Setelah Meisya tahu bahwa Brian telah bertunangan dengan Dira, hatinya hancur. Ia merasa kecewa sendiri, karena selama ini ia mengira Brian adalah sosok idola yang mampu membuat hari-harinya berwarna. Meisya memutuskan untuk menjauhi Brian demi menjaga hatinya sendiri. Ia berhenti membalas chat dari Brian, bahkan ketika ia berada di rumah sakit untuk menjalani pengobatan tumor otak yang dideritanya.
Setiap kali ponselnya bergetar menandakan ada pesan masuk dari Brian, Meisya hanya memandang layar dengan mata yang berkaca-kaca. Ia ingin sekali membalas dan menjelaskan perasaannya, tetapi ia tahu itu hanya akan membuatnya semakin terluka. Ia pun memilih untuk tidak merespons. Hari demi hari dihabiskan Meisya di rumah sakit, menjalani serangkaian pemeriksaan dan pengobatan. Dukungan dari sang ayah adalah pondasi terkuat yang bisa membuatnya semangat untuk bertahan hidup. Dia sudah tak mau berharap banyak dari sang idola sebab ada hati yang harus dijaga supaya tidak tersakiti.
Brian yang merasa kebingungan dan khawatir terus mencoba menghubungi Meisya. Ia tidak tahu alasan Meisya menjauhinya dan merasa ada sesuatu yang salah. Brian akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Meisya di rumah sakit tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Ketika tiba di sana, Brian menemukan Meisya yang tampak lemah dan pucat. Meisya terkejut melihat kedatangan Brian, tetapi ia mencoba menyembunyikan perasaannya.
"Meisya, kenapa kamu tidak membalas chat aku? Aku sangat khawatir," tanya Brian dengan nada penuh kecemasan.
Meisya menunduk, menghindari tatapan Brian. "Aku tidak ingin mengganggu kebahagiaanmu dengan Dira. Aku tahu kalian sudah bertunangan. Jadi aku tidak mau menyakitinya," jawabnya dengan suara bergetar.
Brian tertegun. Ia baru sadar bahwa Meisya mengetahui pertunangannya dengan Dira ketika mengunjungi Meisya sebelumnya. "Meisya, maaf aku tidak bermaksud menyakiti kamu. Dira dan aku bertunangan karena kami sudah lama saling mencintai. Tapi, aku hanya ingin bisa merawatmu dan bertanggung jawab terhadapmu."
"Cukup, Brian! Aku tak sanggup lagi mendengar kata-katamu yang semakin membuat hatiku sakit. Mulai hari ini kamu jangan pernah datang mengunjungiku lagi."
"Meisya!"
"Cukup!"
Meisya menatap Brian dengan mata yang basah oleh air mata. Lalu dia melanjutkan berbicara,
"Brian, itu tidak penting lagi. Aku harus fokus pada kesehatanku sekarang. Tolong, biarkan aku sendiri."
Dengan berat hati, Brian meninggalkan rumah sakit, meninggalkan Meisya yang terus berjuang melawan penyakitnya. Meski hatinya hancur, Meisya tahu bahwa ia harus kuat dan terus berjuang. Dalam kesendirian dan kesakitan, Meisya menemukan kekuatan baru untuk melanjutkan hidupnya dan pokus pada kesembuhan penyakit yang semakin hari menggerogoti tubuhnya tanpa ditemani Brian.