenangkan detak jantungnya. Dalam hatinya, ada rasa bersalah dan ketakutan beradu. “Aku melakukan ini demi hidup… tapi seberapa banyak nyawa yang akan kuancam?”
Dari kegelapan, bayangan bergetar muncul, wujud samar yang menatapnya tanpa wajah. “Ren…” suara itu terdengar seperti bisikan ribuan mulut, lembut tapi menusuk.
“Kael…?” gumam Ren.
“Tidak,” jawab bayangan itu. “Hanya pesan. Portal kedua akan terbuka jika kau tidak melakukan tugasmu dengan tepat. Dunia kalian tidak aman, tetapi hidupmu bisa lebih lama dari semua orang di Orion jika kau memilih dengan benar.”
Ren mengangkat batu hitam. Denyutannya semakin cepat, dan ia tahu bahwa langkah berikutnya menentukan arah perang yang akan terjadi.
---
Distrik Bayangan – Fajar
Kaze dan Mira memasuki distrik yang sama, jalanan basah dan bau besi menyengat. Sisa sisa simbol portal semalam masih terlihat samar di lantai dan dinding, meskipun telah disegel secara parsial.
“Kau yakin seseorang dari Orion membantu Kael?” tanya Mira, matanya tajam memindai lorong.
“Ya,” jawab Kaze singkat. “Dan ini baru permulaan. Kael bukan hanya ingin menguji kekuatanku… dia ingin melihat seberapa dalam pengkhianatan bisa menggerogoti kita.”
Langkah kaki mereka pelan namun pasti, mengitari reruntuhan gedung tua. Cahaya merah yang samar dari mata Kaze menyapu setiap sudut gelap. Ia bisa merasakan energi portal yang belum sepenuhnya hilang dan gelombang iblis yang menunggu celah untuk masuk kembali.
Tiba-tiba, suara berbisik terdengar di udara, seperti ribuan suara kecil yang berbaur.
> “Buka pintu… buka pintu… atau dunia ini akan hancur…”
Kaze berhenti. Bisikan itu tidak berasal dari iblis biasa. Itu energi dari portal kedua yang Kael sedang persiapkan.
Mira mengerutkan dahi. “Ini berbeda… energi ini… lebih pekat dari energi energi lainnya. Tidak stabil. Siapa pun yang mencoba menutupnya tanpa persiapan bisa mati.”
Kaze mengangguk pelan. Ia menekan telapak tangannya ke tanah. Cahaya merah memancar, memindai pola energi yang bergetar di lantai. “Aku harus tahu siapa di belakang semua ini. Tanpa mengetahui itu, menutup portal hanya akan menunda bencana.”
---
Kembali ke Asrama Orion – Siang
Asha sudah lebih segar, duduk di meja belajar sambil menatap buku mantra kuno. Namun matanya sesekali melirik ke pintu kamar Kaze yang sedikit terbuka, seolah ingin bertanya lebih banyak.
“Kaze…” katanya .. setelah beberapa lama diam. “Kenapa kau terlihat lebih… serius dari biasanya? Seperti ada rahasia yang kau simpan.”
Kaze menoleh, tatapannya lembut tapi tetap waspada. “Ada hal-hal yang tidak bisa kuberitahukan padamu… ya setidaknya, belum untuk saat ini."
Asha menunduk, menyembunyikan senyumnya yang samar. “Kalau begitu… aku akan menunggu. Aku percaya padamu.”
Di dalam hatinya, ada rasa penasaran yang tak terucap. Ia merasakan ada sesuatu yang Kaze sembunyikan, bukan hanya tentang kekuatan iblisnya, tapi masa lalunya yang kelam, sesuatu yang bisa mengguncang kepercayaan manusia padanya.
---
Crown Hollow – Dunia Iblis
Di menara gelap Crown Hollow, Kael berdiri di depan pintu rune yang berdenyut warna ungu gelap. Tubuhnya tegap, jubah hitamnya bergerak ringan tertiup angin yang berasal dari dimensi lain.
“Portal pertama… hanyalah percikan,” gumamnya. “Portal kedua… adalah gerbang. Dan aku akan membuka gerbang itu.”
Di sampingnya, bayangan Eris melayang, tertawa lirih. “Kau tidak akan kecewa, Kael. Mereka masih terlalu lemah untuk memahami apa yang akan mereka hadapi.”
Kael mengangkat tangan, dan rune di lantai menyalakan cahaya warna ungu pekat. Energi mulai berdenyut, memantul di dinding menara yang hitam seperti obsidian.
“Dunia manusia… mereka belum tahu, bahkan cahaya mereka pun akan mulai berbisik dalam kegelapan mereka sendiri,” bisiknya, senyum tipis di wajahnya.
---
Balkon Asrama Orion – Malam
Kaze berdiri lagi di balkon, menatap langit yang mulai gelap. Cahaya lampu kota berpendar di bawahnya, tetapi pikirannya jauh di tempat lain tentang pengkhianat, tentang Kael, dan tentang portal yang semakin dekat.
Maya datang dari belakang, langkahnya ringan. “Kau tahu, kalau kau terlalu menahan semua sendiri, suatu saat kau akan jatuh.”
Kaze menatap langit, napasnya panjang. “Aku tahu. Tapi jika aku tidak menghadapi ini… orang lain akan mati. Asha… Mira… bahkan Orion… mereka semua bergantung padaku.”
