"Dyeza sudah mulai mempertanyakan tentang masa lalunya dulu."
Tuk!
Hanya 8 kata, tapi mampu membuat Dreynan menjatuhkan pena yang ia pegang.
Duk!
Mampu membuat Yezra yang semula menunduk langsung menoleh cepat dan harus rela keningnya terantuk tiang ranjang.
Mampu membuat Asrein yang semula matanya tersisa 0.5 persen, mendadak terisi penuh 100 persen.
Prang!
Dan mampu membuat Zarel yang tengah bercermin mengagumi ketampanannya, langsung terkejut dan tak sengaja menyenggol vas bunga hingga pecah berkeping-keping.
"Bagaimana mungkin?!" teriak mereka bersamaan.
Eyden hanya diam melihat reaksi saudara-saudaranya tersebut. Tadi ia memang menyuruh keempat pangeran untuk segera berkumpul dikamarnya guna memberitahukan perihal ingatan masa lalu Dyeza.
"Tidak! Dia tidak boleh mengetahui tentang masa lalunya!" ucap Asrein seraya bangun dari ranjang. Rasa kantuknya langsung lenyap setelah mendengar perkataan Eyden tadi.
"Aku setuju denganmu!Dia tidak boleh mengetahuinya!" Dreynan mendukung penuturan dari Asrein. Ia bahkan rela meninggalkan pekerjaannya demi mendengar berita yang dibawakan oleh Eyden.
Yezra langsung berdiri seraya mengusap keningnya yang terantuk tiang ranjang tadi. "Tidak, aku tidak setuju dengan kalian! Dyeza berhak mengetahui masa lalunya!"
"KAU GILA?!" teriak Dreynan dan Asrein spontan. Mereka sama-sama menatap adik bungsu mereka ini dengan tatapan tajam nan menusuk.
Yezra tetap terlihat tenang. Ia menggeleng pelan, "Aku tidak gila! Coba kalian pikirkan, jika kita memberitahu Dyeza apa yang sebenarnya terjadi dahulu, pasti Dyeza tidak akan marah dan mencoba mengerti." Yezra menarik napas dalam-dalam. "Tapi bagaimana nanti jika dia mengetahuinya dari orang lain? Dia pasti akan sangat membenci kita!"
Dreynan dan Asrein terhenyak ketika mendengar ucapan Yezra. Dalam hati mereka membenarkan ucapan Yezra tersebut, tapi rasa takut tetap selalu membayangi mereka.
Eyden menghela napas lalu kemudian menatap Zarel, meminta sebuah saran.
Tapi yang ditatap malah sibuk bercermin kembali dengan sesekali merapikan poni rambutnya seraya menggumam "Kau memang tampan Zarel!Tidak salah jika Dyeza tergila-gila padamu"
"Zarel, jangan bercermin terus! Bisakah kau fokus sekarang!!" Teriak Dreynan kesal. Lalu kemudian ia merapalkan sebuah mantra dan cermin itupun langsung berubah menjadi kayu.
Zarel mendengus. Bayangan wajahnya yang tampan pun otomatis langsung hilang saat cermin itu berubah menjadi kayu. "Aku setuju dengan Yezra! Tidak adil jika 1 lawan 2."
"Maksudnya?" tanya Asrein tidak mengerti.
Zarel bersender pada dinding dan mulai menjelaskan "Tidak adil jika Yezra seorang diri melawan kalian berdua, jadi aku temani dia biar tidak sendirian!"
Dan Asrein serta Yezra pun kompak menepuk keningnya. Tidak percaya bahwa lelaki berambut hitam keabu-abuan ini adalah seorang pangeran dan merupakan saudara mereka.
Alasannya begitu konyol!
"Semuanya adalah salahku." ucap Eyden lirih namun tetap terdengar ditelinga para pangeran.
Yezra langsung mendekati Eyden dan memegang bahunya. "Tidak! Jangan salahkan dirimu sendiri, kami semua juga bersalah! Kedua orang tua Dyeza pun juga!"
Eyden tersenyum sinis lantas menoleh menatap Yezra. "Tapi aku yang melenyapkan mereka, AKU!!" teriaknya seraya menunjuk kepada dirinya sendiri.
