Brian sedang duduk di teras rumahnya ketika Dira tiba-tiba muncul dengan senyuman lebar. "Brian! Ayo kita liburan ke Bali minggu depan! Aku sudah memesan tiket dan mengatur segalanya," kata Dira dengan penuh semangat.
Brian terdiam sejenak, pandangannya tertuju pada langit yang mulai memerah saat senja. Ia menghela napas dalam-dalam sebelum menjawab, "Dira, terima kasih atas ajakanmu. Tapi aku tidak bisa pergi."
Dira tampak bingung. "Kenapa, Brian? Ini akan jadi liburan yang menyenangkan. Kamu butuh istirahat."
Brian tersenyum tipis, namun matanya tampak murung. "Masalahnya bukan tentang liburan atau istirahat, Dira. Aku masih memikirkan Meisya."
Meisya adalah penggemar setia Brian, seorang gadis muda yang menderita penyakit tumor otak dan sekarang dirawat di rumah sakit. Brian sudah beberapa kali mengunjunginya, dan ikatan emosional yang terjalin di antara mereka sangat kuat. Namun, terakhir kali Brian ingin berkunjung, Meisya memintanya untuk tidak datang lagi. Alasannya karena ingin menjaga hati Dira.
"Meisya? Maksudmu gadis di rumah sakit itu?" tanya Dira pelan.
"Iya," jawab Brian dengan suara serak. "Dia memintaku untuk tidak datang lagi.Tapi aku tidak bisa berhenti memikirkannya."
Dira menatap Brian dengan penuh empati. "Brian, kamu memang punya hati yang besar. Tapi kamu juga perlu menjaga dirimu. Mungkin Meisya punya alasan sendiri yang kita tidak mengerti."
Brian mengangguk pelan. "Aku tahu, Dira. Tapi aku merasa bertanggung jawab atas kebahagiaannya, setidaknya untuk membuatnya merasa tidak sendiri. Aku tidak bisa pergi berlibur sementara hatiku masih berat seperti ini."
Dira menghela napas, mengerti perasaan sahabatnya itu. "Baiklah, Brian. Aku mengerti. Aku akan mendukung apapun keputusanmu. Tapi ingat, jika kamu butuh aku maka, jangan pernah sungkan menemuiku, aku selalu ada untukmu."
Brian tersenyum tulus kepada Dira. "Terima kasih, Dira. Itu sangat berarti bagiku."
Hari semakin gelap, tetapi hati Brian merasa sedikit lebih ringan setelah berbicara dengan Dira. Ia tahu, meski saat ini ia harus menolak ajakan liburan, ia punya tunangan yang selalu mendukungnya, dan itu membuatnya merasa tidak sendiri.
Lalu, Dira pergi dengan hati yang terluka. Dalam hatinya dia merasa bahwa Brian lebih mementingkan Meisya dari pada dirinya. Namun, hal itu tidak dia ungkapkan untuk menjaga suasana hati Brian yang sedang kalud.