Langit di kota Neoville City sore itu berwarna abu keunguan. Awan berputar putar pelan di atas Distrik Bayangan, seolah awan itu menutupi sesuatu yang mencoba menerobos dari baliknya. Di markas Orion, semua monitor menampilkan pola energi yang tak wajar seperti fluktuasi yang menyerupai denyut jantung makhluk hidup.
Ruang Analisis Orion – Sore Hari
Maya berdiri di depan holo-table, rambut hitamnya berkilau terkena pantulan cahaya layar. “Energi ini sudah menembus batas aman. Jika pola ini terus berlanjut maka portal kedua akan terbuka sepenuhnya dalam waktu kurang dari tujuh puluh dua jam.”
Asha memandang grafik yang menukik tajam. “Bagaimana mungkin energinya bisa stabil dan secepat itu? Kecuali… ada yang menyalurkannya dari dalam kota.”
Kaze yang sedari tadi diam, menatap monitor dengan mata merahnya yang warna samar. “Seseorang di antara kita… mungkin membuka jalur bagi mereka.”
Hening.
Kata-kata itu menggantung di udara seperti kabut yang menyesakkan. Semua anggota tim yang ada di ruangan itu menatap satu sama lain, mencari kemungkinan yang terselubung.
---
Di Balik Koridor – Ren
Ren berjalan pelan melewati lorong belakang gedung Orion. Batu hitam yang diberikan oleh Kael kini berdenyut semakin cepat di saku jaketnya. Ia berhenti, menatap bayangannya sendiri di kaca.
> “Apakah aku akan benar-benar melakukan hal yang salah?” gumamnya.
“Jika aku tidak membantu Kael, aku mungkin sudah mati di portal pertama. Tapi jika aku teruskan… berapa banyak nyawa yang akan mati karenaku?”
Batu itu bergetar, dan suara halus terdengar lagi—suara Eris.
> “Kau bukan pengkhianat, Ren. Kau hanya memilih bertahan hidup. Mereka tak akan pernah bisa memahamimu.”
Ren menutup mata, mencoba menolak suara itu, tapi jantungnya berdetak cepat. Ia menatap tangannya sendiri, bergetar antara takut dan penyesalan.
Namun di balik semua itu, sesuatu dalam dirinya mulai menerima kegelapan.
---
Distrik Bayangan – Malam
Kaze dan Asha bergerak cepat melalui jalanan sempit di Distrik Bayangan. Hujan baru saja reda, menyisakan aroma logam dan ozon di udara. Lampu lampu neon memantul di genangan air, menciptakan ilusi berwarna ungu seperti dari dunia iblis.
“Kau yakin portal kedua ada di sini?” tanya Asha, sambil menyiapkan senjatanya sepasang pisau ringan yang bergetar dengan energi cahaya.
Kaze menunduk, sambil memejamkan mata sejenak. Ia bisa merasakan denyut energi itu, samar tapi jelas seolah darahnya sendiri merespons panggilan itu. “Ya. Kael pasti menanamkan sesuatu di bawah tanah. Rasanya seperti… napas iblis yang ditahan.”
Tiba-tiba, tanah itu bergetar. Dari bawah aspal, muncul retakan retakan dengan cahaya berwarna ungu yang berdenyut. Asha mundur cepat, sementara Kaze menurunkan posisi bertarung.
Sebuah sosok melayang dan keluar dari retakan itu, iblis dengan tubuh kabut dan mata yang berwarna merah menyala. Suaranya menggema seperti dua nada yang tumpang tindih.
> “Kalian yang terikat sumpah cahaya… beraninya melangkah ke perbatasan kami.”
Kaze melangkah maju, mata merahnya berpendar. “Aku tidak mencari perang. Aku mencari jawaban.”
> “Jawaban? Tidak ada jawaban di kegelapan, hanya cermin dari ketakutanmu sendiri.”
Iblis itu menyerang dengan kilatan energi ungu. Kaze menangkis dengan pedangnya, Requiem Edge, menciptakan gelombang energi cahaya yang menembus kabut. Sementara Asha berputar cepat, melemparkan pisau ke arah bayangan yang muncul di belakang Kaze.
Pertempuran terjadi sangat cepat dan lebih seperti tarian antara dua dunia. Setiap tebasan Kaze menyapu kabut iblis, tapi setiap kabut yang menghilang, muncul lagi dalam bentuk yang baru.
---
Sisi Lain – Kael dan Eris
Dari ruang singgasana iblis, Kael yang sedang berdiri di depan cermin hitam besar yang menampilkan pertempuran Kaze dan Asha. Ia tersenyum samar.
“Lihatlah, Eris… bahkan cahaya mereka mulai redup. Kaze mulai kehilangan kendali atas kekuatannya sendiri. Sebentar lagi, dia akan menjadi bagian dari kita.”
Eris melangkah pelan, menyentuh permukaan cermin itu. “Tapi cahaya yang mulai redup itu bisa kembali menyala… jika diberi alasan untuk bertarung.”
Kael menatapnya. “Dan kau yakin Asha bisa jadi alasan itu?”
Eris menatap Kaze di dalam cermin, wajahnya kosong. “Kita lihat saja nanti.”
---
Ruang Pengintaian – Malam
Sementara pertempuran berlangsung, Maya memantau dari markas Orion. Ia tiba-tiba melihat sesuatu yang aneh pada sinyal energi.
Garis anomali muncul frekuensinya berasal dari dalam markas.
Maya membeku. Kaget “Tidak mungkin…”
Ia memperbesar sinyal itu dan menemukan sumbernya.. Ren.
Maya berlari keluar ruangan, jantungnya berdegup. “Ren! Jangan lakukan itu!”
Ren yang sedang di ruang kontrol berbalik, matanya membara ungu. Batu hitam di tangannya mulai pecah, menyebarkan energi portal.
> “Aku tidak punya pilihan, Maya…” katanya dengan suara serak. “Mereka menjanjikan aku hidup. Hanya itu yang aku mau.”
Cahaya ungu meledak dari ruangan itu dan menerobos ke langit kota Neoville City. Di Distrik Bayangan, Kaze berhenti sejenak, menatap ke langit - langit dan melihat cahaya iblis menembus awan.
“Ada yang membuka gerbang… dari dalam Orion,” bisiknya.
Dan kali ini, ia tahu perang sudah resmi dimulai.