"Tidak!Kau tidak sepenuhnya bersalah, waktu itu keadaannya terlalu rumit!" Kini Zarel mulai serius. Tidak ada raut bercanda yang terpatri diwajahnya seperti biasa. "Kita harus segera menjelaskan semuanya kepada Dyeza sebelum terlambat."
Dan semua pangeran disitu hanya bisa mengangguk menyetujui perkataan Zarel. Entah apa tanggapan Dyeza nanti, yang terpenting semua masalah segera teratasi dan bisa memulai kehidupan yang baru.
Tapi tanpa kelima pangeran sadari, terdapat sosok laki-laki dibalik pintu yang tengah menyeringai penuh kelicikan.
--------------------------------------------
Sepasang mata itu sedari tadi hanya terarah kepada pemandangan diluar jendela yang menampilkan hamparan tanah lapang yang terdapat beberapa prajurit yang berjaga-jaga ataupun sekedar berlalu-lalang.
Namun pikirannya berkelana kemana-mana mencari sebuah jawaban yang ia tidak tahu bagaimana cara mendapatkannya.
Makanan diatas meja pun juga belum sama sekali Dyeza sentuh sejak tadi pagi. Ini bukan sebagai bentuk aksi protes, melainkan karena selera makannya telah lenyap bersamaan dengan kepercayaannya kepada para pangeran yang mulai memudar.
Dan sejak dari tadi pagi, ia belum keluar dari kamarnya satu langkah pun. Badannya terlalu lemas, energinya seolah tersedot oleh pikirannya yang terbebani.
"PERHATIAN! PANGERAN HRYM DATANG BERKUNJUNG KE KAMAR TUAN PUTERI DYEZA!"
Bahkan suara penjaga didepan pintu kamarnya yang mengabarkan kedatangan Hrym pun juga sama sekali tidak ia tanggapi. Ia terlalu lelah untuk semua ini...
Suara pintu yang dibuka dan sebuah langkah kaki langsung memenuhi ruangan yang sedari tadi sunyi nan senyap ini.
"Sepertinya kau sedang banyak pikiran."
Hrym memulai percakapan seraya bersender di pintu dengan melipat kedua tangannya didada. Dari sudut matanya ia bisa melihat nampan berisi makanan yang masih terlihat utuh tak tersentuh. "Hingga makanan pun sepertinya akan terbuang sia-sia."
"Pergilah jika tidak ada hal penting yang ingin kau sampaikan!" ucap Dyeza masih dengan pandangan keluar jendela.
Hrym menaikkan sebelah alisnya. "Kau mengusirku?"
"Menurutmu?"
Hrym tersenyum miring. Ia membenarkan penutup matanya sebelum berkata "Aku akan pergi," Ia sempat terdiam sejenak sebelum kembali bersuara,
"Tapi bagaimana jika aku mengetahui semua hal tentang masa lalumu?"
Dyeza berdecih,"Jangan berbicara jika tidak mau kau katakan!" Ia tidak akan mengulangi hal yang sama lagi. Sudah cukup!
"Aku akan menceritakan semua tentang masa lalumu tanpa terlewatkan sedikitpun!"
Dan penuturan Hrym tersebut berhasil membuat Dyeza menoleh cepat dan langsung berdiri dari duduknya ditepi ranjang. "Cepat katakan!"
Dan seringaian Hrym pun mulai terlihat diwajah tampannya. Menyenangkan sekali jika bisa membeberkan rahasia orang lain!
"Sebenarnya dulu--"
Jleb!
"Argh!"
"HRYM!"
Cairan merah pekat nan kental langsung merembes keluar dari balik jubah yang dikenakan oleh Hrym setelah satu anak panah melesat dan menembus bahu kirinya. Anak panah yang ujungnya telah dimantrai dengan sihir Rashercondria yang mampu membuat manusia biasa langsung meregang nyawa dalam waktu kurang dari satu detik.
Sedangkan Dyeza, ia masih shock saat matanya sempat bertatapan dengan manik mata merah sosok serba hitam yang tadi bersembunyi di balik pohon. Sosok misterius yang kemungkinan besar adalah orang yang melepaskan anak panah tersebut.
