Hari itu, Dira duduk di ruang tamu, menatap jendela dengan gelisah. Pikirannya berkecamuk memikirkan Brian yang sering mengunjungi Meisya, penggemar beratnya di rumah sakit. Saat pintu rumah terbuka, ia mendengar langkah kaki yang dikenalnya. Brian baru saja pulang dari rumah sakit.
Brian: (dengan suara lembut) "Hai, sayang. Maaf aku baru pulang. Meisya tadi butuh teman bicara."
Dira: (dengan nada datar) "Kamu lama sekali di sana, Brian."
Brian: (mendekat dan duduk di sebelah Dira) "Aku tahu, Dira. Tapi Meisya benar-benar butuh dukungan saat ini. Dia sedang berjuang keras."
Dira: (menatap ke arah lain) "Kenapa harus kamu? Kenapa bukan keluarganya atau temannya yang lain?"
Brian: (menghela napas) "Meisya bilang aku salah satu orang yang paling menginspirasinya. Sejak dia tahu tentang penyakitnya, dia jadi lebih sering menghubungi dan meminta dukungan moral dariku."
Dira: (memandang Brian dengan mata yang berkaca-kaca) "Kamu tahu, aku juga butuh perhatianmu, Brian. Rasanya aku diabaikan."
Brian: (menggenggam tangan Dira) "Aku minta maaf, Dira. Aku nggak bermaksud mengabaikanmu. Aku hanya merasa perlu membantu Meisya yang sedang sangat rapuh."
Dira: (menghela napas panjang) "Aku mengerti, Brian. Tapi aku nggak bisa membohongi diri sendiri kalau aku cemburu. Aku takut kehilanganmu."
Brian: (mengusap lembut pipi Dira) "Kamu nggak akan kehilanganku, Dira. Kamu selalu jadi yang utama di hatiku. Meisya hanya butuh dukungan untuk melalui masa sulit ini. Aku akan lebih sering ada di sini untukmu, aku janji."
Dira: (tersenyum tipis) "Aku cuma ingin kita bisa lebih banyak waktu bersama. Aku nggak mau perasaan cemburu ini merusak hubungan kita."
Brian: (tersenyum dan menarik Dira ke pelukannya) "Aku juga nggak mau, sayang. Kita akan lewati ini bersama. Aku akan pastikan untuk lebih adil membagi waktu antara kamu dan Meisya."
Dira: (berbisik) "Terima kasih, Brian. Aku percaya sama kamu."
Brian dan Dira duduk berdua dalam keheningan, merasakan hangatnya kebersamaan yang mereka rindukan. Mereka tahu bahwa dengan komunikasi dan pengertian, cinta mereka akan semakin kuat meski ada cobaan yang harus dihadapi.
Ketulusan cinta mereka berhasil mengalahkan rasa cemburu dan kekhawatiran. Brian dan Dira belajar bahwa di balik setiap cobaan, ada kesempatan untuk saling menguatkan dan mencintai lebih dalam lagi.