"Wah, hebat sekali! Di bumi tidak ada yang seperti ini!"
Dyeza berdecak kagum ketika melihat luka di bahu Hrym yang semula terlihat sangat mengenaskan, langsung menghilang tak berbekas setelah diteteskan oleh ramuan berwarna ungu tadi.
Hrym hanya memutar bola matanya melihat tingkah calon ratu masa depan kerajaan Ethernicius ini. "Dasar manusia!" gumamnya pelan.
Setiap anggota kerajaan memang masing-masing telah diberi botol kristal berisi ramuan yang sudah diracik oleh tabib Han untuk berjaga-jaga jika ada yang terluka parah ataupun kecil. Jadi mereka tidak perlu khawatir jika terluka separah apapun karna ramuan tabib Han ini di bantu oleh kekuatan sihir Eyden yang merupakan seorang Sage, kaum penyihir yang sudah punah beratus-ratus tahun lamanya.
Ya, kelima pangeran memang memiliki darah campuran di tubuh mereka berkat ibu mereka yang juga berbeda dengan sang ayah.
"Boleh aku minta?" pinta Dyeza. Ia sangat excited sekali, Kapan lagi ia bisa mendapat ramuan luar biasa seperti ini!
"Tidak! Minta saja pada tabib Han!" ketus Hrym.
Dan itu berhasil membuat bibir Dyeza mengerucut karena kesal.
"Dasar pelit!"
Hrym hanya menghendikkan bahunya tak peduli. Tapi tiba-tiba ia teringat tentang rencananya yang tertunda akibat anak panah s****n itu. "Aku akan melanjutkan cerita tentang masa lalumu."
Dan sontak ucapan Hrym tersebut membuat Dyeza langsung bertambah semangat. "Ayo cepat katakan!"
Hrym sempat menyeringai lebar sebelum mulai menjelaskan.
"Sembilan tahun yang lalu, kau datang ke kerajaan ini bersama Zarel dan Eyden. Tingkahmu begitu polos dan menggemaskan, dan hal itu membuat kelima pangeran itu menyukaimu, ah bukan lebih tepatnya terobsesi padamu."
Hrym beranjak dari ranjang dan berdiri menghadap keluar jendela, membelakangi Dyeza yang tengah mendengar ceritanya dengan seksama.
"Sudah lebih dari 1 minggu kau tinggal disini, dan kau mulai sering menangis akibat merindukan kedua orang tuamu. Kau meminta kepada mereka untuk diantarkan pulang, namun mereka semua menolak karna tak mau kau meninggalkan mereka."
Egois! Batin Dyeza.
"Hingga suatu hari, kelima pangeran menginginkanmu menjadi istri mereka." Hrym tersenyum sinis sebelum melanjutkan. "Raja Varlsyien pun menentang keras keinginan mereka, namun kelima pangeran itu tidak peduli. Mereka telah dibutakan oleh obsesi mereka hingga ibu mereka pun mati di tangan mereka sendiri."
Dyeza menutup mulutnya tak percaya. Setega itukah mereka?
"Raja Varlsyien sangat terpuruk akibat kematian permaisurinya. Dan hal itu dimanfaatkan oleh mereka untuk membawamu ke upacara pernikahan. Mereka berjanji akan mengantarmu pulang setelah melakukan upacara pernikahan tersebut. Kau yang masih kecil dan polos hanya bisa menyetujuinya karena alasan akan diantar pulang."
Air mata Dyeza mulai meleleh. Begitu bodohkah ia?
"Pernikahan pun berjalan dengan lancar walaupun tanpa restu dari Raja Varlsyien. Pernikahan itu dikecam keras oleh semua kaum penyihir, namun mereka semua seakan tuli akan hal itu."
Hrym mengusap kedua tangannya seolah akan melakukan pemanasan. Sekarang ia akan mengatakan hal terpenting.
"Satu hari setelah itu, mereka membawamu kembali ke dunia manusia dan membawamu bertemu dengan kedua orang tuamu. Pada waktu itu semua kerabatmu sedang berkumpul dirumah orang tuamu, mereka semua bersedih atas dirimu yang hilang bak ditelan bumi. Kau datang bersama kelima pangeran, dan semua keluargamu langsung menyambut bahagia kedatanganmu. Namun itu tak berlangsung lama..."
Hrym berdehem sejenak.
"Mereka mengatakan kepada orang tuamu kalau kau sudah sah menjadi istri mereka. Dan kedua orang tua bersama kerabatmu sangat terkejut dan tidak mempercayai hal itu. Mereka semua menentang keras dan mengusir kelima pangeran. Para pangeran itu tidak terima dan murka ketika kedua orang tuamu tidak memperbolehkan dirimu bertemu lagi dengan mereka. Dan kau tahu apa yang mereka perbuat kemudian?"
Dyeza mendongak dengan wajah yang sudah bersimbah dengan ait mata. Hatinya tidak ingin mendengar semuanya lagi, itu terlalu menyakitkan baginya. Namun pikirannya menolak dan ingin mendengar semua kebenarannya.
Hrym menyeringai licik. Ini adalah bagian yang paling ia sukai. Dimana kebenaran ini akan membuatnya menikmati kesedihan Dyeza dan kehancuran para pangeran.
"Mereka, kelima suamimu, membantai habis semua kerabatmu tanpa tersisa satupun. Mereka membunuh keluargamu dengan kejam dan tidak berperikemanusiaan. Dan kau tahu..."
Hrym tersenyum kemenangan. Ini adalah puncaknya dan ia sudah tidak sabar untuk mengatakan kebenaran ini.
"Nyawa kedua orang tuamu melayang di tangan Eyden."
Dyeza menutup mulutnya tak percaya. Air mata mulai bercucuran seiring dengan hatinya yang telah hancur berkeping-keping. Hatinya seolah terhantam oleh kebenaran tersebut. Eyden membunuh kedua orang tua yang sangat ia sayangi?
Dyeza menggeleng tak percaya lalu sedetik kemudian ia bangkit dari duduknya dan pergi keluar dari kamar dengan langkah terburu-buru.
Dyeza sempat berhenti untuk mengusap kasar wajahnya yang bersimbah air mata dan melanjutkan langkahnya kembali di koridor dengan penuh emosi. Terkadang para pelayan ataupun penjaga melihatnya dengan tatapan sedih dan ingin bertanya namun tidak berani. Tapi Dyeza tidak memedulikan hal itu, yang ada dipikirannya sekarang hanyalah mencari kebenaran akan ucapan Hrym.
Tak mempedulikan kain hanfu bagian bawah yang ia kenakan kotor karena terinjak, dia mempercepat langkahnya saat tempat yang ia cari mulai terlihat.
"Dimana Eyden?!"