Hrym mencengkeram erat bahunya agar darah tidak keluar semakin banyak. Kemudian dengan satu kali tarikan, ia mencabut anak panah itu bersamaan dengan suara teriakannya yang menggelegar.
Dan teriakan Hrym tersebut berhasil membuat Dyeza tersadar dan langsung membantu Hrym agar duduk diatas ranjangnya.
"Kau tidak apa-apa?" Guratan panik sangat terlihat dari wajahnya ketika melihat Hrym tampak sangat kesakitan. "Biar aku panggilkan Tabib Han!"
Tiba-tiba Hrym menahan lengan Dyeza yang hendak beranjak pergi. "Tid-tidak per--lu! Tolong kau am--bilkan ramuan ungu dikam--arku." ucapnya terbata-bata karna rasa sakit luar biasa yang menyerang bahunya. "Dan jang--an beritahu hal ini pada siapapun!" tambahnya kemudian.
Dan Dyeza hanya bisa mengangguk mengerti. Walaupun sebenarnya hatinya sedikit heran kenapa ia tidak boleh menceritakan hal ini kepada orang lain. Tapi segera ia tepis kecurigaannya tersebut dan langsung keluar dari kamarnya untuk mencari kamar Hrym yang sama sekali ia tidak tahu dimana letaknya.
Sedangkan Hrym, ia hanya bisa berharap bahwa Dyeza akan tutup mulut mengenai kejadian ini kepada orang lain. Karena jika sampai itu terjadi, maka semua rencananya akan gagal total!
.
.
"Apa benar ini adalah kamar Pangeran Hrym?"
Anggukan dari penjaga berhasil membuat Dyeza bernapas lega. Akhirnya ia dapat menemukannya juga setelah pusing mencarinya kemana-mana dan selalu bertanya ke setiap penjaga pintu ruangan.
Dyeza langsung melangkahkan kakinya masuk saat pintu kamar Hrym dibukakan oleh penjaga. Setelah memastikan pintunya sudah tertutup kembali, ia segera mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamar Hrym untuk mencari keberadaan ramuan ungu yang dipinta oleh sang pemilik kamar.
Jujur sebenarnya Dyeza sangat khawatir meninggalkan Hrym sendirian di kamarnya dengan luka akibat panah itu. Ia bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang diderita oleh Hrym, mengingat hanya goresan kecil pisau saja sudah sakit apalagi ini.
Senyuman Dyeza mulai merekah bersamaan dengan matanya yang telah menangkap sebuah botol kristal yang di dalamnya terdapat cairan berwarna ungu yang terletak di atas meja laci.
Tanpa memikirkan apapun lagi, ia segera berjalan mendekat dan langsung mengambil botol kristal itu. Kemudian ia hendak pergi, namun hanfunya malah tersangkut oleh tarikan laci hingga menyebabkan lacinya terbuka. Ia membungkuk sedikit untuk melepaskan kaitannya, namun matanya menangkap sesuatu didalam laci tersebut. Sebuah lukisan.
Dyeza menggigit bibirnya sendiri karena penasaran akan lukisan itu. Tapi jika ia ambil, itu merupakan tindakan yang tidak sopan. Tapi apa salahnya jika cuma sekali?
Setelah menghela napas dalam-dalam, Dyeza mengambil lukisan tersebut. Lukisan itu sudah berdebu sehingga membuat gambar yang terlukis di situ terlihat tidak terlalu jelas.
Dyeza meniup lukisan tersebut hingga debunya mulai beterbangan lalu kemudian menghilang. Seketika tangannya langsung bergetar setelah melihat dengan seksama apa yang terlukis di lukisan tersebut.
Sosok lelaki tampan berambut hitam legam dengan manik mata merah menyala yang di atas kepalanya terdapat dua buah tanduk.
Namun bukan ketampanan lelaki itu yang membuat tangan Dyeza bergetar, melainkan mata merah itu yang terasa familiar baginya.
Mata merah yang sama persis dengan mata pelaku yang memanah Hrym tadi.
Tapi mengapa lukisannya bisa berada di kamar Hrym? Apa hubungan antara Hrym dengan lelaki beriris merah tersebut?