Malam itu, angin bertiup kencang, menggerakkan ranting-ranting pohon di sekitar rumah sakit tua yang berdiri di pinggiran kota. Di dalam salah satu kamar di lantai tiga, seorang perempuan muda bernama Meisya terbaring lemah di ranjang rumah sakit, terhubung dengan berbagai alat medis. Tumor otak yang dideritanya membuat hari-harinya penuh dengan rasa sakit dan ketidakpastian.
Brian, tunangan Dira, adalah seorang pria yang setia dan penuh kasih. Setiap malam, tanpa absen, ia mengunjungi Meisya untuk memberikan semangat dan dukungan. Di tempat lain,Dira tidak habis pikir kenapa Brian tunangannya sudah menunjukkan perubahan sikap. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sampai dia menghubungi teman Brian dan bertanya dimana Brian berada. Soalnya beberapa hari ini dia tidak mengunjungi tunangannya itu. Rio temannya Brian menjelaskan semuanya. Dia bilang bahwa Brian sedang menemui seseorang di Rumah Sakit di pinggiran kota.
Tanpa pikir panjang Dira langsung menuju lokasi rumah sakit setelah tahu tentang kunjungan-kunjungan ini, tetapi hati kecilnya selalu diselimuti oleh rasa cemburu yang tak tertahankan.
Malam itu, ketika Dira melihat jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam, rasa cemasnya memuncak. Ia memutuskan untuk mengunjungi rumah sakit dan melihat sendiri apa yang terjadi. Dira mengenakan jaket dan keluar rumah dengan langkah cepat, berusaha mengatasi rasa gelisah di dalam hatinya.
Sesampainya di rumah sakit, Dira langsung mencari Brian dan menemukannya di lantai tiga. Suasana rumah sakit yang sepi dan penerangan yang redup semakin menambah kesan mencekam di benaknya. Di depan kamar Meisya, Dira berhenti sejenak, menarik napas panjang, lalu membuka pintu dengan perlahan.
Di dalam kamar, Brian sedang duduk di samping ranjang, memegang tangan Meisya yang lemah. Wajah Meisya pucat, tetapi senyuman kecil menghiasi bibirnya saat melihat Brian. Melihat pemandangan itu, hati Dira tersayat. Ia merasa tersisih, seolah-olah kehadiran gadis itu telah mencuri sebagian dari cinta Brian yang seharusnya menjadi milik Dira seutuhnya.
Tanpa disadari, pintu yang dibuka oleh Dira mengeluarkan suara decitan kecil. Brian dan Meisya menoleh bersamaan, terkejut melihat Dira berdiri di ambang pintu.
"Brian, apa yang sebenarnya terjadi di sini?" tanya Dira dengan suara bergetar, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di matanya.
Brian berdiri, melepaskan tangan Meisya dengan hati-hati. "Dira, aku bisa jelaskan semuanya," katanya, mencoba mendekati tunangannya yang terlihat marah dan terluka.
Dira mundur, menggelengkan kepala. "Kamu selalu di sini setiap malam, Brian. Aku merasa kamu sudah tidak peduli lagi padaku. Apa sebenarnya hubunganmu dengannya?"
Brian menarik napas dalam, lalu menatap Dira dengan mata yang penuh kesedihan. "Meisya adalah sebatas penggemar beratku, Dira. Kami tidak punya hubungan apa-apa."
Penjelasan Brian membuat Dira terdiam. Perasaan cemburu yang membara di hatinya perlahan mulai mereda, digantikan oleh rasa bersalah. "Aku tidak tahu," bisiknya, menundukkan kepala.
"Mas, siapa gadis itu?" Tanya Meisya lirih.
"Dia Dira tunangan aku,Sya."
Bagai disambar petir, Meisya hanya bisa menunduk dan menitikkan air mata. Ada rasa kecewa yang amat dalam ketika dia baru tahu bahwa idolanya itu sudah bertunangan.
Meisya, yang sejak tadi diam, berusaha bangkit dari ranjang. "Dira, aku tidak akan membuatmu tersisihkan. Bahkan aku berterima kasih padamu karena membiarkan dia di sini untukku."
Dira menatap Meisya, melihat kerapuhan dan ketulusan dalam matanya. Perlahan, Dira melangkah mendekat dan menggenggam tangan Meisya. "Aku minta maaf atas prasangka burukku," katanya, suaranya lirih namun penuh kehangatan.
Brian menghela napas lega melihat kedua perempuan yang ia sayangi akhirnya bisa saling mengerti. Malam itu, di dalam kamar rumah sakit yang dingin dan suram, mereka bertiga saling berbagi perasaan dan menguatkan satu sama lain. Kegelapan malam seolah menghilang, digantikan oleh kehangatan dan cahaya kebersamaan yang tulus.