Pagi itu Meisya sedang asyik mendengarkan lagu baru dari Brian idolanya. Pak Bram sangat bahagia melihat putrinya yang nampak tersenyum bahagia. Sebelum akhirnya dokter Frengki mengirimkan pesan lewat whatsaap pada Pak Bram.
Dalam chat nya Dokter Frengki meminta Pak Bram untuk menemuinya di Rumah Sakit karena hasil lab Meisya sudah keluar. Buru-buru Pak Bram yang tinggal hanya berdua dengan putrinya karena setahun lalu istrinya sudah berpulang ke Rahmatullah memberitahukan Meisya untuk segera mengambil hasil labnya. Kebetulan hari itu Pak Bram ada meeting di Kantor sehingga tidak bisa menemani putrinya ke Rumah Sakit.
Meisya sangat bahagia karena hasil lab nya telah keluar, dia segera menyudahi aktifitasnya mendengarkan lagu baru Brian. Kemudian dia berangkat dengan perasaan campur aduk antara bahagia dan waswas.
Sesampainya di Rumah sakit,Meisya duduk dengan gelisah di ruang tunggu, menanti panggilan dokter Frengki. Sudah beberapa hari ini ia merasa tidak enak badan, dan akhirnya memutuskan untuk memeriksakan diri. Kini, ia menanti hasil lab dengan perasaan campur aduk.
"Meisya," panggil suster dari balik pintu. Meisya bangkit, mengikuti suster masuk ke ruang dokter.
Dokter Frengki duduk di balik mejanya, wajahnya serius. "Silakan duduk, Meisya," katanya dengan nada yang sedikit berat.
Meisya duduk dengan gugup, meremas-remas ujung jilbabnya. "Ada apa, Dok?" tanyanya, suaranya bergetar.
Dokter Frengki membuka map hasil lab dan menarik napas dalam-dalam. "Meisya, saya harus memberitahu kamu sesuatu yang penting. Hasil lab menunjukkan bahwa kamu menderita penyakit tumor otak stadium akhir."
Kata-kata dokter Frengki menggema di telinga Meisya. Dunia seakan berputar, dan sebelum ia sempat mengolah informasi yang diterimanya, pandangannya mulai mengabur. "Dok...," katanya pelan, sebelum akhirnya ia merasa kakinya lemas dan semuanya menjadi gelap.
Dokter Frengki segera melompat dari kursinya, berusaha menangkap Meisya sebelum tubuhnya terjatuh sepenuhnya ke lantai. "Suster! Tolong!" serunya.
Suster yang berjaga di luar ruangan segera berlari masuk dan membantu dokter Frengki mengangkat Meisya ke tempat tidur pasien yang ada di sudut ruangan. Mereka memeriksa tanda vitalnya dengan cepat, memastikan Meisya dalam kondisi stabil.
Setelah beberapa menit, Meisya perlahan membuka matanya. Dia merasa pusing dan bingung. "Apa yang terjadi?" tanyanya lemah.
"Kamu pingsan, Meisya," jawab dokter Frengki dengan lembut. "Aku minta maaf kalau berita yang kuberikan membuatmu terkejut. Kami akan melakukan yang terbaik untuk merawatmu. Jangan khawatir, kamu tidak sendiri."
Meisya menatap dokter Frengki dengan mata berkaca-kaca. Dia merasa ketakutan, tetapi ada juga sedikit rasa lega. Setidaknya sekarang dia tahu apa yang harus dihadapi dan ada tim medis yang siap membantunya melalui ini semua ini.