Maya menepuk bahunya sekali. “Dan kau tidak sendiri. Tapi ingat bayangan bisa datang dari mana saja. Bahkan dari orang yang kau percayai.”
Di kejauhan, di dunia iblis, gerbang kedua mulai berdenyut samar. Sebuah gema terdengar, lembut tapi penuh ancaman.
Dan malam itu, sumpah Kaze terasa lebih berat dari sebelumnya. Ia tahu perang ini bukan sekadar melawan iblis, tetapi juga bayangan manusia pengkhianatan, rasa takut, dan pilihan yang akan menentukan nasib banyak jiwa.
---
Ruang Analisis Orion – Tengah Malam
Kaze duduk di depan meja holo yang berputar-putar, menatap data yang terus berubah. Energi portal kedua menembus sensor di seluruh distrik Bayangan. Setiap pola yang muncul terasa berbeda dari portal sebelumnya karena lebih kompleks, lebih pekat, dan lebih… manusiawi.
Maya duduk di seberangnya, menatap layar. “Portal ini tidak hanya iblis… ada sesuatu yang seperti… sinyal manusia di dalamnya. Lebih sulit dikendalikan, lebih berbahaya.”
Kaze mencondongkan tubuhnya. “Itu sebabnya aku merasa ada pengkhianat. Tapi siapa… dan kenapa dia melakukan ini?”
Maya menarik napas panjang. “Ketakutan. Keserakahan. Atau mungkin… dia hanya ingin bertahan hidup, seperti Ren.”
Kaze menatap layar, matanya merah samar memantul dari permukaan kaca. “Ren… aku merasakan ada sesuatu dari dia. Sesuatu yang belum sepenuhnya dia pahami sendiri.”
---
Koridor Orion – Malam
Ren melangkah hati-hati melalui koridor yang gelap, batu hitam yang diberikan Kael berdenyut di tangannya. Ia berbisik lirih kepada dirinya sendiri “Aku bisa bertahan… tapi apakah ini semua benar?”
Bayangan samar mengikuti langkahnya, seperti napas yang tak terlihat. Sebuah suara bergema dari batu itu
> “Jangan salah langkah… karena setiap gerakanmu menulis takdir mereka.”
Ren menelan ludah. Setiap langkah terasa berat, seperti dunia di sekitarnya menimbang setiap niatnya. Ia tahu bahwa bantuan yang ia berikan meskipun hanya untuk bertahan hidup dapat menjadi penyebab kehancuran bagi orang yang ia kenal.
---
Rooftop Orion – Fajar
Kaze dan Asha berdiri di atap asrama. Angin dingin membelai wajah mereka, membawa aroma hujan semalam. Kaze menatap kota yang diam, namun matanya tetap waspada terhadap bayangan yang mungkin akan muncul.
“Asha,” kata Kaze, suaranya pelan tapi tegas, “aku tidak tahu seberapa lama ini akan berlangsung. Portal kedua… Kael… semuanya akan semakin berbahaya.”
Asha menggenggam tangannya. “Kaze, aku tidak peduli seberapa gelapnya semuanya. Aku tetap akan berada di sisimu. Kita akan menghadapinya bersama.”
Kaze menatapnya, dan untuk pertama kalinya sejak lama, ada ketenangan di dalam dadanya bukan karena situasi membaik, tapi karena seseorang yang ia percayai ada di sisinya.
---
Distrik Bayangan – Sore
Kael berdiri di depan rune portal kedua yang mulai terbuka. Energi ungu pekat menembus udara, membuat bayangan di sekitarnya bergerak sendiri. Ia tersenyum tipis.
“Gerbang Kedua… akan segera siap. Dan mereka… akan mulai memahami apa yang berarti kehilangan kendali,” gumam Kael.
Siluet iblis-iblis kecil muncul di area sekitarnya, menunggu perintah. Sebuah tawa lirih terdengar dari bayangan Eris. “Mereka belum tahu, Kael… cahaya mereka mulai berbisik.”
Kael mengangkat tangannya, dan rune portal bersinar lebih kuat. Energi mulai memancar keluar, menyebar ke langit kota Neoville city.
Di bawah dunia manusia, gelombang energi itu terasa samar dan mata Kaze berkedip merah, merasakan denyut portal yang belum bisa ia blokir.
---
Balkon Orion – Malam
Kaze berdiri lagi di balkon, menatap langit. Requiem Edge tergantung di punggungnya, pantulan cahaya kota menyinari bilah pedangnya.
Maya datang, berdiri di sampingnya. “Kau bisa merasakannya, kan? Portal kedua… semakin dekat dengan pembukaan penuh.”
Kaze menatapnya, napasnya dalam. “Aku tahu. Dan aku juga tahu… bahwa pengkhianatan bukan hanya datang dari Ren atau orang lain. Ini tentang setiap keputusan yang kita buat… yang bisa memanggil kegelapan.”
Maya menepuk bahunya sekali. “Kita tidak bisa menghentikan semua sendirian. Tapi kita bisa memastikan mereka yang kita lindungi… punya kesempatan.”
Di kejauhan, siluet gerbang kedua di dunia iblis berdenyut ungu, seolah mendengar percakapan mereka.
Dan sumpah Kaze bergema lagi, lebih berat dari sebelumnya melindungi dunia manusia, mengungkap pengkhianat di Orion, dan menghadapi Kael dengan Asha yang ada di sisinya, sebagai cahaya yang mulai menyinari gelapnya jalan mereka.