Beberapa bulan kemudian Meisya hanya bisa keluar masuk Rumah Sakit. Pak Bram adalah seorang ayah yang sangat mencintai putrinya, Meisya. Sejak didiagnosis dengan tumor otak beberapa bulan yang lalu, Meisya harus menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah sakit. Meisya yang dulu ceria dan penuh semangat kini sering terlihat lemah dan sedih. Namun, ada satu hal yang selalu bisa membuat senyumnya kembali—lagu-lagu Brian, penyanyi idolanya.
Pak Bram mengetahui betapa Meisya sangat mengagumi Brian. Setiap kali lagunya diputar di HP atau televisi, Meisya akan bersemangat dan lupa sejenak akan rasa sakitnya. Melihat hal ini, Pak Bram memiliki ide yang mungkin bisa memberi Meisya semangat yang lebih besar untuk melawan penyakitnya. Ia memutuskan untuk mencoba menghubungi Brian dan memintanya untuk datang menemui Meisya.
Pak Bram tahu ini bukan tugas yang mudah. Brian adalah seorang penyanyi terkenal dengan jadwal yang sangat padat. Namun, cinta seorang ayah pada putrinya membuat Pak Bram tidak menyerah. Ia mencari tahu manajemen Brian dan mengirimkan email, menjelaskan kondisi Meisya dan betapa pentingnya kunjungan Brian bagi putrinya. Tak hanya itu, Pak Bram juga menyampaikan cerita ini di media sosial, berharap ada keajaiban yang bisa membuat mimpinya menjadi kenyataan.
Beberapa hari kemudian, sebuah keajaiban terjadi. Pak Bram menerima email balasan dari manajemen Brian. Mereka tersentuh dengan cerita Meisya dan mengabarkan bahwa Brian bersedia datang ke rumah sakit untuk menemui Meisya. Pak Bram tak bisa menahan air mata kebahagiaannya. Ia segera memberitahu Meisya kabar baik itu.
Ketika hari yang dinanti tiba, Meisya terlihat sangat bersemangat. Dengan bantuan perawat, Meisya berdandan dan memakai gaun favoritnya. Ketika Brian akhirnya tiba, wajah Meisya bersinar cerah. Brian masuk ke kamar rumah sakit Meisya dengan senyum lebar, membawa gitar di tangannya.
"Hai, Meisya," sapa Brian dengan ramah. "Aku dengar kamu adalah penggemar beratku. Aku datang untuk menyanyikan lagu favoritmu.Aku tak menyangka kita bisa dipertemukan lagi setelah konser itu."
Air mata kebahagiaan mengalir di pipi Meisya. Ia tak bisa berkata-kata. Brian pun mulai memainkan gitar dan menyanyikan lagu yang paling Meisya sukai. Suara merdu Brian memenuhi ruangan, membawa kebahagiaan dan semangat baru bagi Meisya.
Pertemuan itu tak hanya menjadi momen paling berharga bagi Meisya, tapi juga menjadi dorongan semangat yang luar biasa baginya untuk terus berjuang melawan penyakitnya. Pak Bram merasa sangat bersyukur, mengetahui bahwa cinta dan usahanya telah memberikan kebahagiaan yang tak ternilai bagi putrinya.
Di tengah segala kesulitan, momen bersama Brian itu menjadi kenangan yang akan selalu mereka simpan dalam hati. Meisya dengan haru mengucapkan terimakasih pada sang Ayah karena sudah berusaha sekuat tenaga mempertemukan dirinya dengan sang idola.
Kemudian Brian meminta Meisya untuk menyimpan kontaknya, agar suatu hari nanti dia ingin bertemu atau sekadar bercerita bisa gampang lewat chatingan.